
Ainun pun menunggu kedatangan Ahmad Rafiq di taman, tempat mereka berjanjian tadi.
begitu banyak orang berlalu lalang di sana, anak anak kecil juga muda mudi bahkan pasangan yang baru menikah atau yang sudah berkeluarga.
Jujur saja melihat mereka rasanya Ainun pun cemburu.
Melihat anak anak kecil yang sedang bermain di taman ini, ia ingin sekali seperti mereka yang seakan tiada beban.
Sedangkan melihat pasangan yang baru menikah tersebut dan yang sudah berkeluarga ingin rasanya ia seperti mereka, yang benar benar saling mencintai.
Melihat mereka, seakan membuat pikirannya berkelana, pernikahannya yang tanpa cinta tersebut sebentar lagi akan di bawa ke mana?
Ainun pun segera tersadar dari lamunannya, saat dari jauh ia melihat kedatangan Ahmad Rafiq yang menujunya.
Ainun pun segera menghapus bulir bulir air matanya dan berdiri menyambut kedatangan Ahmad Rafiq.
Ainun tak ingin Ahmad Rafiq tau bila ia sedang bersedih.
Dari kejauhan Ainun tersenyum ketika Ahmad Rafiq semakin dekat dengannya.
"Hemm, Ainun.. sudah lama menunggu?" tanya Ahmad Rafiq.
"Tidak kok, ya lumayanlah hehe.. Yasudah yuk duduk." ucap Ainun yang mempersilahkan Ahmad Rafiq untuk duduk.
"Ohya ada apa kok kamu ingin bertemu saya di taman ini?" tanya Ahmad Rafiq.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." ucap Ainun yang berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
" Mengenai pernikahan kita nantinya, akan di bawa ke mana..." lanjut Ainun.
"Maksudnya? memangnya kenapa dengan pernikahan kita nanti?" tanya Ahmad Rafiq.
"Bukankah kita tidak saling mencintai?" tanya Ainun padanya.
"Iya, lalu...?" tanya Ahmad Rafiq yang masih bingung maksud Ainun.
"Aku tau kita tidak saling mencintai tapi bolehkah aku meminta tolong ke kamu? dan ku harap kamu bisa memenuhinya." ujar Ainun kembali.
"Minta tolong apa? jika bisa akan aku wujudkan." ucap Ahmad Rafiq.
"Aku tau kita tidak saling mencintai, tapi aku meminta tolong.. " untuk sejenak Ainun mengambil nafas berberapa kali sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku ingin kamu mau berusaha melupakan Salsa, tidak selalu memikirkan Salsa dan hapus nama Salsa di hati kamu. Aku minta tolong.. meski itu takkan mudah bagimu, tapi aku ingin kamu bisa lupakan Salsa di hidup dan hatimu, meski kamu belum bisa mencintaiku. Karena aku tidak ingin seseorang yang ku nikahi, menyimpan nama lain di hatinya, sekalipun ia belum mencintaiku.
Tapi aku tidak ingin dan tak pernah menginginkannya ada nama lain di hatinya, karena jika begitu akan di bawa ke mana pernikahan ini...bisa kamu bayangkan?
bisa kamu jawab pertanyaanku?" tegas Ainun kepada Ahmad Rafiq.
"Hemmm kamu benar, tapi kenapa tiba tiba kamu bicara seperti ini? kamu cemburu aku masih mencintai Salsa? apa kamu mulai menyukaiku, jatuh hati denganku?" tanya Ahmad Rafiq.
__ADS_1
Untuk sejenak Ainun terdiam dengan pertanyaan yang Ahmad Rafiq lontarkan padanya.
"Apa iya aku mencintainya?"
"Apa iya aku ada rasa dengannya?"
"Dan apa iya aku cemburu?" batin Ainun.
Namun rasanya tidak, karena Ainun hingga detik ini belum ada rasa dengan Ahmad Rafiq , karena ia masih mencintai Aldo.
