Tolong Jangan Lupakan Aku

Tolong Jangan Lupakan Aku
Episode Terbaru 32


__ADS_3

Sesampainya di kantor pikiran Aldo seakan terpecah, karena pertemuannya dengan Ainun pagi ini, benar benar membuat fikirannya kacau.


Aldo benar benar tak menyangka, Ainun senekat itu untuk ke rumahnya.


Aldo fikir, Ainun tidak akan berani ke rumahnya karena kejadian kala itu, Aldo fikir Ainun akan malu untuk ke rumahnya.


Jujur saja Aldo takut bila Ainun akan bercerita perasaannya ke Salsa karena jujur saja ia tak ingin bahtera rumah tangganya dengan Salsa goyah hanya karena perasaan konyol itu yang belum bisa di hapuskan sepenuhnya dari ingatan Ainun.


Aldo harap semoga Ainun tidak menceritakan tentang perasaannya ke Salsa meski mereka berdua bersahabat, bagaimanapun bukankah tak semuanya harus di ceritakan?


oleh sebab itu berulangkali Aldo sudah memikirkannya dan pada akhirnya ia memutuskan tak mempertemukan mereka, walau di luar perkiraannya pada akhirnya mereka bertemu.


Jujur saja Aldo benar benar menyesal telah memberikan alamat rumahnya ke Ainun, andai Ainun menyatakan perasaannya sebelum ia memberikan alamat rumahnya tentu takkan ia berikan alamat rumahnya kepada Ainun.


Aldo merasa fikirannya benar benar kacau dan ia tak bisa berkonsentrasi sama sekali, ingin rasanya segera pulang dan mempertanyakan kepada Salsa, Ainun telah bercerita apa saja padanya.


Aldo pun segera mengerjakan berkas dan fokus terlebih untuk meeting mereka hari ini, karena setelahnya ia ingin segera pulang dan bertemu Salsa.


******


Setelah pulang dari rumah Salsa, Ainun dan Ahmad Rafiq pun segera melakukan perjalanan menuju ke rumah kedua orang tuanya Ainun untuk menjemput Abahnya Ahmad Rafiq, setelah beristirahat sebentar di sana, mereka pun kembali ke rumahnya sendiri.


******


Beberapa hari kemudian, setelah kepulangan mereka dari rumah Salsa, Ainun seringkali melamun dan menangis seorang diri, benar benar membuat Ahmad Rafiq merasakan sedih dan terluka, haruskah ia mundur dari komitmen tersebut? jujur saja ia lelah berjuang seorang diri, dan Ahmad Rafiq berfikir, mungkinkah keputusan komitmen yang telah ia buat akan melukai Ainun? mungkin sebaiknya ia memberikan Ainun jeda untuk bernafas menenangkan dirinya dan memikirkan tentang komitmen yang telah di buatnya untuk Ainun, agar Ainun pun juga bisa memilih dan berfikir tentang komitmen tersebut.


Ahmad Rafiq pun lebih memilih tak menanyakan kepada Ainun mengenai mengapa dirinya yang sedang melamun atau akhir akhir ini di landa kesedihan, karena baginya ia sendiri sudah tau tentang jawaban dari pertanyaan tersebut, justru pertanyaan yang ia lontarkan akan melukai hati Ainun.


Ahmad Rafiq lebih memilih membuatkan teh hangat dan cemilan sore ini untuk Ainun, kini Ahmad Rafiq menyadari tak seharusnya ia lebih memaksakan kehendaknya, mungkin sudah seharusnya ia lebih memilih berpasrah dan memberikan Ainun kesempatan untuk memilih.


Dan mungkin cinta tidak hanya tentang perkataan saja, tapi lebih dari itu, mungkin sikapnya bisa membuat Ainun jatuh cinta pada akhirnya bila ia benar benar ikhlas dan sabar.


Bukankah sudah seharusnya begitu suami istri?


Setelah yakin dengan keputusannya,


Ahmad Rafiq pun berlalu ke dapur untuk membuatkan teh hangat dan cemilan sore untuk Ainun yang kini sedang tak baik baik saja.


