Tolong Jangan Lupakan Aku

Tolong Jangan Lupakan Aku
Episode Terbaru 9


__ADS_3

Hari tersebut, kini telah tiba...


Ainun masih merasa seperti mimpi, esok hari pernikahan tersebut pun kini menghampirinya dan akan ia laksanakan.


Ya, bukan pernikahan yang sesungguhnya seperti di inginkan banyak orang.


Tapi tak lebih pernikahan kontrak.


Ntah harus bahagia atau bersedih ia di hari pernikahan tersebut.


Gaun pengantin warna nude dan putih pun telah di siapkan untuk dua acara pernikahan tersebut.


Masih teringat jelas pembicaraannya dengan Abah dan Umminyanya 1 bula lalu, hingga ia kini di tempat ini dan akan melangsungkan pernikahan tersebut pada akhirnya.


******


Assalamualaikum.. Ummi, Ai," ujar Abahnya yang baru pulang mengecek pondok pesantrennya.


"Ternyata kalian di sini toh, mulai tadi Abah cari cari." lanjut ujar Abahnya.


Ainun dan Umminya pun sedikit terkejut dengan kedatangan Abahnya, mereka pun juga cemas bila Abahnya mendengar pembicaraan mereka, namun mereka tetap menjawab salam dan pertanyaan Abahnya.


"Waalaikumussalam Abah, sudah pulang? Hehehe iya kami di sini, maafin kami ya Abah." ujar Ainun dan Umminya.


"Iya sudah pulang, tadi Abah cari cari kalian, di sini toh ternyata, asyik mengobrol.." ujar Abahnya dengan di iringi tawa ringan.


"Hehehe iya Abah, kami di sini." ujar Ainun.


"Hehehe iya asyik ngobrol sampe lupa, maaf ya Abah..maafin kami." ujar Umminya.


"Iya Ummi, gak papa.." ujar Abahnya dengan tersenyum.


"Ohya kalau Abah boleh tau ngobrolin apa nih?" tanya Abahnya kembali.


"Hummmm...." ucap Ummi dan Ainun yang bingung harus menjawab apa dan bagaimana..


"Iniloh Abah..Ainun..." ucap Umminya sengaja menggoda Ainun.


"Kenapa Ummi dengan Ainun?" tanya Abahnya.


"Ainun, Abah..." jeda Umminya yang kembali menggoda Ainun.


"Kenapa sih? Abah jadi penasaran..hemm?" tanya Abahnya.


"Ainun..." ucap Umminya menjeda ucapannya.


"Ummi ..." ucap Ainun yang menjeda ucapannya.


"Ainun ini loh bantu ummi masak." ujar Umminya akhirnya.


Sedangkan Ainun tersenyum lega.


"Oalah gitu toh...tapi..." ucap Abahnya yang sengaja menjeda ucapannya.


"Tapi apa Abah?" tanya Umminya.

__ADS_1


"Tapi Abah dengar pembicaraan kalian tadi." ujar Abahnya dengan tersenyum, tetapi membuat mereka syok secara bersamaan.


"Abah dengar pembicaraan Ummi dengan Ainun?" tanya Umminya yang sedikit terkejut.


"Iya Abah dengar... " ucap Abahnya singkat.


"Jadi ada yang sedang jatuh cinto ya ummi.. gimana serius nih jadi di percepat?" tanya Abahnya yang seakan bahagia mendengar kabar tersebut.


"Gak kok Abah ." ucap Ainun pelan dengan menunduk.


"Gak papa jujur saja ke Abah, karena Abah gak papa. Dengan begitu kita bisa mempercepat pernikahan ini." ujar Abahnya dengan tersenyum.


'Iya Abah, Ummi juga setuju tinggal nunggu jawaban dari Ainun saja ini." ujar Umminya.


"Gimana Ai?" tanya Umminya.


"Iya, gimana Ai?" tanya Abahnya.


"Ai,... Ai istikharah dulu boleh ya, Abah, Ummi? jawab Ainun.


"Humm boleh dong anak Abah, Ummi.. Kamu boleh istikharah karena kamu mempunyai hak untuk memikirkan kembali keputusanmu, karena pernikahan bukanlah main main." ujar Abahnya.


"Iya Ummi, Abah.. Ai akan pikirkan kembali keputusan Ai ini. Sekali lagi terimakasih sudah memahami Ai dan memberikan Ai waktu untuk meng istikharahkannya juga memikirkannya." ujar Ainun.


"Baiklah, kami tunggu ya jawaban kamu." ucap Abahnya, yang kemudian menepuk pundak Aini dan segera berlalu.


"Ai.." ucap umminya dengan tersenyum, dan menepuk pelan pundak Ainun kemudian melanjutkan memasaknya.


"Ai bantu masak lagi ya ummi." ucap Ainun.


Setelah memasaknya, Ainun dan Umminya pun meletakkan kembali masakannya di meja makan dan melanjutkan makan bersama.


Sesekali mereka melanjutkan perbincangan tentang perjodohan tersebut.


Hingga membuat Ainun benar benar sulit untuk beristirahat dengan tenang atau tidur nyenyak setelah pembicaraan tersebut.


*****


"Yok, kita sekarang siapin dan benerin bagian sana." ucap orang yang ikut menyiapkan acara pernikahan itu kepada temannya.


