
Setelah memutuskan dan mempertimbangkan cukup lama, Ahmad Rafiq pun menyetujui permintaan Ainun
"Humm, baiklah aku mengizinkanmu bertemu Salsa dan aku akan mengantarkanmu ke sana, tapi aku akan ikut." tegas Ahmad Rafiq.
"Baiklah, terimakasih..." jawab Ainun.
"Tapi aku harap kamu bisa dengan komitmenmu gak terbawa perasaan ketika bertemu Aldo, ku harap begitu," ujar Ahmad Rafiq.
"Iya, insya Allah..." ujar Ainun lemah, karena ia sendiri tak bisa memastikan perasaannya.
"Ohya terus rencana mau ke sana kapan?" tanya Ahmad Rafiq.
"Hummm besok aja deh atau beberapa hari lagi karena bagaimanapun aku ingin menenangkan diriku dulu.
Aku bilang dulu ke kamu karena ingin mendapatkan izin kamu," ujar Salsa.
"Oke, baiklah... humm aku ingin istirahat dulu ya, aku capek..." ujar Ahmad Rafiq yang segera beristirahat.
Karena bagaimanapun ia sendiri bingung harus merespon bagaimana lagi, setiap ucapan yang Ainun lontarkan.
Dan ia benar benar ingin mengistirahatkan tubuhnya dan fikirannya yang terlalu lelah dengan semuanya yang ia rasakan dan dengarkan hari ini.
*******
Setelah beberapa hari kemudian, Salsa semakin merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Aldo, suaminya.
Karena seringkali Aldo melamun seakan ada sesuatu yang di sembunyikan olehnya.
Salsa berusaha mencari tau sendiri, dan takkan mempertanyakan kepada Aldo, karena ia tak ingin membuat Aldo semakin pusing dan merasa tak nyaman dengan pertanyaan yang akan ia lontarkan
Karena Salsa sendiri tak ingin ada perdebatan antara dirinya dengan Aldo pada akhirnya, oleh sebab itu Salsa ingin mencari tau sendiri apa yang sebenarnya Aldo sembunyikan darinya.
"Mas, ini roti , susu, dan teh nya minum ya, ada juga nasi goreng dan telur ceplok mungkin bisa buat sarapan pagimu, silahkan mas mau pilih makan yang mana untuk sarapan pagimu," ujar Salsa
"Wah, terimakasih ya Salsa sayang, Hemm kamu gak ikut sarapan pagi?" tanya Aldo.
"Iya Mas, aku ikut makan," Salsa pun segera duduk di meja makan dan mempersiapkan makanan untuk Aldo.
"Ini Mas, makan ya." Salsa menyerahkan piring yang sudah ia isi lauk pauk, nasi untuk Aldo, kemudian ia pun mengambil makanan untuknya dan segera makan juga.
Salsa pun juga menuangkan air putih di gelas untuk dirinya dan Aldo.
"Ini mas, minum dulu mungkin haus," ucap Salsa kembali.
"Mas minum Susu dulu, roti terus nasi baru air putih dan teh dikit aja ya hehehe," ujar Aldo sedikit tertawa dan tersenyum.
Saat makan mereka saling berbincang bincang hingga selesai.
"Mas, berangkat dulu ya, hati hati di rumah," ujar Aldo.
"Iya Mas, kamu jugalah jangan banyak pikiran supaya fokus kerjanya, aku di sini insya Allah gak papa toh ada Mama, Farah dan Fatah," ujar Salsa.
"Hehehe iya kamu benar, tapi kamu tau darimana aku banyak pikiran?" sahut Aldo.
"Gak, gak papa... tapi aku ini istrimu mas, jadi taulah kamu ada masalah atau gak nya.
Ya, mungkin kamu bisa berbohong dan menyembunyikan dari mereka juga dariku, tapi sebenarnya kamu tak bisa menyembunyikan dariku, istrimu ini," ucap Salsa.
