Tolong Jangan Lupakan Aku

Tolong Jangan Lupakan Aku
#Papa Remaja


__ADS_3


Aku mulai berontak dengan keadaanku, Aku tak suka berlama-lama di rumah, bagiku rumah seperti kuburan yang selalu mengingatkanku pada Almh.Titi ku tersayang


Adik yang begitu Aku cintai dan rindukan.


"Kenapa pergi terus si nak?!"Ibu yang selalu terlihat khawatir padaku.


"Pergi.."Aku menjawab tak nyambung.


"Lah iya kenapa pergi terus, Bapak dan Ibu sudah tua harusnya kamu bantu kami" Ibu mengelus-elus pundakku.


Aku memang jarang di rumah, Aku pergi nongkrong sesuka hatiku, Aku memang bekerja serabutan, tapi hanya untuk menyambung hidupku sendiri, ku buat senang-senang untuk diriku sendiri tak ada niat membantu Bapak dan Ibu.


"Memangnya kalian becus jadi orang tua" Aku pergi meninggalkan Ibu.


Aku tahu jika kata-kataku tadi pasti melukai hati Ibu, tapi hatiku juga luka, karena kemiskinan ini Aku harus kehilangan orang yang paling Aku sayangi.


"Kok nggak pernah sekolah" Andik bertanya padaku.


Andik adalah teman sebangku ku, dia adalah anak dari orang yang membiayai sekolahku, ya Aku masih sekolah tapi dengan biaya siswa.


Orang tau Andik adalah orang yang membiayai sekolahku sejak SD, SMP, dan kini SMA, karena meskipun Aku jarang belajar lebih banyak waktuku untuk bekerja dan nongkrong, tapi sejak kecil otakku memang encer, jadi orang tau Andik tak ingin Aku putus sekolah, mereka dengan perhatian memberikan beasiswa padaku.


"Kerja lah Bro" Aku jawab seenaknya, tapi sebenarnya jujur dalam hatiku Aku merasa terbeban tak enak hati aku melakukan ini, mereka sudah baik memberikan bantuan beasiswa padaku, tapi Aku malah sering bolos sekolah.


.


Tapi bolos pun karena terpaksa, jika orang tuaku kaya pasti Aku tak akan sibuk bekerja, Aku pastikan akan selalu membawa dan membaca buku, tapi kenyataannya Aku anak orang miskin, yang hanya untuk sekdar minum kopi saja Aku harus banting tulang sendiri.


"Besok Aku masuk sekolah deh.. Bro" Aku cengingisan tak jelas


"Iya, Aku tahu posisimu, tapi jangan sampai kau menyesal nanti" Andik pergi meninggalkanku di warung, dia meninggalkan pesan yang terekam dalam otakku tapi belum mampu untuk Aku cernah sekarang.


Usiaku Tujuh belas tahun dan lima belas hari lagi adalah ulang tahunku, Aku tak ingin ada di rumah.


Setiap tanggal ulang tahunku, Aku tak akan pernah di rumah, uang hasil kerja kerasku, ku simpan sendiri, dan ku buat senang-senang sendiri, yang jelas Aku ingin hidup enak sendiri, bagiku hidup sudah susah, punya orang tua miskin, Aku berkerja keras sendiri, dan hasilnya tentu saja untukku sendiri.


Sebenarnya dalam hatiku Aku sangat menyayangi Ibu dan Bapak tapi kematian Almh. Adikku Titi tak bisa kuterimah, hatiku terus saja menyalahkan Ibu dan Bapak, meski sebenarnya Aku tahu, jika semua ini juga tak di inginkan atau di harapkan orang tuaku, tapi entah kenapa rasa sakit hati ini tak pernah bisa sembuh.


"Kamu kok bolos sekolah terus, Man?!" Ibu masuk ke dalam kamar yang semua dindingnya dari tripleks


Sejak Aku mulai tumbuh remaja, Aku minta di buatkan kamar sendiri, tapi tak pernah di hiraukan, Aku malu jika harus tidur berkumpul bertiga diatas kasur tipis, lepek dan bau,


Aku mengumpulkan sedikit-sedikit uang untuk membeli tripleks bekas, ku potong dan tempelkan sendiri di sudut ruangan, Aku sekat, dari sekatan itu Aku sulap, kujadikan kamar tidur pribadiku.


"Kenapa si nanya-nanya, kalau nggak bisa jadi orang tua yang baik, jangan sok bijak" Kata-kataku kembali melukai Ibu, ingin sekali Aku memeluk dan meminta maaf pada wanita di depanku ini, tapi Aku tak pernah bisa melakukannya.

