Tolong Jangan Lupakan Aku

Tolong Jangan Lupakan Aku
Sepi


__ADS_3


Mungkin ini adalah fakta kehidupan, merasa kesepian, senduh jika seorang diri tanpa ada Anak yang menghibur jiwa, Dia masih ingat masa-masa kecil Putri yang begitu menggemaskan, Anak kesayangan.


Dimalam-malam saat Papa tak dirumah Mama merasa kesepian, seorang diri di rumah yang bisa di bilang sangat besar dengan segala fasilitas lengkap di dalamnya, di ruang keluarga ada tv besar lengkap dengan sofa mewah model keluaran terbaru yang di datangkan langsung dari itali, ada meja marmer yang di atasnya ada pot bunga kecil, meski kecil pot bunga tersebut tidak murah, semua peralatan rumah tangga di datangkan langsung dari luar negeri.


Rumah mewah bergaya arsitek modern, semua di cat sesuai keinginan anaknya Almh.Putri, banyak hiasan dinding di dalamnya, dari kaligrafi arab, jam dinding mewah, dan foto-foto keluarga terpasang cantik dengan figora pilihan putri, semua terlihat bahagia saat mereka masih lengkap dan tinggal bersama.


"Ma....nanti kalau Putri da gede, udah nikah pengen deh punya Anak yang banyak, jangan cuma satu kaya' putri gini, heeemmmm....nggak enak banget, Ma"


"Terusss?? Kamu pengen punya Anak banyak? Emangnya pengen berapa, Put?"


"Ya....pokoknya banyak lah Ma, putri itu selalu merasa kesepian, untung Putri orangnya cuek, jadi nggak terlalu ngurusin yang aneh-aneh, tapi ada saatnya Putri merasa sepi, kadang berfikir kalau punya Adik pasti enak ya, Kalau Aku pengen apa-apa ada yang Aku suruh, kalau Aku capek ada yang mijitin, Kalau Aku lagi malas ngambil makan, ada Adik yang bisa Aku suruh apapun, ngmbilin apapun, hahaaha"


"Itu si mau kamu, Put....dasar pemalas" Mama mencubit Putri dengan lembut karena gemas dan memeluknya erat


"Menghayal boleh dong, Ma...tapi emang kadang Putri ngerasa rumah ini sepi banget, Ma"


"Heem, apalagi saat kamu dan Papa nggak ada di rumah, Mama sendirian, Nggak punya temen, kadang Mama jug a berfikir sama dengan apa yang kamu fikirkan, sayang" Ada kesedihan dan luka dalam ucapan Mama tapi dia berusah tegar dan kuat di hadapan Putri.


"Udah tidur sana, besok sekolah...biar bangun segar, kalau Mama bangunin nggak ky' kebo, dasar Anak manja" Mama memeluk putri serta menciumi pipi putri kanan-kiri, semua diciumi Mama dengan penuh cinta dan ketulusaan, putri pun memalas dengan pelukan hangat dan erat.


"Oke Mamaku sayang, Mama paling baik, paling cantik, paling pintar masak, paling jago ngomel, paling jago ngerayu Papa, Mama pokonya terbaik di dunia, hehehe" Putri beralu ke kamar meninggalkan sang Ibunda seorang diri di ruang keluarga.


Ucapan Putri sedikit banyak menghantui fikiran Mamanya, putri tak pernah tau Ada banyak rahasia yang Mamanya simpan, sebenarnya Mamanya juga ingin punya Anak lagi, tapi takdir tak mengizinkan, Allah mentakdirkan dia harus hidup dengan satu anak, saat melahirkan putri, Mama mengalami pendarahan hebat, bahkan dia sempat kritis, Mama kehilangan banyak darah, Papa harus mencari golongan darah yang sesuai dengan golongan darah Mama, setelah melewati masa-masa kritis hampir satu setengah minggu di rumah sakit Mama di perbolehkan pulang.


Saat Putri berusia dua tahun, Mama kembali hamil, Papa sangat bahagia, apapun yang Mama inginkan akan selalu diberikan Papa, dari makanan murah hingga mahal, dari buah lokal hingga buah import, dari biasa dengan harga ratusan ribu hinggabaju branded keluaran terbaru yang harganya puluhan juta semua di turuti Papa, bahkan saat Mama merengek minta mobil baru, saat proyek Papa berhasil Mama langsung dibelikan mobil.

