Tolong Jangan Lupakan Aku

Tolong Jangan Lupakan Aku
Episode Terbaru 31


__ADS_3

Setelah hampir perjalanan 2 jam, Ainun dan Ahmad Rafiq pun telah sampai di rumah Salsa, untuk beberapa saat mereka pun menenangkan gejolak hati mereka masing-masing, dan menghembuskan nafas beberapa kali untuk menenangkan dirinya sebelum mereka turun.


"Ayuk turun," ajak Ahmad Rafiq.


Ainun pun yang masih tengah menenangkan dirinya dan lamunannya pun sedikit terkejut ketika mendengar suara Ahmad Rafiq untuk mengajaknya turun.


"Hemm, iya ayuk..." ucap Ainun, yang segera turun dari mobilnya.


Sedangkan Ahmad Rafiq memakirkan mobilnya, setelahnya ia juga turun.


Hatinya benar benar semakin tak menentu dan degub jantungnya pun berdetak kencang, begitupun dengan Ahmad Rafiq yang hatinya tak menentu dan rasa cemas juga takut itu mulai menyergapnya kembali.


Mereka pun segera turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah Salsa beberapa kali.


Tak seberapa, terdengar suara yang menyahut agar menunggunya, dan beberapa menit kemudian pun pintu tersebut di buka oleh pemilik rumah itu.


"Ainun? Ahmad Rafiq?" tanya Salsa yang terkejut dengan kehadiran Ainun tiba tiba.


"Salsa, aku rindu kamu..." lirih Ainun.


"Kalian... bagaimana bisa di sini? tau alamat rumah ini dari mana kalian?" tanya Salsa yang masih bingung dengan kedatangan Ainun dan Ahmad Rafiq.


"Hemm kita tau alamat rumah kamu dari...." ucap Ainun terhenti, saat dari dalam mendengar suara Aldo.


"Siapa Salsa?" tanya Aldo yang dari dalam menghampiri mereka.


"Ainun? Ahmad Rafiq? .... kalian... di sini?" tanya Aldo yang terkejut dengan kedatangan mereka.


Ainun merasa jantungnya berhenti berdetak, ia hanya terdiam dan kelu untuk mengucapkan sesuatu.


Tatapannya rasanya tak berhenti menatap Aldo.


Begitupun dengan Aldo yang menatap Ainun dan Ahmad Rafiq sejenak, setelahnya ia mengalihkan tatapannya dan ingin segera pergi dari hadapan mereka.


Aldo pun kelu dan bingung harus berucap apalagi, karena ia benar benar tak menduga kedatangan Ainun dan suaminya.


Bahkan ia sendiri belum menceritakan ke Salsa mengenai pertemuannya dengan Ainun, oleh karena itu ia belum mengajak Salsa ke rumah Ainun, oleh sebab itu ia terkejut dengan kedatangan mereka.


"Hemm maaf saya duluan ya ke dalam, mau bersiap siap," ucap Aldo, yang segera berlalu ke dalam duluan.


Ainun pun terdiam melihat kepergian Aldo masuk ke dalam, hatinya semakin tak menentu setelah Kepergian Aldo ke dalam.


"Hemm yasudah ayo masuk dulu, ngobrolnya di dalam," ucap Salsa yang mempersilahkan mereka untuk masuk.


Ainun pun tersadar dari lamunannya, saat Salsa mempersilahkan mereka untuk masuk.


"Iya, terimakasih..." ucap mereka yang segera masuk mengikuti langkah Salsa ke dalam.


"Ayo silahkan duduk, mau minum apa?" tanya Salsa.


"Hemmm tidak usah lah Salsa, kami ke sini karena aku rindu kamu, oleh sebab itu aku minta anter Ahmad Rafiq," ujar Ainun.


"Iya... mau minum apa? nanti sambil ngobrol," ujar Salsa.


"Hemm yaudah deh, terserah kamu aja mau sediakan minum apa," ucap Ainun.


"Iya yang ada aja..." ujar Ahmad Rafiq.


"Oke aku buatkan dulu ya," ucap Salsa yang segera berlalu ke dapur.


"Hemmm huffft." untuk sejenak Ainun menghembuskan nafasnya beberapa kali.


"Kamu kenapa?" tanya Ahmad Rafiq bingung dengan sikap Ainun.


