
Setelah selesai makan, Ainun pun segera membereskan sisa makanannya yang berada di meja makan ke dapur.
Begitupun Ahmad Rafiq memilih membantu Ainun, karena ia ingin mengambil hati Ainun dan menunjukkan rasa cintanya kepada Ainun.
"Ai, aku bantu ya..." ucap Ahmad Rafiq.
"Gak usahlah Aa', lebih baik Aa' tungguin Abah aja," jawab Ainun.
"Abah gak papa sendirian di sini, kan nanti kalian bisa menemani Abah... lebih baik kamu sekarang bantu istrimu aja ya, kasian kalau Ainun sendirian membersihkan semua ini.. pasti kecapean," ucap Abahnya.
"Hemmm begitu ya Abah, gak papa kan Abah sendirian di sini? Ai aku bantu kamu aja ya..." ucap Ahmad Rafiq.
"Iya Abah gak papa, bantu Ainun aja ya," ucap Abahnya.
"Hemmm tapi Abah Ai gak enak sama Abah yang sendirian di sini, biar Ai cuci piring sendiri gak papa kok," ucap Ainun.
"Gak papa Ai, aku bantu kamu dulu ya.. nanti baru kita bisa temenin Abah," ucap Ahmad Rafiq yang mulai membantu Ainun untuk membawa piring dan gelas kotor menuju dapur.
"Kenapa kamu bantu aku? biasanya gak pernah tuh?" ujar Ainun ketika mereka sudah di dapur.
"Ya, aku sekarang sadar, dan aku ingin menunjukkan cinta dan sayangku padamu, memang sudah seharusnya seorang suami membantu istrinya kan? dan sudah seharusnya aku lakukan itu sejak dulu," ujar Ahmad Rafiq.
"Hemm baiklah, yaudah yuk kita segera cuci ini piring, gelas...," ucap Ainun yang mulai mencucinya.
"Hemm siappp Istriku yang paling cantik," ucap Ahmad Rafiq, yang membuat Ainun untuk sejenak menatapnya dengan kesal.
Beberapa menit kemudian mereka pun selesai mencucinya dan segera beristirahat masing masing.
"Alhamdulillah," ucap Ainun yang segera meletakkan piring dan gelas pada tempatnya.
"Alhamdulillah sudah selesai, tinggal istirahatnya nih," ujar Ahmad Rafiq, yang juga membantu Ainun meletakkan piring dan gelas di tempatnya masing masing.
"Yaudah yuk kita temanin Abah," ujar Ainun, setelah mereka berberes dapur.
"Hemm oke, Abah gak sudah istrirahat ya emang? apa gak sebaiknya kita istirahat dulu aja?" ujar Ahmad Rafiq.
"Hummm aku juga gak tau, kita lihat aja dulu, kalau misal Abah sudah istirahat ya kita baru istirahat, kalau misal belum, ya kita temenin Abah sebentar aja...kasian Abah, toh tadi kita juga sudah janji kepada Abah," ujar Ainun.
"Hemmm okelah," jawab Ahmad Rafiq, dan mereka pun segera menuju kamar Abahnya.
__ADS_1
"Abah, sudah tidur?" tanya Ainun.
"Belum, Abah belum tidur..masuk aja gak papa Ai, Ahmad..." ucap Abahnya dari dalam kamar.
"Iya Abah, ayuk masuk Aa'...." ajak Ainun yang segera masuk ke dalam kamar Abahnya, dan Ahmad Rafiq pun mengikutinya.
"Abah belum tidur? kenapa?...." tanya Ahmad Rafiq.
"Iya Abah belum ngantuk, kamu sama Ainun juga kok belum tidur, kalian?" tanya Abahnya.
"Iya Abah, baru selesai habis nyuci, Ainun ngajak aku buat ke sini, nemenin Abah... karena kan kami tadi juga sudah janji buat menemani Abah," ucap Ahmad Rafiq.
"Hemmm begitu ya, makasih ya sudah mau menemani Abah... maaf ya kalau Abah merepotkan kalian, kalian boleh menemani Abah sebentar aja, setelah ini kalian juga harus istirahat ya," ucap Abahnya.
"Iya Abah....kami ingin menemani Abah, meski sebentar dan setelah ini kami istirahat juga kok Abah. Abah jangan khawatir ya," ujar Ainun dengan tersenyum.
"Makasih ya Ai, Ahmad..." jawab Abahnya.
"Iya Abah..." ucap Ainun dan Ahmad Rafiq.
Mereka pun mulai berbicang bincang, hingga tanpa terasa waktu pun berlalu....
"Yaudah kalau kamu mau istirahat dulu gak papa, istirahat aja duluan, nanti aku nyusul ya," ucap Ainun.
"Iya gak papa, istirahat aja dulu nak, kan ada Ai si sini yang menemani Abah, sebenarnya Abah gak papa sendiri di sini, bentar lagi Abah juga mau tidur.. Ai seumpama kamu mau tidur duluan juga gak papa," ucap Abahnya.
"Hemm gak papa Abah Ai di sini saja nungguin Abah, biar Aa' duluan aja ke kamarnya.. nanti aku nyusul kalau Abah mau tidur," ujar Ainun.
"Hemm baiklah aku ke kamar dulu ya," ujar Ahmad Rafiq, yang segera menuju kamarnya.
Ainun pun meneruskan berbincang bincang dengan Abahnya.
*********
Sesampainya di kamarnya, Ahmad Rafiq merasa bersyukur karena hari ini ia bisa membantu Ainun sebagai istrinya, yang sudah seharusnya sejak lama ia lakukan.
Ahmad Rafiq merasa menyesal karena selama ini ia telah memperlakukan Ainun tidak baik ketika awal pernikahannya dengan Ainun.