"Tapi yasudalah, aku tidak akan memaksa kamu untuk bercerita atau mengatakan iya, aku hanya ingin kamu gak terlalu banyak pikiran, dan aku tau kamu saat ini banyak pikiran," ujar Salsa kembali.
"Hemm, iya maafkan aku ya...insya Allah aku akan lebih fokus bekerja," ujar Aldo.
"Hemm baiklah mas," ucap Salsa.
"Yasudah, aku berangkat dulu ya..." ujar Aldo pamit.
"Hemm, iya Mas hati hati..." ujar Salsa mencium tangan Aldo.
Setelah kepergian Aldo, Salsa pun segera berberes rumah.
*******
Hari ini Ainun mengajak berencana ingin ke rumah Salsa.
"Aa' Ahmad, sudah siap? kita makan dulu ya terus ke rumah Salsa," ujar Ainun.
"Hemm oke Aa' makan dulu ya, tapi Aa' mau mampir ke pesantren Aa' bentar, terus baru kita ke rumah Salsa ya?" sahut Ahmad Rafiq.
"Okeee deh," ujar Ainun.
"Ohya aku panggil Abah dulu ya di kamar supaya makan bareng kita," ucap Ainun.
"Okeee Ai, aku tunggu di sini aja ya," ujar Ahmad Rafiq.
__ADS_1
"Iya Aa'...." ucap Ainun yang segera ke kamar Abahnya Ahmad Rafiq untuk membangunkannya.
Beberapa menit kemudian Ainun bersama Abahnya menuju ruangan makan, untuk makan bersama.
"Alhamdulillah ini Abah, yasudah yuk kita makan bersama," ujar Ahmad Rafiq.
"Iya Aa' yuk, Abah duduk ya," ujar Ainun yang menyeretkan kursi untuk Abahnya makan.
Ainun pun mengambilkan makanan untuk Ahmad Rafiq dan Abahnya, setelahnya ia pun mengambil makanan untuk dirinya dan mereka pun memulai makan bersama.
Setelah selesai makan, Ahmad Rafiq pamit ke pesantren sebelum ia mengantarkan Ainun ke rumah Salsa.
Sebenarnya ia sendiri ragu untuk mengantarkan Ainun ke rumah Salsa, karena ia tak ingin Ainun bertemu Aldo dan perasaan itu akan tumbuh lagi.
Namun bukankah awal yang baik memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada istrinya?
Ya, sebab itu Ahmad Rafiq memilih memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Ainun dan ia berusaha percaya, juga berharap Ainun bisa menjaga kepercayaannya, tentunya dengan ia turut ikut bersama Ainun mengantarkannya.
"Ai, Abah, aku pamit ke pesantren dulu ya baru antar kamu ke rumah Salsa ya Ai," ujar Ahmad Rafiq yang pamit kepada Ainun juga Abahnya.
"Iya Aa' hati hati ya... aku tunggu," sahut Ainun.
Ahmad Rafiq pun mencium Ainun dan salim kepada Abahnya, setelahnya ia segera berangkat ke pesantren.
Setelah kepergian Ahmad Rafiq, Ainun pun segera membereskan rumahnya, bersiap untuk masak buat makan siang dan malam juga mempersiapkan dirinya pergi ke rumah Salsa nantinya.
*******
"Assalamualaikum, Ai..." ucap Ahmad Rafiq yang baru pulang dari pesantrennya.
"Waalaikumussalam, Aa' sudah pulang?" tanya Ainun.
"Iya, sudah...ohya pergi sekarang?" tanya Ahmad Rafiq.
"Iya, sekarang.. tapi bentar, aku mau bersiap dulu ya.. soalnya tadi aku habis berberes rumah, ngurus Abah dan masak, jadi belum sempat bersiap untuk diriku sendiri," ucap Ainun.
"Masya Allah, aku gak salah pilih istri dong ya... oke aku tunggu ya," ucap Ahmad Rafiq.
