Tolong Jangan Lupakan Aku

Tolong Jangan Lupakan Aku
Tolong Jangan Lupakan Aku - Nyai Munzir


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain, Keluarga besar Ainun, Pak yai Munzir sedang sibuk untuk mempersiapkan kedatangan Ahmad Rafiq, calon suami bagi Ainun dan calon mantu baginya.


"Ainun , Abah minta hari ini kamu harus dandan secantik mungkin ya. Pakai bajumu yang terbaik tentu saja juga tak terlepas dari kesopanan dan kesederhanaan ya. Ingat ya pesan Abah." ucap pak Nyai Munzir.


"Iya Abah." ucap Ainun.


"Abah, Ainun siapin kue dulu ya. Buat nyambut tamu spesial Abah kan?" ucap Ainun .


"Eh iya nak, Abah sampe lupa. Iya tolong siapin ya. Sama bikinin teh juga kopinya ya" ucap Nyai Munzir.


"Iya Bah, Kopinya buat Abah? teh nya buat tamunya ya Bah? ." tanya Ainun.


"Iya nak, Abah kopi aja, tamu nya teh aja ya. Eh tapi buatin Kopinya dua saja, barangkali tamunya mau kopi juga. Jadi biar bisa milih tamunya." ucap Nyai Munzir .


"Iya Abah, Ainun bikin dulu ya." ucap Ainun.


"Iya nak , tapi jangan seperti itu napa wajahku kamu nduk, itu kan juga tamu spesial untuk mu." ucap Nyai Munzir, saat melihat ekspresi yang berbeda di wajah Ainun untuk menyambut tamunya kali ini.


"Iya Bah, maaf . Biar Ainun buatkan teh, kopi dulu ya sama nyiapin kue nya." ucap Ainun.


"Iya nduk, kamu harus senang ya nduk nanti menyambut tamunya." ucap Nyai Munzir. Sedangkan Ainun hanya mampu mengangguk dan segera berlalu ke dapur.


"Semoga mereka berjodoh." ucap Nyai Munzir.


*"***


Di tempat lain Ahmad Rafiq yang sedang menuju perjalanan ke rumah Nyai Munzir..


"Huft, hari ini aku harus ke rumah Nyai Munzir untuk bertemu dengannya juga anaknya Ainun yang akan di jodohkan denganku. Kalau bukan karena Abah yang minta aku tidak akan ke sini. Terlebih bila tujuannya harus bertemu dengan calon wanita yang akan di jodohkan denganku. Ah, sejujurnya malas sekali. Terlebih Abah gak bisa ikut menemaniku karena sakit." ucap Ahmad Rafiq kepada dirinya sendiri, saat ia di perjalanan ke rumah Ainun.


"Kenapa sih Abah gak mau mendengarkanku. Bahkan aku sudah punya calon perempuan yang ingin ku nikahi tapi Abah masih saja tetap dengan keputusan dan pilihannya untuk memilih Ainun menjadi calon menantunya. Hemm siapa ya perempuan yang ku temui di hari lalu itu ...? aku harus mencarinya dan membawanya ke Abah, agar Abah membatalkan perjodohanku dengan Ainun." ucap Ahmad Rafiq kembali, pada dirinya sendiri. Dan ia pun melanjutkan kembali perjalanannya menuju rumah Ainun.


Hampir 1 jam, Ahmad Rafiq pun telah tiba di rumah Ainun..


"Assalamualaikum Nyai Munzir." ucap Ahmad Rafiq dengan mengetuk beberapa kali pintu rumah Ainun.


"Waalaikumussalam , Masya Allah nak Ahmad Rafiq ya? Ayo masuk, sini sini duduk." ucap Nyai Munzir, saat membukakan pintu rumahnya.


Nyai Munzir seakan benar benar sangat bahagia dengan kedatangan tamunya kali ini. Berbeda dengan Ainun yang benar benar seperti kurang suka dengan kedatangan tamunya kali ini.


"Iya Nyai Munzir, Nyai Munzir apa kabar ? sehat? Terimakasih Nyai, iya saya izin masuk ya." ucap Ahmad Rafiq kepada Nyai Munzir.


"Iya nak, silahkan masuk Ayo..cerita , cerita ya. Yaa Allah, Abah benar benar rindu sama kamu dan Abahmu. " ucap Nyai Munzir, menuju kursinya untuk duduk dan mengajak Ahmad Rafiq duduk bersama.


"Ohya gimana kabar Abahmu? sehat kan? lama tak berkabar, terakhir ya ketika membahas perjodohanmu dengan Ainun itu. Abah sampai rindu dan akhir akhir ini Abah seringkali mengkhawatirkan dan mencemaskan Abahmu. Abah juga gak tau kenapa begitu, selalu mengkhawatirkan Abahmu tapi ya semoga Abahmu gak papa ya . sehat sehat aja. Semoga kalian sehat selalu ya. Abah gak bisa bayangkan bila salah satu kalian sakit, Abah pasti sedih sekali." ucap Nyai Munzir kembali, saat telah duduk di kursinya.


"Ohya Abah minta maaf ya kalau akhir akhir ini jarang berkunjung ke rumahmu karena Abah sendiri di sini sibuk ngurus ponpes di sini , ngurus anak didik Abah sama Ainun, bagaimanapun kan ia juga seorang perempuan yang harus di pantau. Oleh sebab itu Abah ingin menikahkan kalian supaya Ainun ada yang jaga dan Abah gak cemas kalau Ainun mau ke mana saja." ucapnya kembali.


"Iya Nyai Munzir, gak papa, saya paham kok. Alhamdulillah kabar Abahku sedang sakit. Mohon doanya ya Nyai." ucap Ahmad Rafiq.


"Yaa Allah, Abahmu sedang sakit ? ternyata benar ya firasat Abah. Kecemasan dan kekhawatiran Abah selama ini ternyata itu pertanda mungkin ya dari Allah tapi Abah gak ngeh. Yaa Allah, Abah benar benar minta maaf selama ini belum sempat berkunjung kembali ke rumahmu. Lalu keadaan Abahmu sekarang sudah agak membaik atau bagaimana? dan mulai sejak kapan sakitnya?" tanya Nyai Munzir.


"Iya Nyai, gak papa kok. Alhamdulillah keadaannya sekarang sudah agak membaik. Tapi kalau di bilang sudah baikkan , belum juga. Karena kalau Abah sudah agak baikkan pasti akan ikut ke sini menemaniku. Tapi karena keadaan Abah masih sangat lemas sehingga memintaku ke sini seorang diri. Mau nunggu beliau sembuh sebenarnya, tapi kata Abah takut kelamaan. Dan Abah juga kirim salam sama Nyai Munzir, kata Abah juga rindu sama Nyai dan Abah juga meminta maaf gak bisa ikut, karena keadaan beliau kurang sehat. Itu pesan Abah agar saya menyampaikan kepada Nyai." ucap Ahmad Rafiq .


"Yaa Allah, semoga lekas baik dan sehat kembali ya Abahmu. Abah sendiri sebenarnya juga ingin ke sana, bisa gantian merawat Abahmu. Karena dulu saat saya sakit, Abahmu yang merawat saya. Tapi saat Abahmu sakit justru saya gak bisa ke sana dan merawat Abahmu, jujur sedih sekali." ucap Nyai Munzir, sedih.


"Aamiin Aamiin Yaa Allah. Iya Nyai gak papa, saya paham Nyai sibuk. Sebenarnya Abah sendiri tidak menginginkan saya mengatakan keadaan beliau yang sesungguhnya, Abah hanya bilang agar saya menyampaikan Abah kurang sehat atau sedang sibuk ngurus ponpes juga. Tapi saya ingin mengatakan keadaan Abah yang sebenarnya ke Nyai karena bagaimanapun Nyai kan sahabat Abah." ucap Ahmad Rafiq.


"Ya Tuhan, Abahmu memang selalu seperti itu , gak ingin buat Nyai cemas dengannya. Tapi terimakasih ya , kamu sudah mau menceritakan jujur keadaan Abahmu. Nyai memang perlu tau keadaan Abahmu yang sebenarnya. Selain karena kami sahabatan, kami juga akan jadi calon besan kan ?" ucap Nyai Munzir kembali.


"Iya Nyai." ucap Ahmad Rafiq, yang berusaha tersenyum dengan pernyataan Nyai Munzir.


\===========================


 


Tolong Jangan Lupakan Aku - Perjodohan Ainun


"Ohya mana ya Ainun ini , kok belum keluar juga. Bentar ya Abah panggilkan dulu.. Ainun, nak sini. Ini tamunya sudah datang. Kamu sudah di tunggu, segera keluar ya. Jangan lama lama di belakangnya." ucap Nyai Munzir, memanggil Ainun.


"Iya , Abah..." jawab Ainun, dari dapur .


"Ohya Abah, maaf saya mau bertanya, apa Ainun sudah setuju dengan perjodohan ini ?" tanya Ahmad Rafiq.


"Alhamdulillah..." ucap Nyai Munzir, menarik nafas sebentar, sebelum memulai pembicaraannya kembali.


"Alhamdulillah, Ainun setuju kok , insya Allah. Karena ia juga gak pernah menolak perjodohan ini dari Abah." ucap Nyai Munzir kembali.


"Oooh iya ya Nyai..." ucap Ahmad Rafiq, yang hanya bisa mengangguk..


"Ohya Nyai, permisi ya mau panggilkan Ainun dulu. Kok lama banget di dapur, mungkin bisa Abah bantu agar nak Ainun bisa segera menemui kamu di sini. Abah permisi bentar ya." ucap Nyai Munzir.


