Tolong Jangan Lupakan Aku

Tolong Jangan Lupakan Aku
Episode Terbaru 40


__ADS_3

Hari ini rasanya fikirannya, hati dan fisiknya cukup lelah sehingga ia benar benar malas untuk turun atau berbasa-basi di hadapan mereka.


Meski ada niatan di hatinya ingin memulai semua dari awal dan membantu Ahmad Rafiq, tapi untuk malam ini ia belum benar benar bisa memulai.


Ainun lebih memilih memejamkan matanya kembali, dan mengistirahatkan tubuhnya karena hati , fikiran dan fisik nya cukup lelah.


Terlebih ia sendiri sama sekali tak lapar sedikitpun.


Meski Ainun tau, kemungkinan Ahmad Rafiq nantinya akan menghampirinya karena Abahnya yang meminta mereka untuk turut makan bersama.


Baru beberapa menit ia mencoba merilex kan dirinya, Ainun mendengar suara pintu di ketuk beberapa kali, karena tak ada jawaban, tak seberapa lama pintu itu berdecit mengandakkan ada seseorang yang masuk ke dalamnya.


Ainun yakin itu Ahmad Rafiq, tapi ntah kenapa ia sendiri malas untuk menjawabnya, bertanya ataupun menoleh untuk memastikan.


Benar saja, tak seberapa lama Ahmad Rafiq mendekatinya dan berucap sesuatu padanya untuk ia turut turun bersama.


"Ai, bangun yuk...makan dulu, setelah itu lanjut istirahat, Abah juga sudah nunggu di meja makan," ucap Ahmad Rafiq berusaha membujuk Ainun.


Awalnya Ainun tak kunjung bangun, namun karena ia tak tega melihat Ahmad Rafiq yang terus membujuknya untuk turun, Ainun pun pada akhirnya bangun dan mau turut turun juga makan bersama.


Ainun melihat ke arah Ahmad Rafiq yang membangunkannya.


" Sudah pulang?" tanya Ainun lemah.


"Iya aku sudah pulang bawa makanan, bisa tolong bantu aku siapkan di meja makan, karena aku ingin cuci dan membersihkan diri sebentar, ucap Ahmad Rafiq.


Ainun pun mengangguk sebagai respon jawabannya.


"Karena aku tadi habis kesempret motor dan ya aku terjatuh dan sedikit luka luka, jadi aku ingin membersihkan diriku dulu ke kamar mandi sama membersihkan darah yang masih merembes ini, tapi insya Allah sudah gak papa kok," ujar Ahmad Rafiq kembali membuat Ainun terkejut.


"Yaa Allah lalu bagaimana keadaanmu saat ini? itu darah kan...? lalu apa gak perih nantinya kena air?" tanya Ainun.

__ADS_1


Untuk sejenak Ahmad Rafiq tersenyum karena melihat respon Ainun yang seakan menunjukkan kepedulian padanya.


"Hemmm kamu peduli ya sama aku? iya ini darah dan ya pasti perih sih kena air...aku sendiri gak bisa membayangkan, walau sudah membayangkan hehehe.. tapi gak papa karena gak baik juga di biarkan gini terus tanpa di bersihkan?.... Insya Allah gak papa kok, jangan khawatir. Insya Allah rasa perih itu gak terasa bagiku, kecil lah hehe terlebih aku ini seorang lelaki," ucap Ahmad Rafiq, yang membuat Ainun untuk sejenak diam dan menatapnya dalam diam.


" Gak usah geer, aku ...aku hanya sedikit terkejut, itu saja kok gak lebih. Ya kalaupun peduli ya seperti peduli sesama manusia dan menolong itu saja, gak lebih...Abah uda tau soal ini? aku juga kasihan dengan Abah bila tau keadaanmu seperti ini.... jadi sebab itu aku menolongmu gak lebih, jadi jangan geer. Ohya itu pasti perih kali kena air apalagi lukanya yang berdarah banyak, yaa Allah aku gak bisa bayangin gimana perihnya... kamu lagi kenapa pakek motor gak hati hati sih? sampai kesempret, tertabrak dan jatuh gitu?.... Ah iya jangan karena kamu seorang lelaki tak merasakan perih, pasti perih lah...jangan sok sombong lah dan ceroboh begini, akhirnya yang susah siapa?" omel Ainun kesal, tanpa sadar.


"Hahahaha okelah kalau kamu tak mau mengakui, kalau kamu peduli denganku. Tapi yasudalah gak papa, dan aku gak sok atau sombong ... emang bener aku ini lelaki dan perlu kamu tau lelaki itu gak mudah cenggeng seperti perempuan, ya kayak kamu gini... lagipula aku juga gak pernah nyusahin siapapun apalagi nyusahin kamu.


Kenapa jadi kamu yang mengomel ya? lucu aja liatnya... tapi gak papa, aku suka kok lihat kamu ngomel gini, terlihat lucu, hahaha..." tawa Ahmad Rafiq pun pecah, yang semakin membuat Ainun kesal kepadanya.


"Ohya Abah gak tau soal ini, aku harap kamu gak cerita ke Abah ya, please...." ucap Ahmad Rafiq kembali, memohon.


"Hemm kenapa diam? kok seperti nahan kesal? kalau memang apa yang perlu di ucapkan, ngomong aja gak papa ... bicarakan, jangan sungkan apalagi salah tingkah seperti itu," goda Ahmad Rafiq lagi, yang justru membuat Ainun makin kesal dan ingin segera pergi dari kamarnya.


Ainun heran pada suaminya ini, sedang sakit karena habis kecelakaan tadi pun masih sempat sempatnya bikin ia kesal dan terus menggodanya.


