
Setelah mendapatkan telfon dari Abahnya, Ainun pun segera menghampiri Abahnya.
"Abah..sudah selesai?" Ainun pun segera salim kepada abahnya dan bertanya.
"Iya, alhamdulillah sudah selesai...yuk pulang," ujar Abahnya.
"Okeee deh Abah," jawab Ainun.
"Ohya tadi gimana jalan jalannya di pesantren? senang?" tanya Abahnya.
"Alhamdulillah Abah, senang sekaligus nostalgia hehehe..rindu mengenang masa masa pas mondok dulu Abah, Ai...." ujar Ainun.
"Hehehe Masya Allah, Abah juga dulu Abah kan pernah mondok, meski bukan di sini dan jauh pondok Abah pas itu, tapi Abah tetap merindukannya.. apalagi kamu ya kan yang dekat? .... pas masa sekolah SD kah pasti kita juga rindu... iya Ai, gak papa Abah paham. Kalau memang kamu rindu pondok ini, kamu boleh kok sering sering ke sini buat bernostalgia." ujar Abahnya dengan tersenyum.
"Masya Allah, Hehehe iya yang Abah katakan benar, terimakasih ya Abah.... Ai sayang Abah," ujar Ainun segera memeluk Abahnya.
"Iya Ai, sama sama ... Abah paham perasaanmu karena Abah pernah berada di posisi sepertimu," ujar Abahnya yang segera memeluk Ainun dan menepuk pelan pundak Ainun
"Ohya yaudah yuk kita pulang," ujar Abahnya.
"Iya Abah...yuk," ujar Ainun, dan mereka pun segera berlalu pulang.
"Ohya Ai, kamu di rumah rencana mau nginap berapa hari? atau langsung pulang malam ini?" tanya Abahnya.
"Nginep sepertinya Abah, karena tadi siang kan Ai belum bisa makan bersama Abah, jadi belum afdhol rasanya, hehe. Lagipula Ai masih rindu di sini, gak pengen cepet-cepet pulang, karena kalau udah balik susah mau ke sini lagi, Abah.." ucap Ainun.
"Hemm benar juga hehehe, kamu bisa aja... tapi ya keputusan terserah Ai saja, jika Ai masih rindu dan nyaman di sini dulu ya gak papa, tapi coba hubungin suamimu dulu dan bicarakan dengan suamimu dulu ya...Suamimu sudah tau kan Ai kamu ke sini?" ujar Abahnya.
"Iya Abah nanti Ai coba hubungin dan bicarakan dengan suami Ai ya,..." jawab Ainun.
"Suamimu belum tau kamu ke sini?" tanya Abahnya kembali.
"Sudah... sebelum berangkat ke sini, Ai sudah memberitahukan ke suami kok Abah, tapi Ai emang belum ada bilang rencana Ai mau nginap di sini, karena memang kan masih baru terfikirkan tadi kalau Ai ingin menginap di sini, karena pumpung di sini dan biar gak bolak balik terus, kapan lagi kan....?" ujar Ainun.
"Hemmm begitu ya... baiklah, tapi nanti tetap hubungin dan bicarakan dengan suamimu ya... bagaimanapun ia harus tau dan kamu Istrinya, seorang istri yang harus nurut ke suami selagi di minta dalam hal kebaikan dan bukan kemungkaran loh ya, karena memang seperti itulah... Abah menasehati kamu Ai, karena kamu anak Abah dan Abah harus menasehati kamu, agar kamu tau dan paham...," ujar Abahnya.
"Hehehe, iya Abah siappp....Ai paham dan ngerti kok maksud Abah, Insya Allah Ai secepatnya akan menghubungi suami Ai soal penginapan ini," ujar Ainun.
"Hemm iya nak, sipp...Abah setuju. Maaf juga ya kalau mungkin penyampaian Abah kurang tepat dan pada akhirnya bikin kamu kurang nyaman mungkin dengan perkataan Abah dan mungkin bikin kamu sakit hati juga tanpa Abah tau dan sengaja, maaf ya... Abah hanya ingin kamu tau amanah sebagai seorang istri, selain menjaga Izzah dan iffah nya juga nurut ke perintah suami, selagi hal baik dan bukan kemungkaran." ujar Abahnya mencoba menasehati Ainun.
