
Salsa yang baru saja selesai melaksanakan shalat tahajjud, mendapatkan chat dari Aldo, bila pagi ini keluarganya akan ke sana, mengajaknya fhiting baju pengantin.
Jujur saja ia senang, tapi di sisi lain ia juga tak ingin egois, bagaimanapun Salsa teringat pembicaraan antara Aldo dan Ainun kala itu.
Ah, apa ia tega menikahi seseorang yang di cintai oleh sahabatnya sendiri?
tapi bagaimanapun ia juga mencintai Aldo dan pernikahan ini semakin dekat, tak mungkin ia batalkan begitu saja, ia tak ingin mengecewakan keluarganya juga.
Salsa pun meletakkan kembali handphonenya, dan melanjutkan kembali membaca Al Qur'annya, menunggu adzan subuh.
**********
Setelah selesai shalat subuh, Salsa pun segera membereskan rumah dan memasak untuk sarapan paginya, juga untuk keluarga Aldo yang mungkin ingin makan di sini juga.
Hampir 3 jam, Salsa pun telah selesai membereskan rumah dan masak,
Tak lama kemudian, keluarga Aldo pun datang, dan Salsa pun segera bersiap memakai baju warna pink salem , bawahan hitam dan jilbab warna putih.
Setelah bersiap, Salsa pun segera membukakan pintu tersebut dan mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Masya Allah, Alhamdulillah sudah datang.. Ayo masuk.." ucap Salsa mempersilahkan mereka masuk.
"Ohya mau pergi sekarang kah? atau masuk dulu untuk makan? karena tadi aku sudah mempersiapkan makanan juga." ujar Salsa.
"Hemm, masuk dulu juga boleh deh, yuk pengen juga cobain rasa masakan calon mantu tante hehe." ucap ibunya Aldo.
"Pengen cobain juga gak kalian masakan ibu Salsa?" tanya ibu Aldo kepada kedua cucunya yang juga di ajak ke sana.
"Boleh, mau banget.." ucap mereka.
"Yaudah yuk..." ajak ibu Aldo kembali kepada kedua cucunya.
Kedua orang tua Aldo pun segera masuk ke dalam rumah Salsa bersama kedua cucunya, Farah dan Fatah.
"Ohya Bu, Aldo kok gak ikut? ke mana?" tanya Salsa, yang bingung dengan ketidak hadiran Aldo.
"Iya, soalnya masih ngurus pekerjaan Salsa, Aldonya. Katanya nanti nyusul bentar di butik pas kita fithing baju. " jawab ibunya.
"Oooh begitu hehe.. Aldo pekerja keras juga ya Bu? baiklah Bu." ujar Salsa.
"Iya ya begitulah Aldo, sampai hari yang harusnya libur untuk fhiting baju tetap aja di gunakan kerja, padahal ibu sudah minta ia libur." ucap ibunya Aldo.
"Hehehe iya Bu, mungkin Aldo gak mau menyia-nyiakan waktu untuk bekerja. Yah, aku kagum padanya, tapi harusnya ia gak seperti itu karena bagaimanapun ia juga harus tetap kondisi kesehatannya dan kerja juga bukan segalanya, ia tetap harus menyempatkan waktu untuk keluarganya." jawab Salsa.
"Nah iya ibu setuju denganmu, Salsa. Emang bener, Aldo gak mau menyia-nyiakan waktunya dan memanfaatkan kesempatan yang ada karena Aldo pun pernah bilang gitu ke Mamanya ini. Tapi yang kamu katakan tadi itu benar, harusnya ia juga tetap jaga kesehatannya dan menyempurnakan waktu untuk keluarganya karena itu takkan bisa tergantikan dari pada sekedar uang." ujar ibunya Aldo.
"Iya Bu, benar..." ucap Salsa dengan tersenyum.
"Ohya Bu, Salsa mau ambil makanan dulu ya di dapur," pamit Salsa yang segera ke dapurnya.
__ADS_1
Salsa pun segera mempersiapkan makanan yang tadi sudah di masaknya.
"Ayo makan, .." ucap Salsa pada mereka.
"Ini masak sendiri Salsa? masakan segini banyaknya?" tanya ibu Aldo.
"Hehehe iya Tante, gak banyak juga, tadi emang aku tambahin karena mau ada Tante barangkali ajak Fatah dan Farah juga mau makan di sini, hehe.." ucap Salsa.
"Owh, Alhamdulillah kamu sudah masak kan, anak anak juga mau mencicipi akhirnya masakan calon ibunya ini." ucap ibunya Aldo dengan tersenyum.
"Hehe, iya Bu Alhamdulillah sudah masak. Hehe ibu bisa saja..." jawab Salsa yang terlihat malu malu menjawabnya.
"Yaudah yuk, kita cobain masakan calon istrinya Aldo." ucap ibunya Aldo dan mereka pun segera memakannya.
"Humm, ini enak loh..." puji ibu Aldo.
"Iya ini enak banget masakan ibu." puji Farah dan Farah.
Setelah selesai makan, mereka pun segera pergi ke butik untuk Fhiting baju pengantin.