Yang awalnya respect, peduli entah mengapa rasa itu jadi hilang dan berganti kesal juga ingin segera pergi dari sini, ataupun bodoh amat apapun tentangnya.


"Aku heraaaan, ada ya orang habis kecelakaan dan masih sempat sempatnya bikin orang lain kesal terus menggodanya, yang awalnya respect dan peduli jadi hilang ntah ke mana dan berganti rasa kesal juga benci...ingin pergi jauh jauh dari orang seperti ini," lanjut Ainun.


"Hahahaha kamu ini lucu ya, tapi emang menggodaku merupakan kebahagiaan untuk diriku sendiri, terlebih melihatmu mengomel seperti ini, terlihat lucu hahaha... baik aku sehat terlebih saat aku sakit, buruh hiburan banget, merilex kan otakku dengan cara menggodamu. Hemm ohya berarti kamu mengakui dong awalnya kamu peduli dan khawatir denganku? dengan kamu bilang awalnya respect dan peduli tapi sekarang tidak...humm maksudnya? cieee berarti tadi kamu emang peduli denganku,' ucap Ahmad Rafiq yang membuat Ainun makin kesal dan ingin segera pergi dari kamarnya.


Untuk beberapa saat Ainun mengatur nafasnya, menghembuskan secara perlahan sebelum memulai berbicara, karena ia tak ingin terpancing emosi dan akan membuat Ahmad Rafiq senang karena ia yang kesal.m, walau jujur hatinya pun sangat kesal.


"Hemmm iya, baiklah aku siapin makan dulu ya, aku mau turun ke bawah..." ucap Ainun singkat dan akan segera turun, namun langkahnya terhenti karena Ahmad Rafiq mencekal tangannya dan bertanya padanya.


"Tunggu kok dengaren kalem jawabannya? hemm ada apa nih?" goda Ahmad Rafiq, dengan mencekal tangan Ainun.


"Sudahlah, aku mau nyiapin makanan dulu, aku mau turun ke bawah," ujar Ainun malas dan secara melepaskan cekalan tangan Ahmad Rafiq, sungguh ia sedang menahan rasa kesalnya agar tak meluap kembali.


Ainun pun segera turun untuk menyiapkan makanan.

__ADS_1


"Hahahaha Ai, Ai...senang melihatmu seperti ini gak melamun lagi, maaf buat kamu kesal dan goda kamu terus... karena aku gak ingin dan akan sedih melihat kamu murung dan terus menerus melamun seperti kemarin, tak ada keceriaan ataupun kebahagiaan kecuali kesedihan, tangis dan kekosongan hatimu yang aku temukan.... " lirih Ahmad Rafiq, setelah Kepergian Ainun.


"Aku mohon, jangan seperti kemarin dan semoga kamu bisa tetap seperti ini bila perlu aku akan terus menggodamu dan bikin kamu kesal asal tidak melihatmu sedih kembali dan melamun lagi ataupun terus menerus menangis,... humm yasudalah aku harus segera ke kamar mandi untuk membersihkan diriku setelahnya turun untuk makan bersama mereka, semoga Allah tetap selalu menjaga kebahagiaan ini, insya Allah Aamiin ....," lirih Ahmad Rafiq kembali dan segera berlalu ke kamar mandi.


*****


"Nah, ini Ai sudah datang..." ujar Abahnya, saat melihat kedatangan Ainun.


Sedangkan Ainun hanya tersenyum tipis untuk menanggapinya.


Ainun pun segera mencuci tangannya, dan mengambil beberapa piring, sendok juga gelas, kemudian Ainun pun kembali membuka kresek tersebut, dan mengeluarkan beberapa makanan itu untuk di letakkan di piring masing masing.


Setelah menyiapkan semuanya, Ainun mengambilkan nasik, dan lauk pauk di piring mereka masing masing, begitupun untuk Abahnya, setelahnya Ainun memberikan piring yang terisi lauk pauk dan nasik untuk Abahnya.


Beberapa menit kemudian Ahmad Rafiq yang telah selesai membersihkan diri pun turut ikut makan bersama.


"Humm wah sudah siap .... makasih ya istriku yang paling cantik sudah nyiapin," goda Ahmad Rafiq, yang membuat Ainun hanya mampu mengalihkan tatapannya kesal.


"Ohya aku tadi itu beli sayur asem, udang goreng tepung, ikan kembung bakar, sama sambal goreng kentang dan sambal ijo, enak kan? semoga kalian suka ya..." ujar Ahmad Rafiq, yang segera memakan makanannya, begitupun dengan mereka.


Rasanya Ahmad Rafiq merasa bahagia melihat suasana seperti ini.


Ia hanya berharap semoga Allah selalu menjaga kebahagiaan ini dan keutuhan bahtera rumah tangga ini.


Semoga masih ada kesempatan baginya untuk memperbaikinya memulai dari awal dan semoga belum terlambat.


Semoga Allah melembutkan hati Ainun untuk mau memaafkannya dan memberikannya kesempatan lagi.


Semoga Allah memberikan Ainun ataupun Abahnya kesehatan selalu serta kebahagiaan dan bisa melihat senyum mereka selalu.


Hanya itu, harapnya, dan Ahmad Rafiq pun tersenyum dalam diamnya melihat suasana bahagia seperti ini.

__ADS_1


Jujur saja ia benar benar terharu dan tak pernah terbayangkan akan melihat dan merasakan di posisi seperti ini, dan Ahmad Rafiq berharap semoga selalu seperti ini.


__ADS_2