
Setelah beberapa menit kemudian, Ainun pun telah selesai mandi dan berganti pakaian.
Ainun sedikit terkejut, ternyata Ahmad Rafiq masih menunggunya.
Humm, apa benar ada yang ingin di bicarakan oleh Ahmad Rafiq padanya? tapi apa? menunggunya karena memang ada yang ingin di bicarakan kepadanya atau karena pencitraan di depan orang tua mereka agar turun bersama? Ah, entalah..
Ainun pun yang bingung antara mengajak Ahmad Rafiq untuk ke bawah atau menunggunya berbicara padanya.
Ainun memilih duduk di samping Ahmad Rafiq untuk sejenak, menunggu Ahmad Rafiq berbicara padanya, namun karena tak kunajung berbicara dengannya Ahmad Rafiq, Ainun pun memilih beranjak dari duduknya dan mengajak Ahmad Rafiq turun ke bawah.
"Humm, Mas, yuk sebaiknya kita turun ke bawah, pasti mereka sudah menunggu kita..
Bukankah itu yang tadi kamu katakan juga padaku? kasian kan kalau mereka terlalu lama menunggu kita?" ujar Ainun yang membuat Ahmad Rafiq terdiam dan menoleh padanya untuk sejenak dalam diam.
"Tunggu, ada yang ingin ku bicarakan denganmu." ujar Ahmad Rafiq.
Ainun pun duduk kembali di samping Ahmad Rafiq untuk mendengarkan apa yang akan ia bicarakan.
__ADS_1
"Hemm, ini.. kamu bisa baca dan jika setuju kamu bisa langsung mendatangani tapi jika ada beberapa poin yang kurang setuju, kamu bisa bilang aku dan jika ada yang ingin kamu tambahkan poinnya, kamu bisa tambahkan dan serahkan atau bilang ke aku setelahnya." ucap Ahmad Rafiq dengan menyerahkan map tersebut ke Ainun.
Ainun yang masih dalam kebingungan pun tetap menerima map tersebut dan memandangi map tersebut dalam diamnya.
"Ini map apa?" tanya Ainun kepada Ahmad Rafiq untuk menjawab kebingungannya.
"Kamu baca saja, nanti kamu juga tau." ucap Ahmad Rafiq singkat, yang semakin membuat Ainun pemasaran.
"Baiklah." ucap Ainun.
Ainun pun segera membuka dan membaca dengan seksama isi map tersebut.
"Ini surat kontrak di antara kita ya?" tanya Ainun kembali kepada Ahmad Rafiq.
"Iya, begitulah..itu surat kontrak di antara kita, bagaimana? kamu setuju? kamu bisa membacanya kembali dan memahaminya sebelum kamu bertanda tangan di sana, karena aku tak ingin ada penyesalan pada akhirnya, dan mungkin ada yang kurang kamu setujui dari poin yang ku tulis, atau ada yang ingin kamu tambahkan." ujar Ahmad Rafiq.
"Baiklah.. aku sudah membacanya dan aku menyetujuinya." ujar Ainun yang membuat Ahmad Rafiq tercenggang untuk sejenak.
__ADS_1
"Kamu yakin sudah menyetujuinya? coba kamu baca ulang sebelum menyetujuinya dan menandatangani." ujar Ahmad Rafiq kembali.
"Iya aku sudah membacanya dan aku sudah paham..aku setuju, mana pulpennya? aku mau menandatangani surat ini supaya kita lekas ke bawah untuk makan bersama, kasian mereka pasti uda nunggu kita terlalu lama." ujar Ainun.
"Humm, oke. ini.." ucap Ahmad Rafiq yang segera memberikan pulpen tersebut.
"Oke, makasih." Ainun pun segera menandatangani surat kontrak tersebut.
Rasanya berat dan begitu sesak saat menandatangani surat tersebut, pernikahan kontrak tersebut akan di mulai.
Entah, mungkinkah ia sanggup bertahan?
Atau menyerah pada pernikahan ini akhirnya pilihan terbaik?
Selesai menandatangani, Ainun pun tersadar dari lamunannya dan segera memberikan map tersebut.
"Ini..." Ainun pun menyerahkan map tersebut ke Ahmad Rafiq.
__ADS_1
"Yasudah yuk kita turun." ujar Ainun kembali pada Ahmad Rafiq.
"Iya.." jawab Ahmad Rafiq, dan mereka pun segera turun bersama menuju meja makan.