
Ah rasanya Ainun sendiri tak tau rumah tangga seperti apa yang akan mereka jalani dalam bahtera rumah tangga tersebut nantinya.
Ainun yang masih melamun dengan pemikirannya, dengan tangannya yang masih berusaha meraih kancing gaun tersebut untuk ia buka, karena rasanya benar benar gerah dan menghapus beberapa make up.
Baik bulu mata palsu atau pun make up lainnya yang membuat wajahnya seperti layaknya badut, baginya, Meski orang orang di sekitarnya mengatakan ia cantik dengan make up tersebut.
"Ai, saya sudah. Barangkali kamu mau gantian ke kamar mandi.." ujar Ahmad Rafiq yang membuyarkan lamunan Ainun.
"Ah, iya...baiklah aku segera ke kamar mandi.". ucap Ainun yang agak gugup, karena baru pertama kali seorang lelaki masuk ke kamarnya, tempat pribadinya dan ia akan tidur bersama lelaki itu terlebih mereka harus melakukan malam pertama seperti layaknya pengantin lainnya, Ah tidak...sungguh tak bisa Ainun bayangkan dan tak ingin terjadi untuk saat ini dulu, ntah kapan ia akan siap, Ainun sendiri pun tak tau.
Setelahnya Ainun segera berdiri untuk ke kamar mandi, menetralkan detak jantungnya.
"Tunggu.." langkah Ainun pun terhenti saat Ahmad Rafiq mencegah langkahnya.
Ainun pun berhenti berjalan, walau ia sendiri pun bingung untuk apa Ahmad Rafiq mencegah langkahnya menuju kamar mandi?, Ah entalah....
Ainun pun menoleh sekilas, namun karena tak ada jawaban dari Ahmad Rafiq, Ainun segera berbalik dan Ainun pun kembali berjalan menuju ke kamar mandi.
"Tunggu,.. Saya bilangkan tunggu!!" tegas Ahmad Rafiq, yang membuat Ainun seketika berhenti melangkah menuju kamar mandinya.
__ADS_1
"Apa kau tak mendengarnya? malah meneruskan langkahmu..!" hardik Ahmad Rafiq kepadanya, yang membuat Ainun terkesiap setelah mendengar ucapan Ahmad Rafiq padanya.
"Maaf..." lirih Ainun, yang masih tetap di tempat yang sama.
Ainun memang berhenti melangkah, namun tak sedikitpun ia menoleh ke arah Ahmad Rafiq, Ainun tak lebih menunggu kelanjutan ucapan Ahmad Rafiq padanya.
"Humm, maafkanku juga.." ucap Ahmad Rafiq setelah menyadari apa yang baru saja ia ucapkan.
"Aku hanya ingin bilang, apa kamu perlu bantuan untuk membukakan resteling dan kancing di gaun pernikahanmu itu?" tanya Ahmad Rafiq.
Ucapan penawaran yang baru saja Ahmad Rafiq ajukan benar benar membuat Ainun melongo untuk sejenak, beberapa saat kemudian..
Tentu kamu paham tentang hal ini?...." ujar Ahmad Rafiq yang sengaja semakin mendekati Ainun lebih dekat, hingga Ainun salah tingkah.
"Hemm boleh, humm baiklah ku persiapkan juga pakaian yang ingin kamu pakai,." ucap Ainun yang segera mempersiapkan pakaian untuk Ahmad Rafiq.
Saat Ainun sedang mengambil dan mempersiapkan pakaian Ahmad Rafiq dari dalam koper, tiba tiba saja pergerakannya terhenti saat Ahmad Rafiq berucap sesuatu yang menghantam dadanya,
"Andai Salsa yang menjadi jodohku, ohh betapa bahagianya diriku dan mungkin ia tidak akan seperti ini, dan akan menjadi istri yang baik untukku.. tak sepertimu.!!" tegas Ahmad Rafiq kembali, yang membuat Ainun terdiam dalam sesak, karena tak ada yang bisa ia ungkapkan sama sekali kecuali kelu rasanya.
__ADS_1
Tanpa Ainun bisa cegah, bulir bulir air mata itu membasahi pipinya dan tangis itu lolos begitu saja hingga terdengar oleh Ahmad Rafiq, padahal Ainun sendiri tak menginginkan Ahmad Rafiq mendengar tangisannya karena ia tak ingin di anggap lemah.
"Kenapa? nangis? cenggeng!!, cepat siapkan, bila tak ingin ku panggil istri tak guna seperti itu. Aku juga gak ada waktu terlalu lama dengan dramamu ini, please jangan kebanyakan dramalah.!" ujar Ahmad Rafiq, yang lagi lagi menghunus hati Ainun hingga tanpa sadar bulir bulir air matanya jatuh begitu saja dan mengalir di pipinya tanpa ia inginkan sedikitpun, sungguh hatinya begitu terasa sangat sesak saat mendengar ucapan dari Ahmad Rafiq tersebut.
Ainun pun segera menghapus bulir bulir air matanya karena ia tak ingin pakaian Ahmad Rafiq basah karena air matanya dan ia pun tak ingin Ahmad Rafiq tau, bila air matanya terus mengalir tanpa bisa ia cegah.
Setelah menghapus bulir air matanya,
Ainun segera mengambil beberapa pakaian yang di butuhkan dan mempersiapkannya di atas kasur tersebut.
"Setelah ini, cepat mandi ya. jangan lelet atau terlalu lama di kamar mandi, karena kita di panggil Abah ke bawah buat makan bersama, kasian Abah dan orang tuamu kalau harus nunggu kamu terlalu lama.
Dan ada yang ingin ku bicarakan denganmu sebelum kita turun ke bawah, paham kan?!" ujar Ahmad Rafiq yang membuat Ainun hanya bisa menjawab dengan megangguk tanpa bisa berucap apapun.
Setelah mempersiapkan dan menaruh pakaian tersebut di kasur, Ainun segera ke kamar mandi dengan menoleh ke arah lain tanpa menoleh ke arah Ahmad Rafiq , karena sungguh ia tak sanggup menatap Ahmad Rafiq.
Ainun sengaja tak menoleh ke arah Ahmad Rafiq karena ia sedang berusaha menahan emosinya dan tak ingin tangisnya tumpah kembali di hadapan Ahmad Rafiq ataupun mengetahui bila bulir bulir air matanya mulai membasahi pipinya kembali.
Sungguh Ainun tak ingin terlihat lemah di hadapan Ahmad Rafiq.
__ADS_1