"Iya, Abah silahkan." ucap Ahmad Rafiq. Dan Nyai Munzir pun segera berlalu ke dapur.


"Aih, Ya Tuhan.. Kenapa Ainun menerimanya sih? harusnya ia menolak ? kalau ia menerimanya, bagaimana mungkin aku menolaknya. Sedangkan kondisi Abah sedang sakit, tentu saja aku akan membuat Abah kecewa juga sedih dan kondisinya drop, yang aku takutkan. Dan tentu aku juga gak ingin buat Abah malu, kalau aku menolaknya sedangkan Ainun saja setuju. Tak ada alasan bagiku menolak perjodohan ini, walau aku sangat ingin. Kira kira kenapa ya Ainun menerima perjodohan ini? apakah ia berharap dan menyukaiku atau ia juga tak ingin mengecewakan Abah nya ?? Ah, entalah. Jika pun menyukaiku rasanya tak mungkin, kami belum pernah bertemu secara langsung kecuali lewat foto. Ya kali, ia sudah jatuh hati padaku lewat foto itu saja, padahal kami belum pernah bertemu. Arrrgh Ya Tuhan, aku benar benar bingung. Harus bagaimana aku ? dan kenapa Ainun menerima perjodohan ini sih ?" lirih Ahmad Rafiq.


Sedangkan di dapur, Nyai Munzir menemui anaknya, Ainun.


"Ai, Abah panggil mulai tadi, kok kamu gak ke depan sih Nak ? Abah nungguin kamu, tamunya juga uda datang , nungguin kamu sejak tadi." ucap Nyai Munzir.


"Apa buat teh sama kopinya belum selesai sejak tadi ?" tanya Nyai Munzir, kepada anaknya, Ainun.


"Maaf Abah, Kopi sama tehnya juga sudah selesai sejak tadi. Itu kue nya juga sudah Ai siapin, sejak tadi. Mungkin kalau Abah mau bawa ke depan, bawa saja Abah untuk suguhan buat tamunya, supaya tamunya juga gak kehausan sejak tadi. Maaf ya Abah." ucap Ainun.


"Oooh iya ya sudah siap ya. Lalu kenapa kamu gak ke depan ? coba bilang ke Abah . Kenapa juga sepertinya kamu enggan ke depan, menemui tamunya? kamu gak menyukainya? gak mau di jodohkan dengannya? jika ia kenapa kamu gak nolak dari awal sih Ai, tapi kamu justru diam, mengangguk dan menjawab iya , seakan kamu setuju. Jika begini, di pertengahan kamu gak setuju, kamu hanya akan membuat Abah malu Ai. Kamu akan membuat nama Abah malu , Ai.


Terlebih kepada Sahabatnya Abah itu, Abahnya Ahmad Rafiq yang saat ini beliau juga sedang sakit." ucap Nyai Munzir, yang mulai agak terpancing emosi.


"Abah gak ingin mengecewakannya Ai dan bikin beliau sedih terlebih kemungkinan beliau akan drop bila mendapatkan kabar seperti itu, Abah harap kamu paham. Bila kamu ingin menolaknya, sejak awal Ai, bukan di pertengahan seperti ini. Jika seperti ini kamu akan membuat Abah malu juga mengecewakan Abah, bukan hanya Abah saja, tapi juga Ahmad Rafiq juga Abahnya. Kamu paham kan Ai ? Gak ada pilihan selain maju dan terus melanjutkan, tidak ada kata mundur." ucap Nyai Munzir kembali kepada Ainun.


"Yasudah, Abah mau ke kamar mandi sebentar mau cuci muka biar segar dan refresh otak Abah yang penat ini, terus ke depan kembali. Capek Abah lama lama bahas seperti ini, kamu gak paham. Kamu egois Ai. Abah kecewa jika responmu seperti itu." ucap Nyai Munzir, kembali. Dan segera berlalu ke kamar mandi. Sedangkan Ainun hanya diam merespon ucapan Abahnya karena ia mencoba mengatur emosinya yang siap untuk ia tumpahkan kapan saja.


Setelah beberapa menit, Nyai Munzir pun keluar dari kamar mandi dan akan ke depan kembali. Tapi Ainun mencegah langkahnya untuk beberapa saat...


Sebelum memulai berbicara kepada Abahnya, Ainun menghapus bulir bulir air mata yang membasahi pipinya.


"Abah, tunggu Ainun ingin bicara sama Abah." ucap Ainun, memanggil Nyai Munzir dan menghentikan langkah Abahnya menuju ke depan.


"Iya , Ai mau bicara apa? bicara saja. " ucap Abahnya.


"Abah, Ai mau minta maaf. Maaf bila Ai bikin Abah kecewa. Abah tenang saja, Perjodohan ini tetap berlanjut kok Abah, Ai tetap melanjutkan perjodohan ini. Jadi Abah jangan khawatir. Maaf sekali lagi, bila respon Ai tadi bikin Abah kecewa dan salah faham kepada Ai. Maafkan Ai ya Abah " ucap Ainun, berusaha tersenyum kepada Abahnya.


"Ohya, Abah duluan saja ke depan, insya Allah bentar lagi Ai nyusul dengan mengantarkan minuman sama kue ini." ucap Ainun sekali lagi, dengan masih berusaha tersenyum kepada Abahnya.


"Ai yakin ? Iya Abah harap ini yang terbaik. Semoga kamu bisa konsisten dengan ucapanmu Ai, Jujur saja Abah kecewa dengan Ai, bila Ai tidak setuju dari awal kenapa tidak menolak tapi justru berbohong dan meng iyakan? Ai, Abah bisa melihat ada ketidak relaan mu untuk melanjutkan perjodohan ini, Abah ini Abahmu tentu Abah tau Ai. Tapi Abah juga gak bisa berbuat banyak Ai, jika itu sudah menjadi keputusan Ai. Abah hanya harap semoga Ai bisa konsisten dengan ucapan Ai dan tidak bikin Abah kecewa atau mengobarkan pihak lain termasuk mengorbankan perasaanmu sendiri. " ucap Nyai Munzir.


"Yaudah Abah duluan ya ke depan. Abah tunggu Ai, jangan lama lama ya. Nanti tamunya kehausan dan keburu pulang. Kab Abah gak enak nanti sama Ahmad Rafiq nya apalagi Abahnya. Terlebih Ahmad Rafiq sudah menunggumu, jangan lama lama ya Ai. Yaudah Abah duluan ya ke depan." ucap Nyai Munzir, yang kemudian berlalu ke depan.


"Iya Abah..." ucap Ainun, hanya kata itu yang bisa ia ucapkan.


"Yaa Allah, Ya Tuhanku, Ya Rabb.. Ai harus melakukan apa ? haruskah Ai menerima perjodohan ini ? atau menolaknya?


Jika harus menerimanya, tolong yaa Rabb, beri diriku ketabahan, kekuatan dan bisa mencintainya begitupun dengannya. Dan semoga aku bisa menghilangkan perasaanku kepada Aldo. Dan jika pun Ai, harus menolaknya beri Ai petunjuk dan jalan terbaik agar Ai bisa menjauh darinya dan perjodohan ini batal. Ai benar benar bingung Yaa Rabb, maafin Ai. beri petunjuk dan jalan terbaik bagiku. Tiada kekuatan kecuali pertolongan Engkau ya Rabb dan Ai takkan sanggup melewati semuanya tanpa pertolongan Engkau . Yaa Rabb jangan biarkan Ai, melewati semuanya seorang diri. Ai benar benar tak sanggup bila harus menghadapi semuanya sendiri tanpa pertolongan Engkau, dan entah bagaimana nasib Ai nantinya ataupun sekarang. Ya Rabb, mudahkanlah Ai dalam memilih keputusan yang terbaik dan tidak mengecewakan dan mengorbankan banyak hati termasuk hati Ai sendiri." ucap Ainun kepada dirinya sendiri, sebelum ia menuju ke depan mengampiri Ahmad Rafiq dan Abahnya.


"Yaa Allah apakah Ainun harus menghubungi Aldo untuk segera menghalalkan Ainun ? Tapi apa Aldo menyukai dan cinta sama Ai ? Apa Aldo akan menerima Ai dan di hatinya tidak sedang ada nama perempuan lain? ntahlah Ainun tidak tau, tapi kala itu Ai bisa melihat ada rasa cinta di hati Aldo untuk Ai, meski saat ini Ai tidak tau, ntahlah..Ai hanya berharap apapun itu yang terjadi semoga itu yang terbaik termasuk keputusan yang akan Ai ambil ini." lirih Ainun yang tanpa sadar bulir bulir air mata itu membasahi pipinya.


"Bismillah..." ucap Ainun, yang kemudian membawakan Kue juga minuman menuju ruang tamu.


"Humm Abah, maaf Ainun masih lama kah? " tanya Ahmad Rafiq.


"Eh iya ya nak. Tadi Abah uda panggilkan loh, kamu sendiri tau kan tadi Abah ke dapur buat manggilin Ainun." ucap Nyai Munzir.


"Humm, mungkin masih buat minuman atau lagi menata kue ya. Maaf ya nak jika lama nunggu Ainun, Puteri Abah ini. Maaf bila bapak dan Ai bikin nak Ahmad Rafiq harus menunggu lama, tunggu sebentar ya mungkin bentar lagi Ai ke sini. Abah yakin." ucap Nyai Munzir, mencoba mencari Alasan.