******
Sesampainya di sana, Salsa di minta memilih baju pengantin yang menurutnya bagus dan ingin ia pakai di hari bahagianya.
Salsa pun segera memilih baju pengantin berwarna nude.
kedua orang tua Aldo pun menyetujui pilihan Salsa, karena bagi mereka pilihan Salsa sederhana namun elegan.
Tanpa sadar Salsa senyum senyum sendiri saat memilih baju pengantin tersebut, karena ia tak menyangka, hari bahagianya pun tiba juga sebentar lagi.
******
Sedangkan di hari yang sama, keluarga Ahmad Rafiq pun datang ke rumah Ainun. untuk melamar Ainun.
Ainun sendiri hatinya ragu dan tak menentu, ingin rasanya menolaknya tapi ia juga tak ingin mengecewakan dan membuat Abahnya sedih.
Tak ada pilihan selain menyetujui pernikahan tersebut untuk tetap di laksanakan.
Ainun hari ini memilih memakai bewarna hijau dan di padukan jilbab warna putih semakin menambah kecantikan wajahnya.
"Masya Allah nduk kamu terlihat cantik, sebentar lagi tamunya datang, keluarga nak Ahmad Rafiq untuk melamarmu.
Nanti buatkan minuman ya untuk suguhan." ucap Abahnya.
"Nah itu mereka datang, buatkan nduk.. Atau kamu di sini dulu, sambut mereka, setelah itu buatkan ya nduk." ujar Abahnya kembali.
"Iya Abah.." ucap Ainun pelan dengan senyum yang tak lepas darinya.
Keluarga Ahmad Rafiq pun segera masuk dan kedatangannya di sambut dengan bahagia oleh Abahnya Ainun, namun berbeda dengan Ainun.
__ADS_1
Meski Ainun tetap menampakkan wajah tersenyum, tapi tidak dengan hatinya yang seakan ingin berteriak dan mengatakan tidak.
"Masya Allah ini toh nak Ainun, cantik seperti rembulan." puji ibunya.
"Masya Allah, anak saya memang cantik cocoklah di sandingkan dengan nak Ahmad Rafiq, anak ibu yang ganteng ini." ucap Abahnya Ainun.
Dan entah mengapa ucapan Abahnya bukan membuatnya bahagia justru kini Ainun hanya bisa tersenyum miris dengan apa yang baru saja Abahnya lontarkan.
"Yasudah yuk duduk," ucap Abahnya mempersilakan mereka.
"Nduk..." panggil Abahnya agar Ainun membuatkan minum untuk mereka.
"Iya Abah, Ainun buatkan.." ucap Ainun yang segera masuk ke dalam untuk membuatkan minuman tersebut.
Sedangkan sesampainya di dapur, Ainun membiarkan dirinya ambruk dan menangis sepuasnya, karena ia hanya ingin sejenak melepaskan sesak yang ia rasakan.
Sungguh ingin rasanya menolak perjodohan tersebut, namun Ainun tak ingin ada hati yang terluka dengan ia membatalkan perjodohan tersebut, baik kedua orangtuanya ataupun kedua orang Ahmad Rafiq.
******
"Assalamualaikum, Abah. Masya Allah ada calon besan." ujar Umminya Ainun yang baru saja sampai rumahnya.
"Waalaikumussalam, hehe iya Bu. Alhamdulillah.. " ujar Umminya Ahmad Rafiq.
"Duduk sini Bu." ujarnya kembali.
"Hehehe iya Bu bentar mau naruh belanjaan ini." ujar Umminya Ainun.
"Ooh, oke deh Bu.. belanja apa Bu?" ucap Umminya Aldo.
"Hehe, ini cuman ikan, sayur, tahu, tempe, terong, tomat, cabe buat sambel." jawab Umminya Ainun.
"Yasudah Bu, saya permisi masuk dulu ya." ucap Umminya kembali, yang segera masuk ke dalam.
"Iya Bu..." jawab Umminya Aldo.
"Ainun.. Loh kok duduk di bawah? capek kah? ini buatkan teh buat mereka ya?" tanya Umminya Ainun yang tiba tiba saja datang dan membuyarkan lamunan Ainun.
Ainun pun segera menghapus air matanya dan melanjutkan menyeduh kopi juga teh untuk mereka, dan menyiapkan nampan untuk wadahnya.
"Ainun..kamu belum jawab pertanyaan Ummi.." ucap Umminya Ainun kembali, saat Ainun akan mengantarkan teh dan kopi yang telah di buatnya menuju depan.
"Kamu nangis? kenapa?" tanya Umminya kembali saat menatap wajah Ainun yang tak seperti biasanya.
"Kamu setuju kan dengan perjodohan ini?"
Tanya Umminya yang benar benar membuat Ainun bingung harus menjawab bagaimana....
Sejujurnya ia sendiri tak menginginkan perjodohan ini, tapi Ainun pun tak ingin menolaknya dan akan membuat mereka kecewa dengan jawaban yang Ainun berikan.
__ADS_1