Tolong Jangan Lupakan Aku

Tolong Jangan Lupakan Aku
Episode Terbaru 30


__ADS_3

Setelah perjalanan hampir setengah jam, mereka pun sampai di rumah kedua orang tua Ainun.


Ahmad Rafiq pun memberhentikan mobilnya, dan segera turun terlebih dahulu, setelah itu Ainun pun ikut turun dan mereka membantu Abahnya untuk turun.


"Abah, sudah sampai.. yuk turun. Abah gak papa kan di sini dulu, nanti nunggu kami pulang, kami akan jemput Abah ke sini," ujar Ahmad Rafiq.


"Iya nak gak papa," ujar Abahnya.


Sesampainya di depan rumah orang tua Ainun, Ahmad Rafiq pun segera mengetuk pintu beberapa kali, hingga Umminya pun membukakan pintu tersebut.


"Ayo masuk..." ujar Umminya yang menyambut kedatangan mereka.


"Ummi Ainun rindu..." ujar Ainun yang segera memeluk Umminya.


"Aih, baru juga beberapa hari di sini, nginap ketemu Ummi, dah rindu aja...." ujar Umminya.


"Hehehe kan Ai selalu merindukan Ummi," ujar Ainun.


"Bisa aja, yasudah yuk masuk..." ucap Umminya yang mempersilahkan mereka masuk.


"Siapa Ummi?" tanya Abahnya menghampiri mereka.


"Loh Ainun? nak Ahmad Rafiq dan Abah? ada apa nih kok ke sini...?" tanya Abahnya.


"Hemmmm, kami ke sini..." ujar Ainun terhenti karena Abahnya memotong ucapannya.


"Yasudah ngobrolnya di dalam aja, Ayuk masuk dulu.." ucap Abahnya yang mempersilahkan mereka untuk masuk.


"Iya Abah, tapi kami gak bisa lama lama, cuman bentar aja..." ujar Ainun.


"Iya gak papa, masuk dulu aja, ngobrolnya ya...gak enak di depan pintu gini bicaranya, ya sekalipun gak bisa lama lama, masih bisa kan masuk bentar?" ujar Abahnya kembali.


"Iya Abah, yaudah yuk masuk," ucap Ainun yang segera masuk, di ikuti oleh Ahmad Rafiq dan Abahnya.


"Ayuk duduk mau minum apa dulu, biar ummi yang bikinkan," ucap Abahnya.


"Hemmm..." Ainun jujur bingung harus menjawab apa, menolaknya rasanya ia tak enak hati tapi menerimanya akan membuat perjalanan mereka lama ke sana.


"Humm, maaf Abah, kami gak bisa lama, jadi sepertinya gak perlu buat minum untuk kita Abah, Ummi..." ucap Ahmad Rafiq yang menolak secara halus.


" Hemm, baiklah... Ummi duduk aja, lebih baik kita dengarkan aja apa yang ingin mereka katakan. Yasudah bicaralah, apa yang ingin kalian katakan," ucap Abahnya.


"Humm, gini Abah... kami titip Abahnya Aa' Ahmad Rafiq di sini dulu ya, karena kami mau pergi bentar, nanti sepulang dari pergi, kami akan ke sini jemput Abahnya Ahmad Rafiq, bagaimana apa boleh Abah, Ummi?" ucap Ainun yang mencoba menjelaskan dan bertanya dengan hati hati ke mereka, kedua orang tuanya.


"Karena kami gak enak membiarkan Abah sendirian di rumah, sekalipun Abah bilang gak papa dan bisa jaga dirinya... tetap aja sebagai anak kami cemas dan khawatir membiarkan Abah di rumah sendirian, tanpa ada yang menemaninya di rumah.


Karena menurutku, Abah gak papa di rumah asal ada yang menemaninya meski hanya satu orang aja," lanjut Ahmad Rafiq yang mencoba menjelaskan.


"Hemm menurut Ummi gak papa sih, boleh aja ... ya kan Abah?" sahut Umminya.

__ADS_1


"Iya Abah juga gak papa, dan Abah setuju karena menurut Abah itu ide bagus jadi Abahnya Ahmad Rafiq gak perlu sendirian di rumah," ujar Abahnya.