\=====================


 


Tolong Jangan Lupakan Aku - Meminang Ainun


Tak seberapa lama, orang yang mereka bicarakan pun sudah di ruang tamu ini dengan membawa minuman yang telah ia buat juga kue tersebut.


"Ai.." ucap Ahmad Rafiq, tanpa sadar..


"Iya nak ? ." tanya Nyai Munzir.


"Nak, ada yang bisa di bantu ? kalau gak paham tanyakkan saja ke Abah ya." ucap Nyai Munzir kepada Ahmad Rafiq.


"Eh, Iya Abah. Maafkan Ahmad Rafiq yang sudah melamun.". ucap Ahmad Rafiq, salah tingkah.


"Ai, silahkan duduk." ucap Nyai Munzir.


"Humm, Iya Abah." jawab Ainun.


"Nak Ahmad Rafiq, ini Ainun sudah di sini. Barangkali ada yang ingin kamu sampaikan dan tanyakan ke Ainun, silahkan." ucap Nyai Munzir.


"Iya Nyai Munzir, terimakasih." ucap Ahmad Rafiq.


"Bismillah, Nyai Munzir saya ingin meminang Ainun untuk menjadi istri saya, bagaimana? apa di bolehkan? dan apa Ainun setuju untuk menjadi istri saya?" tanya Ahmad Rafiq, walau sebenarnya hatinya cukup berat mengungkapkan kata kata tersebut.


"Masya Allah Alhamdulillah, Allahuakbar.. Abah senang sekali dan sangat setuju tentunya. Masya Allah Abah terharuuu. Tapi semua kembali kepada Ainun keputusan ini, karena jujur Abah tidak bisa memutuskan sebelah pihak. Ainun berhak menentukannya. Jadi Abah serahkan kembali ke Ainun bagaimananya, apakah Ainun akan menerima ini atau menolaknya? Abah mohon maaf sebelumnya, Abah bilang seperti ini karena nantinya Ainun dan nak Ahmad Rafiq yang menjalankan pernikahan dan bahtera rumah tangga ini dan Abah juga tidak ingin ada paksakan di sini sehingga ada hati yang nantinya tidak bahagia karena pernikahan ini bermula dari paksakan sehingga yang tercipta pernikahan duka bukan pernikahan suka cita dan bahagia. Dan Abah benar benar tidak menginginkan itu terjadi. " ucap Nyai Munzir, memberi jeda sebelum melanjutkan ucapannya kembali.


"Jadi, Abah harap fikirkan dengan serius keputusan kalian. Karena nantinya pilihan kalian masing masing akan menentukan pernikahan ini akan di bawa ke mana. Sekali kalian maju untuk melanjutkan maka tidak bisa mundur, jika pun bisa tentunya akan amat sulit. Jadi Abah harap kalian bisa konsisten dengan keputusan dan pilihan yang sudah di pilih dari kalian masing masing nantinya. Karena Abah juga tidak bisa terlalu ikut campur atau masuk dalam bahtera rumah tangga kalian nantinya. Ikuti kata hati kalian jangan ikuti ego masing masing tapi tetap minta petunjuk Allah agar di beri pilihan yang terbaik karena terkadang menuruti hati juga gak baik. Sedangkan hati mudah terbolak balik dan terkadang kita juga harus berfikir menggunakan Akal tentang keputusan yang akan kita ambil nantinya. Meski terkadang ketika kita memilih menggunakan Akal maka kita juga harus bisa menggunakan dengan hati juga." ucap Nyai Munzir, kembali.


"Masya Allah Alhamdulillah, Terimakasih Nyai Munzir atas nasehatnya.." ucap Ahmad Rafiq.


"Terimakasih Abah atas nasehatnya." ucap Ainun.


"Iya nak, sama sama. " ucap Nyai Munzir.


"Ohya nak Ainun, anak Abah.. Bagaimana apakah kamu menerima pinangan Ahmad Rafiq?" tanya Nyai Munzir.


"Iya Ai, bagaimana apakah kamu menerima pinangan saya ?" ucap Ahmad Rafiq.


"Bismillah.. Ai, Ai..." ucap Ainun yang tersendat sendat dan bingung harus menjawab apa..


"Ai.." ucap Nyai Munzir, untuk menyadarkan anaknya.


"Humm Iya Abah, bismillah Ai mohon maaf belum bisa menentukannya saat ini. Ai minta waktu untuk istikharah, apakah boleh ?" tanya Ainun.


"Humm, begitu.. Iya boleh Ai." ucap Ahmad Rafiq.


"Iya nak, biar Ai istikharah dulu untuk mempertimbangkan keputusannya nanti dan pilihan yang sudah di pilihnya. Tapi Abah yakin Ai insya Allah akan menerimanya. Karena ketika beberapa hari lalu Abah tanya tentang hal ini Ainun diam, mengangguk dan mengatakan Iya, bukankah begitu Ainun, Puteri Abah yang cantik ? ." ucap Nyai Munzir kembali.


"Iya yang Abah katakan benar. Beberapa hari lalu , Ai memang sempat mengatakan iya pada Abah tanpa pertimbangan kembali yang benar benar serius, meski sebelumnya Ai sudah mempertimbangkannya tapi itu hanya sekedar saja. Tapi karena nasehat Abah tadi dan pagi tadi Ai mulai menyadari ada yang memang di butuhkan pertimbangan yang cukup serius Bukan hanya tentang menyetujui pernikahan ini saja karena setelahnya bahtera rumah tangga ini akan kita lalu berdua dengan pasangan hidup kita masing masing dengan watak yang berbeda tentunya dan harus kita pahami dan mengerti karena untuk menjalani pernikahan dan bahtera rumah tangga yang akan di bangun bukan hanya dalam waktu sebentar oleh sebab itu ego bukan hal yang harus di turuti atau di kedepankan atau tentang siapa yang benar dan salah. Sungguh bukan tentang itu, bukankah begitu? oleh sebab itu Ai butuh mempertimbangkannya kembali dengan sunggu sungguh. " ucap Ainun kembali.


"Baiklah Ai, Aa' paham dan mengerti karena apa yang Ai katakan juga benar adanya." ucap Ahmad Rafiq.


"Ohya Ai, tapi maaf sebelumnya.. kalau Aa' boleh tau , Apa Ai yakin benar benar menyukai Aa' ?


Apa Ai yakin akan mengarungi bahtera rumah tangga bersama Aa' ? sehingga Ai sempat mempertimbangkan untuk menerima pinangan Aa' ini ? kalau boleh Aa' tau apa yang mendasari nya dan menjadi alasan Ai mempertimbangkan untuk menerimanya?" tanya Ahmad Rafiq.


"Bismillah, Ai akan mencoba menjawab pertanyaan Aa' Ahmad Rafiq satu satu dulu ya. " ucap Ainun, memberi jeda sebelum ia melanjutkan berbicara kembali."


"Pertama, yang mendasari mengapa Ai mempertimbangkan untuk menerima lamaran Aa' karena Aa' seseorang yang di jodohkan oleh Abah kepada Ai, bukankah Abah pasti tau yang terbaik untuk Ai ? Dan Ai yakin, Abah pasti tau yang terbaik untuk Ai.


Dan alasan kedua mengapa Ai mempertimbangkannya karena Aa' seseorang yang paham agama , bukankah ketika kita memilih pasangan yang harus di lihat agama seseorang itu ? dan dengan pemahaman agama tersebut, Seseorang tidak akan menyakiti pasangannya walau ia tidak mencintainya dan jika mencintainya akan memuliakannya. Begitupun Ai harap dari Aa' , dengan pemahaman Aa' saat ini. Ai harap Aa' bila mencintai Ai tentu Aa' akan memuliakan Ai, bila tidak Aa' takkan menyakiti Ai. Ya begitulah kira kira, Tapi Ai minta waktu dulu untuk mempertimbangkannya kembali sebelum benar benar menerimanya seperti pernyataan Ai. Tolong beri Ai waktu untuk istikharah cinta ini selama 1 minggu saja, bagaimana? apa boleh dan diizinkan?" ucap Ainun kembali, mencoba menjelaskan dan mempertanyakannya.


Ucapan Ainun benar benar seperti menampar Ahmad Rafiq..


\=====================


 


Tolong Jangan Lupakan Aku - Kunjungan Pertama


"Masya Allah, nak yang kamu katakan benar. Dan Abah menyetujuinya insya Allah apapun keputusan kalian masing masing. Abah hanya bisa bilang semoga kalian bisa konsisten dengan keputusan kalian masing masing dan pilihan yang sudah kalian ambil ini." ucap Ahmad Rafiq kembali.


"Masya Allah, iya Ai baiklah . Silahkan Istikharah dulu saja dalam waktu satu minggu ini. semoga keputusan yang Ai ambil apapun itu yang terbaik. Bila Ai tidak setuju pada akhirnya dengan pinangan ini , setelah Ai istikharah dan menemukan jawabannya seperti itu maka Ai boleh kok menolaknya , jangan sungkan. Karena hati tak bisa di paksakan dan yang akan kita jalankan nantinya ini sebuah pernikahan yang tidak hanya dalam waktu sebentar tapi untuk waktu yang lama dan seterusnya. Tapi bila Ai menerimanya ya Alhamdulillah.. Syukur Alhamdulillah." ucap Ahmad Rafiq.


"Masya Allah, Alhamdulillah Abah yakin kalian sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan kalian masing masing dan mempertanggungjawabkannya. Alhamdulillah bila di lihat dari jawaban kalian masing masing, Abah senang mendengarnya sungguh itu menunjukkan kalian sudah cukup dewasa nantinya untuk memilih dan mempertanggungjawabkannya." ucap Nyai Munzir.


