
Semalaman Fatah menangis, tak ada yang tau penyebabnya.Saat semua orang bertanya, Fatah hanya diam tak menjawab.
Beberapa hari ini Aldo memang sibuk, banyak proyek baru, semua tidak dapat di tinggalkan, Aldo terpaksa meninggalkan Anak-anaknya, dalam hati dan fikirannya Aldo merasa sangat bersalah dengan Anak-anaknya, harusnya dia selalu Ada di setiap hari dengan mereka, mereka tak punya Ibu, mereka berhak bahagia.
Seharusnya Aldo tak egois, sebenarnya dia sudah membuka hatinya, tapi sulit baginya untuk melupakan bayangan Putri dari hidupnya.
Manusia harus membuka lembaran baru dalam hidupnya, tiap hari adalah hari yang baru, jadi jadikan tiap hari adalah semangat menyongsong masa depan baru, masa lalu memang berhak untuk di kenang.Tapi dia tidak punyak hak dan ruang kekuasaan untuk menguasai masa depan.
Fatah seharian tak mau makan, dia bermain game di dalam kamarnya, jika capek dia menangis, semua membujuk tapi tak ada yang berhasil.
Sore pulang dari kantor Aldo, setalah sholat Ashar dia langsung pergi ke kamar Anaknya.
"Mama sudah membujuk, tapi dia...kau tau sendiri kan, bagaiman watak Fatah, dia Anak yang punya pendirian kuat" mama menjelaskan pada Aldo.
Mama sangat khawatir jika Fatah mogok makan, karena dia punya asam lambung sejak kecil, jika telat makan, asam lambungnya akan kumat, lalu sakit.
"Mama jangan sedih, jangan khawatir, semau akan baik-baik saja, Aku akan membujuk Fatah" Aldo mencoba menenangakan Mamanya, Aldo tak ingin orang-orang yang di cintainya sakit.
Aldo membuka pintu kamar Fatah dengan hati-hati, Fatah dan Farah memang sengaja di beri kamar masing-masing, mereka sudah di pisah kamar sejak usia dua tahun.
"Assalamu'alaikum boleh Ayah masuk"
Setiap keluar masuk kamar atau rumah memang di sunnahkan mengucapkan salam, entah ada penghuninya atau tidak.
__ADS_1
"Wa'alikum salam" Fatah adalah Anak yang sangat cerdas kan kritis, meski dia sedang menangis dia tetap menjawab salam Aldo.
"Jagoan kok nangis, kenapa sayang?!" Aldo mencoba mengambil hati Anaknya.
Ada pemandangan berbeda, melihat Anak laki-laki kecil itu menangis di dalam hatinya, Aldo juga ingin menangis, Ada keharuan di sana.
"Nggak apa-apa"
"Nggak apa-apa kok nggak mau makan, mau ke restaurant kita yang ada di puncak, sekalian jalan-jalan" Aldo membujuk Fatah, biasanya Fatah selalu mengajak Aldo jalan-jalan dan tempat favorite Fatah adalah restourant mereka di puncak.
Farah dan Fatah sengaja tidak di masukkan sekolah PAUD, bagi Aldo dia tidak ingin Anaknya terbebani dengan kegiatan di sekolah, usia mereka juga belum tiga tahun, jika banyak orang tua tergopoh-gopoh menyekolahkan Anaknya masuk PAUD, itu tidak sama dengan Aldo.
"Nggak mau, Fatah udah bosen"
"Terus minta kenapa hayo Fatah nangis terus, kasihan tuh Eyang, jadi sedih"
"Fatah sedih kenapa sayang?!" Mulai ada keharuan yang Aldo rasakan
"Besok hari ulang tahun Fatah, Fatah minta kado"
"Hehehe...hanya karena itu Fatah nangis?!" Aldo mencubit pipi Fatah dengan gemas
"Memangnya Fatah mau kado, Apa?!" Aldo merangkul Anaknya, Fatah sudah tumbuh besar fikirnya
"Fatah minta kado 'ibu'.." ucapan polos Fatah seakan petir di siang bolong, terdengar begitu nyaring dan menakutkan.
__ADS_1
"Kan Fatah udah punya Eyang" Aldo tetap berusaha menyembunyikan keterkejutannya mendengar ucapan sang Anak.
"Kalau di taman, semua orang senyum-senyum, tertawa dengn Ibunya, Farah dan Fatih aja yang nggak punya Ibu" Fatah kembali menangis.
"Ok...cuma Ibu kecil, besok Ayah belikan"
"Beneran?? Makasih Ayah".ada perasaan yang sungguh di tahan oleh Aldo.
"Sekarang makan, besok hari ulang tahun Fatah dan Farah. Ayah akan membawakan Ibu"
"Besok Ayah beli di mana? Fatah boleh ikut"
"Ya nggak boleh, Fatah harus makan yang banyai sekarang, biar sehat, biar nggak sakit, nanti hari ulang tahun Farah dan Fatah, ibunya uda jadi.
Tanpa bicara apapun Fatah langsung pergi, membuka kamarnya dan berlari, dia pergi ke dapur, berusaha meraih makanannya sendiri, padahal tangannya tak sampai. Beruntung Bik Inah di sana, Bik Inah ikut bahagia melihat tuan kecilnya mau makan.
"Biar Bibik bantu ambilin, tuan kecil mau apa?"
"Hem..mau sate ayam aja"
"Baiklah ini, berap tusuk?!"
"Empat" meski belum sekolah Farah dan Fatah sudah mengenal Angka dan huruf, Aldo sengaja mendatangan guru untuk les private mereka.
Setiap hari guru les private itu datang, mengajari membaca abjad, menulis, menggambar serta huruf hijaiyah juga, biaya untuk les private si kembar tidak murah, Aldo selalu memberi yabg terbaik untuk si kembar, dalam bidang apapun, mereka les tiap hari hanya weekand mereka libur.
__ADS_1