"Enggak Abah... perkataan Abah gak ada yang menyakiti hati Ai kok, karena yang Abah katakan semua benar. Gak apa apa Abah, justru Ai terimaksih banyak sama Abah yang sudah mau menasehati Ai secara cuma cuma ini... terimakasih banyak ya Abah, Ai sayang Abah... dan semoga Ai kelak bisa seperti itu ke anak Ai, menasehati dengan bijaksana," ujar Ainun dengan tersenyum.
"Sama sama Ai itu sudah tugas Abah jadi orang tua harus menasehati anak Abah, nanti Ai juga kalau jadi orang tua pasti akan nasehati anak Ai. Dan alhamdulillah Abah juga bersyukur bila ucapan Abah tidak menyakiti hati Ai," ujar Abahnya.
"Iya Abah, semoga Ai bisa menjadi orang tua sebijak Abah.. dan ya Alhamdulillah ucapan Abah sama sekali gak nyakitin Ai, jadi Abah jangan khawatir ya dan tenang saja," ujar Ainun dengan tersenyum dan menggemgam tangan Abahnya.
Abahnya pun membalas senyum Ainun dan memeluk anaknya untuk mengungkapkan rasa sayang pada Ainun, anaknya.
*******
"Ummi buat apa? biar Ai bantu ya," ucap Ainun pada Umminya, saat melihat Umminya memasak untuk makan malam.
"Ummi buat nasi goreng nih, buat makan malam. Mau bantu ummi? yasudah yuk sinii bantu saja gak papa kok," ujar Umminya.
"Owh nasi goreng ummi...wah enak itu. Ai suka nasi goreng, pasti bisa menjadi makan malam ternikmat untuk kita. Hehehe iya mau bantu Ummi, boleh kan?" ujar Ainun.
"Hehehe bisa aja kamu Ai, ngerayunya loh Ai, kamu bisa aja...belajar dari siapa sih?, ohya ngomong ngomong kenapa nih pengen bantu ummi buat nasi goreng?" tanya Umminya.
"Hehehe gak papa Ai pengen bantu Ummi saja, gak boleh ya?... Ai juga pengen bantu karena Ai lagi senang banget, malam ini bisa makan bersama bareng Abah, hehehe oleh sebab itu Ai semangat pengen bantuin," ujar Ainun dengan tersenyum dan tertawa kecil.
"Hemm begitu, baiklah Ummi terima alasan kamu... Yasudah ayo sinii bantuin Ummi," ujar Umminya Ainun.
__ADS_1
"Iya Ummi siapppp hehe, mana yang perlu di bantu Ummi?" ujar Ainun, yang segera membantu Umminya.
"Alhamdulillah akhirnya sudah jadi ini nasi gorengnya... Alhamdulillah capek juga hehehe," ujar Umminya yang sedang berbicara sendiri, karena senang melihat nasi goreng yang ia buat telah jadi.
"Alhamdulillah iya Ummi, sudah jadi.. humm aromanya menggoda sekali, bikin laper dan pengen cepat cepat makan," ujar Ainun saat mencium aroma nasi goreng buatan Umminya.
"Hehehe kamu bisa aja Ai, ohya nanti bantuin Ummi ya buat taruh nasi goreng ini di meja makan," ucap Umminya.
"Iya Ummi siapppp... ihh, Ainun serius loh nasi goreng buatan ummi top markotop dan istimewa sampai buat Abah jatuh hati ke nasi goreng Ummi kan? jadi candu buat Abah ke Ummi, hehehe....buat Ainun juga sih," ujar Ainun.
"Hahaha, Sudahlah, bisa aja kamu itu ngerayunya bisa aja...belajar dari siapa sih? sudah, sudah.. bawa ini, taruh dan siapkan di meja makan," ujar Umminya kembali.
"Siapp Ummi, Ai bawa ke meja makan ya..." ujar Ainun yang segera menyiapkan di meja makan.
"Humm aroma nasi gorengnya," ujar Abahnya.
"Iya kan Abah? kan Ai bilang apa Ummi... Abah juga bilang seperti itu," ujar Ai.
"Yasudah yuk kita makan," ujar Umminya yang telah bergabung juga di meja makan.
"Iya tunggu, Ibu Ayu ke mana?" tanya Abahnya.
"Oh iya ya.. Ai panggilkan Ibu Ayu ya," ujar Umminya.
"Iya ummi...." ujar Ainun yang segera berdiri, namun pergerakannya terhenti saat Ini Ayu terlebih dahulu sudah datang.
"Nah ini Ibu Ayu...." ujar Abahnya Ainun.