"Yaudah kamu bersiap dulu saja ya, aku mau lihat kondisi Abah," ujar Ahmad Rafiq kembali.
"Iya aku mau bersiap, tapi Abah sepertinya tidur Aa'...." ucap Ainun.
"Oooh gitu ya, hemm yaudah gak papa aku tetap ingin liat Abah, kalau misal Abah sudah tidur seperti yang kamu bilang, aku balik ke sini tunggu kamu ... yaudah gih bersiap," ucap Ahmad Rafiq.
"Iya Aa' aku bersiap dulu," sahut Ainun yang segera ke kamarnya untuk mempersiapkan dirinya sebelum mereka pergi ke rumah Salsa dan Aldo.
Begitupun dengan Ahmad Rafiq yang cemas akan pertemuan Ainun dengan Aldo yang mungkin saja terjadi, bagaimanapun Aldo juga suami Salsa yang tentunya mereka di satu rumah yang sama dan ia takut perasaan Ainun tumbuh kembali dengan Aldo, yang akan membuat Ainun kesulitan menjalankan komitmen baru yang telah di buatnya dan Ainun akan sulit jatuh cinta padanya, meski ia menyadari pada awalnya ialah yang salah yang memulai pernikahan kontrak tanpa cinta ini.
Setelah tersadar dari lamunannya, Ahmad Rafiq pun segera ke kamar Abahnya dan membuka pintu tersebut secara perlahan, yang ternyata Abahnya memang sedang tertidur.
Ahmad Rafiq pun menutup kembali pintu itu secara perlahan agar Abahnya tak terganggu dengan suara pintu tersebut dan kehadirannya, setelahnya ia lebih memilih menunggu Ainun di ruang tamu.
Beberapa menit kemudian, Ainun pun selesai bersiap, dan segera menghampiri Ahmad Rafiq kembali di ruang tamu.
"Aa' ...." panggil Ainun kepada Ahmad Rafiq yang awalnya masih fokus dengan handphonenya, setelah mendengar suara Ainun Ahmad Rafiq pun menoleh dan untuk sejenak ia terpanah dengan tampilan Ainun yang terlihat sangat cantik, jujur ia merasakan perasaan cemburu kepada Aldo, merasakan perasaan yang sulit ia terjemahkan.
"Aa'...." panggil Ainun kembali membuat ia tersadar dari lamunannya.
"Eh iya," ucap Ahmad Rafiq yang terkejut.
"Ayuk kita pergi sekarang, keburu kesiangan," ujar Ainun.
"Oke sudah siap ya, hummm tapi sekarang juga sudah hampir siang sih, terus Abah juga gimana... sendirian di rumah dong?" tanya Ahmad Rafiq.
"Humm iya kamu benar, gimana ya dengan Abah sendirian di rumah... dan kalau nanti keburu makin siang juga, bingung aku..." ucap Ainun.
"Gimana kita nunggu Abah bangun saja," ucap Ahmad Rafiq, yang membuat Ainun sedikit bingung.
"Maksudnya? .... bukankah sekalipun Abah sudah bangun, jika kita tinggal, Abah tetap sendirian di rumah," sahut Ainun yang masih bingung.
"Iya kamu benar, oleh sebab itu.. aku ada rencana kalau Abah sudah bangun, aku ingin bawa Abah ke rumahmu," ucap Ahmad Rafiq, yang membuat Ainun terkejut sekaligus bingung.
"Tunggu, maksudnya di bawa ke rumah Abah dan Ummi gitu?" tanya Ainun, bingung.
"Iya ... ke rumah Ummi dan Abah, titip ke sana sebentar aja selama kita pergi, nanti kita jemput lagi... toh di sana rame ada Abahmu dan Umimu juga, pasti Abah gak bakal kesepian, boleh ya,...?" ujar Ahmad Rafiq.
"Humm, oooh begitu...ok Aa' boleh kok..." ujar Ainun dengan tersenyum.
