Tolong Jangan Lupakan Aku

Tolong Jangan Lupakan Aku
Pov Papa


__ADS_3


Hujan yang turun begitu deras dari pagi sampai malam ini, membuat ku tak bisa kemana-mana, Aku benci jika selalu di rumah.


Namaku Herman. Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, untuk makan saja susah, tapi Bapak orang yang sangat bertanggung jawab pada keluarga. Dia selalu bekerja keras untuk membahagiakan kami, tapi sayang nasib baik belum pernah menghampiri kami.


Segala macam usaha telah Bapak coba, dari Kuli bangunan pernah, mencoba peruntungan menjual Bakso, nasi goreng, es cincau semua gagal, dia bukan dari keluarga kaya tapi dia ingin selalu membahagiakan keluarganya.


Aku punya Adik perempuan, tapi umur dua tahan lebih lima bulan dia meninggal, dia sakit, badannya panas sekali, dia kejang dan meninggal, Aku tau jika Bapak kaya pasti Adikku dapat tertolong, pasti Bapak bisa membawanya ke Rumah sakit, dan semuanya tak akan berakhir dengan kesedihan.


Aku sangat menyayangi adikku, Aku ingat sering bermain dengan dia, jika ibu memasak, menyapu, mencuci Aku diberi bagian tugas oleh Ibu untuk menjaga Adik.


Adikku di beri nama Santi wati, Aku biasa memanggilnya Titi, kalau Ibu dan Bapak selalu memanggilnya Santi, tapi Aku punya panggilan spesial dariku khusus untuk dia, Aku selalu manggilnya TITI, karena namanya akhirannya sama ti dan ti...ti pertama dari Santi dan ti yang kedua dari Wati, jadi Aku punya panggilan kesayangan untuknya 'Titi'


Dia selalu menangis dia sedikit cerewet, tapi Aku selalu bahagia jika bersama dia, meski dia cerewat tapi Aku tak pernah sekalipun membencinya, jika dia menangis dan melihatku ada di sampingnya dia akan diam, lalu berlari memeluk dan minta gendong padaku.


Wajahnya cantik, putih, dan bajunya..kami orang miskin baju yang kami pakai sering kali adalah baju bekas tetangga sekitar rumah yang kasihan melihat kami.


Aku dari dulu memang tak pernah di belikan Bapak dan Ibu baju, bagiku mendapat baju bekas sudah suatu nikmat, setidaknya di lemari bajuku tak akan satu, tapi sejak ada Titi, dia juga memakai baju bekas orang lain, seakan hatiku tak terimah, mungkin karena Aku begitu menyayangi dan melondunginya.


"Dari dulu Herman tak pernah minta Bapak baju baru, Herman bersyukur sudah dapat memakai baju berbeda tiap hari, meski tak baru, dan pemberian orang lain" Aku mencoba bilang pada Bapak


"Bapak beruntung memiliki Anak pengertian seperti Herman" Bapak mengelus-elus rambutku yang kucel, jarang mandi dan keramas, karena untuk membeli air kami tak punya uang, bisa mandi dua hari sekali saja sudah berkah luar biasa.


"Tapi Herman ingin Bapak membelikan baju baru"

__ADS_1


"Bapak kan nggak punya uang, kamu tau sendiri kan?!" Bapak menggantung kata-katanya.


"Tapi baju baru bukan untuk Herman, tapi baju baru untuk Titi, pak" Aku menangis, Aku meninggalkan Bapak, karena Aku tahu sejak awal, pasti jawabn itu yang akan Aku terima.


Aku sangat menyayangi Titi, Aku tak tega melihat dia juga menderita,begitu miskinnya kami untuk membeli apapun kami


"Aku harus sukses nanti, Aku tak ingin selalu bersahabat, bermain dan bergaul dengan kemiskinan, Aku harus berubah" Aku bicara pada diriku sendiri, Aku tak ingin selamanya seperti ini.


Kami jarang makan, kalaupun Bapak pulang membawa makanan pasti hanya membawa nasi dan lauk tempe, itupun hanya satu bungkus, Aku harus memakannya dengan Ibu, sejak ada Titi, satu bungkus nasi itu untuk Aku makan bersama Titi..