"Abah serahkan pada keputusan kalian masing masing karena Abah yakin kalian sudah cukup dewasa ya untuk menentukannya juga mempertanggungjawabkannya tanpa perlu campur tangan Abah lagi. Abah hanya bisa mendoakan saja yang terbaik untuk kalian dan Abah harap semoga apapun yang kalian pilih itu yang terbaik untuk kalian nantinya karena yang akan kalian jalankan ini sebuah pernikahan yang tidak sebentar. Ya itu bahtera rumah tangga yang harus di jalani dengan kesabaran, meluluhkan ego masing masing, bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah dan salah juga benar. Dan harus saling mengerti dan memahami antara satu dengan yang lain. Karena pasangan harus saling mengerti dan memahami." ucap Nyai Munzir.


"Iya Aa' terimakasih sudah mengerti dan memberi Ai waktu untuk istikharah.


Dan terimakasih juga Abah sudah memberikan Ai nasehat yang sangat berharga dan mempercayakan Ai untuk menentukan pilihan Ai juga mempertanggungjawabkannya.


Insya Allah Ai akan mempertanggungjawabkannya pilihan yang sudah Ai pilih dan putuskan ini. Doakan Ai ya Abah semoga apapun pilihan yang Ai pilih itu yang terbaik. Karena Ai yakin doa Abah jalan kemudahan dan terbaik bagi pilihan Ai nantinya. Untuk kehidupan Si juga pernikahan ini bila memang akan berlanjut."ucap Ainun.


"Iya Ai, Abah akan terus mendoakanmu , mendoakan yang terbaik untukmu anakku Ainun juga kalian berdua. Semoga apapun yang kalian pilih itu yang terbaik dan kalian dapat mempertanggungjawabkannya dengan bijaksana tanpa keraguan di hati. Bila hati mulai tak konsisten dengan pilihan yang sudah di ambil, minta petunjuk ke Allah ya. Karena hati mudah terbolak balik dan syetan bisa menguji dan membuat hati bimbang. Terlebih untuk yang akan menikah sungguh banyak sekali ujiannya nak." ucap Nyai Munzir.


"Iya Abah, terimakasih nasehatnya sekali lagi pada Ai.Sungguh nasehat Abah sangat bermanfaat untuk Ai, baik untuk sekarang atau nantinya. " ucap Ainun.


"Iya terimakasih Nyai Munzir atas nasehat Nyai, insya Allah sangat bermanfaat untuk saya, baik sekarang atau nantinya. Terlebih untuk mengarungi bahtera rumah tangga saya nantinya. Sekali lagi terimakasih Nyai Munzir atas nasehatnya dan sudah mempercayakan kami untuk menentukannya insya Allah kami akan mempertanggungjawabkan pilihan yang akan atau sudah kami ambil nantinya." ucap Ahmad Rafiq.


"Benar nasehat Abah ini sangat bermanfaat untuk pernikahan atau bahtera rumah tangga yang akan di jalankan nantinya." ucap Ainun.


"Iya nak, sama sama. Abah senang karena kalian anak Abah tentu Abah ingin yang terbaik untuk anak Abah ini. Begitupun dengan kamu nak Ahmad Rafiq karena kamu anak sahabat Abah, Abah sudah anggap kamu seperti anak Abah sendiri." ucap Nyai Munzir.


"Yaudah yuk di minum teh nya dan kue nya nak Ahmad Rafiq. Abah juga mau minum kopi Abah ini, nak Ainun juga ayok." ucap Nyai Munzir.


"Ohya tapi nak Ahmad Rafiq mau pilih teh atau Kopinya ? bisa pilih mana yang nak Ahmad Rafiq mau.." ucap Nyai Munzir kembali.


"Iya Abah, terimakasih. saya minum Kopinya saja sama kue." ucap Ahmad Rafiq.

__ADS_1


"Ooh iya silahkan. Ini teh nya nganggur. Kamu minum ya nak Ainun dari pada mubazir." ucap Nyai Munzir.


"Iya Abah, Ai minum teh sama kue nya." ucap Ainun.


"Yaudah yuk silahkan di minum sama di makan kue nya." ucap Nyai Munzir.


"Iya Nyai Munzir." ucap Ahmad Rafiq, yang kemudian meminum kopi dan kuenya.


"Iya Abah." ucap Ainun, yang kemudian meminum tehnya dan kuenya. Begitupun Nyai Munzir yang juga meminum kopi dan kue nya.


"Alhamdulillah sudah habis." ucap mereka bertiga..


"Alhamdulillah sudah habis Nyai, Saya izin permisi pulang dulu ya, Nyai ?. Karena Abah sendirian di rumah, tidak enak meninggalkan Abah sendirian di rumah karena Abah juga sedang sakit ." ucap Ahmad Rafiq.


"Oooh iya nak Ahmad Rafiq, silahkan, lebih baik seperti itu. Gak enak juga kamu meninggalkan Abahmu yang sedang sakit sendirian di rumah.


Baiklah hati hati ya.


Terimakasih atas kunjungannya, Abah sangat senang dan Abah tunggu kedatangan nak Ahmad Rafiq kembali dengan Abahnya ya. Karena Abah juga sudah rindu dengan sahabat Abah, sudah cukup lama kami tak bertemu dan bersua.


Semoga Abahmu lekas sembuh dan sehat kembali ya. Maaf Nyai yang belum bisa datang untuk menjenguknya. Jujur Nyai sedih mendengar kabar Abahmu seperti ini nak " ucap Nyai Munzir.


"Iya Nyai, tidak apa apa Nyai, saya paham kok. Saya juga sangat senang bisa berkunjung ke sini. Iya insya Allah saya berkunjung kembali dengan Abah saya. Doakan Abah saya lekas sembuh ya Nyai. " ucap Ahmad Rafiq.


"Yasudah saya permisi dulu ya Nyai, saya mau pulang." ucap Ahmad Rafiq kembali dengan mencium tangan Nyai Munzir untuk pamit pulang.


"Iya nak , hati hati. tentu Abah doakan semoga Abahmu cepat sembuh agar kalian bisa berkunjung kembali, berdua ke sini.


Kamu dan Abahmu, Nyai sangat menantikan kedatangan kalian kembali. Ohya Nyai kirim salam sama Abahmu ya. Sehat sehat ya untuk kalian dan semoga selalu dalam lindungan Allah." ucap Nyai Munzir.


"Iya Nyai, insya Allah jika Abah saya sembuh, kami akan berkunjung kembali karena Abah juga ingin sekali ke sini berhubung karena tadi Abah masih lemas dan kurang sehat jadi tidak bisa ikut. Terimakasih doanya ya Nyai. Dan saya Insya Allah akan sampaikan ke Abah saya salam Nyai." ucap Ahmad Rafiq.


"Iya nak, Abah nantikan kunjungan kalian kembali." ucap Nyai Munzir dengan tersenyum.


"Iya Nyai insya Allah, Saya permisi dulu ya Nyai untuk pulang. Assalamualaikum." ucap Ahmad Rafiq.


"Iya nak Ahmad Rafiq, hati hati ya. Waalaikumussalam." ucap Nyai Munzir , yang kemudian mengantarkan kepulangan Ahmad Rafiq, begitupun Ainun juga ikut mengantarkannya.


Setelah Ahmad Rafiq tak terlihat kembali, Nyai Munzir dan Ainun kembali ke rumahnya.


"Alhamdulillah sudah selesai kunjungan pertama. Mungkin insya Allah kunjungan kedua bersama Abahnya." ucap Nyai Munzir.


\======================


 


Tolong Jangan Lupakan Aku - Pilihan Terbaik Untuk Ainun


"Abah sangat senang, Abah harap semoga ini yang terbaik dan kamu bisa menentukan pilihan terbaik mu ya Ai, semoga kamu bisa menentukan dan mempertanggungjawabkannya pilihan kamu. Karena kalian sudah sama sama dewasa dan Abah tidak ingin terlalu ikut campur jadi Abah hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian dan kalian bisa mempertanggungjawabkan pilihan kalian masing masing dan bisa konsisten dengan pilihan yang sudah kalian pilih . Karena hati mudah terbolak balik nak, seperti yang Abah bilang. Terlebih dekat pernikahan banyak sekali ujiannya, minta petunjuk Allah ya agar di berikan pilihan yang terbaik untuk kalian masing masing, untukmu Ainun. Dan Abah harap tidak ada yang harus di korbankan di sini ataupun di kecewakan begitupun dengan perasaanmu Ainun." ucap Nyai Munzir.


"Iya Abah, terimakasih sekali lagi nasehatnya. Doakan Ainun ya Abah semoga apapun pilihan yang Ainun ambil adalah yang terbaik dan dapat mempertanggungjawabkan pilihan Ainun nantinya." ucap Ainun.


"Iya nak, Abah selalu mendoakan kalian. Semoga apapun itu yang terbaik. Dan Abah tidak lagi mau mendengarkan ada yang di korbankan atau kekecewaan nantinya di sini atau di dalam pernikahan dan bahtera rumah tangga yang di bangun." ucap Nyai Munzir.


"Aamiin Aamiin yaa Allah, iya Abah doakan Ainun ya. Doakan kami dalam memilih dan mempertanggungjawabkannya.. Karena yang paling Ainun harapkan di sini doa Abah dan Si yakin doa Abah akan mempermudan semuanya atas pilihan yang akan Ainun atau kami ambil nantinya.


