
Udara pagi seakan menghantarkan kehangatan dan kesejukan bagi siapapun yang menikmati udara pagi ini, termasuk bagi gadis yang tengah berdiri di rumahnya yang terlihat sederhana itu.
Ainun mencoba menangkan dirinya di udara pagi nan sejuk tersebut, fikirannya benar benar kalut dan ia kembali teringat pembicaraannya dengan Salsa beberapa hari lalu.
Memang benar dia sudah mengikhlaskan baik Aldo ataupun Ahmad Rafiq yang mencintai Salsa.
Namun jujur saja, ia masih ragu melanjutkan pernikahannya dengan Ahmad Rafiq sementara laki laki itu mencintai perempuan lain, ada nama perempuan lain di hatinya, dan perempuan itu sahabatnya sendiri.
Ingin rasanya membatalkan perjodohan tersebut, namun ia tak ingin mengecewakan Abah dan Umminya, tentu saja keputusannya juga akan membuat Abahnya Ahmad Rafiq kecewa dan sedih.
Mengapa semua terlalu rumit cinta ini baginya?
Keputusannya seolah terbentur antara ingin ia mementingkan egonya atau mengobarkan perasannya untuk mereka yang ia sayangi dan agar tak ada yang terluka hatinya?
Tanpa sadar bulir bulir air matanya membasahi pipinya, karena hatinya terlalu sesak merasakan pilihan yang sulit dan seakan rumit baginya.
"Nak, Abah mau bicara." ujar Abahnya, yang menghampiri Ainun.
Seketika lamunan Ainun pun buyar dan segera menghapus bulir bulir air matanya karena ia tak ingin Abahnya tau ia sedang menangis, sungguh ia sangat mencintai Abahnya.
Setelahnya Ainun pun segera menghadap ke Abahnya.
"Abah? Abah kok di sini, gak masuk ke dalam, udara pagi ini dingin sekali Abah." ujar Ainun pada Abahnya.
"Iya Abah, Abah mau bicara apa ke Ai?" tanya Ainun kembali.
"Enggak, gak papa. Abah suka udara pagi ini, sejuk dan hangat walau dingin juga ya, hemm hehehe.. kamu juga pakai jaket supaya gak kedinginan." ujar Abahnya dengan tertawa kecil.
"Iya, memang ada yang ingin Abah bicarakan. Tapi sudahlah, nanti juga gak papa. Abah masih ingin berbicara ringan sama kamu." ujar Abahnya kembali dengan tersenyum.
"Abah... Ai paham Abah ingin merasakan dan menikmati udara pagi ini, tapi Ai gak mau Abah kedinginan.. Ai ambil jaket dulu ya buat Abah.." ujar Ainun yang segera ke dalam untuk mengambilkan jaket untuk Abahnya.
"Tunggu Ai," panggil Abahnya, yang mencegah langkah Ainun untuk ke dalam.
"Iya Abah, ada apa? Ai mau masuk bentar kok Abah, buat ambilin Abah jaket, setelah ini Ai ke sini lagi." ujar Ainun dengan tersenyum dan mencoba melepaskan perlahan tangan Abahnya.
"Iya, Ai.. Abah gak papa kamu tinggal ke dalam, Abah bukan takut sendirian di sini, hehe.
Cuman Abah mau bilang, kamu juga ambil jaket buat dirimu ya, karena Abah gak mau kamu kedinginan nak gadis Abah." ucap Abahnya.
"Abah..." Ainun yang terharu pun segera memeluk Abahnya.
"Iya, Abah.. Ai ambil jaket buat Ai juga Abah ya." ujar Ainun kembali dan segera masuk ke dalam.
Beberapa menit kemudian Ainun pun kembali dengan membawakan jaket untuk Abahnya.
"Ini Abah, Ai pakein ya." ujar Ainun kembali dan segera merunduk untuk memasangkat jaket buat Abahnya.
Ainun benar benar menyayangi Abahnya, karena Abahnya lah cinta pertamanya, laki laki yang sudah bekerja untuk membiayai kehidupannya dari semenjak ia kecil, Abahnya juga yang sudah mengajarkan cinta juga melindunginya selalu dan membelanya ketika ada mereka yang mengusilinya, Abahnya juga yang memberikan kasih sayang penuh untuknya dan selalu menyempatkan waktu bermain untuknya.
Kini Abahnya yang mulai menua, terlihat jelas kulitnya yang semakin keriput, uban putihnya yang terlihat semakin banyak dan tubuhnya yang sering mengeluh kesakitan.
Selama ini Abahnya sosok yang semangat bekerja mencari nafkah untuk membiayai kebutuhannya dan juga selalu menyempatkan waktu untuknya.
__ADS_1
Kini telah berbeda Abahnya yang sering merasakan keluhan kesakitan dan bekerja terlalu berat atau kelelahan pun bisa mempengaruhi kondisinya.
Oleh sebab itu Abahnya tak boleh terlalu capek, dan sesekali Abahnya mengecek pondok pesantrennya.