"Humm gak..gak papa," jawab Ainun.


"Sepertinya kamu sedang tegang, menyembunyikan sesuatu," ujar Ahmad Rafiq, yang membuat Ainun menatapnya dalam diam untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Enggak..." ucap Ainun yang segera menggelengkan kepalanya.


"Bohong..." ucap Ahmad Rafiq.


Ainun pun menatap Ahmad Rafiq kembali, sebelum berucap kembali.


"Aku gak bohong," ucap Ainun yang setelahnya mengalihkan tatapannya ke arah lain.


Perdebatan mereka pun terhenti, dengan kedatangan Salsa.


"Nah, ayo di minum," ucap Salsa yang meletakkan minuman di meja tamu.


"Terimakasih, Salsa..." ujar Ainun dan Ahmad Rafiq.


"Ohya kalau boleh tau, kalian di sini, tau alamat rumah ini dari mana dan dari siapa? kok bisa di sini? aku penasaran loh..." ujar Salsa.


"Hemmm...," ucap Ainun bingung dan ia semakin yakin kemungkinan Aldo tak menceritakan pertemuan mereka, sehingga Salsa tidak menahu akan hal tersebut.


"Saya yang beritahu alamat rumah kamu, saat tak sengaja bertemu dengannya dan katanya Ainun rindu kamu, jadi aku beri alamat rumah ini agar kalian bisa bertemu, bukankah seharusnya begitu? maaf aku belum sempat cerita, karena terlalu banyak kerjaan jadi lupa," ucap Aldo tenang, yang tengah keluar dari kamarnya saat ia telah selesai bersiap.


Ainun pun menatap Aldo tanpa berkedip untuk beberapa sejenak, begitupun Ahmad Rafiq yang menatap antara Aldo dan Ainun bergantian.


"Hemm sudah mau berangkat ke kantor?" tanya Salsa saat melihat Aldo yang telah selesai bersiap.


"Iya, mau berangkat sekarang," ucap Aldo.


Ainun masih terus menatap Aldo dalam diam, jujur saja hatinya cemburu andai ia yang di posisi Salsa, sungguh beruntung rasanya menjadi Salsa, bisa menikah dengan orang yang ia cintai dan mereka pun saling mencintai.


"Oooh begitu, iya maaf ya aku gak tau.. soalnya Aldo belum ada cerita ke aku, tapi emang bener aku rindu kamu Ai, dan berulangkali aku bertanya dan meminta Aldo juga untuk mencari keberadaan kalian juga kabarmu, Alhamdulillah ketemu juga... Terimakasih ya Al, uda kasih alamat kita supaya Ainun bisa ke sini," ucap Salsa.


"Iya sama sama," ucap Aldo singkat.


"Ahmad Apa kabar?" tanya Aldo.


"Alhamdulillah saya baik, kamu?" tanya Ahmad Rafiq.


"Alhamdulillah..." ucap Aldo.


"Iya syukur ya..kita bisa bertemu akhirnya," jawab Salsa.


"Iya... syukurlah," ucap Ainun dengan melirik ke Aldo.


Aldo yang tak ingin berlama lama di sini pun segera pamit ke Salsa.


"Yank, aku pamit mau berangkat ke kantor," pamit Aldo kepada Salsa, dan ia sengaja memanggil Salsa dengan sebutan sayang agar Ainun tau posisinya berada di mana dan jika Salsa telah menjadi istri sahnya.


Ainun pun merasakan perasaan yang sulit ia terjemahkan saat mendengar Aldo memanggil Salsa dengan sebutan sayang.


Ainun hanya mampu menatap Aldo dalam diam dan sesekali menunduk untuk menahan air matanya yang lolos begitu saja mengalir di pipinya, entah mengapa hatinya terlalu sakit walau ia tau perasaan ini tak seharusnya ia rasakan, bahkan seharusnya perasaan ini tak boleh ada.


Namun Ainun sendiri, tak mengerti mengapa ia tak bisa membendung perasaan cemburunya ketika melihat kedekatan Aldo dengan Salsa yang seharusnya memang seperti itu.


Entah mengapa ia cemburu dengan posisi Salsa menjadi istri Aldo.


