
Setelah selesai makan malam, Ainun dan Ahmad Rafiq kembali ke kamarnya masing masing untuk beristirahat.
"Ai, sesuai perjanjian seharusnya kita tidur di kamar terpisah, berhubung sekarang ummi dan Abahmu juga menginap di sini, jadi kamu gak bisa tidur di kamar samping jadi untuk sementara kita tidur satu kamar, tapi kamu di kasur saja ya, biar aku yang di lantai ... karena aku juga gak mungkin tega membiarkan kamu tidur di lantai sendirian." Ahmad Rafiq pun segera membentangkan karpet lantai, kasur dan selimut di lantai.
"Tapi ini kan rumahmu, aku gak enak sama kamu ... bagaimana jika kamu tidur di kasur saja? biar aku yang tidur di lantai?" ujar Ainun yang merasa tak enak hati dengan Ahmad Rafiq.
"Gak papa, ini juga sudah jadi rumahmu. Dan aku juga gak enak kali, kalau membiarkan kamu seorang perempuan tidur di lantai sendirian, terlebih bagaimanapun kamu masih istriku," Ahmad Rafiq pun menghadap ke arah Ainun, yang tanpa sadar membuat Ainun kagum untuk sejenak melihat senyumnya.
Ainun merasa Ahmad Rafiq masih peduli dengannya tapi seketika rasa itu pudar saat Ahmad Rafiq mulai berbicara kembali.
"Jangan geer, aku berbicara seperti ini karena aku kasihan denganmu jika harus tidur di lantai, dan aku akan menjadi laki laki terjahat bila aku tetap membiarkan kamu tidur di lantai. Tapi bukan berarti aku mulai peduli denganmu atau ada rasa denganmu, jangan geer karena ini pernikahan kontrak dan semua itu takkan terjadi," ucap Ahmad Rafiq, yang seakan membangunkan Ainun dari mimpinya dan angannya.
"Oke, terimakasih.. Maaf sudah membuatmu tidur di lantai. Dan ya aku tau pernikahan kita di atas kertas kan? ntah sudah berapa kali kamu ulang terus kalimat itu, aku rasa kamu tidak perlu mengulangnya berungkali karena aku sudah mendengarnya," tegas Ainun.
"Okeee, maaf.. Aku hanya mengingatkanmu saja supaya kamu tidak lupa posisimu. Sudahlah aku mau tidur, sudah malam juga." ujar Ahmad Rafiq segera memunggungi Ainun.
"Iya.." ucap Ainun singkat.
Setelah Ahmad Rafiq tertidur, Ainun pun memilih tidur juga.
walau matanya mencoba terpejam, namun rasanya sulit.
Karena kini Ainun benar benar merasakan perasaan nyeri dan sesak atas ucapan yang di ucapkan oleh suaminya.
Tak ada malam pertama baginya, seperti pernikahan yang lainnya karena ia pun sadar pernikahan ini tak lebih di atas kertas.
Tak ada kata kata romantis atau tawa canda dan senyum yang harus ia dengar ataupun lihat seperti pasangan baru pengantin lainnya, yang seharusnya seperti itu ... tapi tidak baginya.
Ainun berulangkali harus menyadari dan meyakinkan hatinya, pernikahan ini tak lebih di atas kertas, pernikahan ini ... pernikahan kontrak.
Tak ada harapan ataupun yang harus ia harapkan seperti pasangan pengantin lainnya.
Untuk sejenak Ainun menghembuskan nafas berat beberapa kali untuk menghilangkan sesak yang ia rasakan.
Ainun mencoba membuka kembali galeri di handphonenya, terdapat beberapa foto Aldo yang masih ia simpan, foto foto yang ia ambil ketika Aldo datang ke rumahnya dan memintanya kepadanya kala itu, sebelum Abahnya menolak dan Salsa lah yang akhirnya menikahi Aldo.
Tanpa sadar bulir bulir air matanya mulai membasahi pipinya, Ainun mencoba menghapusnya perlahan, meski setelahnya Ainun membiarkan air mata itu mengalir begitu saja.
