
Sore yang indah, menyejukkan, menentramkan, sore-sore biasanya Mamanya Aldo selalu mengajak Fatah dan Farah untuk jalan-jalan sekedar menikmati pemandangan sungai di dekat komplek perumahan, Bik Ijah menggendong Fatah dan Mamanya Aldo menggendong Farah, mereka tumbuh sehat dan sangat menggemaskan, gigi mereka telah tumbuh, meski hanya dua di depan tapi sungguh itu menambah lucu dan comelnya mereka, meraka Anak-anak yang menggemasakan, suka tersenyum dan mudah bergaul dengan orang lain
Tak terasa delapan setengah bulan sudah mereka merasakan hidup di dunia, menghirup oksigen di dunia, melihat mereka adalah kebahagiaan untuk Aldo dan keluarganya.
Papa dan Mama putri sering mengunjungi mereka membawakan mainan, makanan pendamping ASI, perlengkapan mandi, dan banyak lagi yang lainnya.
Niat mereka ingin membawa salah satu dari cucu mereka, mereka merasa kesepian, setelah kehilangan Putri tidak ada lagi keceriaan di rumah, rumah sepi apalagi jika papa kerja Mama hanya akan melakukan hoby nya berkebun, menyiram tanaman, menghias pot, memotong rumput, memotong bagian-bagian bunga yang sudah panjang, saat capek dia istirahat, saat-saat itulah kenangannya bersama Putri datang, dia kangen dan ingik bertemu Putri, tapi kini dia hanya bisa melihat foto Putri, menangsi tiada henti, mendo'akan Anaknya agar tenang di sana.
"Kami sering kesini, bisa di bilang hampir tiap minggu kami akan mengunjungi cucu-cucu kami, tanpa berniat lancang, Kami meminta izin, bolehkan kami merawat salah satu dari Farah atau Fatah, kami merasa kesepian, kami telah kehilangan Anak kami, putri kami tercinta, bolehkkah satu satu dari mereka kami bawa" ucapan Mama Putri pada Mama Aldo saat berkunjung ke rumah
__ADS_1
"Maksudnya? Kami tak faham, besan hehehe, kita sudah lama berteman dan sudah menjadi besan, apa kalian tak percaya pada kami jika Farah dan Fatah kami yang merawat, membesarkan mereka" papa Aldo membalas perkataan dengan serius, mereka berdebat dengan sedikit emosi, mungkin mereka sangat menyayangi si kembar Farah dan Fatah tak boleh dipisahkan tapi dalam posisi yang lain orang tua Putri pun merasa berhak mendapat hak asu atas si kembar.
"Ma'afkan kami besan, jika ada kata-kata kami yang terkesan emosi, sungguh kami tak berniat untuk menyakiti atau menyinggung hati dan perasaan besan dan istri, tapi sungguh kami sangat menyayangi Farah dan Fatah, kami tahu perasaan besan berdua, bukan kami egois ingin memiliki Farah dan Fatah sekaligus tanpa membagi satu pada besan, karena besan juga punya hak yang sama pada mereka, mereka cucu-cucu besan juga, sebaiknya untuk sementara biarlah mereka tinggal di sini, kasihan mereka jika harus berpisah, saya yakin Aldo bisa marah besar jika kita memaksakan keadaan ini sekarang, mari kita jaga mereka sama-sama, kita yang solid dalam membesarkan mereka, mereka butuh kita yang akur" cucuran air mata tak mampu dibendung oleh mereka berempat, mereka adalah kakek dan nenek si kembar, mereka punya hak yang sama, terlebih orang tau putri hanya memiliki putri, Anak satu-satunya yang telah pergi meninggalkan mereka, pasti perasaan sepi dan sedih selalu mendatangi mereka.
Papa dan Mama Aldo sadar orang tau Putri tidak bersalah, mereka punya hak yang sama, mereka adalah sahabat yang saling melengkapi dulu, sekarang dan juga nanti.
Tapi Aldo juga punya hak yang sama, Aldo kehilangan istri, wanita yang paling di cintainya setalah Mamanya, wanita yang memberikan dia keturunan, dan tentu saja dua penerus itu akan selalu dia jaga, tak ada yang boleh membawanya.
"Papa ingin bicara do" makan malam bersama yang jarnag sekali bisa mereka lakukan, biasanya Aldo belum pulang atau Papanya yang masih di luar negeri untuk pekerjaannya, tapi entahlah mungkin Allah sengaja membuat mereka bertemu kali ini, guna membahas masalah yang membebani fikiran papanya Aldo akhir-akhir ini
"Biacara aja pa, kaya' Papa mau bicara dengan siapa aja, Aku kan bukan orang penting, hehehe" Aldo menjawab dengan santai padahal akan ada masalah serius dan mungkin membuat dia marah besar
__ADS_1
"Gini do, kamu nggak kasihan dengan Papa dan Mama mertuamu itu, mereka memang selalu kesini, membawakan si kembar banyak peralatan, mereka sangat menyayangi kembar, bolehkan salah satu dari si kembar biar mereka rawat, do" Mendengar ucapan Papanya, Aldo langsung berdiri tanpa bicara sepatah katapun dia pergi padahal makanannya belum tersentuh sedikitpun, dia terlalu fokus mendengarkan apa yang gerangan papanya akan sampaikan hingga dia lupa untuk makan, mendengar perkataan Papanya
Sejak dulu Aldo sudah berfikir bahwa suatu hari, hal ini akan terjadi, Papa dan Mama mertuanya itu memang baik, mereka pasti kesepian tapi Aldo tahu dia tak mungkin sanggup lagi jika harus kehilangan salah-satu anaknya, dia cukup kehilangan istri tercintanya dan salah satu anak kembarnya, jangan lagi, jangan lagi.
Aldo ingat ucapan KH.Munzir " jika kau punya masalah dan seakan masalah itu begitu besar hingga kau tak sanggup untuk memabawanya seorang diri, ingatlah ada Allah, sholatlah...sabarlah istikhoroh, sholat untuk menentukan pilihan, biaralah Allah yang memulihkan" Aldo langsung ke kamar mandi mengambil air wudhu guna melaksanakan sholat istikhoroh.
Saat kau tak tahu dimana jalan keluar, dimana yang kau lihat hanya hitam kelam tanpa cahay sedikitpun, saat kau merasa rapuh, saat kau gundah tak tahu arah tujuan, ingat disana ada Allah, kau harus yakin Allah semua yang ada di dunia ini seratus persen adalah takdir Allah, maka saat Allah memberi kesulitan datanglah pada Allah, mengaduhlah hanya pada Allah, serahkan hidup dan segala bebanmu pada Allah, yakinlah Allah juga yang akan memberi jalan keluar.
__ADS_1