
Setelah selesai semua, Putri segera turun menuju dapur. Di sana ia melihat Aldo yang lagi memasak. Putri menghampirinya, ia mengambil gelas dan mengisinya dengan air lalu meminumnya.
"Masak apa kamu Al?" tanya Putri sambil duduk menunggu Aldo selesai masak.
"Nih lagi masak nasi, sup ayam, sambel, telur mata sapi, ayam goreng, lalapan dan juga ikan bakar." Jawab Aldo tanpa menoleh ke arah Putri. Ia masih fokus memasak. "Tunggu ya, bentar lagi udah mateng kog"
"Oke, santai aja. Aku akan setia menunggu. Tapi awas ya jika masakannya gak enak. Akan aku usir kamu dari rumahku."
"Udah deh, jangan ceramah Put, mending kamu bantuin aku deh jika pengen cepet."
"Ih Najis. Ngapain aku bantu kamu. Mending duduk nyantai."
"Iya sudah, aku gak akan maksa jika memang kamu gak mau." Ucap Aldo pasrah, gak ada gunannya juga kan kalau debat sama Putri. Toh ujung ujungnya juga pasti dirinya kalah. Lima menit kemudian Aldo berhasil menyelesaikan semua pekerjaannya dan saat ia menoleh ke arah Putri dan ia benar benar terkejut melihat Putri.
"Astaga...." Teriak Aldo
"Apa sih. Lebai deh."
"Kenapa seragammu krisut gitu. Emang gak di setrika dulu tah sebelum pakek. Terus itu kenapa rambutmu acak acakan gitu. Lalu wajahmu, paling gak pakek bedaklah dikit dikit biar gak pucet gitu."
"Kamu itu kenapa sih, bawel banget jadi cowok. Terserah akulah. Lagian mama gak ada, terus siapa yang mau nyetrika bajuku, masak aku sendiri. Aku kan gak bisa sedangkan aku cuma punya satu seragamnya.Terus aku males sisiran, capek tanganku. Untuk masalah bedak, aku jarang pakek. Males ah kenapa sih harus pakek bedak, kan cuma mau sekolah."
"Aku bisa darah tinggi Put, lama lama sama kamu."
"Makanya pulang sana biar gak cepat darah tinggi. Aku juga bosan lihat kamu di sini terus."
"Kalau aku pulang, siapa yang akan masak untukmu, beres beres rumahmu, bantuin kamu ini itu. Aku mana tega membiarkanmu kelaparan dan kamu kan orangnya ceroboh dan pemalas. Ah, aku benar benar gak bisa membayangkan bagaimana jika aku gak ada di sampingmu. Selama ini kamu di bantu oleh mamamu dan sekarang mamamu gak ada. Nanti sepulang sekolah, aku akan mencarikan pembantu untukmu atau kau ikut aku aja ke rumahku. Yah, aku fikir itu lebih baik. Jika kamu menolak, aku pastikan kamu akan mati kelaparan karena aku gak akan memasakkan untukmu lagi dan gak akan memberikan uang sedikitpun untuk kamu."
"Baiklah, aku nurut aja."
"Nah gitu dong, iya sudah sekarang kamu makan. Tapi sebelumnya, kamu buka dulu bajumu."
"Kamu mau ngapain, nyuruh aku buka baju."
"Jangan fikir yang aneh aneh deh, aku akan menyetrika bajumu, mana tega aku membiarkan orang yang aku suka menggunakan baju kayak gitu ke sekolah."
"Iya iya.. Dasar bawel." Putri segera membuka seragamnya, untunglah dia tadi pakek baju dua jadi aman walau buka baju di depan si dodol itu. Setelah membuka bajunya, ia segera memberikan kepada Aldo untuk di setrika sedangkan ia sendiri akan mengisi perutnya yang sudah keroncongan dari tadi. Selesai makan, Aldo segera memberikan baju yang sudah di setrika itu kepadaku dan segera memakainya.
__ADS_1
"Sekarang duduk." Ucap Aldo dengan tegas.
"Mau ngapain lagi. Ini sudah siang." Protes Putri melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.40
"Aku mau bantu nyisirin rambutmu tu biar gak kayak sarang burung."
"Kamu tuh ya. Aku gak mau."
"Oh oke, kalau kamu gak mau. Aku gak akan kasih uang jajan buat kamu."
"Iya iya deh. Tapi setelah ini kamu harus kasih aku uang yang banyak ya."
"Iya. Sekarang duduk dulu."
"Oke." Putripun segera duduk di kursi sedangkan Aldo menyisir rambut Putri dengan penuh kasih sayang.
"Kamu berapa hari gak keramas?" tanya Aldo karena bau rambut Putri yang sudah apek.
"Emmm kalau gak salah sih, baru satu mingguan."
"Ha!"
"Enggak usah kaget gitu deh. Santai aja kali."
"Enggak mau."
"Kenapa?"
"Males."
"Emmm gini aja deh jika kamu mandi plus keramas. Aku janji aku akan mengabulkan semua permintaan kamu."
"Beneran?"
"Iya. Emang aku pernah bohong."
"Iya deh, nanti aku mandi."
"Sip. Rambutmu sudah aku sisirin, untuk pakek bedak, kamu sendiri aja ya soalnya aku gak bisa. Nih bedaknya sudah aku ambilin tadi dari kamarmu." Ucap Aldo sambil memberikan bedak kepada Putri. Putri pun segera mempoles wajahnya dan tak lupa memakai lipstik.
__ADS_1
"Nah kalau gitu kan cantik."
"Aku emang cantik, kamu aja yang baru sadar."
"Iya sudah, sini aku pakaikan sepatunya. Ucap Aldo, ia segera mengambil sepatu dan memasangkan di kakinya Putri.
"Kamu gak sekolah?" tanya Putri melihat Aldo masih pakek baju biasa.
"Aku masuk nanti jam 10. Tadi aku udah izin. Soalnya jam 8 aku masih ada meeting di kantor." Jawabnya tanpa menoleh ke arah Putri.
"Nah, sudah selesai. Sekarang aku antar kamu ke sekolah."
"Aku naik angkot aja?"
"Jika kamu naik angkot, kamu bisa telah. Lebih baik aku yang akanĀ mengantarkanmu setelah itu aku langsung pulang ke rumahku buat ganti baju lalu ke kantor. Kamu jangan bawel, nurut aja kenapa sih." Ucap Aldo dengan tegas agar Putri mau menuruti perkataannya.
"Iya tapi gak usah pakek nada tinggi juga kali. Akukan gak budek (tuli)."
"Maaf. Iya sudah ayo cepet masuk mobil." Aldo dan Putri segera masuk mobil dan mereka segera berangkat menuju sekolah.
"Kamu nanti di sekolah belajar yang rajin ya biar dapat nilai bagus, jangan baca novel pas jam pelajaran. Kalau mau baca, nanti aja pas jam istirahat." Ucap Aldo setelah sampai di depan gerbang sekolah.
"Iya."
"Ini uang jajan buat kamu." Aldo memberikan uang sebesar 500 ribu.
"Ini apa gak kebanyakan, biasanya papa cuma ngasih aku uang 50 ribu setiap hari."
"Gak papa. Ini ambil aja."
"Makasih ya, Al."
"Iya. Oh ya aku minta jangan deket deket sama cowok lain ya."
"Kenapa?"
"Aku gak suka."
"Baiklah. Aku masuk dulu ya."
__ADS_1
"Oke." Putri segera turun dari mobil sedangkan Aldo segera melajukan mobilnya menuju
rumahnya.