
Pesawat yang di membawa Aldo dari jakarta ke Bali terbang begitu tenang, langit cerah begitu bersahabat, Aldo mencoba untuk lebih santai sejenak, dia tak ingin terlalu frustasi memikirkan masalah hidupnya yang tiada henti.
Selesai menjalankan sholat Ashar, lalu berdzikir Aldo merasa hatinya lebih tenang, dia telah mengaduh kan semua masalahnya pada Allah SWT, pemilik jiwa dan raga nya.Alam semesta dan seluruh isinya.
Aldo yakin akan keputusan berat yang dia ambil, Allah yang mentakdirkan jalan hidupnya, apapun yang menjadi keputusannya, sungguh dia yakin itu adalah campur tangan Allah.
Aldo membuka Al-qur'an aplikasi yang ada di hpnya, dia membaca dengan suara sedang, terdengar tapi tak terlalu keras, dia tahu banyak orang yang naik pesawat bersama dirinya, dia tak ingin mengganggu semua orang, terlebih orang yang begitu pendiam, duduk di sampingnya.
"Assalamu'alaikum boleh tau mau kemana?!" Selesai membaca Al-qur'an Aldo ingin santai berbicara dengan orang di sampingnya
"Wa'alaikum salam, salam tentu saja ke Bali" pria manis tapi kaku dan dingin itu menjawab dengan angkuh tanpa ada senyum sama sekali.
"Oh iya, he...sorry" Aldo tau pertanyaannya sangat salah, dia juga naik pesawat ini tentu tujuan semua orang yang naik pesawat ini tujuannya sam semua, sama-sama ke Bali.
"Perkenalkan nama saya Aldo" Aldo mengulurkan tangannya dengan niat baik dan sikap ramah untuk mengajak pria di sampingnya berkenalan.
__ADS_1
"Sudahlah tak penting" pria itu terlihat tak peduli, malah membalas niat baik Aldo dengan keangkuhan.
Suasana hati Aldo memang sedang bergejolak tapi dia bukan orang yang pemarah dan bersikap selorok, Aldo memang ramah dengan semua orang, dia selalu berusaha berbuat baik dan berbicara sopan kepada semua orang, dia tak menyangka jika niat baiknya di balas dengan keangkuhan orang yang baru saja di lihatnya.
Ini memang bukan pertama kali Aldo menghadapi orang macam ini, tapi dia sangat syok merasakan kejadian ini, orang yang di samping Aldo itu dari segi pakaian sangat biasa, dia memakai kaos lengan panjang, celana jins berwarna biru, tapi ada yang membuat Aldo lebih syok, laki-laki angkuh itu memakai peci hitam di atas kepalnya.
"Tak semua penampilan Alim, dalam juga Alim, akhlaq orang biasa lebih baik ternyata" Aldo ngedumel sendiri, entah terdengar atau tidak orang yang ada di sampingnya itu.
"Akhlaqnya buruk sekali" Aldo berbicara dalam hati.
Rasulullah di utus untuk menyempurnakan Akhlaq, ilmu itu bisa di cari, seorang bisa menjadi Alim tapi jika dia tak mempunyai Akhlaq yang baik semua seakan menjadi tak berguna, tak bernilai apa-apa, percuma.
Pramugari memberi tahu telah datang waktunya sholat maghrib, Aldo bergegas mengerjakannya
Aldo merasa sangat lelah, dia ingin tidur sejenak, tapi belum matanya terpejam oranv disampinya batuk kemudian sesak nafas
"Kau kenapa?!"Aldo kaget dan panik
__ADS_1
"Itu to..to...to..ong" pria angkuh itu minta menunjuk-nunjuk tasnya seperti minta pertolongan pada Aldo.
Aldo faham dan sadar jika pria angkuh itu memiliki asma dan sekarang kambuh.
Sore tadi saat melihag cendela Aldo melihat awan terlihat masih cerah, tapi setelah sholat maghrib entah mengapa udara terasa dingin.
Asma memang bisa kambuh dimana saja dan kapan saja, apalagi jika udara terasa dingin.
"Kau punya asma?!" Tanya Aldo sambil menyerahkan obat Asma berbentuk spray itu pada pria sok angkuh yang dia tolong.
"Terimah kasih" pria itu tertolong berkat Aldo sigap menolongnya.
"Sudahlah" Aldo malas meladeni, dia lebih memilih tidur tanpa berniat basa-basi atau beramah tamah pada orang yang di tolong nya.
Kita tak pernah tahu kapan kita akan memerlukan bantuan orang lain, kadang orang yang sering kita remehkan dia yang akan selalu ada untuk kita saat kita terpuruk dan butuh bantuan, hidup akan selalu berputar merendahkan orang lain, merasa diri kita lebih baik dari orang lain adalah sikap yang akan semakin menjatuhkan kita, karena jika orang ingin di hargai orang lain, harusnya dia bisa lebih menghargai orang lain
__ADS_1