Sudah seharusnya ia mendampingi Ainun, ada untuk Ainun sebagai seorang suami, meski tanpa bertanya cukup memberikan Ainun ketenangan dan memberikan yang Ainun butuhkan, baginya lebih dari cukup.


Setelah selesai membuatkan teh hangat dan cemilan sore tersebut, Ahmad Rafiq pun segera membawakan ke Ainun agar bisa di nikmatinya.


Ainun yang sedang melamun di dekat jendela tamu, perlahan di dekati olehnya dan ia meletakkan teh hangat dan cemilan sore tersebut di depan Ainun agar Ainun melihatnya, dan usahanya pun tak sia sia, karena Ainun segera meliriknya meski hanya sebentar.

__ADS_1


Karena tak ada respon dari Ainun yang kembali melanjutkan lamunannya, Ahmad Rafiq pun memberanikan diri untuk bersuara kembali.


"Humm, di minum teh nya pumpung masih hangat dan cemilan sorenya, mungkin bisa merilekskan pikiran kamu, ku buat untuk kamu.." ujar Ahmad Rafiq yang menunggu respon dari Ainun.


"Terimakasih," ucap Ainun pelan, dengan tanpa menoleh atau mengalihkan tatapannya sedikit pun dan tetap masih dengan lamunannya.


Hingga Ahmad Rafiq pun memilih mundur, dan bersiap untuk ke pesantren.


Meski rasanya tak tega meninggalkan Ainun tapi ia sendiri masih ada tugas yang harus ia selesaikan di pesantren tersebut, bagaimanapun ini amanah dari Abahnya.


1l


Toh fikirannya, Ainun tidak benar benar sendirian di rumah karena ada Abahnya.


Setelah selesai bersiap Ahmad Rafiq pun segera menghampiri Abahnya untuk pamit sebelum ia menghampiri Ainun.


"Abah..." ucap Ahmad Rafiq pelan, dengan membuka pintu kamar tersebut.


"Nak," ucap Abahnya yang meletakkan korannya.


"Abah, Ahmad pamit ya mau ke pesantren," ujar Ahmad Rafiq.


"Oooh oke iya nak, hati hati ya... Isrti kamu sudah tau kan kamu mau ke pesantren? kamu sudah pamit ke istrimu? jangan lupa juga pamit ke istrimu," ucap Abahnya, yang membuatnya terdiam, bingung harus berkata apa.


"Iya, kamu juga..." Ahmad Rafiq pun megangguk dan segera pamit kepada Abahnya.


"Nak, tunggu kamu yakin, gak papa? kamu sama istrimu baik baik saja kan? gak terjadi sesuatu di antara kalian kan? kalian gak sedang bertengkar kan?" tanya Abahnya, yang membuatnya langkah Ahmad Rafiq terhenti, dan ia pun benar benar Kelu harus menjawab apa dan bagaimana...


Karena rasanya tak mungkin ia cerita yang sebenarnya ke Abahnya, tentu itu akan mempengaruhi kesehatan Abahnya, karena secara otomatis, Abahnya akan memikirkannya.


Toh Ahmad Rafiq yakin, sekacau kacaunya Ainun, istrinya tidak mungkin melakukan hal yang membahayakan atau mencelakakan nyawa orang, karena istrinya tengah depresi bukan gila.


Walau rasanya ia ragu dan cemas meninggalkan Abahnya sendirian di rumah, namun rasanya tak ada pilihan lain selain meninggalkan Abahnya di rumah berdua dengan istrinya, karena jika Abahnya terlalu kecapean karena di ajak olehnya berpergian tentu itu pun akan mempengaruhi kondisi Abahnya dan akan jatuh sakit, sungguh ia tak ingin Abahnya sakit.


Ahmad Rafiq merasa ia berada di antara pilihan yang sulit untuk ia putuskan,


Namun Ahmad Rafiq berharap semoga semuanya baik baik saja.


