
Hati memang tak pernah bisa untuk di paksa, cinta bisa datang dan pergi, entah kepada siapa cinta berlabuh tak bisa ada yang bisa mengerti, entah kapan cinta itu tumbuh tak ada yang bisa tau...cinta bisa datang kepada siapa? Kapan dia mulai datang? Tak ada satupun yang dapat mengira, cinta datang tiba-tiba.
Aldo merasa begitu sepi, tak ada yang dapat di ajaknya untuk menanggung lara bersama, tak ada yang bisa menghibur sekedar mengurangi beban hidup yang dia rasa, dia begitu kesepian.
Hubungan rumah tangga bukan hanya sekedar merasakan bahagia dan suka bersama-sama tapi perlu bukti nyata, tetap setia dan bersama dalam duka dan cobaan yang mendera.
Aldo sering melihat bagaiman Papa begitu mencintai Mama, dalam suka dan duka.
"Kamu harus nikah lagi, do" Papa menasehati Aldo
"Kenapa? Memangnya Papa sudah bisa menjalankan tugas Papa dengan baik?!" Jawab Aldo kesal dan bingung kan kegundahan hatinya.
"Kamu marah, Do?!" Papa merasa sedikit bersalah, dia tahu semua ini akibat kesalahannya juga.
"Entahlah" Aldo membalas enteng.
"Papa sangat menyayangi keluarga Papa" Papa menundukkan kepalanya.
"Lalu?!" Aldo seakan tak peduli dan tak ingin tahu
__ADS_1
"Ini semua tentang masa lalu, sejak Papa menikah dengan Mama tak ada wanita lain lagi di hati Papa"
"Papa begitu menyesali semua kesalahan yang tak Papa sendiri tak sengaja melakukan itu" Ada nada penyesalan yang sangat dalam di suara Papa.
"Apalagi sejak Nenek dan Kakek meninggal, Papa begitu menyesal" Papa menangis, mungkin lukanya begitu dalam.
Penyesalan memang datang belakangan, dia datang bukan untuk membuat seseorang hina, penyesalan datang untuk mengingatkan setiap orang agar selalu berhati-hati dalam melakukan tindakan,
"Papa sudah membuktikan pada Kakek dan Nenek bahwa Papa akan beruabah jadi Anak yang baik dan dapat membabggakan dan membahagiakan mereka, dan semua itu Papa bisa lakukan karena kesalahan Papa pada Ayu"
"Seakan Ayu adalah orang yang menyadarkan Papa, menjadi orang yang lebih baik, dan kini Papa sudah punya kamu, Mama dan si kembar cucu-cucu Papa"
"Papa sudah tua, mungkin sebentar lagi meninggal ..Papa hanya ingin mencari dimaa Ayu untuk sekedar minta ma'af padanya" Papa berdiri dadi duduknya, kemudian masuk ke dalam rumah meninggalkan Aldo, sendirian di kolam renang
Kesalahan adalah guru terbaik dalam kehidupan, dari setiap kesalahan yang pernah kita lakukan kadang kita akan sangat menyesal dan dari penyesalan itu akan banyak hal indah yang akan tejadi, kita bisa berubah menjadi orang yang lebih baik, kita bisa menjadi lebih berhati-hati dalam bertindak
Aldo tak marah hanya merasa sedikit kesal, tapi jujur dia masih bingung untuk membantu Papa menemukan cinta pertamanya yang katanya sekedar minta ma'af atau dia harus memberi tahu Mama atas segalanya, karena Mama berhak mengetahui semuanya secara jujur tapi itu juga masih membuatnya bingung, jika dia jujur pasti itu akan sangat menyakiti hati orang yang begitu di cintainya.
Manusia tak berhak menilai orang lain, biarlah apa yang mereka lakukan itu yang akan mereka petik.
Apa yang kau tanam itu juga yang akan kau ambil. Orang yang beruntung bukan orang yang tak pernah jatuh, tapi dia yang pernah jatuh tapi bisa bangkit lagi, dan berubah menjadi lebih baik itu adalah orang yang beruntung dari arti sesungguhnya.
__ADS_1
Papa tahu bahwa dia pernah melakukan kesalahan dan dosa yabg sangat besar lalu dia kini menyesal dan di hari tuanya dia ingin bahagia tanpa merasa berdosa pada siapapun.
"Dari mana...Pa?!" Mama sedang membersihkan tempat tidur, dia melihat Papa sedang masuk ke dalam kamar mereka.
"Dari luar, ngobrol santai dengan Aldo" Papa menyembunyikan rasa bersalahnya, dia ingin jujur dengan Mama tentang masa lalunya, tapi dia juga sangat takut akan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.
Papa hanya takut jika Mama kecewa dan berakibat dia akan meninggalkannya, dia tak ingin semua itu terjadi, dia tak mampu berpisah dengan istri yang begitu di cintainya.
"Memangnya bahas apa'an?!" Mama bicara dengan suara yang agak menggoda sambil menghampiri Papa.
"Papa ingin Aldo bisa melanjutkan kembali kisah hidupnya, dia masih muda, dia berhak bahagia, Anak-anaknya juga ingin punya Ibu" Mama memikirkan dan dapat merasakan perasaan yang sama dengan Papa.
"Kalau Mama sangat setuju dia menikah lagi dengan Salsa" Mama semakin antusias bercerita.
Di samping tempat tidur ada meja kecil, meski kecil itu adalah meja yang di beli Import langsung dari korea, di atas meja telah tersajj susu hangat yang telah di siapkan Mama untuk Papa.
Mama memang istri yang baik, tak pernah membuat Papa marah, jika Papa marah, maka Mama akan diam mengalah, saat di lihat situasi sudah sedikit redah baru Mama akan bicara baik-baik dengan Papa, begitupun dengan penampilan, Mama tak pernah terlihat awut-awutan di depan papa, selalu terlihat cantik penuh pesona, dengan dandanan yang sesuai sama umurnya
Jika Papa pulang kerja akan selalu di sambut Mama dengan penuh cinta dan kesetiaan, di pijat, di siapkan baju ganti, air hangat untuk mandi, makanan kesukaan Papa, semua dipersembahkan Mama untuk Papa begitu sempurna, tak ada cela.
Dan itu pula yang terjadi hari ini, meski dua bulan lebih Papa menghilang, dan ternyata membohongi dirinya, Mama tetap berlaku baik dan sangat menyayangi Papa.
__ADS_1
Semua yang Mama lakukan membuat Papa merasa semakin bersalah. Apakah Papa harus jujur karena ini hanya sekedar penyesalan, yang ingin menjalani masa tuanya tanpa beban? Atau jujur dengan segala akibat yang akan timbul?