"Yasudah kita tunggu Abah bangun bangun dulu ya," ucap Ahmad Rafiq.
"Oke," ujar Ainun lemah.
Beberapa menit kemudian, Abahnya pun bangun dan menghampiri mereka.
__ADS_1
"Abah sudah bangun, kalian kok belum berangkat? katanya mau berangkat pergi?" tanya Abahnya.
"Iya Abah, nunggu Abah bangun," sahut Ainun.
"Maksudnya?" tanya Abahnya bingung.
"Kami nunggu Abah karena ingin ngajak Abah ke rumah Abah dan Umminya Ainun, bagaimana Abah?" tanya Ahmad Rafiq.
"Maksudnya? bukannya kalian mau pergi ya? atau kalian mau pergi ke sana?" tanya Abahnya.
"Iya karena supaya Abah gak sendirian di sini selagi kami pergi, jadi kami ingin ajak Abah di rumah Ummi dan Abahnya Ainun, sebentar aja kok Abah, selama kami pergi aja...." ujar Ahmad Rafiq, yang mencoba memberikan penjelasan dan pengertian kepada Abahnya.
"Maksudnya Abah mau di titipin gitu di sana? enggak... gak, Abah gak setuju," ujar Abahnya kembali.
"Hemmm, iya.. kenapa Abah gak setuju?" tanya Ahmad Rafiq.
"Abah nanti akan merepotkan mereka, kedua orang tua Ainun, Abah gak mau merepotkan mereka, Abah dan Umminya Ainun, Ahmad..." ujar Abahnya.
"Abah sendirian di rumah aja ya, insya Allah Abah bisa jaga diri, jadi Abah juga gak perlu merepotkan siapapun," ucapnya lagi.
"Ayolah Abah, cuman sebentar aja..ya Abah please... karena kami khawatir kalau Abah sendirian di sini. Kami akan cemas dan gak akan tenang perginya," ujar Ahmad Rafiq.
"Hemm, tapi insya Allah Abah baik baik saja dan bisa jaga diri Abah," ucap Abahnya, yang masih tak menyerah untuk menolak permintaan tersebut.
"Hemmm, kami gak akan tenang kalau Abah sendirian di rumah ini, sekalipun Abah berkata akan jaga diri Abah, tapi kita gak pernah tau kan Abah, apa yang akan terjadi...? bukan doain, tapi lebih waspada, Abah tetap perlu ada orang lain yang jagain Abah di sini, Abah gak boleh sendirian. Kalau memang gak ada yang jagain di sini, ya Abah ya yang ke sana .... Ahmad Rafiq mohon Abah... kami gak akan tenang dan cemas perginya," ucap Ahmad Rafiq yang memegang tangan Abahnya untuk memohon.
"Tapi ... kalau memang itu keputusan Abah yang gak bisa di ganggu gugat untuk tetap di sini, baiklah... kami gak akan memaksa Abah ke sana tapi, kami gak akan jadi perginya ya kan Ainun?" ucap Ahmad Rafiq kemudian, yang membuat Ainun ataupun Abahnya menatap Ahmad Rafiq tak percaya karena terkejut dengan perkataan Ahmad Rafiq.
Ainun masih di posisinya dengan masih terus menatap Ahmad Rafiq dan beberapa kali menggelengkan kepalanya, tanda tak setuju dan tak mempercayai ucapan yang di lontarkan oleh suaminya itu, Ahmad Rafiq.
Sedangkan Abahnya untuk sesaat menatap Ahmad Rafiq dan menunduk kembali, berulangkali seperti itu untuk menenangkan dirinya yang terkejut dengan perkataan Ahmad Rafiq.
Ahmad Rafiq yang mulai merasa bersalah pun berucap kembali.
"Ahmad minta maaf, bila buat Abah terkejut... tapi itu sudah menjadi keputusan Ahmad dan Ainun ya kan Ai? sekali lagi Ahmad ataupun Ainun minta maaf ya Abah bila terlalu memaksa," ujar Ahmad Rafiq.