"Hemm yasudah hati hati ya," ucap Salsa yang segera berdiri dari duduknya, dan Salim kepada Aldo.


Begitupun dengan Aldo yang mencium kening Salsa kemudian ia pun segera berangkat ke kantornya.


Ainun lagi dan lagi merasakan perasaan yang sulit ia terjemahkan saat melihat Salsa yang salim kepada Aldo dan Aldo mencium kening Salsa.


"Ai, .... " panggil Salsa yang membuyarkan lamunan Ainun.


"Eh iya..." jawab Ainun.


Mereka pun meneruskan berbincang bincang hingga selesai, mereka pun segera pamit untuk pulang.


"Kami pamit pulang dulu ya Salsa, maaf merepotkan kedatangan kami, dan terimakasih udah mau menyambut dan menemani kedatangan kami," ucap Ahmad Rafiq, yang membuat Ainun meliriknya sekilas.

__ADS_1


Ainun semakin yakin sebenarnya perasaan Ahmad Rafiq untuk Salsa masih ada, hanya saja Ahmad Rafiq selama ini mencoba membohongi hatinya sendiri.


"Iya, terimakasih juga atas kedatangan kalian ke mari...dan terimakasih juga sudah mau antar Ainun ke sini, jadi rasa rinduku dengan Ainun terobati," ujar Salsa.


"Hemm sama sama..." ucap Ahmad Rafiq.


"Kami pamit pulang dulu ya Salsa," ucap Ainun yang segera berlalu.


"Iya Ai, terimakasih ya atas kedatanganmu. Hati hati..." ucap Salsa.


"Iya, Assalamualaikum..." pamit Ahmad Rafiq dan Ainun.


"Waalaikumussalam," jawab Salsa.


Mereka pun segera menaiki mobil, menuju perjalanan pulang.


"Aku harap kamu bisa konsisten dengan komitmen kita, ya meski aku tau kamu masih ada rasa dengan Aldo.. dan sebaiknya tundukkan pandanganmu juga gak perlu merasa cemburu bagaimanapun Aldo itu suami Salsa dan kamu pun sudah bersuami," ujar Ahmad Rafiq yang mencoba mengingat Ainun, karena ia sendiri merasa cemburu dengan tatapan dan perasaan Ainun kepada Aldo.


Ainun pun melihat Ahmad Rafiq, kemudian ia menunduk untuk mengatur nafasnya, menghembuskan beberapa kali untuk menenangkan dirinya dan sebelum berucap kembali.


"Hemmm...kamu sendiri dengan Salsa?" ucap Ainun ketus.


"Hemmm aku kan sudah bilang, aku dengan Salsa sudah gak ada hubungan apapun lagu atau menyimpan perasaan yang dalam untuk Salsa, ya meski mungkin masih tersisa sedikit karena aku tak bisa menghilangkan sepenuhnya.


Tapi setidaknya aku tidak seperti kamu yang masih mengharapkan suami orang, aku sangat menyadari bila Salsa telah menikah dan menjadi istri orang, dan aku pun gak berusaha buat perasaaan itu tumbuh, karena selain menyadari Salsa sudah menikah, kami sama sama sudah menikah... aku pun gak ingin menyakiti perasaanku sendiri," ujar Ahmad Rafiq, yang membuat Ainun terdiam dan berulangkali bertanya pada dirinya Salahkah ia yang masih menyimpan perasaan dengan Aldo?


masih cemburu dengan Salsa dan Aldo?


dan perasaan itu semakin tumbuh...


Sungguh ini bukan inginnya, ia sendiri pun tersiksa dengan perasaan ini.


Jika boleh meminta sungguh ia tak pernah menginginkan perasaan seperti ini dan menikah secara kontrak tanpa cinta pada akhirnya.


"Ehmmm kenapa gak di jawab? bingung? atau sudah sadar jika salah?" tanya Ahmad Rafiq kembali, yang membuat Ainun kesal.


Setelah menenangkan gejolak hatinya ia pun mulai berbicara kembali, menjawab pertanyaan yang Ahmad Rafiq lontarkan padanya.


"Enggak... gak merasa salah, perasaan gak ada yang tau dan bisa mengontrol.


Andai boleh memilih aku juga gak ingin, aku juga tersiksa terlebih menjalani pernikahan kontrak tanpa cinta," ucap Ainun yang membuat Ahmad Rafiq terdiam, seakan ada luka di hatinya yang Ainun ungkapan.