__ADS_1


Ibu memang terlihat lebih tua dari usianya, rambutnya sudah memutih mungkin dia terlaluh piluh memikirkan hidup yang dia alami, sehingga uban dan keriput itu muncul meski belum waktunya.


"Ibu minta ma'af nak...Ibu dan Bapak sangat menyayangi kalian, berbagai usaha sudah kami lakukan, tapi semua berujung dengan kebangkrutan, kami minta ma'af, andai dapat memilih kami juga ingin memberikanmu dan Almh. Adikmu semua kemewahan dunia, tapi kami tak sanggup, kami memang bukan orang tua yang baik untuk kalian, kami minta ma'af" Ibu keluar dari kamar kumuhn


ku, ku lihat dia menangis kenapa Aku selalu menyakiti orang yang ku sayangi, wanita yang telah bertaruh nyawa demi melahirkan ku ke dunia yang bagiku sangat kejam.


"Ma'afkan Herman bu" Aku hanya mampu berbicara sendiri, dalam hatiku sendiri, tak mungkin Aku mengucapkan itu di depan Ibu.


Selesai sekolah dan bekerja Aku memang lebih suka nongkrong


"Ayu suka tuh kayaknya sama Kamu, man" Heri berbicara sambil memberi kode kalau ada Ayu yang diam-diam selalu melihat dan memperhatikanku.


Heri adalah teman yang songong, mungkin karena Aku terlalu sering nongkrong dengan dia, hingga akhirnya Aku ikutan songong seperti dia.


"Huss..ngacoh" Aku tak pernah memikirkan wanita, bagiku kerja lalu bisa nongkrong dengan Heri dan kawan-kawan sudah cukup membuatku bahagia, setidaknya Aku tak pusing dan penat di rumah.


Aku biasanya nongkrok untuk sekedar ngopi dan bersenang di warung jelek dekat rumahku, tapi Sejak ketahuan Andik aku sering bolos sekolah, Aku sedikit sungkan padanya dan mulai saat itu tempat nongkrongku pindah lebih jauh.


Pertemuan dengan Heri membuat Aku lebih songong, Aku tetap sekolah tapi untuk bekerja Aku harus lebih giat lagi, karena tempat nongkrong ku kini lebih elit dan berkelas.


"Ayu gadis yang baik" Aku tak ingin berbuat aneh-aneh, Aku masih punya keinginan jadi orang sukses, kaya tidak seperti sekarang, meski Aku tak tau jalan mana yang harus Aku lalui.


"Udah sikat aja" Heri membujukku


Ayu gadis cantik, penurut dia tinggal di dekat cafe tempatku nongkrong, dia hidup seorang diri tak punya orang tua, dia sangat pendiam, bajunya selalu tertutup dan sopan, Aku tak ingin main-main dengan dia.


Aku yang bukan anak kecil lagi memang ada sedikit perasaan dengan Ayu, karena Heri yang tiap hari merongrong untuk mendekati Ayu.


Heri memang kelewat bebas, dia menjalin hubungan dengan banyak wanita, pergaulannya bebas tak terkontrol..kini Aku seakan ikut menjadi budaknya.


"Sudah sikat, dia tak ada yang menjaga, di rumah sendirian, dia tak akan menolak dan berbuat macam-macam" Heri kembali membujuk memberi kata-kata manis namun sebenarnya racun dunia, tapi kini Aku masih waras tak tahu kedepannya, apa Aku masih kuat menahan godaan syetan


Hujan lebat dan Aku terjepak di cafe tak bisa pulang


"Hujan...hujan selalu menyebalkan" Aku ngomel-ngomel menggerutu sendiri.


"Kok masi ada di sini"Aku tak sadar jika ada Ayu di sampingku.


"Iya..kenapa kemari" Aku mulai suka padanya, tapi Aku berniat tulus bukan seperti yang Heri inginkan


"Nggak apa-apa mau beli sesuatu" Ayu berbicara sambil tersenyum manis


Ternyata dia membeli beberapa makanan dan minuman untuk di bawah pulang.


"Bisa Aku antar, hujan pasti repot bawah itu semua" Aku melihat gelas berisi kopi torabica hangat dan beberapa naget di piring kecil, mungkin Ayu ingin menikmati hujan dengan bersantai menikmati cemilan..


"Boleh"

__ADS_1


Kami pulang ke rumah Ayu, menerobos hujan Aku yang membawa nampan dan Ayu yang memegang payung.