"Ibu Ayu...." ujar Ainun yang masih di posisi berdirinya.
"Ibu Ayu silahkan duduk," ujar Abahnya.
"Iya nak..." Ibu Ayu pun segera duduk, dan di ikuti oleh Ainun yang juga duduk.
Mereka pun masing masing mengambil lauk pauk dan nasik.
Begitupun dengan Umminya, setelah mengambilkan untuk suaminya, ia mengambil untuk dirinya sendiri, karena itulah yang di ajarkan oleh kedua orangtuanya dulu dan saat ini Umminya terapkan kepada suaminya, begitupun berharap Ainun bisa mengikuti jejaknya.
Setelah piring suaminya dan dirinya terisi penuh nasi dan lauk pauk, Umminya pun segera duduk dengan tenang untuk makan kembali.
"Yasudah yuk, kita makan... bismillah," ujar Umminya yang menyuapkan nasi ke mulutnya dan di ikuti oleh mereka.
"Ainun senang banget... akhirnya bisa kumpul lagi, ah Ainun pasti akan rindu," ujar Ainun.
"Abah juga senang.. Ummi dan Ibu Ayu juga pasti senang, ya kan?" ucap Abahnya.
Ibu Ayu ataupun Umminya Ainun pun megangguk.
"Iya Alhamdulilah, Ummi senang banget... sering sering ya Ai ke sini," ujar Umminya.
"Iya betul Ai, sering seringlah ke sini ya... untuk mengobati rasa rindu juga kan..." ujar Abahnya.
"Iya Ai insya Allah akan sering sering ke sini untuk mengobati rasa rindu Ai juga kita. Rasa rindu Ai tentang suasana rumah ini juga masakan Ummi yang terenak dan tak tergantikan," ujar Ainun.
"Iya ya sering sering ke sini, nginap dan nanti ummi masakin enak enak supaya terobati rindu Ai dengan masakan Ummi.." ujar Umminya.
"Hehehe iya Ummi insya Allah, tapi mungkin gak bisa sesering mungkin walau Ai pengen karena bagaimanapun Ai sudah menikah dan punya tanggung jawab... sudah berbeda gak seperti waktu gadis dulu," ujar Ainun.
"Iya Ummi, yang di katakan Ainun ada benarnya juga.. karena Ummi kan juga dulu gitu gak bisa sesering mungkin karena sudah menikah ada kerjaan rumah dan suami yang harus di urus terlebih kalau uda punya anak... " ujar Abahnya yang seakan memahami Ainun.
"Ai .. gak papa gak sesering mungkin ke sini nya, tapi tetap sempatkan ya walau sebentar dan gak lama atau sering, karena yang terpenting bisa mengobati rasa rindu Ai ataupun rasa rindu kita terhadap Ai juga," ujar Abahnya kembali.
__ADS_1
"Iya Abah, insya Allah Ai usahakan sering dan bukan jarak waktu yang lama tapi mungkin gak sesering mungkin ya karena Ai dah nikah dan tanggung jawab seperti yang Abah bilang tadi...sudah beda tidak seperti gadis yang bebas ke mana mana dan tidak memiliki tanggung jawab," ujar Ainun.
"Iya Abah, iya Ai...benar... gak papa gak sering atau menginap dalam waktu lama, pokoknya jangan sampai kelamaan gak ke sini karena kami rindu kamu dan selalu nunggu kedatanganmu," ujar Umminya.
*Iya Ummi insya Allah... karena Ai juga pastinya rindu Ummi, Abah, Ibu Ayu, suasana rumah di sini dan masakan Ummi jadi gak mungkin bisa lama lama gak ke sininya tapi ya mungkin gak bisa sesering mungkin butuh cari waktu dulu yang pas baru bisa ke sini,"
"Iya Ai insya Allah kami selalu menunggu kedatanganmu, iya kan Abah? ... karena pintu rumah ini selalu terbuka lebar untukmu," ujar Umminya dengan tersenyum.
"Iya betul...." ujar Abahnya.
Sedangkan Ibu Ayu yang menyasikkan pembicaraan mereka juga tersenyum.
Begitupun dengan Ainun yang juga tersenyum sebagai jawaban.
"Ohya gimana tadi di pondoknya pas nunggu Abah? ketemu Abah kan akhirnya?" tanya Umminya.
"Iya Alhamdulilah ketemu Ummi tapi muter muter dulu Ai nya baru ketemu Abah," ujar Ainun.