"Alhamdulillah kalau Ummi dan Abah setuju, terimakasih ya Abah, Ummi yang sudah memahami kondisi kami dan Abah...maaf bila Ai dan Aa' Ahmad Rafiq merepotkan kalian, sekali lagi terimakasih, insya Allah setelah urusan kami selesai akan segera jemput Abah.


Semoga Allah membalas kebaikan Abah dan Ummi," ujar Ainun.


"Iya nak, sama sama.. kami senang kok bisa membantu seperti ini, kami juga paham bagaimana kondisi kalian, kasian juga bila Abahnya Ahmad Rafiq di biarkan sendirian di rumahnya tanpa ada yang menemani," ucap Umminya.


"Alhamdulillah menurut Ummi, Alhamdulillah kalian ada ide seperti ini, dan lebih baik memang seperti ini titipkan saja ke mari gak papa, pintu rumah ini insya Allah terbuka lebar selalu untuk kalian, jadi jangan sungkan ya," ucap Umminya.


"Betull yang di katakan Ummi kamu, Abah setuju..." ujar Abahnya Ainun.


"Iya Ummi, Abah... terimakasih banyak ya semoga Allah membalas kebaikan Ummi dan Abah, Aamiin..." ucap Ainun.


"Aamiin..." ucap mereka secara bersamaan.


"Ohya Ibu Ayu mana Ummi?" tanya Ainun.


"Ibu Ayu ada di dalam, mau ummi panggilkan?" tanya Umminya.


"Hehehe boleh Ummi, kalau gak merepotkan," ucap Ainun.


"Oke bentar ya, Ummi panggilkan Ibu Ayu dulu," ujar Umminya yang segera masuk ke dalam.


"Ibu Ayu?" tanya Abahnya Ahmad Rafiq.


"Iya perempuan yang sakit, beberapa bulan lalu di tolong ummi... Alhamdulillah saat ini kondisinya sudah membaik," ucap Ainun yang mencoba menjelaskan.


"Iya Alhamdulilah Abah sudah baikkan," jawab Ainun.


"Kalau boleh tau sakit apa?" tanya Abahnya.


"Hummm,... kewarasannya terenggut Abah," ucap Ainun pelan karena takut terdengar Ibu Ayu.


Ainun pun sesekali menoleh, takut ada Ibu Ayu.


"Yaa Allah... kasihan sekali, kok bisa?" tanya Abahnya kembali.


Ainun pun menoleh kembali ke belakang, di rasa aman ia pun mulai menjawab kembali pertanyaan yang di ajukan oleh Abahnya Ahmad Rafiq.


"Hemmm..." ucap Ainun terhenti, saat mendengar suara Ummi dan Ibu Ayu datang.


"Nah ini loh Ibu Ayu ada yang rindu Ibu dan ingin ketemu Ibu...," ucap Umminya.


Untuk sejenak Ibu Ayu tersenyum sebelum mulai berucap kembali.


"Apa kabar Ainun, Ahmad Rafiq dan Abahnya?" tanya Ibu Ayu dengan tersenyum.


Senyum ibu Ayu membuat Abahnya Ahmad Rafiq merasakan getaran di hatinya tanpa sadar, saat melihat Ibu Ayu dan senyumannya.

__ADS_1


Namun Abahnya Ahmad Rafiq pun menilai getaran perasaan tersebut, karena ia sendiri tak ingin mengkhianati istrinya yang telah meninggal, dan ia ingin kelak di syurga bertemu istrinya dan cukup setia dengan 1 istrinya.


"Yaudah yuk Ibu Ayu duduk bentar, kita ngobrol ngobrol dulu," ujar Umminya Ainun.


"Hemm tapi Bu," ujar Ibu Ayu yang berusaha menolaknya karena tak enak hati ikut bergabung, bagaimanapun ia sadar, dirinya bukan bagian dari keluarga ini.


"Gak papa, Ayuk.." Ibu Ayu pun segera duduk.


"Hemm ini ya Ibu Ayu? gimana kabar Bu? baik? sehat?" tanya Abahnya Ahmad Rafiq.


"Alhamdulillah baik dan sehat, Abah sendiri?" tanya Ibu Ayu kembali.


"Alhamdulillah sehat, seperti yang di lihat hehehe..." ucap Abahnya.


"Hemm yasudah Ai sama Aa' Ahmad gak bisa lama lama Abah, kami pamit dulu ya," ujar Ainun yang segera memberikan kode ke Ahmad Rafiq dan ia pun segera berdiri.