"Iyo yok.."


Pembicaraan mereka seketika membuyarkan lamunan Ainun.


Sekali kali lagi, Ainun hanya mampu menatap dalam mereka yang sedang menyiapkan untuk acara pernikahan esok hari.


Sungguh rasanya ini benar benar mewah baginya, dekor yang mereka persiapkan untuk pernikahannya esok hari.


Banyak beberapa lampu kecil untuk menambah suasana romantis, dekor putih kelap kelip, dan masih banyak lagi, yang membuat Ainun jujur saja kagum dengan dekor yang mereka siapkan untuk pernikahannya.


Bukankah seharusnya ia bahagia?


Bukankah seharusnya setiap pasangan pengantin bahagia?


Tapi mengapa baginya tak ada rasa kebahagiaan yang ia rasakan kecuali rasa hambar dan sesak tersebut.

__ADS_1


Mungkinkah karena pernikahan tersebut berdasarkan tanpa rasa cinta?


Dan karena pernikahan ini tak lebih di atas kertas? pernikahan kontrak?


"Hah..." Ainun menghembuskan nafas cukup panjang, rasanya ia masih tak percaya, esok hari pernikahannya.


Sayangnya, pernikahan tersebut bukan pernikahan impian.


Pernikahan yang seharusnya di impikan setiap orang namun tidak bagi dirinya.


Baginya pernikahan ini seperti mimpi buruk untuknya dan ingin sekali segera bangun dari mimpi tersebut.


Sayangnya ia tak bisa bangun dari mimpi tersebut, karena inilah kenyataan yang akan ia hadapi.


Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali tetap menjalankan pernikahan yang bukan impian ini.


Tanpa terasa, bulir bulir air mata mulai membasahi pipinya, untuk sejenak Ainun membiarkan bulir bulir tersebut terus membasahi pipinya. dan tak ia hentikan sama sekali tangis itu.


Karena Ainun ingin sesak yang ia rasakan tak terlalu membuatnya semakin terasa sesak.


Tak pernah terbayangkan sedikitpun ia akan menjalani pernikahan tanpa cinta, pernikahan di atas kontrak.


Namun menolaknya pun sama saja ia akan mengecewakan kedua orang tuanya.


Ia hanya bisa menjalani pernikahan ini tanpa kedua orang tuanya tau mengenai hal ini.


Sekali lagi ia hanya bisa menatap kosong ke arah mereka yang sedang mempersiapkan dekor pernikahan tersebut yang sedang lalu lalang di hadapannya.


******


Sedangkan di tempat lain, Salsa pun malam ini mempersiapkan hari pernikahannya dengan penuh rasa bahagia, berbeda dengan Ainun .


Kebetulan hari pernikahan mereka bersamaan.


Salsa mempersiapkan gaun pengantin berwarna putih untuk hari pernikahannya esok hari, sedangkan Ainun memakai gaun pernikahan bewarna nude pink.


"Humm Mama senang deh, akhirnya hari pernikahan kalian sebentar lagi.


Besok kamu sudah menikah dengan anak mama dan akan menjadi bagian dari keluarga ini, walau mama sudah menganggapmu sebagai anak sejak saat itu, sejak pertama kali mama melihatmu terlebih semenjak mama tau kamu akan jadi mantu Mama." ujar Mamanya Aldo pada Salsa.


"Iya Ma, Alhamdulillah akhirnya hari yang di nantikan itu tiba, Salsa senang banget.." ucap Salsa yang berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.


"Dan Salsa juga pertama kali bertemu Mama, Salsa merasakan kasih sayang seorang ibu, setelah sekian lama Salsa tak merasakannya." ujar Salsa yang berubah menjadi sendu dan dengan nada sedih.


"Nak, ibu pun sudah menggapmu sebagai anak sendiri, terlebih kamu tau sendiri ibu gak punya anak perempuan dan ingin mempunyai anak perempuan." ujar Mamanya Aldo yang segera memeluk Salsa memberikan ia kehangatan, ketenangan dan kenyamanan.


Salsa pun segera memeluk kembali Mamanya Aldo dengan tangis haru yang berusaha ia pendam dalam pelukan tersebut.


"Salsa juga bahagia Ma, terimakasih Ma. Salsa juga sudah menganggap Mama seperti ibu Salsa sendiri karena sudah cukup lama Salsa kehilangan sosok ibu.


Salsa bahagia Ma, sangat bahagia hari itu yang di nantikan sebentar lagi akan tiba dan Salsa akan segera menjadi keluarga dari Mama." ujar Salsa dalam pelukan tersebut dengan menahan tangisnya.


"Iya Mama juga bahagia Salsa, sangat bahagia.. kamu akan menjadi bagian keluarga dari Mama dan kita akan terus bersama karena kamu sudah menjadi keluarga dari kami dan kamu juga sudah menjadi anak mama, mama akan berusaha menjagamu dengan baik, memberikanmu kasih sayang dan takkan melukaimu." ujar Mamanya Aldo yang semakin memeluk Salsa dengan erat.


"Makasih Ma..makasih Ma." ucap Salsa yang semakin memeluk Mamanya Aldo semakin erat.

__ADS_1


Mereka bahagia menanti hari bahagia esok, berbeda dengan Ainun yang hanya bisa menatap sendu hari pernikahannya esok.


__ADS_2