
Setelah beberapa Minggu kemudian, Ahmad Rafiq yang masih terus berusaha memberikan cintanya pada Ainun dan menunjukannya pun perlahan ia ragu, karena Ainun yang kondisinya sedikit membaik namun seperti tak ada perubahan sama sekali.
Ahmad Rafiq berencana ingin mempertemukan Aldo dengan Ainun karena ia tak tega terus menerus melihat kondisi Ainun seperti ini, walau ia sendiri ragu mampukah ia melihat kedekatan mereka kembali, yang kemungkinan akan membuat Ainun semakin sulit mencintainya dan melupakan Aldo.
Namun rasanya ia tak ada pilihan lain, selain mempertemukan mereka.
Jika pertemuan kali ini berakhir tidak baik, maka ia takkan mempertemukan mereka kembali, walau saat ini rasanya ia tak ingin dan tak pernah menginginkan pertemuan mereka terjadi, tapi rasanya tak ada pilihan lain dengan melihat kondisi Ainun seperti ini terus menerus jujur saja ia sedih, sangat sedih...
Ahmad Rafiq pun segera membereskan juga membersihkan rumah, membuatkan sarapan pagi untuk Ainun dan Abahnya, dan bersiap untuk dirinya sendiri karena ia berencana akan ke rumah Aldo.
Setelah melihat Abahnya yang masih tertidur, Ahmad Rafiq pun segera menghampiri Ainun yang sudah bangun dan sedang melamun.
"Ai, .... melamun lagi? kamu melamun apa? kenapa akhir akhir ini kamu sering melamun? apa yang sebenarnya kamu pikirkan...? kamu boleh cerita ke aku, tentang apapun masalahmu, karena aku ini suamimu," ucap Ahmad Rafiq.
"Dan...sudah aku siapkan makanan buat kamu dan Abah, di makan ya... jangan lupa sampai gak makan karena melamun saja," ucapnya lagi.
Ainun pun menoleh ke arah Ahmad Rafiq dan menatapnya, setelah mendengar ucapan darinya.
Ainun berusaha mencari kebohongan atau kejujuran dari mata itu, yang saat ini sedang ia tatap.
Namun seakan tidak ada kebohongan yang ia temukan.
sungguh rasanya ia ingin sekali menceritakannya, namun ia menyadari posisinya saat ini, dan ia tak ingin terluka kembali, bukankah lebih baik berhati hati?
"Ai," panggil Ahmad Rafiq kembali, karena tak kunjung ada jawaban dari Ainun.
"Hemm baiklah, Ai.. jika tak ingin bercerita, gak papa... yasudah, tenangkan dirimu ya... kamu jangan banyak beban pikiran Ai, kalau mau cerita silahkan, kalau enggak, juga gak papa.. aku duluan ya Ai, aku ada perlu mau pergi. Kamu jangan sering melamun ya... dan jangan lupa di makan sarapannya, kalau Abah sudah bangun, tolong bilangkan juga sudah ku siapkan sarapannya,"ucap Ahmad Rafiq kembali.
Sedangkan Ainun hanya melirik sekilas, setelahnya ia menunduk dan melamun kembali.
Ahmad Rafiq pun segera mencium kening Ainun dan berpamitan.
Apa yang Ahmad Rafiq lakukan membuat Ainun terpaku dan terkejut atas apa yang telah di lakukan olehnya.
"Ai, aku pamit dulu ya, jangan kebanyakan melamun kamu, gak baik.. ada Abah di rumah, aku titip Abah ya, Assalamualaikum..." pamit Ahmad Rafiq yang segera berlalu pergi.
Setelah kepergian Ahmad Rafiq, Ainun manatap kepergian itu, dan termenung sendiri dalam diam.
Untuk sesaat ia menghembuskan nafasnya beberapa kali, setelahnya merasa dirinya cukup tenang, Ainun segera ke arah meja makan, dan benar saja sudah ada sarapan yang tersedia di meja makan ini.
Ahmad Rafiq membuatkan 2 nasi goreng untuk dirinya juga Abahnya, ada juga roti dan susu.
Setelah melirik sekilas, Ainun ke kamar Abahnya untuk mengajaknya makan pagi, melihat kondisi Abahnya dan menemani Abahnya seperti pesan Ahmad Rafiq yang di sampaikan padanya, sebelum pergi.