Ia mencintai Aldo dalam diam, kini dalam diam pula ia harus mengikhlaskan Aldo.
Ingin rasanya ia menemui Aldo dan mengatakan kembali mengenai perasaannya, tentang bahtera rumah tangga yang sedang ia jalani, bila ia tidak bahagia dengan Ahmad Rafiq dan pernikahan tersebut tak lebih di atas kertas saja.
Namun rasanya dirinya pun juga takkan sanggup mengatakan hal demikian, karena Ainun tak ingin menyakiti perasaan Salsa, sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Bagi Ainun cinta terlalu rumit baginya.
Ainun pun mencoba memejamkan matanya kembali, dan berharap esok ia bisa bangun dengan tersenyum karena bisa terbangun dari mimpi buruk ini, ya ia harap seperti itu, ini tidak lebih mimpi...
******
Sedangkan di tempat lain, Salsa sedang mencoba memilih pakaian untuk makan pertamanya.
Salsa benar benar bahagia dengan pernikahan ini, meski tak bisa ia elakkan ketakutan itu kadang datang menghampirinya ...
Beberapa hari sebelum pernikahan itu terjadi, Salsa seringkali bermimpi bila pernikahannya akan di uji oleh gelombang yang bisa saja menggoyahkan kapal bahtera rumah tangga yang sedang ia tumpangi saat ini, bahkan bisa membuatnya tenggelam bila tak benar benar bisa mengemudikan dengan baik bahtera rumah tangga ini.
Salsa bermimpi bila seseorang dari masa lalu Aldo kembali dan merebut darinya, namun Salsa tak tau siapa seseorang itu .... dan apakah itu benar?
Ah, Salsa harap itu sekedar mimpi saja dan semoga rumah tangganya baik baik saja.
Setelah berganti pakaian dan menunggu Aldo, Salsa kembali membuka galeri di handphonenya.
Salsa melihat kembali, foto pernikahan mereka yang sudah di abadikan dalam handphonenya, tanpa sadar Salsa tersenyum saat melihat foto pernikahan tersebut.
Salsa pun merasa bahagia, karena ia juga memiliki anak angkat dari Aldo, yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
Salsa harap semoga bahtera rumah tangganya baik baik saja.
Sungguh ia tak bisa membayangkan jika itu benar benar terjadi...
"Al?... sudah datang?" tanya Salsa gugup.
"Iya ... aku lihat kamu sedang melamun dan senyum senyum sendiri? ngelamunin dan lihat apasih sampai senyum senyum gitu?" tanya Aldo.
"Humm, hehe gak papa kok Al, ini aku lihat foto pernikahan kita." Salsa pun menunjukkan foto di galeri handphonenya kepada Aldo.
"Oooh, ini foto pernikahan kita ...? yang bikin kamu senyum senyum sendiri? " tanya Aldo kembali dengan tersenyum, menggoda Salsa.
"Hehehe iya Al," ucap Salsa dengan tersenyum.
"Iya, masih gak nyangka ya, akhirnya kita menikah juga .... Syukur Alhamdulillah mas senang dan foto pernikahan kita akhirnya di abadikan juga, bisa kita lihat kapanpun kita mau," ujar Aldo dengan tersenyum dan menatap dalam ke arah Salsa.
"Hehehe, Iya Mas... syukur Alhamdulillah, aku pun sangat bersyukur dan masih gak nyangka kita sudah menikah juga.
aku pun senang, Alhamdulillah bisa lihat foto pernikahan kita ini kapanpun ku mau," Salsa pun tersenyum kembali dan menatap dalam ke arah Aldo.
"Ohya gak ke kamar mandi? buat bersih bersih dulu?" tanya Salsa, yang mengalihkan tatapannya karena ia masih grogi di tatap Aldo begitu dalam.
__ADS_1
"Hemmm, padahal masih ingin lama lama sama kamu," ujar Aldo yang kembali tersenyum dan membuat Salsa grogi juga berdesir di sudut hatinya.