"Iya nak, Abah selalu doakan yang terbaik untuk kalian. " ucap Nyai Munzir.


"Yaudah Abah permisi, mau ke kamar duluan ya, Abah capek pengen isrtihat ya." ucap Nyai Munzir.


"Iya Abah." ucap Ainun. Dan Nyai Munzir pun segera berlalu ke kamarnya.


"Yaa Allah, mudahkanlah Ai untuk menentukan pilihan Ai ini. Bila ia yang terbaik untuk Ai dekatkan kami yaa Allah, bila tidak jauhkan kami yaa Allah." lirih Ainun.


"Yaa Allah, Masih ada waktu satu minggu untuk Ai menentukan pilihan ini dan mempertanggungjawabkannya.


Kata Abah , Abah tidak ingin ada hati yang di korbankan dan di kecewakan. Apa berarti itu Ai harus mengejar kata hati Ai ? mengejar cinta Ai ? cinta Ai kepada Aldo ? Yaa Allah... Apa Ai harus mencari Aldo dan mengungkapkan juga meminta Aldo untuk menjadi Imam dan pendamping Ai ? tapi bagaimana bila Aldo menolaknya ? bagaimana bila sudah ada perempuan lain di hatinya? meski dulu pernah Ai lihat bahwa pernah ada cinta Aldo untuk Ai. Tapi saat ini Ai tidak tau, bila itu semua sudah berubah. Ai harus bagaimana? bicara atau tidak ? ya Tuhan... Ai benar benar bingung.


Haruskah Ai memperjuangkan cinta Ai ini ? tapi Ai harus bisa menerima konsekuensinya bila Aldo menilai Ai dan tentu Ai sebagai perempuan juga akan malu. Tapi bila Ai tidak berusaha mencari Aldo dan mengungkapkan perasaan Ai, maka Ai harus menikah dengan orang yang tidak Ai cintai dan perasaan Ai harus di korbankan di sini. Ai harus bagaimana yaa Allah.. Ya Tuhan.. Tapi Ai juga tidak ingin ada hati yang kecewa nantinya dengan keputusan Ai ini termasuk hati Abah dan akan membuat Abah malu, Tuhan tolong Aku, Tolong Ai ya Tuhan... agar Ai bisa menentukan pilihan Ai tidak dengan terburu buru dan bisa mempertanggungjawabkannya nantinya " lirih Ainun ketika ia sudah masuk ke dalam kamarnya dan tanpa sadar bulir bulir air matanya membasahi pipinya.


**


"Ya Tuhan, Apakah Ainun akan benar benar menerima pinangan ini? Jujur saja, aku meminangnya karena demi Abah bukan karena aku benar benar menyukainya terlebih mencintainya. Tapi syukurlah Ainun masih ingin memikirkan dan meng istikharahkannya dalam waktu satu minggu, dengan begitu aku masih ada waktu untuk memikirkannya dan menentukan pilihan ini agar aku bisa mempertanggungjawabkannya kelak. " ucap Ahmad Rafiq.


"Iya, aku harus mencari Salsa, perempuan itu..tapi di mana? dan harus ke mana? Mungkinkah bila ada Salsa , Abah akan membatalkan pernikahan ini? bila aku mengungkapkan ingin menikahinya bukan Ainun ?? Tapi bagaimana akan ada hati yang akan terluka dan Kecewa dengan keputusan ku ? termasuk Abah yang mungkin akan kecewa terlebih Abah sedang sakit saat ini dan aku tidak mau kondisi Abah drop.. Ya Tuhan aku harus bagaimana? haruskah aku mengorbankan perasaanku sendiri? di dekat Salsa jujur saja, aku bisa menjadi diri sendiri tidak harus berpura pura seperti di depan Ainun, Tuhan tolong aku untuk menentukan pilihan ini" ucap Ahmad Rafiq kembali.


***


"Ya Rabb , tak ada yang ku inginkan selain melihat anakku bahagia dalam pilihan apapun yang ia tentukan termasuk pernikahannya terlebih bila ada perasaan yang harus di korbankan dan ada hati yang harus kecewa nantinya. Semoga mereka bisa menentukan pilihan mereka dengan bijaksana dan memikirkannya dengan sungguh sungguh sebelum melangkah lebih lanjut karena mereka harus siap mempertanggungjawabkan pilihan mereka. Terlebih bila pilihan itu menuju pernikahan, yang bukan hanya waktu sebentar tapi butuh waktu lama dan seterusnya untuk saling memahami, mengerti dan meluluhkan ego masing masing. Karena rumah tangga akan banyak ujiannya termasuk dalam memulai untuk melangkah menuju pernikahan.


Ujian yang tak mudah tentunya, yang akan menggoyahkan hati juga keimanan, bukankah seringkali seperti itu ? Tuhan, Rabbku berikanlah pilihan yang terbaik untuk anakku Ainun dan Ahmad Rafiq sekalipun nantinya mereka tak berjodoh tak mengapa, semoga apapun itu yang terbaik untuk mereka. Hanya itu harapku Yaa Rabb..." ucap Nyai Munzir.


***


Terkadang cinta itu begitu rumit, ketika engkau mencintai seseorang namun terkadang kau harus di jodohkan dengan yang lainnya dan dirimu di paksa oleh keadaaan untuk mengikhlaskannya


Cinta


Terlebih untuk perempuan , memang di perbolehkan menawarkan diri kepada lelaki shalih tapi tentu itu tak mudah baginya karena ia harus siap di tolak dan tentu rasa malu juga kecewa akan ia rasakan.. ataukah akan memilih mencintainya dalam diam tanpa mengungkapnya seperti Ali dan Fatimah? Atau memperjuangkannya seperti Khadijah Ra kepada Rasulullah ???


Cinta seperti apa yang ingin kamu pilih, Mencintainya dalam diam yaitu terus mendoakannya dan siap mengikhlaskannya bila ia bersanding dengan yang lain sementara ia belum tau perasaanmu yang sebenarnya ?


atau memperjuangkannya dengan segala skuensinya ??


Pilihlah dan kamu akan mempertanggungjawabkannya pilihan yang sudah kamu ambil _


****


Lalu bagaimanakah kisah cinta antara Ainun dan Ahmad Rafiq ??


Akankah Ainun mencari keberadaan Aldo untuk mengungkapkan perasaannya dan meminta Aldo menjadi pendampingnya ? atau Ainun akan menerima pinangan ini seperti keinginan Abahnya ?


Akankah pilihan Ainun ini mengecewakan banyak hati termasuk hati Abahnya atau justru mengorbankan hatinya sendiri ?


Dan apakah Ainun akan tetap mengungkapkan kepada Aldo perasaannya bila tau kini Salsa telah menepati hati Aldo ? bila telah ada perempuan lain selain dirinya yang bertahta di hati Aldo ? Dan bagaimanakah perasaannya bila Ainun mengetahuinya ???


Dan akankah Aldo menerimanya, menerima seseorang yang mirip Almarhum istrinya ? dan apakah Fatah dan Farah menerima kehadiran Ainun sebagai ibu sambung mereka ? dan Salsa akan tergeser dan terlupakan? ataukah tetap Salsa yang dipilih menjadi istri Aldo dan ibu sambung bagi Fatah dan Farah ?


Apakah Ainun akan marah dan kecewa kepada Abahnya bila tau Abahnya lah yang membuat Aldo pada akhirnya mundur memperjuangkannya dan memilih Salsa ??


Lalu bagaimanakah dengan Ahmad Rafiq ?


Akankah ia tetap meminang Ainun seperti keinginan Abahnya ?


atau ia berusaha mencari keberadaan Salsa untuk menggantikan Ainun ?


Lalu apakah pilihan Ahmad Rafiq akan mengecewakan banyak hati setelahnya, termasuk hati Abahnya dan Nyai Munzir ? ataukah ia akan mengorbankan perasaannya sendiri ??


Apakah Ahmad Rafiq akan bertemu Salsa ?


Akankah Salsa menerimanya ? atau justru menolaknya ? sehingga berakhir Ahmad Rafiq kembali kepada Ainun ?


Dan bagaimanakah hati Nyai Munzir dan Abah Ahmad Rafiq bila mengetahui kedua anaknya, Ainun dan Ahmad Rafiq tak saling mencintai? Dan apakah mereka akan membatalkan pernikahan kedua anaknya bila mengetahui kebenaran ini ?? Dan apakah mereka akan sangat Kecewa dan marah kepada kedua anaknya bila tetap melangsungkan pernikahan ini ? pernikahan tanpa di dasari dengan cinta kecuali keterpaksaan hati ??


Lalu bagaimanakah kisah cinta mereka antara Ainun dan Ahmad Rafiq ?


atau Salsa dan Aldo ??


Penasaran ? ikuti terus cerita ini untuk menemukan jawabannya....


\=========================


 


Tolong Jangan Lupakan Aku - Masak Bareng Ibu Aldo


Setelah keberangkatan Aldo dan Pak Hery, Salsa berencana hari ini akan meminta ibu Aldo untuk mengajarinya membuat kue dan mengajaknya ke mall. Dengan begitu ia harap Ibu Aldo tidak terlalu menantikan kepulangan


suaminya Herman dan Aldo, sehingga tidak curiga bila mereka telat pulang.


"Bu, Aldo dan pak Herman kan sudah berangkat kerja, bagaimana jika kita buat kue ? kan ibu juga sudah janji mau mengajariku buat kue. " ucap Salsa.


