
Ainun pun melanjutkan kembali mengelilingi pesantren tersebut, untuk mengenangnya kembali.
Namun saat Ainun meneruskan berjalan, tanpa sengaja Ainun menabrak seseorang lelaki, hingga mereka berdua sama sama jatuh.
"Astaghfirullah..Au..." lirih Ainun kesakitan saat tak sengaja terjatuh karena menabrak seseorang tersebut.
"Au," lirih lelaki itu juga.
"Ainun pun betapa terkejutnya saat melihat orang yang ia tubruk seorang lelaki.
Ainun pun berusaha berdiri tapi kakinya masih terasa sakit karena ia terjatuh dengan cukup keras tadi hingga membuat Ainun kesulitan untuk berdiri kembali.
"Maaf ..." lirih Ainun saat melihat ke arah lelaki tersebut.
"Maaf, aku tak sengaja," ucap Ainun kembali.
Lelaki itu pun tersenyum dan mengangguk, setelahnya ia segera berdiri dan mencoba membantu Ainun yang belum bisa berdiri.
"Maaf, tapi kita bukan muhrim," ucap Ainun menolak bantuan lelaki itu yang ingin memegangnya untuk membantunya berdiri.
Seketika lelaki itu menatap Ainun bingung dan sedikit terkejut dengan penolak Ainun padanya.
"Hemm maaf," ucap lelaki itu yang segera menghentikan pergerakannya untuk menolong Ainun.
"Humm maaf, lalu bagaimana cara kamu berdiri?" tanya lelaki itu kepada Ainun.
"Insya Allah aku bisa, aku akan mencoba berdiri," ujar Ainun, yang mencoba berdiri kembali.
"Yakin tidak mau ku bantu?" tanya lelaki itu.
"Tidak usah, terimakasih.." jawab Ainun, yang mencoba berdiri kembali perlahan, hingga beberapa kali ia berhasil berdiri kembali.
"Alhamdulillah," ucap Ainun kembali, saat ia sudah berdiri.
"Alhamdulillah akhirnya bisa berdiri, ohya ini bukumu," ujar lelaki itu yang membantu memungut buku untuk Ainun.
"Iya Alhamdulilah..apa aku bilang kan? hehehe, ohya kamu ngapain?" tanya Ainun saat melihat lelaki itu menunduk untuk memunguti bukunya.
"Saya mau bantu kamu ambil bukumu, plese jangan tolak ya.. karena tadi kan kamu sudah nolak pas mau ku bantu, jadi kali ini jangan tolak ya?" ucap lelaki itu yang segera memunguti buku Ainun, dan berdiri kembali.
"Ini buku kamu," lelaki itu menyerahkan buku tersebut ke Ainun.
"Humm seharusnya kamu tidak perlu sampai seperti itu, tapi terimakasih ya," jawab Ainun berusaha tersenyum sesaat kepada lelaki itu.
"Gak papa santai aja, iya sama sama," jawab lelaki itu dengan tersenyum, dan membuat Ainun membalas dengan tersenyum kembali.
"Ohya yasudah, saya pamit dulu ya..." ujar lelaki itu.
"Humm, baiklah.. hati hati ya... dan sekali lagi terimakasih," jawab Ainun.
"Ohya tunggu, ruangan pendaftaran dan pengajar ustadz juga ustadzah di mana ya? dan..kamu ini santri di sini kah? atau pengajar tapi kok sepertinya tidak mungkin ya?" tanya lelaki itu.
"Hemm untuk ruang pendaftaran di sebelah sana, kanan..di depan." Ainun menunjukkan arah ruang pendaftaran.
"Nah, kemudian kalau ruang tempat berkumpulnya ustadz dan ustadzah di sebelah kiri sini, masuk terus belok ke arah sana, lurus... sampai deh," tunjuk Ainun kembali ke ruang pengajar.
"Oalah begitu ya mbak.. terimakasih ya mbak," ujar lelaki itu.
"Iya sama sama...," jawab Ainun dengan tersenyum.
"Ohya maaf kalau boleh tau tadi mbak belum jawab pertanyaan saya, mbaknya ini pengajar atau santri di sini?" tanya lelaki itu kembali.
__ADS_1
Untuk sejenak Ainun tersenyum kembali sebelum menjawab pertanyaan lelaki itu.
"Hehehe, saya bukan pengajar di sini, bukan santri juga," ujar Ainun.
"Lah terus? ngapain mbaknya ke sini?" tanya lelaki itu bingung.
"Hemm, emang gak boleh ya? kalau saya bukan pengajar dan santri, gak boleh ke sini?" tanya Ainun kembali.