"Kamu yakin...gak ada perasaan dengan Salsa? sepertinya aku tadi lihat di perbincangkan kita kamu menatap Salsa begitu dalam loh, peduli dengan Salsa dan bahkan saat berpamitan mau pulang kamu sangat ramah dan peduli dengan Salsa... yakin itu gak ada perasaan? sudahlah, tidak usah membohongi hatimu sendiri.


Mungkin kamu bisa membohongi semua orang termasuk aku, ya walau aku tau kamu sedang berbohong, tapi kamu tidak akan bisa membohongi hatimu sendiri meski kamu bisa membohongi semua orang...dan lebih baik tidak perlu repot mengurusi perasaanku dengan Aldo lebih baik kamu fokus dan pertanyakan perasaanmu dengan Salsa," ucap Ainun kembali, yang membuat Ahmad Rafiq Kelu dan terdiam.


Ahmad Rafiq benar benar bingung dengan hatinya saat ini setelah mendengar ucapan Ainun dan berulangkali ia meyakinkan hatinya bahwa yang di katakan Ainun tak benar dan ia sudah tak memiliki persaan sebesar itu kepada Salsa, sekalipun ada sedikit perasaan itu, dan ia mencoba meyakinkan hatinya bahwa ia tak peduli dengan Salsa karena telah menikah dan bukan urusannya.


Sedangkan Ainun lebih memilih memejamkan matanya selama perjalanan menuju pulang, berbeda dengan Ahmad Rafiq yang masih bingung dengan pikirannya.


"Hati hati menyetirnya jangan melamun dan memikirkan perasaan kamu dengan Salsa saat ini, nanti saja... di rumah, ingat kamu sekarang lagi menyetir jangan buat orang celaka. Aku gak mau ya terjadi sesuatu padaku karena kamu sibuk dengan perasaanmu dengan Salsa," ucap Ainun ketus.


"Iya.... ini juga salah kamu," ucap Ahmad Rafiq singkat.


"Salahku? enak aja..." ucap Ainun.


"Iya karena ucapanmu..." ucap Ahmad Rafiq pelan.


"Hahahaha jadi kamu memikirkan ucapanku? berarti benar kan? kalau gak bener gak perlu di pikirkan, kecuali emang benar kenyataannya seperti itu. Tapi ya tetap saja, mikirnya nanti saja jangan sekarang, bahaya lagi nyetir loh.. lagipula aku fikir gak ada yang salah ucapanku, bener kan? aku hanya ingin menyadarkan perasaanmu dengan Salsa supaya gak sibuk dengan perasaan orang lain aja, asyiknya. Ya akhirnya kamu memikirkannya kan? baguslah...." ujar Ainun.


"Udah ah, ku mau istirahat, nanti kalau sudah sampai rumah bilang ya, bangunin aku.. ohya ingat jangan sibuk asyik dengan perasaan aja.. fokus lagi nyetir..nanti saja fokus memikirkan perasaannya," ujar Ainun kembali sebelum memejamkan matanya dan menyenderkan dirinya di mobil.


Sedangkan Ahmad Rafiq memilih diam tidak menjawab pertanyaan Salsa dan lebih fokus menyetir juga memikirkan perasaannya karena ucapan Ainun membuatnya lagi dan lagi terdiam juga kelu, entah harus menjawab apa dan bagaimana...


Ahmad Rafiq merasa Ainun cukup pintar untuk membuatnya terdiam dan bingung sendiri karena ia yang terlalu sibuk dengan perasaan Ainun dan Aldo.


Kini ia benar benar bingung dengan perasaannya sendiri dengan Salsa.

__ADS_1


Namun ia harus tetap fokus menyetir dan tidak terlalut dengan perasaannya untuk saat ini agar ia sampai selamat di rumah, karena memang terlalu bahaya bila ia yang sedang menyetir namun sibuk dengan perasaannya dan fikirannya.


Ahmad Rafiq pun kembali fokus menyetir dan menyampingkan perasaannya dahulu, bagaimanapun Ahmad Rafiq merasa ia harus mencoba mengingat pesan Ainun padanya agar mereka selamat sampai di rumah.


__ADS_2