"Humm, boleh juga Salsa. Daripada ibu bosen di rumah, kerjakan itu itu aja. Ohya setelah buat kue mau gak Salsa bantuin ibu masak buat makan orang rumah ?" ucap ibu Aldo.


"Boleh juga Bu, Salsa mau. Hehehe." ucap Salsa.


"Wah terimakasih ya Salsa, Kamu sering sering ke sini ya. Ibu pasti senang banget dan gak merasa sendirian." ucap ibu Aldo.


"Sipp, iya Bu. Salsa janji akan sering sering ke sini." ucap Salsa.


"Makasih ya Salsa, ibu berasa punya anak perempuan. Ibu senang banget .. Makasih ya sayang." ucap Ibu Aldo


"Iya Bu, sama sama. Salsa juga senang bisa ke sini, berasa punya ibu. Karena ibu sendiri tau sudah cukup lama Salsa kehilangan sosok ibu. Jadi dengan bersama ibu , Salsa, berasa punya sosok ibu." ucap Salsa.


"Masya Allah Salsa, maaf ibu gak tau. Kamu boleh anggap ibu seperti ibumu sendiri dan kapanpun boleh ke sini, sayang.Ibu juga senang bisa mempunyai anak perempuan sepertimu." ucap ibu Aldo.


"Alhamdulillah, makasih ya Bu." ucap Salsa yang kemudian memeluk ibu Aldo.


"Sama sama sayang." ucap ibu Aldo segera memeluk balik Salsa.


"Hiks, Salsa benar benar terharu,antara sedih juga senang." ucap Salsa.


"Jangan nangis dong, kenapa nangis ? kalau kamu sedih, ibu juga sedih, sayang." ucap ibu Aldo, dengan menghapus bulir bulir air mata yang membasahi pipi Salsa.


"Iya Bu, Salsa sedih karena teringat ibu Salsa. Dan Salsa senang karena merasa bisa merasakan kasih sayang seorang ibu kembali dan itu dari ibu , Salsa dapatkan. Makasih ya Bu, Salsa merasa punya sosok ibu


kembali dan merasakan kasih sayangnya lagi." ucap Salsa.


"Masya Allah, Alhamdulillah.. Iya sayang sama sama, Ibu juga senang bisa mempunyai anak perempuan sepertimu. Sungguh Ibu sudah anggap kamu seperti anak ibu sendiri. Entah mengapa ibu merasa langsung nyaman


denganmu. Mulai dulu ibu memandikan punya anak perempuan tapi tak kunjung datang , hingga kamu hadir dan membuat ibu nyaman. Karena rasa nyaman ini pada akhirnya ibu memilihmu,sayang." ucap ibu Salsa.


"Masya Allah, terimakasih Bu. Terimakasih, Salsa benar benar senang dan terharu." ucap Salsa.


"Iya sayang sama sama, Iya gak boleh ada kesedihan lagi ya. Yang boleh hanya ada rasa bahagia, dan ibu gak mau melihat rasa sedih atau tangis Salsa kembali." ucap ibu Aldo.


"Hehe, iya Ibu. Terimakasih.." ucap Salsa.


"Oh ya yuk buat kue nya Bu, sekarang." ucap Salsa .


"Eh iya ya. Yaudah yuk Salsa.. Karena setelah ini ibu harus masak sebelum Papanya Aldo pulang." ucap Ibu Aldo.


"Hehe, Iya Bu. " ucap Salsa.


"Humm Bu, Salsa ada rencana mau ajak ibu ke Mall setelah ini. Setelah buat kue." ucap Salsa.


"Mall ? ngapain? ada yang ingin Salsa beli kah? ibu sih senang aja, mau banget malah. Karena uda lama juga Aldo gak ajak ibu ke Mall. Paling kalau sama Papanya Aldo sebulan sekali karena harus belanja bulanan. Kadang ibu ikut, kadang capek ya gak ikut , ibu kasih note aja hehe." ucap ibu Aldo.


"Jadi sebenarnya ibu mau aja, tapi gimana ibu belum masak. Dan kita kan harus buat kue dulu ? ibu takut gak keburu, nanti Papa sama Aldo keburu uda pulang saja, gimana dong ?" ucap ibu Aldo.


"Iya Ibu Salsa tau kok kekhawatiran ibu. Salsa ngerti banget hehe. Oleh sebab itu Salsa akan ajak ibu setelah buat kue karena kalau masak dulu takutnya Mall nya tutup. Dan nanti kita beli makanan di sana, boleh di bawa pulang juga. Beli banyak , apa yang ibu suka gak papa kok. Jadi ibu gak perlu masak atau mikirin masak takut Papanya Aldo dan Aldo pulang. Gimana mau kan Bu ? terlebih kan ibu bilang kan sudah cukup lama tidak ke Mall." ucap


Salsa.


"Hemmm gitu ya Sal, apa gak papa beli makanan di luar ? karena Papanya Aldo lebih suka ibu masak sendiri. Iya sih ibu juga pengen banget bisa ke Mall terlebih bareng kamu tapi iya itu yang ibu khawatirkan


belum masak hehe." ucap ibu Aldo.


"Ohya terus kalau buat kue dulu apa nutut juga Sal?" tanya ibu Aldo.


"Insya Allah gak papa lah Bu. Sesekali juga kok. Iya Salsa paham , Papanya Aldo lebih suka masakan ibu sebagai istrinya. Aku rasa wajar karena setiap lelaki beristri suka dan ingin masakan istrinya di rumah bukan beli. Tapi bukan berarti mereka gak pernah beli atau sesekali beli. Pernah pasti bahkan kadang bisa terhitung lumayan sering. Jadi Salsa fikir sepertinya gak papa deh Bu , kalau sesekali. Papanya Aldo juga pasti mengerti dan paham. " ucap Salsa.


"Kalau buat kue insya Allah enggak Bu. Bukan karena buat kuenya sih tapi terlebih karena pilih salah satu antara kue atau memasak. Kan Salsa pengen belajar buat kue sama ibu agar bisa buat kue juga, jago seperti ibu. Yang di mana rasa kuenya ada ciri khasnya. Sebenarnya kalau beli juga bisa aja. Tapi Salsa ingin belajar dari ibu. Sedangkan kalau masakan kan sesekali gak papa kali ya Beli." ucap Salsa.


"Hemm, yaudah deh sayang. Ibu nurut katamu dan percaya dengan kamu." ucap ibu Aldo .


"Hehehe iya Bu. yaudah bahan apa ini yang harus Salsa siapkan ?" tanya Salsa .


"Bentar, ibu mau cuci tangan dulu ya ke kamar mandi." ucap ibu Aldo.


"Iya Bu." ucap Salsa, yang segera mengeluarkan smartphonenya untuk mengabari ke Aldo, jika rencananya kali ini akan berhasil mengalihkan perhatian Ibu Aldo sehingga tak memikirkan kepulangan Aldo dan Papanya.


Salsa yakin rencananya kali ini akan berjalan sempurna. Setelahnya Salsa segera memasukkan smartphonenya sebelum Ibunya Aldo curiga dan mengetahuinya.


"Sal, ibu sudah cuci. Yaudah yuk kamu mau buat kue apa? rencananya kita mau buat kue apa nih? baru nanti siapkan bahannya kalau kamu uda nentukan ingin buat kue apa, Sal." ucap Ibu Aldo.


"Okeee Bu, baiklah.. Hemm enaknya buat kue apa ya..." ucap Salsa berfikir.


"Gimana kalau buat kue dadar gulung coklat isi durian sama buat kue bolu pisang? gimana mau? " ucap ibu Aldo.


"Kue dadar gulung coklat isi durian ? sama bolu pisang ? " tanya Salsa.


"Iya, karena Aldo suka banget sama durian sedangkan Farah sama Fatah suka banget sama bolu dan pisang jadi rencana ibu buat itu di gabungin pasti Farah sama Farah suka banget. Karena beberapa pernah beli bolu


pisang mereka suka banget emang, habisnya juga cepat. Begitupun Aldo pasti suka banget dengan Dadar gulung coklat Isi durian ini karena Aldo suka kali sama durian. Gimana Salsa ? tapi ya semua kembali sama kamu mau atau enggaknya atau kamu ada pilihan lain yang ingin kamu pelajari? agar ibu mengajarinya? kamu bisa milih dan pilihan ada di kamu. Yaudah tentukan ya." ucap ibu Aldo.


"Humm, Salsa mau belajar kue bolu sama dadar gulung coklat isi durian yang seperti ibu bilang tadi. Karena Salsa juga belum bisa bikin itu. Hehehe." ucap SalsaA


"Oooh gitu ya, oke deh. Yuk kita buat ." ucap ibu Aldo segera menuju dapur untuk membuat kue, yang juga di ikuti oleh Salsa.


"Iya Bu, yuk.." ucap Salsa.


"Ohya bahan apa Bu yang di perlukan?" tanya Salsa.


Ibu Aldo pun menjelaskan panjang lebar sambil mengajari Salsa bagaimana cara membuatnya dengan benar. Setelah satu jam akhirnya apa yang ingin mereka buat pun selesai juga.

__ADS_1


Salsa dan ibu Aldo pun segera menaruh di meja makan kue yang telah mereka buat .


"Ohya kita coba satu ya bolu nya sama dadar gulungnya." ucap ibu Aldo


"Iya Bu, yuk. Setelah itu kita mall ya." ucap Salsa.


"Sal, sepertinya ibu mau masak bentar deh. Baru nanti kita ke Mall ya." ucap ibu Aldo.


"Masak dulu ya Bu?" tanya Salsa.