Meski ia sendiri seperti seakan melamun selama ini, tapi sungguh ia mendengar dan bisa memahami perkataan orang di sekitarnya hanya saja seringkali ia menanggapi dengan diam dan tak meresponnya.
Sesampainya di kamar Abahnya, Ainun melihat Abahnya yang masih tertidur, Ainun pun segera membangunkannya secara perlahan hingga Abahnya Ahmad Rafiq bangun.
"Abah, yuk bangun...sudah di siapkan sarapan pagi kita, makan yuk Abah... temani Ai," ujar Ainun membangunkan Abahnya Ahmad Rafiq.
__ADS_1
Walau jujur ia sendiri tak bernafsu untuk makan, rasanya kenyang sekali meski belum ada makanan yang masuk ke dalam perutnya.
Namun ia tak ingin mengecewakan Ahmad Rafiq yang telah membuatnya terlebih ia juga harus menemani Abahnya untuk makan, oleh sebab itu Ainun berusaha memaksakan dirinya untuk makan walau mungkin nantinya hanya sedikit yang bisa masuk ke dalam mulutnya.
"Abah, yuk bangun udah pagi..." ucap Ainun kembali.
Untuk beberapa menit kemudian, Abahnya pun terbangun dan mulai membuka matanya secara perlahan.
"Ainun..." lirih Abahnya, yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Abah..." ujar Ainun dengan tersenyum.
"Sudah pagi ya?" tanya Abahnya.
"Iya Abah sudah pagi, yuk sarapan pagi Abah...temani Ai makan, sudah di siapkan sarapan paginya sama Aa' Ahmad Rafiq," ajak Ainun dengan tersenyum.
"Hemm okeee, Bismillah..." ucap Abahnya yang berusaha duduk dan di bantu oleh Ainun.
"Sinii, Abah biar Ai bantu..." ucap Ainun yang segera membantu Abahnya.
"Makasih Ai, " ujar Abahnya.
"Iya sama sama Abah," jawab Ainun dengan tersenyum.
"Bentar Ai, Abah ingin duduk sebentar supaya gak pusing...maklum gini lah kalau orang tua baru bangun tidur hehehe, beda sama anak muda," ucap Abahnya.
"Hehehe, gak lah Abah...Abah bisa saja, bukan hanya orang tua Abah.. anak muda pun bisa, gak ngaruh kok Abah tua atau mudanya... karena Ai sering kok bangun tidur pusing dan duduk dulu, emang seperti itu Abah, sering terjadi, Ai sudah biasa mengalaminya dan merasakannya hehehe.... " ucap Ainun yang sedikit tertawa kecil.
"Iya...makasih ya, Abah gak salah pilih mantu ini," ucap Abahnya yang membuat Ainun tersipu malu dan hanya bisa menanggapi dengan tersenyum.
"Ai, Ayuk turun .." ucap Abahnya, setelah beberapa menit kemudian ia merasa tenang dan tidak pusing lagi.
"Iya Abah, biar Ai bantu..." ujar Ainun yang segera menuntun Abahnya ke meja makan.
Setelahnya Ainun pun segera mencuci tangannya, dan mengambilkan lauk pauk dan nasi goreng yang sudah tersedia untuk Abahnya dan dirinya, juga tak lupa roti dan susunya.
"Yuk, Abah di makan..." ucap Ainun yang akan menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
"Kenapa? Abah gak suka?" tanya Ainun kembali, karena melihat Abahnya tak kunjung memakan makanan tersebut.
"Enggak Ai, bukan gak suka... tapi Abah bingung...di mana Ahmad Rafiq? kok gak terlihat sejak tadi ...? dan gak ikut makan bersama kita...? kata kamu kan Ahmad Rafiq yang menyediakan makanan ini," ujar Abahnya, yang membuat Ainun terdiam dan sedikit tersenyum untuk meresponnya.
"Iya Abah, memang ini Aa' Ahmad Rafiq yang buat tapi setelah buat izin mau ke pesantren, jadi Ahmad Rafiq titip pesan agar kita makan berdua, agar Ai mengajak Abah makan..." ucap Ainun.
"Hemmm baiklah, Abah makan. Bismillah.... yasudah yuk kamu juga makan Ai," ujar Abahnya yang segera memulai makannya.
"Iya Abah,..." ucap Ainun yang juga menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.