Tanpa sadar ketika mengingat Abahnya dan Umminya yang semakin menua membuat air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya
Hatinya sedih ia belum bisa membahagiakan kedua orangtuanya namun kini mereka pun semakin menua.
Ainun benar benar tak ingin kehilangan kedua orang tuanya sebelum ia membahagiakan mereka..
Oleh sebab itu terkadang ia berfikir untuk menerima saja lamaran dari Ahmad Rafiq, laki laki yang sudah di jodohkan Abahnya karena ia tak ingin mengecewakan Abahnya dengan menolak lelaki pilihan Abahnya, meski ia sendiri tak mencintai lelaki itu karena ada nama lain di hatinya, begitupun dengan lelaki tersebut.
Ntah Ainun sendiripun bingung akan di bawa ke mana pernikahan tersebut?
pernikahan seperti itu? ....
"Ainun .." Ainun pun tersadar dari lamunannya karena Abahnya memanggilnya.
Ainun pun segera menghapus bulir bulir air matanya yang mengalir begitu saja, namun saat ia ingin menghapus bulir air matanya, Abahnya mencegah tangannya, seolah menghentikan agar ia tak menghapus bulir air mata tersebut.
"Ainun, kamu menangis?" tanya Abahnya.
"Abah, enggak Ai gak nangis." lirih Ainun dengan melihat ke arah lain, agar Abahnya tak mengetahui ia benar benar menangis.
Ainun pun segera melepaskan tangannya dari genggaman Abahnya untuk menghapus bulir air matanya.
"Tidak perlu di hapus, kamu sedang nangis?" tanya Abahnya kembali, dengan tetap megenggam tangan Ainun.
Ainun pun menunduk seolah menolak tatapan dan pertanyaan Abahnya.
"Abah ini sudah mengenal kamu semenjak kecil, mengurus kamu, jadi Abah tau ketika kamu berbohong dan jujur. Cerita sama Abah, kamu kenapa? kok nangis?" ucap Abahnya kembali dengan nada lembut pada Ainun.
"Abah ...." ucap Ainun dengan memeluk Abahnya karena tak kuasa menahan gejolak emosinya.
"Ayuk cerita ke Abah, kamu kenapa?" ucap Abahnya kembali dengan memeluk Ainun.
"Ai, rindu sama Abah, Ai gak mau kehilangan Abah..." ucap Ainun kembali dengan menahan tangisnya.
"Loh, loh kenapa ini anak Abah?" tanya Abahnya kembali dengan memandang Ainun, seolah mengunci tatapan Ainun agar bisa bercerita jujur padanya.
"Ai, hiks.." ucap Ainun tersedat dan terhenti dengan menunduk.
"Ai, gak mau kehilangan Abah, Ai takut kehilangan Abah di umur Abah yang semakin menua ini, sementara Ai belum bisa bahagiakan Abah." ucap Ainun kembali dengan memandang Abahnya dan segera memeluk Abahnya karena tak kuasa menahan sesak tangis yang ia rasakan.
Abahnya pun tersenyum untuk sejenak sebelum menjawab ucapan Ainun.
"Nak Ai, kok tiba tiba saja berbicara seperti itu sih?" tanya Abahnya dengan tertawa kecil.
"Nak Ai, umur dan maut sudah di tentukan Allah, jadi gak perlu Ai takut kehilangan Abah ya..Abah sendiri jika boleh memilih ya ingin bisa dampingi Ai terus di sini, dampingi Ummi juga. Tapi kan umur tidak pernah tau, sebab itu sebelum saling kehilangan, Abah ingin kita saling menyayangi dan melindungi jika salah satunya telah tiada di antara kita. Jika Abah sudah gak ada umur, titip ummi ya Ai, sebelum waktu itu tiba, Abah ingin kita beramal banyak untuk bekal akhirat begitupun dengan kamu Ai, anak Abah juga ummimu agar kelak kita di syurga Nya bisa bertemu." ujar Abahnya yang membuat sudut hati Ainun terenyuh dan terharu sekaligus sedih.
"Abaaaahhhh....." ujar Ainun yang segera memeluk Abahnya.
"Hehehe, kenapa toh nduk?" tanya Abahnya yang merasa lucu melihat tingkah anak gadisnya.
__ADS_1
"Iya Abah, yang Abah katakan benar, dan Ai pun paham. Tapi tolonglah Abah jangan bilang seperti itu, Ai jadi sedih." lirih Ainun.
"Iya ya, Abah minta maaf.. kan Abah hanya menjawab pertanyaanmu Ai, salah ya Abah? bukan maksud bikin anak Abah sedihlah. Yasudah sekali lagi Abah minta maaf ya, kalau sudah bikin Ai sedih." ucap Abahnya kembali dengan mengelus kepala Ainun.
"Iya Abah, gak papa cuman Ai sedih aja tadi melihat Abah dan ummi semakin menua, jadi Ai terbayang takut Abah dan ummi ninggalin Ai, sementara Ai belum sempat membahagiakan kalian, Ai juga pasti akan merasa kehilangan kalian yang selalu sayangi Ai dan jaga Ai dan Ai pasti akan merasa sendiri." ujar Ainun sedih.