"Iya Sal karena ibu gak enak bagaimanapun itu tanggung jawab ibu. Ibu harus masak untuk Papa , masak bentar aja setelah itu gak papa deh ke Mall. Ibu gak perlu khawatir ini itu karena Papa gak suka masakan luar Sal." ucap Ibu Aldo.


"Hemmm gitu ya Bu. Oke deh, Salsa bantu boleh Bu? biar cepat ." ucap Salsa.


"Boleh dong, yuk kita masak dulu baru ke Mall ya gak papa kan?" tanya ibu Aldo.


"Iya gak papa Bu. Hemm enaknya masak apa ya Bu ?" tanya Salsa.


"Hummm iya ya masak apa ya?" ucap ibu Aldo berfikir..


"Hemm gimana masak sambal goreng kentang ala rumahan dan sayur asem?" tanya Salsa.


"Hemm boleh juga, ide bagus. Ah, ibu gak nyesel uda angkat kamu sebagai anak " ucap ibu Aldo.


"Yaudah yuk kita buat sekarang." ucap ibu Aldo kembali.


Merekapun masak pagi bersama,  Hingga akhirya pekerjaan cepat terselesaikan karena saling bekerja sama dalam hal masak.


"Alhamdulillah sudah jadi ya hehehe, iya sudah kita taruh di meja makan dulu ya Bu." ucap Salsa..


"Iya Salsa, yuk." ucap ibu Aldo, dan Salsa pun mengikuti langkahnya.


"Yaudah yuk sekarang kita buat sayur asemnya ya Bu." ucap Salsa yang segera kembali ke dapur.


"Yaudah yuk Salsa." ucap ibu Aldo kepada Salsa dan segera mengikuti langkah Salsa ke dapur.


"Oke kita siapkan dulu ya bahan buat sayur asemnya." ucap ibu Aldo segera menyiapkan bahan sayur asem.


Setelah selesai memasak, mereka segera siap siap untuk pergi ke Mall.


\===========================


 


Tolong Jangan Lupakan Aku - Tidak Boleh Boros


Sedangkan di tempat lain Herman dan Aldo setelah selesai meeting dengan klien segera pergi dari kantor untuk mencari keberadaan tante Ayu.


"Alhamdulillah meeting untuk hari ini sudah selesai, silahkan boleh keluar dari ruangan ini dan melanjutkan pekerjaan kalian. Dan saya berterimakasih untuk teman kerja saya yang sudah membantu kerjasama ini. Sungguh sangat senang bisa bekerjasama denganmu." ucap Pak Herman kepada teman kerjanya dengan menjabat tangan seseorang itu dan berkata kepada karyawannya juga kliennya yang lain.


"Alhamdulillah, terimakasih senang juga bisa bekerjasama dengan anda" ucap teman kerjanya dan klien lainnya.


"Alhamdulillah senang juga bisa punya atasan seperti bapak." ucap karyawannya.


"Iya sama sama, senang juga bisa bekerjasama dan berdiskusi dengan kalian." ucapan Pak Herman kembali. Dan mereka pun masing masing keluar ruangan masing masing.


"Alhamdulillah meeting sudah selesai ya Pa dan berjalan lancar. Ohya yuk kita segera keluar dari kantor dan mencari keberadaan Tante Ayu. Ini Salsa sedang chat katanya mau ngajak ibu ke Mall, habis buat kue dan masakan sama ibu. Pumpung masih teralihkan ibu dan kemungkinan takkan menyadari keterlambatan kepulangan kita." ucap Aldo, mengingatkan.


"Iya Al, syukur Alhamdulillah. Yaudah yuk kita segera keluar dan cari keberadaan Tante Ayu pumpung ibu belum menyadari juga." ucap pak Herman kepada Aldo


"Iya Pa, bentar Aldo beresin dulu alat kerja yang tercecer ini ." ucap Aldo.


"Oh iya ya Papa sampai lupa sangking semangatnya.Papa juga mau beresin dulu deh." ucap Pak Herman , dan mereka pun segera membereskan alat kerja yang masih tercecer.


"Sudah selesai yuk Pa, kita ke mobil buat cari keberadaan Tante Ayu." ucap Aldo.


"Iya Al yuk." ucap Pak Herman, dan mereka pun segera keluar dari kantor tersebut dan naik ke dalam mobil untuk mencari keberadaan tante Ayu.


**


Butuh waktu 1 jam Salsa dan ibu Aldo pun telah sampai di Mall yang mereka tuju.


"Yaudah yuk Bu, kita lihat lihat apa yang ingin di beli. Ibu bisa beli apa aja yang ibu inginkan." ucap Salsa kepada ibunya Aldo.


"Iya ya nak? terimakasih ya.." ucap Ibunya Aldo. Dan Salsa pun tersenyum, ia harap dengan mengajak ibu Aldo ke sini bisa mengalihkan perhatian ibu Aldo.


"Iya Bu,Yaudah yuk kita lihat lihat." ucap Salsa kepada ibu Aldo , mengajak mereka melihat barang barang di Mall. Dan mereka pun segera memilih milih...


Salsa pun memilih ini dan itu, ia menyukai baju baju yang lucu dan barang lainnya yang ia sukai, akan Salsa beli.. Sungguh Salsa sangat kalap untuk membeli ini itu, karena menurutnya barang di sini lucu lucu dan ia pun jarang ke Mall meski bisa.


"Salsa, kamu beli kok banyak banget.," ucap ibu Aldo, berusaha mengingatkan Salsa yang kalap.


"Iya Bu. Hehehehe karena barangnya lucu lucu, bajunya juga , jilbabnya semua Salsa suka. Karena Salsa jarang ke Mall jadi Salsa pengen sekalian beli. Ibu kalau mau beli juga boleh, silahkan pilih yang ibu suka , beli ya." ucap Salsa kepada ibu Aldo.


"Iya nak, ini ibu sudah beli beberapa tapi gak sebanyak kamu juga. Ingatlah boros teman setan . Seperti firman Allah subhanallah Wata'ala dalam Al Qur'an,


Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27).  Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Paham kan Salsa ? Jadi Kita gak boleh boros, sayang uang juga mending di sedekahkan atau di kasih ke orang kurang mampu dan anak yatim Salsa." ucap ibu Aldo, berusaha mengingatkan Salsa.


"Iya Bu. Hehehe. Terimakasih sudah mengingatkan Salsa. Salsa paham kok Bu, Salsa juga lebih suka menyedekahkan dan Salsa ingat akan hal itu.. Tapi Salsa ingin beli karena sekalian ke Mall dan insya Allah ini barang yang Salsa butuhkan karena akan Salsa pakai juga." ucap Salsa.


"Yaudah deh Salsa, terserah kamu saja. Ibu hanya sekedar mengingatkan. Ibu fikir kamu sudah paham tentang hal ini. Mungkin kamu kurang faham ya.." ucap ibu Aldo yang sedikit kecewa dengan Salsa.


"Yaa Allah ibu, gak gitu. Terimakasih banget sudah mengingatkan Salsa. Salsa senang banget sudah di ingatkan." ucap Salsa segera memeluk ibu Aldo untuk mengurai rasa amarah ibu Aldo.


"Iya nak, ibu hanya sekedar mengingatkan saja." ucap ibu Aldo yang memeluk Salsa kembali, dengan tersenyum.


"Yaudah yuk kita lanjut beli apa yang ingin di beli yang sekiranya kita pakai. Jika tidak ya tidak usah ya. Yaudah lanjut lagi, setelah ini pulang sebelum Papanya Aldo dan Aldo pulang." ucap ibu Aldo dengan melepaskan pelukannya pada Salsa dan tengah tersenyum kepada Salsa.


"Iya Bu ,ayuk." ucap Salsa yang menjawabnya sedikit ragu, terlebih di tatap begitu. Jujur Salsa juga khawatir bila rencana mereka gagal. Salsa takut ia sampai di rumah sedangkan Aldo dan Papanya belum sampai di rumah.


"Ohya Bu, Salsa izin ke kamar kecil dulu ya." ucap Salsa kepada Ibunya Aldo.


"Iya, silahkan Salsa..ibu tunggu ya." ucap ibu Aldo.


"Iya Ibu." ucap Salsa yang segera ke kamar kecil dan mengirim pesan ke Aldo untuk menanyakan apakah mereka masih lama, sementara ibunya ingin segera lekas pulang kembali ke rumah. Sedangkan Salsa takut ketika ia dan ibunya sampai di rumah , sedangkan Aldo dan Papanya belum pulang.Salsa mengungkapkan kekhawatirannya kepada Aldo lewat pesan tersebut.


"Al, bagaimana? sudah menemukan tante Ayu ? sudah sampai di mana ini kalian? dan bagaimana rencana kalian ? ini ibu ingin segera kembali ke rumah, bagaimana apa kalian masih lama? aku takut kami sudah sampai di rumah, kalian masih pulang lama. Dan itu akan membuat ibu curiga sementara ibu tau nomer sekertaris dan kantor Papamu takutnya ibu menayakan dan akan mengetahuinya." Salsa mengirim pesan tersebut, setelahnya ia segera kembali ke tempat tadi sebelum ibu Aldo curiga bila ia terlalu lama di kamar kecil.


"Yaudah yuk Bu , kita lanjut melihat lihat lagi ." ucap Salsa.


"Udah keluar Sal? iya bentar ibu juga ingin ke kamar kecil dulu ya. gak tahan ibu, bentar aja." ucap ibu Aldo.