"Humm enak juga ya nasi goreng buatan Ahmad Rafiq, anakku. Abah tak menyangka ia pintar masak juga," ucap Abahnya.
__ADS_1
"Hehehe iya Abah, Ai juga gak nyangka," jawab Ainun.
Mereka pun melanjutkan makannya dengan berbincang bincang hingga selesai.
"Alhamdulillah sudah selesai," ujar Abahnya.
"Iya Abah, Alhamdulillah..." ucap Ainun.
"Ai, bereskan dulu ya Abah sisanya ini, mau ke dapur juga," ucap Ainun
"Iya Ai, perlu Abah bantu?" tanya Abahnya.
"hehe, tidak usah ...Abah istirahat atau duduk aja, biar Ai yang bereskan.. maaf bila Ai belum bisa menemani, insya Allah setelah selesai Ai akan menemani Abah," ucap Ainun kembali.
"Yaa Allah makasih ya Ai, gak salah lah Abah pilih mantu ini, alhamdulillah... ohya gak papa Ai bereskan aja dulu jangan khawatir Abah yang sendirian toh ada kamu di rumah sini, insya Allah Abah juga gak papa...jangan sampai kamu bingung karena ingin menemani Abah, karena kalau sudah selesai semua kan kamu juga menamani Abah?" ujar Abahnya.
"Hehe iya Abah, Ai duluan ya..." ucap Ainun yang segera berlalu membereskan, setelahnya selesai Ainun menemani Abahnya mengobrol hingga Abahnya meminta beristirahat,
"Ai, Abah ingin istirahat...capek mulai tadi duduk terus, kalau kamu mau istirahat juga gak papa Ai," ucap Abahnya.
"Hehehe iya Abah, Ai belum ngantuk, mungkin mau lanjut berberes pulang sebelum Aa' Ahmad Rafiq pulang, supaya rumah gak terlihat kotor, Abah tidur aja ya...biar Ai bantu Abah ke kamar," ucap Ainun yang segera berdiri dari duduknya, dan membantu menuntun Abahnya ke dalam kamar untuk beristirahat.
"Abah selamat tidur dan istirahat ya," ucap Ainun setelah membaringkan Abahnya di kasur, sebelum ia pergi keluar dari kamar tersebut.
"Makasih ya Ai, Abah bersyukur punya mantu seperti kamu dan Abah gak salah pilih," ujar Abahnya menggemgam tangan Ainun.
"Iya Abah sama sama, Ai juga bersyukur punya mertua seperti Abah... yaudah Abah istrirahat ya, atau boleh tidur juga gak papa. Ai mau lanjut berberes sebelum suami Ai pulang hehehe," ucap Ainun yang segera melepaskan genggaman tangan tersebut.
"Iya Ai, makasih... kamu juga jangan capek capek, kalau merasa capek, istirahat aja. Insya Allah Ahmad paham kok dan tak mungkin memaksakan kondisi tubuh kamu yang juga perlu istirahat," ucap Abahnya mencoba mengingatkan Ainun.
"Iya Abah, terimakasih banyak sudah mengingatkan dan peduli dengan Ai, tapi jangan terlalu cemas ya Abah...Ai gak papa," ucap Ainun.
"Iya, tapi tenaga kamu jangan kamu forsil perhatikan kesehatanmu juga dan waktu istirahat untuk dirimu sendiri, juga jangan terlalu banyak beban pikiran," ucap Abahnya, yang menasehati dan mencoba mengingatkan Ainun kembali.
"Iya Abah, terimakasih banyak atas perhatian dan kepedulian Abah... insya Allah Ai jaga diri Ai dengan baik, kalau capek pun Ai akan istirahat," jawab Ainun.
"Yasudah, bener loh...jangan lupa apa yang kamu katakan ini," ujar Abahnya mencoba mengingatkan kembali, yang membuat Ainun tersenyum dan tertawa kecil.
"Hehehe iya Abah," jawab Ainun.
"Abah...Ai duluan ya, " ucap Ainun.
"Iya Ai, " jawab Abahnya.
Setelah mendapatkan jawaban dari Abahnya segera keluar dari kamar tersebut dan mulai berberes.
Ainun pun melanjutkan berberes rumah sebelum suaminya datang.
karena ia sendiri tak ingin Ahmad Rafiq mengetahuinya.
__ADS_1
******