Tapi jika cemburu mungkin, ia hanya tidak ingin seseorang yang ia nikahi ada rasa dengan perempuan lain dan ia harap dengan menghapus nama perempuan itu di hati seseorang yang ia nikahi nantinya bisa membuat seseorang tersebut mencintainya.
"Ainun..." ujar Ahmad Rafiq, yang membuyarkan lamunan Ainun.
"Eh, iya maaf aku tadi melamun.." ucap Ainun.
"Gimana, kamu belum menjawab pertanyaanku?" tanya Ahmad Rafiq.
"Humm iya maaf lupa.." ucap Ainun.
"Humm,oke aku jawab dengan jujur ya,
Iya aku hingga detik ini belum ada rasa denganmu, belum mencintaimu juga tapi jujur aku iya emang cemburu dengan Salsa yang selalu ada di hatimu." ujar Ainun yang berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Iya aku cemburu bukan karena aku mencintaimu, tapi karena ini komitmen pernikahan.
Aku pun demikian akan berusaha melupakan seseorang yang pernah aku cintai, aku akan berusaha melupakan Aldo.
Ya setidaknya dengan begitu, aku harap pernikahan ini bisa saling menumbuhkan rasa cinta di antara kita dengan berjalannya waktu, meski tidak saat ini.
Karena kita sama sama tidak menyimpan nama seseorang di masa lalu yang pernah kita cintai, sehingga tak menutupi kemungkinan bila kita bisa saling mencintai." Ainun pun segera berdiri untuk melanjutkan ucapannya.
"Yah, aku harap begitu... Jika pun kita tidak bisa saling mencintai, setidaknya ini komitmen pernikahan karena aku tidak ingin seseorang yang ku nikahi menyimpan nama lain di hatinya, menyimpan seseorang di masa lalunya.
Begitupun aku juga tidak ingin, bagaimana menurutmu?" ujar Ainun kembali.
"Hemm begitu ya, sejujurnya apa yang kamu katakan benar meski aku tidak bisa setuju sepenuhnya." ujar Ahmad Rafiq singkat, seakan membuat tanda tanya untuk Ainun.
"Iya lalu..? intinya? kamu tidak setuju dengan apa yang baru saja ku ucapkan dan komitmen tersebut, kamu tidak menyetujuinya?" tanya Ainun.
"Bagaimana jika kita buat kontrak pernikahan?" tanya Ahmad Rafiq.
"Maksudnya?" tanya Ainun yang tak mengerti maksud Ahmad Rafiq.
"Bagaimana jika ya kita tetap menikah, pernikahan ini tetap di lanjutkan karena ini keinginan orang tua kita bukan? tapi kita membuat kontrak pernikahan tersebut?" ujar Ahmad Rafiq, memberikan Ainun pilihan.
"Maksud kamu pernikahan ini atas kontrak begitu? lalu hanya sementara berjalannya pernikahan ini?...?" tanya Ainun yang masih bingung maksud Ahmad Rafiq.
"Hah, apa kamu kira pernikahan itu seperti permainan yang sesuka hati akan di jalankan bila mau, dan bila bosan atau sudah menemukan pengganti akan tidak di lanjutkan? Pernikahan tidak sebercanda itu dan bukan permainan!!,
__ADS_1
Pernikahan itu sakral, bukan permainan dan bahan bercandaan...Aku kira kamu juga tau akan hal tersebut, ternyata kamu tidak mengetahuinya ya? atau.. kamu sudah mengetahuinya? dan hanya pura pura tidak mengetahuinya?" tanya Ainun Kembali yang masih tak habis fikir dengan pemikiran Ahmad Rafiq.
"Humm, tenang dong..santai, jangan marah marah nanti makin tua dan kayak tante tante hehe,
akan aku jelaskan kok, jadi tenang dulu ya, santai..." ucap Ahmad Rafiq dengan santainya.
"Santai kamu bilang? yauda jelaskan ..." ucap Ainun.