"Iya Bu." ucap Salsa yang menunggu ibu Aldo, yang bersegera ke kamar mandi. Tak lama kemudian ibu Aldo pun keluar dari kamar mandi dan mereka kembali melanjutkan memilih .


"Yaudah yuk Salsa." ucap ibu Aldo.


"Iya Bu yuk." ucap Salsa.


"Ohya Bu, nanti kita makan bentar di lestoran dulu ya. Soalnya Salsa lapar banget. kalau nunggu sampai di rumah bisa pingsan Salsa." ucap Salsa yang sengaja untuk memperlambat kepulangan mereka.


"Ooh gitu ya Salsa gak makan di rumah ibu? atau kita langsung pulang aja? gak usah milih milih lagi. Bagaimana?" tanya ibu Aldo.


"Jangan Bu , lanjut aja gak papa."ucap Salsa.


"Maksud Salsa, ini masih kuat kalau milih milih bentar lagi . Tapi kalau pulang gak kuat jadi makan di sini dulu ya Bu, pleseeee... nanti insya Allah tetap makan kok di rumah ibu." ucap Salsa berusaha merayu ibu Aldo.


"Hemm oke deh Salsa, yuk lanjut pulih setelahnya kita mampir ke lestoran terus pulang ya jujur ibu khawatir takut Aldo dan Papanya pulang terlebih dahulu." ucap ibu Aldo.


"Iya Bu, tapi ini Aldo tadi chat aku katanya ada meeting di luar lagi menemani Papanya kemungkinan pulangnya agak telat. Jadi kita santai saja di sini dulu. Atau ibu bisa chat Aldo kalau tidak percaya dengan Salsa." ucap Salsa berusaha meyakinkan ibu Aldo.


"Ooh gitu ya. Yaudah lah gak papa. Berarti gak usah terburu buru ya kita pulangnya ? " ucap ibu Aldo.


"Iya Bu. Ibu pesan makan aja dulu juga." ucap Salsa.


"Iya Salsa, tapi bagaimanapun tetap jangan terlalu lama juga karena kita gak tau pulang mereka dan jika pun mereka belum pulang ibu ingin segera istrirahat dan mempersiapkan diri ibu menyambut kepulangan mereka terutama Papanya Aldo, suami ibu." ucap ibu Aldo.


"Iya Bu yuk." ucap Salsa.


Mereka pun melanjutkan memilih, setelahnya mereka beristirahat sebentar di lestoran untuk makan sebelum pulang.


\=============================


 


Tolong Jangan Lupakan Aku - Mencari Keberadaan Tante Ayu


"Bu, uda milihnya. Yuk Kita ke lestoran untuk makan ya Bu." ucap Salsa.


"Iya Salsa yuk." ucap Ibu Aldo segera mengikuti Salsa ke restoran.


Setelah sesampainya di sana, Salsa pun meminta note menuuntuk memilih makanan yang ingin mereka beli.


"Minta note menu ya, saya mau pesan makanan dan minuman." ucap Salsa.


"Okeee, bentar ya mbak." ucap salah satu pelayan di sana.


"Ini Bu." ucap pelayan tersebut segera memberikan note menu untuk Salsa dan ibu Aldo pilih.


"Terimakasih." ucap Salsa kepada pelayan tersebut.


"Yuk Bu, mau pilih apa . Pilih aja biar Salsa yang bayar." ucap Salsa.


"Iya Salsa, hummm ibu ingin beli cumi goreng asin, Cumi asin cabai ijo, sama Gulai ikan belimbing.ucap ibu Aldo.


"Okee Bu, kalau Salsa ingin beli Udang goreng mentega saus tiram, Cumi bakar montok, dan gurame bakar. Untuk minumannya Jus mangga dan Apel." ucap Salsa.


"Ohya, ibu sudah pesan minumnya? ingin pesan minum apa?" tanya Salsa.


"Ibu mau minum jus jeruk dan stobery aja ya." ucap ibu Aldo.


"Okee mbak.." panggil Salsa ke pelayan tersebut.


"Iya mbak, jadi pesan apa?" ucap pelayan tersebut.


"Saya pesan cumi goreng asin, cumi asin cabai ijo, gulai ikan belimbing, udang goreng mentega saus tiram, cumi bakar montok, gurame bakar. Untuk minumannya pesan jus mangga, jus Apel dan jus jeruk juga stobery ya." ucap Salsa kepada pelayan tersebut.


"Okeee Bu." ucap Pelayan tersebut segera undur diri .


Beberapa menit kemudian, pelayan datang dengan membawakan pesanan Salsa.


"Ini mbak, Bu semoga menikmati." ucap pelayan tersebut.


"Okeeee terimaksih." ucap Salsa. dan pelayan tersebut megangguk dan segera berlalu.


"Yaudah yuk Bu, makan." ucap Salsa.


"Iya Salsa, yuk." ucap ibu Aldo segera memakan pesanannya.


"Hemmm enak ya Salsa, gak nyesel makan di sini. " ucap ibu Aldo.


"Iya Bu, kan Salsa uda bilang sebenarnya gak papa kan beli sesekali? yang di beli pun makanan sehat.. Ohya kalau ibu mau pesan lagi buat di bawa pulang boleh kok buat Papanya Aldo dan Aldo." ucap Salsa.


"Iya Salsa, enak..ibu tadi gak tau takutnya gak enak dan gak cocok di perut Papanya Aldo meski enak pun. Tapi sepertinya kalau ini aman mah di perutnya. Tapi gak beli sekarang juga Salsa, ibu sudah masak nanti mubazir masakan ibu dong. Mungkin lain kali kita sekeluarga bisa ke sini bersama Aldo juga Papanya mungkin bisa nanti setelah kamu nikah dengan Aldo. makanya ibu berharap semoga di percepat pernikahahanmu dengan Aldo." ucap ibu Aldo.


"Oooh iya ya Bu, maaf Salsa lupa .Oke Bu , Aamiin semoga Allah memudahkan pernikahan kami ya Bu." ucap Salsa yang entah mengapa tiba-tiba ada rasa ragu itu walau ia gak yakin kenapa keraguan itu tiba tiba muncul saat hari yang di nantikan sudah makin dekat dan persiapan tinggal sedikit lagi.. Tapi Salsa yakin mungkin ini yang di namakan ujian pernikahan. Salsa harus menyakinkan hatinya berkali kali dan meminta petunjuk ke Allah.


"Iya Uda Bu, yuk kita lanjut makan." ucap Salsa.


"Iya Salsa yuk." ucap ibu Aldo dan mereka pun melanjutkan makan mereka.


**


Sementara di tempat lain, Aldo dan Papanya sedang mencari keberadaan Tante Ayu .


"Pa, ini gimana ya kok belum ketemu juga." ucap Aldo kepada Papanya.


"Iya Al, sabar ya." ucap Papanya.


Tingtung.." bunyi SMS masuk."


"Pa, Salsa chat nih, katanya ibu pengen cepat pulang tapi Salsa masih berusaha mengalihkan perhatian ibu ke restoran. Tapi Salsa tanya rencana kita bagaimana? dan kita sudah sampai mana? Salsa juga tanya apa kita sudah bertemu dengan Tante Ayu atau belum." ucap Aldo menyampaikan kepada Papanya pesan Salsa.


"Iya Al, bilang aja jika kita belum menemukan Tante Ayu dan sekarang kita masih mencari.. Kalau memang Salsa masih bisa biar alihkan perhatian ibu tapi kalau gak bisa wes jangan di paksakan. Kasian ibu juga jalan ke sana ke mari pasti capek . Biar ibu pulang istrirahat apalagi ibu uda masak .Papa sebenarnya kasian sama ibumu. Apa kita pulang saja ya. tapi nanggung kalau pulang . " ucap Papa Aldo.


"Tapi rasanya gak papa biar Papa kena marah karena pulang telat dari pada ibu kecapean ke sana ke mari." ucap Papa Aldo kembali.


"Iya Pa, Aldo pun demikian. Lebih baik kita yang kena marah daripada ibu yang kecapean ya..Ini aku juga uda chat kepada Salsa. sampaikan pesan ke Salsa.." ucap Aldo.


"Iya yaudah bilang gitu ke Salsa..Yaudah yuk kita lanjut perjalanan cari Tante Ayu setelahnya kita lekas pulang ya.." ucap Papa Aldo.


"Iya Pa." ucap Aldo. dan mereka pun melanjutkan perjalanan kembali.


Setelah beberapa menit melanjutkan perjalanan. ....


"Al, bentar berhenti sebentar.. itu seperti Tante Ayu. Allahuakbar apa benar itu Tante Ayu? meski sudah lama tak ketemu rasanya Papa masih mengenali pawakannya tapi Papa antara yakin tapi kok ya ragu ya." ucap Papa Aldo kepada Aldo.


"Iyakah Pa, itu Tante Ayu ? Papa yakin ? tapi gak papa, kita coba turun untuk memastikan ya itu Tante Ayu atau bukan..Yuk turun Pa." ucap Aldo.


"Yuk Al..." ucap Papanya, mereka pun segera turun.


"Ayu...ayu.." ucap Papanya Aldo memanggil perempuan itu, yang di duga Ayu.


"Tante Ayu ..Tante Ayu." ucap Aldo membantu memanggilkannya tapi sepertinya yang di panggil tidak mendengar justru tetap berjalan dengan cepatnya hingga Aldo dan Papanya kepayahan mengejar perempuan tersebut.


**

__ADS_1


Apakah itu Tante Ayu ??? dan bagaimanakah bila mereka bertemu dengan Tante Ayu??


__ADS_2