"Sudah Mas, ke kamar mandi dulu, nanti lanjutin ngobrolnya," ujar Salsa kembali dengan sedikit mendorong tubuh Aldo agar tak terlalu mendekatinya dan ke kamar mandi.
"Hemm gitu amat sama suami sendiri.. iya iya, ini mau ke kamar mandi.." Aldo pun segera ke kamar mandi, Salsa pun tersenyum karena ia berhasil kembali mengatur detak jantungnya.
Sungguh berada di dekat Aldo lama lama bisa membuat detak jantungnya berdegup kencang dan tak menentu.
"Oke, aku siapkan ya pakaian tidur kamu." Salsa pun segera menyiapkan pakaian ganti untuk Aldo.
Aldo pun segera ke kamar mandi, setelah Kepergian Aldo, Salsa melamun kembali.
Salsa tersenyum sendiri membayangkan betapa bahagianya dia bisa menjadi istri Aldo dan menjadi bagian keluarga ini.
Salsa membayangkan apa saja yang akan ia lakukan bersama Aldo mulai malam ini dan seterusnya, membuatnya tanpa sadar tersenyum sendiri.
Sungguh tak bisa ia bayangkan bila semua berubah seketika seperti di mimpinya, Salsa harap itu tidak benar benar terjadi dan semoga semuanya baik baik saja.
"Kenapa melamun saja? melamunin apasih?" tanya Aldo, yang sudah keluar dari kamar mandi.
"Mas? sudah keluar? hehehe gak papa mas, aku sedikit terkejut dengan kedatanganmu mas," ujar Salsa.
"Iya aku sudah keluar, ... kamu ngelamuin apasih?" tanya Aldo kembali.
"Gak, gak papa ... aku bahagia dengan pernikahan kita ini, aku sangat bahagia Al, dan aku bersyukur. Tapi aku seringkali mimpi buruk dan aku takut, bila pernikahan kita benar benar di uji oleh gelombang yang mungkin bisa saja menggoyahkan kapal bahtera rumah tangga yang kita tumpangi. Ah, ku harap semoga tidak terjadi ... dan semoga hanya mimpi saja.
Karena aku tidak ingin kehilangan kalian yang sudah menjadi bagian dari keluargaku.
Aku tidak ingin kehilangan kamu Al, mama, papa dan Farah juga Fatah.
Aku ingin selalu bersama kalian dan tidak ingin kehilangan kalian ... " ujar Salsa yang mulai bersandar di atas dada Aldo.
"Insya Allah, tidak akan terjadi apa apa dengan pernikahan kita dan kita akan selalu bersama..." ujar Aldo megenggam tangan Salsa dan mengelus kepala Salsa.
"Terimakasih, sudah menjadi bagian dari hidupku, menjadi pendampingku dan mengisi hari hariku nantinya, terimakasih ya Mas dan terimakasih sudah memberikanku anak, Farah dan Fatah..." ujar Salsa kembali.
"Iya sama sama, dan terimakasih juga sudah hadir di hidupku, mengisi hari hariku, menjadi bagian belahan jiwaku dan terimakasih sudah menjadi istri dan ibu bagi anak anakku," ujar Aldo yang menatap Salsa begitu dalam dengan tersenyum, membuat hati Salsa berdersir.
"Iya Mas sama sama, terimaksih juga.
Dan semoga kita bisa saling mengisi, menguatkan dan bersyukur satu sama lain," ujar Salsa kembali dengan tersenyum
"Iya... Insya Allah semoga kita bisa. Aamiin..." ucap Aldo kembali dan mereka pun saling memeluk satu sama lain.
__ADS_1
Malam ini Salsa harap semoga bahtera rumah tangganya baik baik saja dan semoga mimpi yang menghantuinya hanya bunga tidur saja juga tak benar benar terjadi.
Dalam pelukan Aldo Salsa tersenyum dan menangis haru, berharap ia bisa merasakan kebersamaan ini terus menerus dan takkan pernah terpisahkan.