"Iyakah?" tanya Umminya dengan tersenyum.
"Iya ya? hahahaha," tawa Abahnya pun pecah.
"Abah tadi lagi ngajar loh... tapi terus ketemu Abah kan?" ucap Abahnya kembali dengan tersenyum.
"Hehehe iya Abah," ujar Ainun dengan sedikit tertawa kecil.
"Terus pas udah ketemu langsung pulang kah atau bagaimana? dan bagaimana bekal yang Ummi bawakan buat Abah? ke makan ya? pas Abah selesai ngajar mau pulang? padahal kalau mau pulang, makan di rumah saja gak papa.. Ummi juga sudah bilang gitu ke Ai, ya kan Ai?" tanya Umminya.
"Ohya tadi juga sempat lihat sekitar pesantren kah? sekalian nostalgia ya Ai hehehe.. tapi tadi sempat apa gak Ai?" tanya Umminya kembali.
"Enggak Ai gak langsung pulang, Ummi... karena sehabis Abah ngajar, Abah makan dulu bekal dari Ummi dan Abah senang banget, bersyukur karena lapar sejak tadi itu katanya, nah setelah makan Abah ke kantor untuk rapat dengan sesama pengajar, Ai nunggu di sana dan lihat pemandangan, keadaan suasana sekitar dan sekitar... seketika Ai rindu juga suasana pondok dan flashback pas Ai masih mondok di sana.. sampai Ai nangis loh Ummi ketika mengingatnya hehehe...nah setelah Abah bilang sudah selesai, Ai hampiri Abah di depan kantor pengajar terus kita pulang Ummi..." ujar Ainun.
"Iya kah?" ujar Umminya dengan tersenyum.
"Iya Ummi...benar yang di katakan Ai dan Abah juga bersyukur punya istri sepengertian Ummi yang selalu tau yang Abah butuhkan tanpa Abah minta, termasuk bekal itu." ujar Abahnya.
"Hehehe Abah bisa aja kan emang itu kewajiban seorang istri," ujar Umminya yang malu malu.
"Iya tapi menurut Abah, Ummi luar biasa bahkan lebih dari itu hingga gak bisa di ungkapkan dengan kata kata... Ai kamu contoh seperti Ummimu ya bagaimana bersikap ke Suami dan bisa menyenangkan hati suami hingga betah di rumah, tidak berlama lama keluar dan tetap setia dengan istrinya," ujar Abahnya
"Hehehe, Abah berlebihan... sukanya gitu Ai Abahmu berlebihan, jangan di dengarkan. Eh tapi pesan yang di sampaikan Abahmu ada benarnya juga Ai walau terkesan berlebihan," ujar Umminya.
"Hehehe iya Insya Allah Ai akan mencontoh menjadi istri seperti itu bila kelak Allah izinkan... terimakasih nasehatnya Abah," ujar Ainun.
"Iya yang Abah sampaikan ini kebenaran loh, kenyataannya memang seperti itu, gak ada yang di lebih lebih kan..." ujar Abahnya.
"Tapi Ai maksud kamu kelak bila Allah izinkan? bukankah sekarang kamu sudah menjadi seorang istri juga? yang seharusnya seperti itu kan?" tanya Abahnya, yang membuat Ainun kelu dan terdiam.
"Iya Ai, bener yang di katakan Abahmu, maksudnya apa?" tanya Umminya juga.
Ainun benar benar bingung harus menjawab apa...
Namun karena Ainun masih dengan diamnya, Umminya pun mengalihkan pembicaraan agar Ainun tak merasa tertekan dengan mereka yang menunggu jawabannya.
Dan Umminya berencana akan menghampiri Ainun ketika mereka berdua nanti, dan menanyakan padanya maksud ucapannya.
"Yaudah yuk lanjut makannya keburu dingin," ujar Umminya, yang berusaha mengalihkan pembicaraan tersebut.
"Iya betul, lanjutin aja dulu makannya nanti dingin, baru lanjut ngobrol nya nanti setelah selesai makan," ucap Ibu Ayu, yang membuat Umminya tersenyum karena seakan membantunya untuk mengalihkan pembicaraan ini.
"Iya betul, karena keasyikan ngobrol sampe lupa makan, hehehe yaudah yuk lanjut makan," ujar Abahnya yang segera menyendokkan nasi ke dalam mulutnya, di ikuti oleh mereka yang juga melanjutkan makannya.
__ADS_1