Sedangkan Ainun yang mendengar perkataan Ahmad Rafiq seperti itu, semakin membuat dirinya menatapnya karena ia sendiri juga terkejut dengan keputusan suaminya itu dan ia sama sekali tidak tau sebelumnya.
"Hemmm yasudalah, Abah setuju," jawab Abahnya.
Jawaban yang di lontarkan Abahnya membuat Ainun ataupun Ahmad Rafiq menatap Abahnya tak percaya mendengar jawaban dari Abahnya, merasa lega mendengar jawaban dari Abahnya, terutama Ainun.
Abahnya pun pada akhirnya menyetujui karena ia tak ingin anaknya dan mantunya pergi dengan tidak tenang dan mencemaskannya.
Abahnya juga akan merasa menjadi ayah yang egois bila ia masih mempertahankan pilihannya.
Ainun dan Ahmad Rafiq pun tersenyum mendengar jawaban dari Abahnya.
"Alhamdulillah Abah yakin kan dengan keputusan Abah? yang buat Abah nyaman... tidak ada paksakan di sini Abah," ujar Ahmad Rafiq.
"Iya Abah yakin..." jawab Abahnya berusaha tersenyum.
"Alhamdulillah, yasudah yuk setelah ini kita pergi ya ... sudah siap semua kan Ai? gak ada yang ketinggalan? ohya bawaan Abah, mungkin persiapkan... Abah mau bawa apa, biar di persiapkan sama Ai," ujar Ahmad Rafiq.
"Abah gak mau bawa apa apa Ahmad, gini aja... yuk berangkat nanti keburu kesiangan loh kalian," ucap Abahnya.
"Yakin gak mau bawa apa apa?" baju ganti gitu?" tanya Ahmad Rafiq kembali.
"Hemm yaudah boleh deh, 1 aja ya ... takutnya kalian lama nanti," sahut Abahnya.
"Oke, Abah biar Ai ya yang siapkan... iya benar, takutnya di sana kami agak lama, tapi kalau bisa pulang cepat dan tepat waktu sih, iya kan Ai?" ucap Ahmad Rafiq.
"Iya... yasudah aku persiapkan pakaian Abah ya, mau bawa 1 atau 2?" tanya Ainun kembali.
"1 aja, sarung 1 dan baju 1, ya kan Abah?" ucap Ahmad Rafiq.
"Iya..." ujar Abahnya.
"Oke Ai, persiapkan dulu, setelah itu kita pergi ya," ucap Ainun yang segera berlalu terlebih dahulu ke kamar Abahnya, untuk mempersiapkan.
Beberapa menit kemudian, Ainun pun kembali dengan membawa tas kecil.
"Ini sudah Ai siapkan di sini, jadi bisa lekas pergi kita," ujar Ainun dengan tersenyum dan mengangkat tas ransel kecil tersebut.
"Okeee, makasih ya Ai, yasudah yuk kita lekas pergi Abah," ujar Ahmad Rafiq.
"Iya... makasih ya nak Ai," ucap Abahya.
Ainun pun tersenyum sebagai jawaban.
"Yaudah Ai, sini aku taruh tas ini di mobil dulu, setelah itu kamu dan aku tuntun Abah ya, ke mobil kita..." ucap Ahmad Rafiq.
"Humm iya baiklah," ujar Ainun, yang segera menyerahkan tas kecil itu ke Ahmad Rafiq, kemudian ia segera menggandeng tangan Abahnya untuk bersiap.
__ADS_1
Begitupun dengan Ahmad Rafiq yang segera ke mobil meletakkan tas kecil itu, setelahnya ia kembali untuk menuntun Abahnya bersama Ainun ke mobil tersebut.
Mereka pun segera menuju ke rumah orang tua Ainun, setelahnya mereka akan pergi ke rumah Salsa.