"Jangan sedih ya Ai, insya Allah selama masih ada umur kami, Abah dan Ummi akan jaga Ai dan selalu ada untuk Ai meski nanti Ai sudah nikah.
Tapi Abah tetap ingin nikahkan Ai supaya Ai mandiri, gak tergantung terus sama kami dan bila sewaktu waktu kamu tidak ada, ada yang jaga Ai. Gimana Ai jika di percepat saja pernikahanmu dengannya?" ucap Abahnya membuat perasaan Ainun tak menentu antara sedih dan cemas.
"Abah, Ai gak mau..tolong jangan bicara seperti itu, Ai sedih." lirih Ainun.
"Benar yang di katakan Abahmu itu Ai, Abah dan ummimu ini selagi masih ada umur akan jaga kamu, selalu ada untukmu juga. Tapi kami juga gak ingin kamu tergantung terus sama kami, takutnya bila kami gak ada umur ada yang jaga kamu jadi kami gak perlu cemas ninggalin kamu." ujar Umminya.
"Betullah yang di katakan Abahmu itu, jadi kapan rencana kalian menikah? di percepat Ummimu juga setuju." ucap Ummi Ainun kembali.
"Sama nak Ahmad Rafiq kan? Ummi juga setuju, sepertinya anak baik juga, kami juga sudah pernah bertemu dengannya dan bertemu keluarganya, jadi ibu setuju aja bila di percepat, gimana Ai?" tanya Umminya.
"Hemmm..." ucap Ainun bingung.
"Ohya Abah, ini uda ummi siapkan teh hangat dan kue nya,di minum dan di makan ya Abah teh juga kue nya." ucap Umminya yang segera menyiapkan di meja tersebut untuk suaminya.
Melihat kemesraan Abahnya dan Umminya membuat ia sedikit cemburu, ia juga ingin memiliki pasangan seperti Abah dan Umminya saling mencintai dan mereka menua bersama.
Ia sendiri pun benar benar tak bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Abah dan Umminya padanya sedangkan ia sendiri ingin menikah dengan seseorang yang ia cintai sehingga bisa menua bersama seperti kedua orangtuanya.
Ainun sendiri tak yakin, apa bisa pernikahan di mulai dan di arungi tanpa cinta? dan apa bisa hingga menua bersama seperti Abah dan Umminya? batin Ainun.
Meski Ainun sendiri tau, tak ada yang tak mungkin bila Allah telah berkendak, namun tetap saja ia rasanya ragu memulai juga menjalani pernikahan tanpa cinta, dan baginya itu tak mudah untuk mengarungi bahtera rumah tangga tersebut, bila benar benar terjadi dan harus ia jalani.
Apa salah bila dirinya menginginkan pernikahan dengan cinta hingga bisa menua bersama seperti Abah dan Umminya??.....
"Ummi, Ai izin mau ke kamar dulu ya, mau sholat dhuha dulu." pamit Ainun karena ia benar benar ingin menenangkan pikirannya yang kalut karena cinta kembali.
"Iya sudah, gak mau sholat dhuhanya bareng kami?" tanya Abahnya.
"Humm, maaf Abah, mungkin lain kali aja ya atau besok. Karena saat ini Ai kurang enak badan dan ada kerjaan yang harus Ai selesaikan, jadi Ai kali ini ingin sholat Dhuha sendiri ya Abah, Ummi." pamit Ainun.
"Iya sudah nak, pasti kedinginan karena kamu gak mau pakek jaket." ujar Abahnya.
"Humm, anak ummi ini..yasudah gak papa. Masuk ke dalam ya, istirahat, nanti ummi nyusul." ucap Umminya.
"Hehehe, iya Ummi, Abah.. makasih ya uda memahami keadaan Ai. Ai, masuk ke dalam ya.. Dan Ai juga gak mau meganggu kemesraan Abah dan Ummi, hehe.. " pamit Ainun yang segera masuk ke dalam.
"Hehehe kamu bisa aja Ai, nanti kamu juga merasakannya kalau sudah nikah, ya kan Abah? pasti nanti pada masanya Ai juga merasakannya..." ujar Umminya sepeninggalan Ainun.
"Apa kita percepat saja ya Abah, pernikahan Ainun dengan Ahmad Rafiq?" tanya Umminya kembali.
"Hemmm.. Sudahlah nanti kita pikirkan lagi, sekarang Ummi duduk sini kita nikmati ini teh dan kue nya bersama." ucap Abahnya, dan ummi Ainun pun segera duduk di dekat suaminya.
"Iya, Abah..." ujar ummi Ainun, dengan tersenyum dan menatap penuh cinta ke arah suaminya.
Mereka pun saling berbincang dan bercanda.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari Ainun mendengarkan pembicaraan mereka, dan semakin membuat hatinya tak menentu.
Ainun pun segera ke kamarnya untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat dhuha untuk menenangkan hatinya.