Setelah menghembuskan nafasnya beberapa kali, dan merasa dirinya cukup tenang, Ahmad Rafiq pun mulai menjawab pertanyaan yang Abahnya lontarkan padanya,


"Hemm ndak Abah, Alhamdulillah rumah tangga Ahmad dan Ainun baik baik saja, kami pun tak adalah bertengkar, buat apa... bertengkar? tak payahlah, hehehe...


Insya Allah kami baik baik saja, doakan ya Abah," ucap Ahmad Rafiq.

__ADS_1


"Alhamdulillah syukurlah kalau tidak terjadi apa apa sama kalian, terutama rumah tangga kalian. Iya Abah doakan kalian selalu juga rumah tangga kalian semoga selalu baik baik saja ya... karena tak ada yang Abah inginkan melihat keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga kalian," ucap Abahnya.


"Insya Allah Aamiin...makasih ya Abah doanya," ujar Ahmad Rafiq.


"Ahmad...sayang Abah, Abah sehat sehat selalu ya," ucap Ahmad Rafiq kembali, yang segera memeluk Abahnya.


"Iya nak, kamu juga ya, sehat sehat selalu dan bahagia untuk dirimu juga rumah tangga yang kalian jalani, selalu..." ucap Abahnya yang memeluk Ahmad Rafiq kembali.


Setelah beberapa menit mereka berpelukan, mereka pun saling melepaskan diri.


"Ahmad pamit dulu ya Abah..." ujar Ahmad Rafiq berpamitan.


"Iya hati hati, nanti beritahu Abah ya kondisi pesantren, jangan lupa laporan sama Abah..." ujar Abahnya.


"Okeee Abah, siap...." ujar Ahmad Rafiq yang tersenyum kepada Abahnya, hingga membuat Abahnya tersenyum juga.


"Abah jadi ingat kecilmu dulu..." ujar Abahnya.


"Hehehe," Ahmad Rafiq pun tertawa.


"Yasudah Abah, duluan ya..." ujar Ahmad Rafiq yang segera keluar dari kamar Abahnya.


"Iya hati hati nak," ucap Abahnya lagi.


Ahmad Rafiq pun segera menghampiri Ainun dan berpamitan kepadanya.


"Ai, kok gak di minum teh nya sama cemilannya? di minum dan di makan dong Ai...kenapa? gak suka ya Ai?" tanya Ahmad Rafiq, namun nihil tak ada respon jawaban dari Ainun.


"Hemmm yasudah aku pamit dulu ya Ai, hati hati ya di rumah... baik baik saja ya, aku titip Abah, kalian baik baik di rumah," ujar Ahmad Rafiq yang berpamitan.


Namun karena tak ada respon jawaban dari Ainun kembali, Ahmad Rafiq pun menatap Ainun dengan begitu dalam dan mengucapkan perkataan yang sama ia ucapkan tadi, dengan menggemgam tangan Ainun juga mengusapnya dengan lembut, tapi lagi dan lagi Ainun hanya menatapnya sekilas setelahnya Ainun memalingkan tatapannya dan dengan lamunannya sendiri, Ahmad Rafiq pun memutuskan segera mencium kening Ainun juga pipinya setelah ia berlalu pergi ke pesantren.


Ahmad Rafiq berusaha untuk mengurus dengan cepat urusannya di pesantren, agar ia bisa segera pulang.


Ahmad Rafiq berharap semoga tidak terjadi apa apa antara Abahnya dan Ainun


Dan semoga mereka baik baik saja hingga ia kembali pulang.


Sungguh bila bukan karena amanah Abahnya ia takkan ke pesantren dan lebih menemani kondisi Ainun yang seperti saat ini.


Walau mungkin bila ia cerita ke Abahnya akan meminta ia menemani Ainun daripada mengurus pesantren, tapi dengan menceritakan ke Abahnya akan menjadi beban fikiran Abahnya yang akan meganggu kesehatan Abahnya dan pesantren pun akan terabaikan tanpa ada yang mengurus, sungguh ia tak mau seperti itu.


Sebab itu Ahmad Rafiq pun memutuskan mengambil pilihan sendiri dan berusaha menghandle keduanya dengan baik, tentunya dengan izin Allah, harapnya.

__ADS_1


__ADS_2