"Hehehe boleh sih mbak, bukan gak boleh.. toh bukan saya juga pemilik pesantren ini, jadi saya juga gak ada hak melarang juga hehehe, jika pun saya pemilik pesantren ini juga gak bakal melarang mbaknya ke sini hehe... cuman saya bingung kalau mbak bukan santri atau pengajar di sini, terus apa ada keperluan lainnya ke sini? untuk apa gituloh mbak? kan gak mungkin datang tanpa tujuan atau maksud? hehehe penasaran saja mbak saya, kalau boleh tau.." ujar lelaki itu.
"Hehehe, saya emang bukan pengajar atau santri di sini saat ini, humm mungkin lebih tepatnya saya alumni santri di sini, jadi saya ke sini untuk mengenang kembali masa masa di pesantren ini, karena saya merindukan masa dan momen tersebut, yang mungkin takkan pernah kembali..."jawab Ainun menerawang.
"Humm ohya hehehe maaf ya tadi buat kamu bingung, maksud saya alumni lebih tepatnya, hehe," ucap Ainun kembali, dengan sedikit tertawa kecil.
"Oalah gitu toh ... hehehe pantes ke sini, jangan sedih ya kan kamu bisa kapanpun ke sini untuk mengenang masa kamu pas jadi santri di sini, ya memang semua gak mungkin kembali.. karena masa kecil aja pas udah jadi dewasa gak bisa di ulang karena pasti terjadi perubahan dalam hidup ini menuju bertumbuh... Udah ya, jangan sedih... nanti rembulannya redup lagi," ujar lelaki itu dengan tersenyum, untuk sesaat membuat Ainun terpanah dengan ucapan lelaki itu dan senyum lelaki itu.
Untuk sesaat Ainun menyadari lelaki itu sangat tampan dan kaya katanya sangat bijaksana hingga bisa menenangkan hatinya yang sedang gundah gulana.
Namun Ainun segera tersadar dari lamunannya dan beristighfar.. menyadari bila ia sudah mempunyai suami, walau suami di atas kontrak pernikahan tersebut dan tanpa cinta.
Bagaimanapun Ainun menyadari bila ia sudah menikah dan bersuami yang seharusnya tetap menjaga Izzah dan iffahnya sebagai seorang perempuan.
Apapun status pernikahan mereka, Ainun tak peduli karena yang harus ia pedulikan dan sadari bahwa ia telah menikah dan bersuami..oleh sebab itu ia harus bisa menjaga diri ketika jauh dari suami atau ketika suaminya tak ada di dekatnya.
Jika dulu sebelum menikah ia bisa menjaga Izzah dan Iffahnya sebelum menikah, lantas mengapa setelah menikah ia justru tak bisa menjaga? bukankah seharusnya ia bisa lebih menjaga?
Setelah mencoba menenangkan dirinya kembali, degub jantungnya yang berdetak kencang.. yang membuat ia tak mengerti mengapa ia merasakan detak yang sama seperti saat ia jatuh cinta dengan Aldo? bahkan saat ia jatuh cinta dengan Aldo hanya malu malu dan degub itu tidak sekencang seperti saat ini.
Degub itu pun tak pernah ia rasakan saat ia bersama Ahmad Rafiq, mungkinkah ia tanpa sadar telah jatuh hati pada lelaki ini pada pandangan pertama? ooh no... sungguh konyol baginya, bahkan nama lelaki tersebut saja ia tidak tau, terlebih dirinya sudah bersuami.
Berungkali Ainun mencoba beristighfar dan menenangkan degub jantungnya, setelah ia rasa cukup tenang, Ainun pun mulai berucap kembali.
"Maksudnya kamu.. bagiku kamu seperti rembulan, cantik, shalehah, nah kalau rembulannya redup kan gak kelihatan cantiknya lagi dan terpancar keshalihannya," ujar lelaki itu kembali tersenyum dan mencoba menjelaskan ke Ainun maksud ucapannya tadi.
Untuk beberapa saat Ainun salah tingkah setelah mendengar ucapan lelaki itu.
"Hummm, kamu bisa aja.. gak lah, aku gak seperti rembulan, tapi..ya semoga saja Aamiin, hehe.. thanks," ujar Ainun kembali.
"Hehehe serius loh aku kamu itu seperti rembulan bagiku dan pasti sangat beruntung siapapun yang bisa menikah denganmu, memilki hatimu ... ia pasti menjadi pasangan yang sangat beruntung dan kalian akan menjadi pasangan yang sempurna," ujar lelaki itu kembali.
Ucap lelaki itu, tanpa sadar membuat Ainun kelu dan terdiam sekaligus sedih karena mengingat pernikahannya dengan Ahmad Rafiq di atas kontrak yang sama sekali tiada kebahagiaan di dalamnya dan Ainun yakin Ahmad Rafiq tak pernah merasa jika Ainun pasangan yang beruntung baginya terlebih jika dirinya dan Ahmad Rafiq pasangan yang sempurna.
Ainun hanya bisa menjawab dengan senyum tipisnya, karena ia benar benar bingung harus menjawab apa...