Bahkan ia memberikan pernikahan kontrak tanpa cinta untuk Ainun.
__ADS_1
fikiran Ahmad Rafiq pun tiba tiba teringat ketika awal pernikahannya dengan Ainun.
*Flashback*
"Ya kamu saat ini sudah Sah menjadi istriku tapi pernikahan kita ini tak lebih di atas kontrak, dan kamu sendiri pun tau juga menyetujuinya kan? jadi aku harap, jangan sampai kamu jatuh cinta padaku begitupun aku, jangan ada cinta di antara kita... agar kita tidak saling menyakiti pada akhirnya,ini untuk kebaikan bersama, bukankah begitu?.... ya tapi pengecualian ketika berada di dekat orang tua kita, aku harap kita bisa seperti pasangan suami istri yang seharusnya, bagaimana?" ucap Ahmad Rafiq.
"Hemm iya baiklah, aku paham kok dan
insya Allah aku takkan mencintaimu karena cintaku untuk Aldo, dan bukan untuk kamu..jadi kamu tenang saja dan gak perlu khawatir aku mencintaimu karena itu takkan pernah terjadi,!! lagipula dari awal aku sudah menyetujui perjanjian ini dan aku insya Allah bisa konsisten karena aku tau perjanjian yang aku tanda tangani di atas hitam dan putih ini. Dan aku juga setuju, di depan orang tua kita sebaiknya kita tetap seperti pasangan suami istri sendiri yang seharusnya, karena aku juga gak ingin membuat orang tuaku dan orang tuamu kecewa juga sedih," ucap Ainun.
"Baik jika kita sama sama setuju, berarti sudah tidak ada masalah kan? okeee karena masih tinggal di rumah orang tua kamu, biar aku tidur di lantai, kamu tidur di kasur. Nanti kalau sudah di rumah Abahku, ada kamar lagi jadi kita bisa tidur di kamar masing masing, bagaimana? setuju kan?" ucap Ahmad Rafiq.
"Baiklah aku setuju, terserah kamu..." ucap Ainun.
"Ah iya, aku duluan ya mau buat teh untuk kamu, karena di minta ummi, supaya gak curiga," ujar Ainun kembali yang segera berlalu membuatkan teh untuk Ahmad Rafiq.
Selama beberapa bulan pernikahan kontrak antara Ainun dan Ahmad Rafiq masih berjalan seperti itu tanpa ada perubahan ataupun cinta di antara mereka.
Bahkan seringkali Ahmad Rafiq memprilakukan Ainun dengan tidak baik tanpa sadar, hingga Ainun seringkali menangis di buat olehnya.
Ainun pun seringkali membatin karena Ahmad Rafiq, dirinya memprilakukan Ainun tidak baik kecuali berada di dekat kedua orang tuanya saja.
Hingga beberapa kali Ainun seringkali berkata seandainya ia menikah dengan cinta dan dengan seseorang yang ia cintai mungkin ia takkan merasakan pernikahan seperti ini dan di prilakukan seperti ini.
Kini, dirinya Ahmad Rafiq benar benar menyesal ia lah yang memulai semuanya, andai ia tetap memberikan cinta itu dalam pernikahannya dengan Ainun dan memulai dengan cinta tanpa kontrak mungkin tidak akan berakhir Ainun yang sempat terenggut kewarasannya dan depresi.
Seharusnya dari awal ia berusaha memberikan cinta dan mencintai Ainun meski saat itu ada nama Aldo di hati Ainun, tapi tak menutup kemungkinan bila perlahan Ainun bisa mencintainya andai ia bersungguh sungguh untuk membuktikannya bukan sebaliknya, dengan menyakitinya justru membuat Ainun sulit melupakan Aldo dan tidak bisa mencintainya begitu saja.
Kini ia harus berusaha ekstra untuk membuktikan cintanya kepada Ainun tapi seringkali ia kepayahan seorang diri, yang seharusnya ia tak mudah menyerah karena awalnya ia lah yang memulainya dan jika ia benar benar ingin Ainun mencintainya, sudah seharusnya ia bersungguh sungguh dan tak mudah menyerah ataupun mengeluh atas usaha yang ia lakukan, meski itu tak mudah seperti bayangannya.
Melihat Ainun depresi dan kehilangan kewarasannya seperti kemarin, ia benar benar merasa bersalah, karena semua juga salahnya yang sudah mengikat ia dengan pernikahan kontrak tanpa cinta hingga perlahan demi perlahan Ainun merasa tersiksa batinnya dengan pernikahan kontrak tanpa cinta yang sudah ia ikat padanya hingga kewarasannya terenggut.
Tanpa sadar Ahmad Rafiq tak lagi bisa menahan tangisnya ketika mengingat semua atas apa yang pernah ia lakukan ke Ainun, atas dosa masa lalunya hingga Ainun berada dalam keadaan seperti ini.
Ahmad Rafiq, dirinya benar benar merasa berdosa atas apa yang sudah ia lakukan kepada Ainun dan ingin rasanya ia membayar dosa itu dengan berusaha mencintai Ainun setulus hati dan memulainya dari awal, memulai pernikahan yang sesungguhnya dan bukan pernikahan kontrak tanpa cinta lagi.
Ahmad Rafiq berjanji kepada dirinya mulai detik ini ia akan mencintai Ainun tanpa lelah untuk membuktikan cintanya hingga Ainun benar benar mencintainya dan percaya padanya kembali untuk memulai pernikahan yang sesungguhnya, pernikahan dengan cinta seperti pasangan suami istri lainnya.
Ahmad Rafiq pun tersadar dari lamunannya dan segera menghapus air matanya ketika mendengar ketukan pintu kamarnya, ia yakin Ainun akan kembali beristirahat dan telah selesai menjaga Abahnya.
__ADS_1