"Hemm yasudah hati hati ya, selamet..." ucap Abahnya.


"Iya nak, hati hati ya..." ucap Umminya.


"Iya, kami titip Abahnya Ahmad Rafiq dulu ya Abah, Ummi..." ujar Ainun.


"Abah, kami pamit dulu ya, Abah di sini dulu gak papa kan? nanti kami jemput," tanya Ainun kepada Abahnya Ahmad Rafiq.


"Iya gak papa, hati hati buat kalian, jangan bingung dan khawatir dengan Abah ... apalagi bingung buat jemputin, insya Allah Abah aman dan baik baik saja di sini, dan tenang Abah juga setia nunggu kalian jemput Abah kok," ucap Abahnya.


"Iya benar yang di katakan Abahnya Ahmad Rafiq ini, insya Allah kami temani Abah di sini dengan aman sampai kalian pulang, jadi jangan khawatir, cemas apalagi terburu buru jemput sampai kalian bingung di perjalanan, jangan loh ya.." ujar Abahnya Ainun.


"Iya Ummi setujuuuuu, yang di katakan Abahmu ini perhatikan dan jangan terburu buru bagaimanapun keselamatan kalian juga penting... tenang Abahnya Ahmad Rafiq insya Allah aman di sini, kami akan perhatikan, perdulikan juga temani, Jan gak sendirian di rumah lagi, jadi jangan bingung ya dan terburu-buru... karena Ummi gak mau terjadi apa apa kepada kalian, karena kami sebagai orang tua akan sedih bila terjadi sesuatu sama kalian," ujar Umminya Ainun.


"Hehehe iya Abah, Ummi....makasih ya Abah, Ummi atas pengertiannya dan sudah memahami kondisi kami... Insya Allah kami hati hati dan Ndak terburu buru, jadi Abah juga Ummi jangan cemas dan khawatir dengan kami ya, sekali lagi makasih udah mau jagain Abahnya Ahmad Rafiq, Assalamualaikum Abah, Ummi... kami pamit ..." ucap Ainun yang segera salim untuk pamit kepada Abahnya Ahmad Rafiq terlebih dahulu.


"Iya nak, hati hati... waalaikumussalam...." sahut Abahnya.


"Itu sudah kewajiban kami..gak perlu terimakasih, kan kita keluarga sudah seharusnya saling menjaga dan melindungi juga membantu," ucap Umminya.


"Abah setujuuuuu, betul yang di katakan Ummimu," ucap Abahnya Ainun.


"Hehe Uya makasih ya Abah, Ummi...Ummi, Abah kami pamit duluan ya.... assalamualaikum," ujar Ainun yang pamit kepada kedua orang tuanya.


"Iya kami pamit dulu ya Abah, Ummi, Ibu Ayu... assalamualaikum" ucap Ahmad Rafiq kepada mereka.


"Iya nak, hati hati Assalamualaikum," jawab mereka.


Ahmad Rafiq dan Ainun pun segera menuju mobilnya dan pergi ke rumah Salsa, setelah pulang dari sana mereka berencana akan menjemput Abahnya Ahmad Rafiq kembali untuk pulang bersama mereka.


Sejujurnya mereka sendiri tak enak hati dengan menitipkan Abahnya Ahmad Rafiq seperti ini, tapi dengan kondisi Abahnya seperti ini bila di biarkan sendirian di rumah tanpa ada yang menemaninya jujur membuat mereka cemas dan khawatir, pergi mereka pun takkan tenang, sebab itu mereka pun menitipkannya.


Selama menuju perjalanan ke rumah Salsa, hati Ainun tak tenang takut bila ia di sana bertemu dengan Aldo, harus bersikap bagaimana dan bagaimana respon Aldo kepadanya bila bertemu dengannya, karena terakhir pertemuan mereka seperti itu.

__ADS_1


Dan sepertinya Aldo pun belum ingin bertemu dengannya, hingga detik ini pun tidak kunjung mengajak Salsa ke rumahnya.


Begitupun dengan Ahmad Rafiq yang takut Ainun bertemu Aldo di sana, tentang perasaan Ainun nantinya yang akan semakin tumbuh dan sulit menjalankan komitmen yang telah di buatnya dan Ainun pun akan sulit jatuh cinta padanya, bila perasaannya dengan Aldo tumbuh kembali.


__ADS_2