
POV Aldo
Hari ini aku berencana akan ke kantor bersama Papa karena kantor Papa ada meeting.
Setelah selesai makan, aku dan Papa pun segera pergi ke kantor, sedangkan istriku akan mengantarkan Farah dan Fatah pergi ke sekolah.
Sungguh aku sangat bersyukur bisa mempunyai istri sepertinya yang peduli dan sangat menyayangi anakku .
Salsa juga sudah menganggap anakku seperti anaknya, ucapnya kala itu.
Ah, sungguh sangat jarang perempuan seperti itu.. bahkan itu bukan hanya sekedar ucapannya saja tapi Salsa benar benar menjuakkan dengan perbuatannya menyayangi anakku.
Salsa memberikan perhatian dan cinta penuh ke anakku, walau Fatah dan Farah bukan anak kandungnya tapi bagi Salsa, Farah dan Fatah seperti anaknya sendiri.
Sugguh bahagia dan sangat beruntung diriku bisa mempunyai istri sepertinya.
Namun ketika di tengah jalan, aku meminta berhenti karena tanpa sengaja aku melihat Ainun yang sedang melamun dari kejauhan di taman tersebut.
Karena beberapa hari Salsa seringkali bertanya mengenai kabar Ainun dan semenjak menikah mereka tak ada kontak lagi.
Terlebih melihat Ainun seperti itu, membuatku ingin bertemu dengannya sekaligus menyampaikan pesan Salsa yang rindu dan cemas dengan keadaannya.
Walau jujur aku pun ragu, untuk menemuinya karena aku masih teringat bagaimana penolakan Abahnya dulu padaku dan ketika kala itu Ainun menyampaikan perasaannya padaku hingga membuat Salsa cemburu dan aku pun tak menyangka Ainun akan mengungkapkan perasaannya padaku...
Ya memang kejadian itu sudah berlalu dan kini Ainun ataupun aku sudah sama sama menikah, tapi jujur entah mengapa perasaan canggung itu masih terasa dan aku pun bingung harus bersikap apa kepadanya karena di sisi lain aku juga tak ingin melukainya bila kembali bertemu denganku bagaimanapun ia sahabat Salsa, ya walau aku tau mungkin cinta ia untukku sudah tak ada dan ku harap seperti itu hingga aku tak perlu merasa bersalah kembali dan tak enak hati dengannya.
Hingga akhirnya, aku pun memilih turun dan ingin menemui Ainun.
Aku meminta Papa untuk berhenti dan aku akan menyusul ke kantor walau sempat terjadi beberapa perdebatan di antara kami karena menurut Papa sebentar lagi meeting akan di mulai dan tak seharusnya aku meminta berhenti tengah jalan.
Namun aku mencoba meyakinkan Papa jika aku hanya sebentar dan akan segera menyusul ke kantor sebelum meeting di mulai dan ku pastikan itu.
Papa pun akhirnya menyetujui dan aku pun segera turun dari mobil menghampiri Salsa.
Aku pun menyapanya ketika sudah berada di sampingnya, ia sedikit terkejut dengan kedatangan aku di taman ini, sepertinya.
Namun pada akhirnya ia pun tetap menjawab sapaanku hingga kami pun mengobrol dan sedikit berbicang bincang.
Aku pun menanyakan kabarnya, begitupun dengannya.
Dan aku pun mengatakan mengenai Salsa yang mencari keberadaannya juga rindu padanya.
Ainun pun mengatakan juga rindu pada Salsa dan meminta alamat rumah kami, begitupun aku karena aku fikir bila dia belum sempat ke rumah mungkin bila Salsa ingin bertemu dengannya bisa ku antar ke sana.
Hingga setelah cukup lama kami mengobrol, aku pamit padanya karena aku rasa sudah cukup lama pembicaraan di antara kita dan aku pun harus segera ke kantor sebelum meeting di mulai.
__ADS_1
Aku pun segera pamit ke Ainun untuk ke kantor, Ainun pun mengiyakan.
Namun sayang, di sini agak sulit mencari kendaraan dan mungkin butuh waktu cukup lama baru aku mendapatkan kendaraan hingga aku pun mencari taxi online agar bisa segera ke kantor.
Setelah memesan taxi online, aku pun menunggunya.
Namun aku sedikit terkejut ketika Ainun menghampiriku, aku pun segera bertanya padanya karena aku takut bila ada keperluan penting hingga membuat Ainun harus menghampiriku lagi setelah pembicaraan kita selesai tadi.
Ainun pun mengatakan ingin menemaniku, walau aku sudah mengatakan padanya, ia bisa pergi duluan dan tak harus menungguku karena jujur aku tak enak hati dengannya yang harus menungguku.
Tapi Ainun tetap kekeuh dan ingin menemaniku, hingga aku pun mengiyakannya dan berterimakasih padanya walau aku rasa tak perlu repot repot ia menemaniku di sini.
Namun aku sangat terkejut, dengan tiba tiba Ainun melontarkan pertanyaan yang menurutku sedikit aneh, ah bukan sedikit tapi sangat aneh dan tak masuk akal.
Bagaimana tidak?
Ia tiba tiba berucap seperti itu hingga membuatku tanpa sadar tak bisa menahan emosiku ketika ia berucap seperti itu.
Ainun menanyakan bila bahagiakah aku hidup bersama dengan Salsa? bagiku itu pertanyaan konyol dan aneh untuk di lontarkan.
Aku dan Salsa sudah menikah dan karena saling mencintai, lalu bagaimana mungkin rumah tangga kami tak bahagia?