Rumah beralas tanah, tak ada satupun perabot mewah, Aku semua tidur di bawah, karena ranjang tidurpun kami tak punya.


Jika hujan semua bocor dan kami tak bisa tidur semalaman.


Dan hujan saat itu begitu deras, Titi yang sudah demam sejak pagi. Bapak dan Ibu hanya mengompres kepalanya dengan air hangat, tak ada sirup atau obat lainnya, Aku tau Bapak sangat Miskin, tapi Adikku harus di tolong, dai harus di bawah ke rumah sakit


"Bapak juga bingung" ada tetesan air yang keluar dari mata Bapak


"Ayo bu" Aku mencoba kembali, membujuk ibu, meski Aku tahu jawaban yang sama yang akan Aku terima.


Hujan lebat, suara petir yang menyambar, seakan semua menandakan hatiku yang hancur dan kecewa dengan takdir hidupku.


Titi tak dapat tertolong, panas demamnya begitu tinggi, sementara hujan semakin deras dan tak berhent membuat panas demamnya Titi semakin tinggi, dia kejang-kejang yang tak ku lihat lagi Titi bernafas, adikku meninggal ketika usiaya belum genap Tiga tahun, dia sakit karena kemiskinan dan dia juga meninggal karena kemiskinan.


"Ba...bapak...Ibu...ibu...ibu Titi kenapa?!" Aku tahu Titi tak bernasfas tapi Aku tak ingin dia meninggal

__ADS_1


"Kita harus ikhlas nak" Bapak dan Ibu memelukku dengan erat.


Kematian Titi membuatku semakin sadar ini tak adil, Aku harus berubah.


Aku dan Titi berjarak Enam tahun, kita lahir di hari dan tanggal yang sama, bahkan di bulan yang sama pula, Titi yang kurang dua bulan setengah akan berusia tiga tahun, dan Aku pun juga, yang kurang dua bulan setengah akan berusia sembilan tahun.


Kematian Titi adalah kado terpahit dalam hidupku, meski tiap tahun Aku tak pernah merayakan ulang tahunku, tapi Aku selalu mengingatnya karena bagiku hari tanggal dan bulan kami lahir begitu istimewah, dan Aku tak akan lupa.


"Proses pemakaman bagaimana pak?!" Seorang pria tinggi besar bertanya pada Bapak.


"Saya tak tahu, pak!" Hanya air mata saja yang keluar dari mata Bapak, dan entah sejak saat itu Aku benci sekali menangis.


"Kami tak ada biaya, pak"


Lagi dan lagi, Adikku yang sangat ku sayangi sudah terbujur kaku di depanku, tapi karena proses pemakaman harus kembali mengeluarkan uang, tapi Bapak tak punya uang sama sekali.


Beruntung para tetanggaku semau baik, mereka membantu semampu mereka, ada yang membelikan kafan dan peralatan lain untuk jenazah adikku, ada yang patungan untuk biaya membeli lahan makam.


Semua tak ada yang gratis di dunia ini, bahkan untuk orang miskin pun semua harus bayar, kami orang miskin yang katanya hak hidup di tanggung negara, tapi mana, tetanggaku yang malah membantu menanggung beban kami.


Sejak saat itu Aku benci sekali dengan hujan, Aku tak akan pernah menyentuh hujan, jika hujan turun dengan deras, maka kenangan Titi kecil, senyuman, manjanya dia padaku, semua hadir begitu nyata dalam benakku, kemudian ingatan itu kembali, ingatan tentang hari yang tak akan lupakan, kematian Titi karena kemiskinan kami.


"Aku harus berubah" tiap kali hujan turun hanya itu yang Aku ucapakan pada diriku sendiri, seperti motivasi diriku agar Aku bisa hidup terjamin, rumah mewah, semua ada, tak hanya berkutat dengan kemiskinan.


Kadang kemiskinan bisa membuat kita menjadi orang yang lebih kuat, tak mudah menyerah, berani melangkah untuk maju, apapun bisa kita lakukan dengan tekad yang kuat, kita pasti bisa.

__ADS_1



__ADS_2