Tolong Jangan Lupakan Aku

Tolong Jangan Lupakan Aku
Makan Malam


__ADS_3


Mama sudah menganggap Salsa seperti keluarganya sendiri, tiap kali Mama masak sesuatu, pasti Mama akan mengirimkan makanannya untuk Salsa.


"Bik tolong kirim ini ke tempatMbak Salsa ya?!" Mama bicara dengan Bik Imah agar mau mengantarkan makanan yang di buatnya untuk Salsa.


"Iya nyonya" Bik Imah mengambil makanan yang di taruh Mama dalam rantang.


Setiap kali Mama masak yang spesial, pasti Mama akan menyuruh salah satu pembantunya, untuk mengirim masakannya ke tempat Salsa.


Seperti saat ini. Mama masak opor Ayam, rendang sapi dan iga bakar, dia langsung menyiapkan rantang


."Ciye calon mantu ya nyonya" Bik Ijah datang dengan senyum yang cengar-cengir tak jelas


"Ngomong apa si bik?!" Mama membalas omongan Bik ijah secara berjalan masuk ke dalam rumah.


Dalam hatinya Mama memang dari dulu sudah berharap Salsa bisa jadi mantu kesayangannya, menjadi Ibu sambung bagi kedua cucu-cucunya.

__ADS_1


Mama dapat merasakan betapa sayangnya Salsa dengan Farah dan Fatah, mereka layaknya ibu kandung dan Anak-anaknya, kasih sayang itu terlihat jelas dari setiap perhatian dan cinta yang mereka, Farah dan Fatah sangat menyayangi Salsa, begitupun sebaliknya Salsa juga sangat menyayangi si kembar Fatah dan Farah.


Ketulusan itu dapat di rasa, meski kadang sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata.


Ketulusan itu berasal dari hati, dari niat yang suci tanpa ternodai, mencintai dan menyayangi seseorang dengan penuh ketulusan


"Baunya sedap sekali Nyonya" Bik imah tetap saja menggoda Mama.


Sejak dulu Mama memang hobby memasak, semua makanan bisa di buat Mama, itu juga yang membuat Aldo pandai memasak, katanya lebih sehat dan hemat.


Mama semakin rajin di dapur. Apalagi akhir-akhir dia sering mengalihkan kesedihannya memikirkan keadaan Papa. Mama lebih sering di dapur kalau tidak menunggui si kembar.


Bik Imah, Bik Ijah dan Bik Inah memang sudah di anggap Mama layaknya keluarga sendiri.


"Nyonya do'a aja yang banyak, semoga tuan tak kenapa-kenapa" Bik Ijah berusaha sedikit menghibur Mama.


"Iya Bik" Mama memeluk Bik Ijah, dia ingin mencurahkan isi hatinya, tapi tak bisa

__ADS_1


Mama memang orang yang pendiam, tertutup wanita yang masih terlihat awet mudah di usianya, Mama lebih suka menyimpan rahasianya sendiri. Dari dulu dia sudah berfikir, jika punya Anak perempuan pasti menyenangkan, bisa melakukan apapun sama-sama, masak sama-sama, belanja sama-sama, tidur sama-sama, bercerita seru, saling curhat, menghabiskan banyak waktu bersama.


Sejak mengenal Salsa dan dekat dengan Salsa Mama memang merasakan kebahagiaan, perhatian yang selalu Salsa berikan kepada nya, kepada si kembar, Mama berharap Salsa bisa jadi Anaknya.


Hanya saat masak atau bermain dengan si kembar Mama bisa lupa akan rindunya yang berat pada Papa, tapi jika dia sendirian dia akan ingat semuanya dan menangis seorang diri.


"Papa ...papa dimana?!" ?Mama menangis sendirian di kamar, dia memeluk Foto Papa, kenangan bersama dengan Papa saat berlibur ke swiss tahun lalu.


"Kau sungguh tega,...Pa!"


"Allah...Aku sangat mencintai suamiku, Aku begitu khawatir akan keadaannya Dimanapun dia berada kini, tolong jaga selalu dia ya Allah" doa yang selalu Mama ucapkan, dalam setiap sholat dan sujudnya, di pagi, siang, sore dan malam-malamnya.


Kamar yang semua lantainya terbuat dari marmer putih, ada kamar mandi pribadi, di sekat dua area khusus, satu terdapat area yang sangat luas yang hanya ada kamar tidur mewah, dan meja rias, di satu area yang lain ada banyak lemari yang menyimpan seluruh koleksi Mama. Ada lemari yang khusus untuk tas-tas mahal dan branded, ada satu lemaru khusus untuk sandal-sandal mahal, ada satu lemari khusus untuk gaun pesta, ada lemari khusus untuk topi, sabuk dan aksesoris lainnya.


Tapi semua itu tak berharga lagi bagi Mama, dia ingin merasakan kehidupan yang bahagia, sehat terus, bisa menikmati masa tua bersama suaminya, ibadah sama-sama, perbanyak amal sama-sama, melihat Anak dan cucu-cucunya bahagia, itu sudah cukup bagi Mama, tapi melihat Aldo yang belum bisa melanjutkan hidupnya, menikah dan hidup bahagia, melihat cucu-cucunya selalu sehat dan dapat Ibu baru yang baik dan menyayangi mereka, tujuan hidup Mama bukan lagi harta, tapi bahagia di masa-masa tuanya.


Sementar di tempat lain ada Aldo yang sudah tau semuanya, tentang rahasia Papanya, alasan kepergiannya selama ini, tapi Aldo berat untuk memberi tahu keadaan yang sebenarnya pada Mama, dia takut jika semua ini di ketahui Mamanya, dia akan berfikir macam-macam, sedih dan pasti kecewa dengan Papa.

__ADS_1


Aldo tak tahu harus mengambil keputusan yang mana, saat dia diam tak memberitahukan kejujuran pada sang Mama, Aldo juga merasa sangat bersalah, karena bagaimanapun Mama berhak tahu dimana papa sekarang? Bagaiman keadaannya dan alasan Papa pergi dari rumah, yang telah membohongi semua orang terlebih Mama.



__ADS_2