"Tidak, pernikahan ini tetap berjalan dan tak ada perpisahan kecuali salah satu pihak atau kedua pihak menginginkan perpisahan tersebut, baru nanti bisa kita fikirkan lagi. Hanya saja aku ingin pernikahan ini tetap dengan kontrak seperti inginmu yang tetap berkomitmen dengan pernikahan ini, bagaimana? dan menurutku kontrak ini sangat menguntungkan kok untuk kita nantinya." ucap Ahmad Rafiq kembali.
"Lalu maksudnya? aku masih bingung maksudmu?" tanya Ainun yang masih bingung.
"Maksudnya kita tetap menikah tapi tanpa cinta, jadi ya... kamu boleh nulis syarat dalam kontrak tersebut dan aku akan menulis syarat untukmu yang ku inginkan dalam kontrak tersebut, bagaimana? ini juga bagian dari komitmen yang kamu inginkan, sehingga pernikahan ini tak ada yang saling menyakiti meski kita belum saling mencintai karena kita akan sama sama menuliskan keinginan kita dalam kontrak pernikahan tersebut.
Bagaimana? setuju kan? ini menurutku saling menguntungkan untuk kita.." ujar Ahmad Rafiq.
"Hemmm..." ucap Ainun yang masih bingung dengan keputusannya.
Haruskah ia menyetujui pernikahan dengan kontrak ini?
Dan bukankah pernikahan itu janji suci di hadapan Allah bukan sebuah kontrak?
Mengapa Ahmad Rafiq lelaki yang paham agama menawarkan kontrak ini padanya?
Tetapi Ainun juga tak ingin tersakiti dalam pernikahan tersebut, lalu haruskah ia menyetujui kontrak tersebut?
"Humm, tapi bukankah pernikahan itu sakral, janji di hadapan Allah, janji suci tersebut pantaskah kita khianati dengan kontrak ini?
Aku merasa berdosa, berdosa gak sih bila pernikahan yang suci dan sakral tersebut kita khianati dengan kontrak ini?hah? jawab dong!!.
Dan bagaimana perasaan orang tua kita nantinya bila mengetahuinya, anaknya menikah tanpa cinta bahkan dengan kontrak pernikahan?? tentu mereka akan sedih dan sangat kecewa bila mengetahuinya tentang hal ini, tentang pernikahan kontrak kita ini.!! menurutmu bagaimana? jawab dong..." tanya Ainun pada Ahmad Rafiq, yang membuat Ahmad Rafiq terdiam untuk beberapa saat.
Sedangkan di sisi lain Ainun pun menginginkan pernikahan sesungguhnya bukan dengan kontrak semacam ini, tapi bila ia tak menyetujui kontrak tersebut, ia takut akan tersakiti nantinya dalam pernikahan tersebut?
Dan bukankah semenjak awal ia pun tau bila pernikahan ini bermula tanpa cinta?
Ainun memang mengetahuinya pernikahan ini bermula tanpa cinta tapi ia tak ingin harus berakhir dengan kontrak pernikahan yang akan ia jalani ini.
Oleh sebab itu ia ingin agar Ahmad Rafiq melupakan dan tidak memikirkan tentang Salsa, karena ia ingin memulai pernikahan yang sesungguhnya bukan pernikahan dengan kontrak ataupun syarat seperti ini, karena bukankah pernikahan itu janji sakral dan suci di hadapan Allah dan kedua orang tuanya??
Lalu bagaimanakah bila mereka mengetahuinya?
Tentu bukankah mereka akan kecewa dan sedih?
Terlebih ia sendiripun akan merasa berdosa di hadapan Tuhannya dan kedua orang tuanya karena telah mengkhianati janji suci pernikahan yang sakral tersebut.
Tapi di sisi lain ia juga tak ingin tersakiti dengan pernikahan tersebut nantinya bila ia menolak menyetujui kontrak tersebut.
Lalu harus bagaimanakah Ainun dalam memutuskan hal tersebut?....
__ADS_1