"Hemmm.... hehehe, kamu bisa aja. Kamu berlebihan," ujar Ainun yang senyum masam pada
"Saya gak bisa aja, tapi saya berucap seperti itu karena saya serius loh... karena andai saya punya istri sepertimu saya akan merasa beruntung dan mungkin kita bisa menjadi pasangan yang sempurna, humm maaf ini menurut pendapatku," ujar lelaki itu kembali.
"Humm kamu bisa aja, yang lagi lagi terlalu berlebihan dengan pujianmu itu." ujar Ainun.
"Sudahlah, jangan berlebihan.. karena nyatanya tidak seperti itu.." ujar Ainun kembali dengan tersenyum masam untuk sesaat.
"Humm maksudnya? maaf kalau aku salah, karena aku kan tadi sudah bilang, itu menurut pendapatku saja..." jawab lelaki itu.
"Iya gak papa, santai saja..." ujar Ainun.
"Humm, yasudah saya pamit dulu ya, sekali lagi terimakasih sudah meluangkan waktu untuk berbicara denganku dan uda kasih tau mengenai ruang pendaftaran dan pengajar," ucap lelaki itu kembali.
"Iya sama sama dan silahkan," jawab Ainun.
"Ohya maaf kalau boleh tau kamu sendiri di sini untuk apa?" tanya Ainun yang penasaran.
__ADS_1
"Saya...mau daftar jadi santri baru di sini," jawab lelaki itu, yang membuat Ainun sedikit terkejut.
"Santri?... tanya Ainun kembali, yang masih bingung.
"Iya..." jawab lelaki itu penuh yakin.
"Kamu mau jadi Santri...?" tanya Ainun meyakinkan.
"Iya ..." jawab lelaki itu kembali tanpa ragu.
"Kamu yakin...? dan sudah siap jadi santri di sini?" tanya Ainun yang mulai ragu.
"Insya Allah yakin dan siap.." jawab lelaki itu penuh yakin.
Ainun pun mengangguk setelah mendengar jawaban lelaki itu...
"Oke.. aku doakan semoga Allah memudahkannya," ujar Allah Ainun kembali mendoakan.
"Aamiin..
terimakasih," ucap lelaki itu urus.
"Iya sama sama..." ucap Ainun.
"Ohya perkenalkan nama saya..." ucap lelaki itu terhenti karena handphone Ainun berbunyi dan Ainun fokus untuk mengangkat telfon tersebut.
Ainun pun segera mengangkat telfon tersebut dan berbicara kepada orang di sebrang telfon sana.
"humm baiklah, iya Ai akan ke sana," ujar Ainun kepada orang di sebrang telfon sana.
"Iya waalaikumussalam.." ucap Ainun kembali kepada seseorang di sebrang telfon sana dan segera mematikan handphonenya juga menaruhnya kembali ke dalam tas nya.
"Ohya maaf ya, saya ada urusan, jadi saya duluan ya, assalamualaikum..." ujar Ainun pamit terlebih dahulu.
"Oke tidak apa apa, hati hati," ucap lelaki itu, walau ia tau mungkin Ainun sudah tak mendengar ucapannya kembali.
"Ah, siapa perempuan rembulan itu? cantik... shalehah, entah mengapa dalam pandangan pertama aku sudah jatuh cinta dengannya.
Dan namanya tadi Ai ya?? hummm....siapa ya kira kira nama lengkapnya setidaknya nama panggilannya..." lirih lelaki itu berucap pada dirinya.
"Ah sayang sekali aku tadi tidak tau namanya dan belum sempat berkenalan dengannya.. Ah pokoknya kalau bertemu kembali dengan perempuan itu, aku gak boleh menyia nyiakan kesempatan tersebut lagi... semoga aku masih bisa bertemu dengannya....dan andai kami jodoh akan ku jadikan pasangan istimewa bagiku, tapi sayang dia sudah menikah belum ya? ...." lirihnya kembali dengan fikirannya.
"Yasudalah aku harus segera ke ruang pendaftaran dan pengajar," lelaki itu pun segera berlalu dari tempat tersebut.
*******
Akankah ada pertemuan mereka kembali?
Akankah Ainun pada akhirnya mencintai lelaki tersebut?
atau tetap bertahan dengan janji setia pernikahannya bersama Ahmad Rafiq?
Akankah Ahmad Rafiq berhasil mencintai Ainun pada akhirnya?
Atau justru lelaki tersebut yang akan membuat Ainun jatuh hati dan mencintainya?
Jika iya, lalu bagaimanakah respon Ahmad Rafiq bila mengetahuinya?
Akankah mempertahankan rumah tangganya dengan mencoba mengambil kembali hati Ainun dan memperbaiki segalanya?
Atau melepaskan Ainun dan menjadikan alasan perpisahannya dengan Ainun?
__ADS_1