__ADS_1


sengaja mereka tidak memberi tahu Putru atas kehamilannya saat ini itu karena, Putri sangat manja, ingin selalu diperlakukan istimewah oleh orang tuanya, mereka terlalu memanjakan Putri,mereka khawatir Putri tidak bisa menyayangi Adiknya serta usia putri yang masih kecil, mereka berfikir akan menjelaskan pelan-pelan pada putri, mengajari agar selalu berbagi, mereka yakin pelan-pelan Putri akan faham dan mengerti.


"Bagaimana, Ma dengan Putri" Papa mengelus-elus perut Mama dengan penuh cinta dan pengaharapan.


"Apa tidak sebaiknya nanti saja jika perut Mama sudah lebih besar, sekarang waktunya mengajari Putri dan kita coba menggodanya, jika punya adik, bagaimana reaksinya dia akan menyukainya atau tidak, jika dia belum mengerti mencintai adiknya, kita pelan-pelan menggodanya, semoga mereka bisa akur"


"Aamin, Papa bahagia banget, Ma...terima kasih, Mama sudah mau berjuang untuk Anak-anak Papa, menjadi ibu itu tidak mudah, butuh pengorbanan, I love you, Ma" Papa memeluk Mama mesra, ada Putri diranjang yang sama dengan mereka, Putri tidur pulas disamping orang tuanya, bukan tak ada kamar lagi, tapi memang mereka masih terbiasa tidur bertiga, mereka sagat tak tega jika Putri harus tidur sendirian di kamar yang berbeda.


Tapi saat ini, Allah memberi amanah lagi buat Mama, ada janin yang berkembang disana, mau tidak mau Putri harus di biasakan tidur sendiri di kamar pribadinya.


Hari yang sangat menegangkan buat Mama, dia tak pernah bisa melupakannya, hari dimana dia terjatuh dari tangga, terpeleset saat bangun tidur.


Beberapa hari terakhir Mama dan Papa memang memutuskan agar Putri terbiasa tidur sendiri di kamarnya, kamar di hias sesuai karakter Tapi belum sempat kartun yang di sukai Pitri dinding diberi cat kesukaan Putri, boneka baru dan semua perlengkapan baru, ada meja belajar dua lemari, satu untuk pakaian, satu lagi untuo boneka daj mianan, semua itu dilakukan agar putri mau tidur disana, mengajari Putri agar bisa lebih mandiri, saat adiknya lahri nanti, Putri sudah tidak ikut tidur bersama mereka lagi.


Pagi itu entah mengapa saat masih pagi-pagi buta, Putri menangis dan meraung-raung tak jelas di kamarnya, Mama yang mendengar Putri teriak-teriak sontak kanget, Mama yang juga masih tidur mendengar itu Mama langsung keluar kamar dengan terburu-buru dan perasaan khawatir akan terjadi apa-apa dengan Anaknya tanpa sengaja Mama terpelset dan jatuh, Mama mengalami pendarahan hebat, melihat darah yang keluar dengan deras Mama pingsan seketika.


Tak berselang lama para tetangga termasuo pak Rt dan Bu Dian semua berkumpul di depan rumah Mamanya Putri, membuka pintu tak bisa terpaksa mereka mendobraknya, hingga jebol, mereka mencari sumber suara tangisan Putri kecil, mereka kasihan ada Anak kecil menangis tak berhenti dari pagi buta tadi, mereka melihat Putri sesenggukan, mungkin Putri rela menangis.


Ditempat berbeda mereka lebih dikejutkan lagi melihat keadaan Mamanya Putri


"Masya Allah apa yang terjadi, mari kita tolong" pak Rt mengintruksikan para warganya untuk menolong Mamanya Putri.


"Sepertinya dia pendarahan hebat, ada baiknya kita langsung membawanya ke rumah sakit, kemarin Aku sempat bincang-bincang sebentar katanya suaminya sedang kerja ada tugas di luar kota" Bu Dian menjelasakan kepada semua tetangganya tentang keberadaan papapnya putri.