Menurutku pertanyaan yang Ainun lontarkan cukup konyol dan aneh...
Tapi aku tetap mencoba menanyakan maksudnya..
Namun bukan jawaban yang ia berikan justru ucapan yang menurutku tak masuk akal dan sedikit aneh yang ia lontarkan kembali padaku.
Ia mengatakan apa aku masih ada rasa dengannya...?
Oh noo... jangan katakan bila ia masih ada rasa denganku? sedangkan di sisi lain bukankah ia sudah mempunyai seorang suami?
Apa rasa untukku masih ada? dan untuk suaminya belum ada? karena yang aku tau pernikahan mereka karena perjodohan.
Tapi apa iya rasa masih ada rasa denganku dan belum bisa mencintai suaminya?? ya meski karena perjodohan bukankah sudah 3 bulan mereka mengarungi bahtera rumah tangga?
Sebenarnya aku sudah sedikit aneh, ketika aku bertanya kembali mengenai ia dan Ahmad Rafiq sudah memiliki momongan atau belum? dan ketika aku mendoakan agar mereka segera memiliki momongan.
Namun jawaban Ainun sedikit aneh, bukan mengamiinkan tapi jawaban Ainun seperti gamang juga ambigu dan sedikit tertawa kecil ketika aku melontarkan ucapan doa tersebut padanya, aneh bukan...?
Aku pun tak lagi bisa menahan emosiku ketika ia menelontarkan ucapan ataupun pertanyaan tersebut padaku.
Aku mengatakan dengan jelas padanya bila ucapannya sangat tak pantas di lontarkan, dan aku sudah sangat bahagia hidup bersama Salsa dan mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya.
Aku mengatakan bila aku sangat mencintai istriku, Salsa.
__ADS_1
Aku pun memohon padanya agar ia melupakan masa lalu yang pernah ada di antara kita, karena hubungan itu kini telah tak ada lagi termasuk rasaku dengannya.
Ya aku mengatakan, bila rasaku dengannya sudah tak ada semenjak aku di tolak oleh Abahnya, apakah ia lupa tentang hal itu? ketika Abahnya menolak lamaranku aku pun mulai berusaha menjauhinya agar hatiku tak semakin sakit atas penolakan tersebut dan mampu melupakan rasa juga cintaku padanya, meski saat itu aku sempat termenung dan terpuruk atas penolakan abahnya padaku, kala itu.
Tapi sungguh semenjak aku jatuh cinta dengan Salsa, aku sudah melupakannya dan rasaku terhadapnya perlahan demi perlahan terkikis hingga sudah tidak ada lagi karena aku sudah jatuh cinta dengan Salsa dan mungkin hati juga cintaku terisi penuh dengan nama Salsa.
Aku pun mencoba berucap tegas padanya, agar ia melupakan perasaan konyolnya padaku karena bukankah aku dan dirinya sudah sama sama mempunyai pasangan? dan sudah seharusnya ia ataupun aku menjaga perasaan pasangan kita masing masing.
Terlebih apa yang pernah terjadi di antara kita sudah berlalu dan itu hanya masa lalu karena kini kita sudah mempunyai pasangan masing masing.
Ya, setelah mengatakan hal tersebut padanya, setelah aku berbicara tegas padanya dan mencoba menjelaskan padanya agar ia menyadari kesalahannya, aku pun pamit untuk segera pergi sesampainya taxi yang ku pesan sudah datang.
Aku pun tak menggubris ucapannya ketika ia meminta maaf padaku, dan aku segera menuju taxi yang sudah ku pesan
Entah mengapa, saat ia mengatakan hal tersebut aku merasakan ifiel dengan kalimat yang ia lontarkan padaku hingga emosiku tak bisa ku tahan lagi, karena rasanya ucapan tersebut tak pantas untuk di lontarkan hingga ketika ia meminta maaf padaku aku pun tak bisa menjawabnya dan memilih berlalu pergi.
Dan entah apakah aku bisa bertemu dengannya atau tidak setelah ini...
Dan entah apakah aku bisa mengatakan pada Salsa pertemuanku dengannya dan mengajak Salsa ke rumahnya?
atau aku harus menundanya terlebih dahulu dan tak mengatakan apapun pada Salsa ataupun mengajaknya hingga ku rasa emosiku cukup mereda dan Ainun tak lagi terbawa perasaan.
Ya, mungkin aku harus menunggu situasi cukup membaik, entalah...
Karena saat ini aku benar benar tak sanggup untuk bertemu dengannya ataupun berbicara padanya dan aku pun tak ingin Salsa bertemu dengannya karena aku takut ia melontarkan ucapan konyol semacam itu pada Salsa, yang akan semakin membuat keadaan kacau...
******
Maaf ya untuk part ini aku menuliskan POV Aldo dulu, dan mungkin untuk pertemuan mereka di bab selanjutnya.. mungkin di bab setelah ini atau entah bab ke berapa...
Jika ingin tau kelanjutannya, bisa ikuti terus cerita ini ya hehehe..
Dan jangan lupa like, vote juga komen karena membuatku semakin semangat untuk nulis π
Komen kalian kemarin, membuatku semangat untuk melanjutkan cerita ini..
jadi jangan lupa, like, komen juga vote ya bila berkenan dan tentunya bila menyukai cerita ini agar aku semakin semangat nulisnya...
π€π
Tolong juga jangan komen yang bikin down untukku nulis..π€π
Sampaikan dengan baik agar di terima dengan baik pula, okeeπππ€
Okeee tunggu episode kelanjutannya yak.. otw masih ngetikπ€π
__ADS_1