"Bajuku basah" Aku merasa kedinginan


"Pakailah handuk ini" Ayu yang sudah berganti baju, tetap memakai kerudung membuatnya tampak selalu anggun.


"Lampu mati, bagaimana ini" Ayu bicara ada suara ketakutan di sana.


"Sini nggak apa-apa, ada Aku" Aku memegang tangannya penuh perhatian, ya Aku memang sudah mulai menyimpan rasa padanya, tapi rasa ini tulus bukan yang seperti Heri inginkan.


Ayu yang hidup seorang diri, Aku mencintai dia, Aku ingin sukses dan membahagiakan dia nanti.


Aku punya motor baru yang ku beli secara kredit, ku bayar tiap bulan, Aku bekerja keras untuk hidupku sendiri. Motor ku biarkan masih terparkir di cafe.


Ternyata syetan lebih pandai, Aku yang mulai merasakan cinta tulus pada Ayu, dia sudah tak punya orang tua, Aku ingin jadi orang sukses, bisa membalas semua kesalahann


ku pada Bapak dan Ibu, ingin ku bawah Ayu hidup bahagia denganku, tapi syetan telah mengahancur kan semuanya.


Malam gelap dan hujan lebat membuat syetan begitu mudah merasuki ku, dorongan cinta tapi terbungkus nafsu biadap, Aku tak tahu apa yang sudah Aku lakukan.


Aku telah menghianati hatiku, Aku telah merusak cinta pertamaku, Aku tak bisa mema'afkan diriku sendiri.


Sejak kejadian itu Ayu pergi entah kemana, rumahnya selalu sepi dan tak berpenghuni, beberapa bulan kemudian rumah itu telah di jual.


"Kemana Ayu ku?!" Aku menangis menyesali perbuatan ku, Aku sungguh-sungguh sangat mencintinya, tapi Aku sendiri yang telah dengan tegah merusakanya.


Gadis Alim itu telah pergi meninggalkanku, karena kebodohanku, dan Aku sangat kehilangan.


Semua berjalan normal seperti tak pernah terjadi apa-apa. Heri pun tak tahu tentang apa yang terjadi, Aku simpan sendiri sampai kelulusan sekolahku, semua berjalan normal tapi tidaj dengan hati dan penyesalanku.


Andai Ayu datang, Aku akan lebih bahagia, entah apa kabar yang dia bawah, dia hamil tau tidak, Aku akan tetap menikahinya dan berusaha menjaga serta melindunginya, tapi Ayu pergi, cinta ku pergi tanpa kabar.


Aku pergi membawa segala sesal yang hanya Aku dan Ayu yang dapat merasakan, Aku pergi meninggalkan Ibu dan Bapak, setelah lulus sekolah Aku ingin kerja ke jakarta, awalnya mereka menolak tapi Aku bersikeras dengan tekad ku. Akhirnya mereka luluh dan mengizinkan Aku pergi.


Ku jual motor ku, meski rugi tak masalah, kuberikan uang hasil penjualannya kepada Ibu dan Bapak, ini pertama kali Kau memberi uang pada mereka, Aku ingin memulai semua dari nol,


"Terimah kasih nak" Bapak menangis, tapi sebenarnya dia berusaha menolak, mungkin dia merasa tak enak menerima uang pemberianku, karena biasanya pria lebih menjaga harga diri, tak mau di kasihi anaknya.


"Tak apa Pak, Herman minta ma'af, selama ini selalu menyusahkan" Aku bicara tapi ragaku tak terisi apa-apa, otakku hanya ingin mencari Ayu.


Gadis yang tanpa sengaja merubah pemikiranku untuk bisa berbakti dan membahagiakan orang tua, sebelum mereka tiada.


"Kamu tak pernah menyusahkan kami nak, Kami yang tak becus jadi orang tua, sejak kecil kau sudah bekerja keras untuk sekedar jajan,ma'af kan kami" malam yang penuh dengan keharuan, kami saling berpelukan


Meski Aku tahu ini semua tak mudah, entah Aku bisa atau tidak Aku masih saja memikirkan Ayu dan masih berharap suatu saat bisa bertemu.


Aku yang izin pada orang tuaku untul pergi ke jakarta ternyata tidak, malam-malam Aku kabur dari rumah, Aku tak tahu kemana arah tujuanku, Aku hanya ingin mencari cintaku, Aku tak bisa membohongi hatiku sendiri.

__ADS_1



__ADS_2