"Baiklah...mari kita bawa ke rumah sakit terdekat"


Mereka mebawa Mamanya Putri dengan membawa mobil Bu Dian, mereka berusaha untuk menghubungi Papanya Putri tapi sambungan kadang eror dan belum di angat.

__ADS_1


"Mungkin sedang sibuk, karena ini sudah jam sembilan pagi, waktunya bekerja" Bu Sinta bicara dengan Bu Dian agar tidak terlalu cemas, Bu Dian dan Bu sinta memang tetangga yang sangat baik, selang beberapa jam kemudian mereka baru bisa menghubungi papanya putri.


Mendengar kabar itu papa langsung pulang, memesan tiket pesawat, beruntung dia bisa langsung mendapa tiket.


XD XD


"Maaf pak, tanpa persetujuan Bapak kami melakukan tindakan medadaj, ini demi kebaikan ibu" Dokter menjelaskan dengan hati-hati agar tidak terjadi salah faham.


"Maksud dokter apa? Bisa diperjelas,...Dok, saya kurang faham" Papa menangis dan mengusap air matanya berusaha untuk tegar.


"Begini pak, istri Bapak mengalami pendarahan hebat, dan banyak sekali, beruntung para tetangga mendengar Anak Bapak menangis, mereka mendobrak Pintu rumah Bapak, medapati Anak Bapak menangis, dan kondisi istri Bapak pingsan, beruntung sekali mereka langsung membawa istri Bapak kesini, tapi karena istri Bapak mengeluarkab darah yang sagat banyak, kemungkinan istri Bapak jatuh dan pendarahan jam lima pagi sedangakn mereka bisa membuka pintu rumah Bapak baru jam setengah delapan pagi, waktu yang cukup lama, setelah kami periksa kondisi istri Bapak, calon Anak Bapak tidak bisa kami selamatkan, istri Bapai kritis dan kami harus melakukan tindakan darurat, dengan terpaksa kami mengangkat rahimnya demi kelangsungan hidupnya" Dokter terlihat berkaca-kaca menjelaskan kondisi mama pada papa, panjang lebar dokter bicara agar papanya Putri tidak syok.


Sejak menangis tadi pagi Putri tetap di gendong Bu Dian, belum sempat mengganti popok atau memandikan Putri, Bu Dian membawa Putri ke rumah sakit, membelikannya susu dan bubur.


Saat ada berusia lebih dari dua tahun, memang ada baiknya untuk mencoba mengajari mereka, menjelaskan pada mereka agar terbiasa untuk tidur perpisah dengan orang tuanya, buatkan kamar khusus untuk mereka, apa yang menjadi kesukaan mereka, jadikan kamar yang nyaman dan menyenangkan untuk mereka, usahakan kamar tidur utama dan kamar tidur Anak tidak terpisah jarak yang jauh, jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan terjadi, orang tua bisa cepat tanggap menolong Anak, memastikan mereka mendapat hak mereka adalah kewajiban orang tua


Perlakukan Anak layaknya teman, ajak dalam banyak kegiatan, jangan terlalu memanjakan anak, karena agar berdampak kurang baik bagi si Anak itu sendiri terutama saat Anak sudah dewasa, Anak yang di biasakan mandiri dan Anak yang terlalu di manja sangat besar perbedaanya.


Anak di biasakan manja, bergantung pada orang lain, tidak bisa melakukan apapun sendiri, terlalu egois karena dia akan selalu memerintah, Anak manja biasanya punya keinginan yang terlalu banyak, kebiasaan selalu mendapatkan apa yang dia mau.


Sedang Anak yang dibiasakan mandiri saat dewasa dia bisa berfikir untuk masa depannya, tau tentang apa yang dia mau, bisa berdiri di atas kakinya sendiri, dapat mengatasi masalahnya sendiri, mampu bertanggung jawab dengan pilihannya.


Sepi, sendiri itu kini mendatangi Mamanya Putri, meski di rumah mewah dengan fasilitas yang tak murah tapi dia kesepian, masa lalu dengan sang Anak, semua hanya bisa dia kenang, sungguh dia tak pernah berharap akan mengalami ini, kesepian di masa-masa tua, tak ada yang menghiburnya, saat suaminya kerja hanya kesepian dan air mata yang menemaninya.



__ADS_1


__ADS_2