Tolong Jangan Lupakan Aku

Tolong Jangan Lupakan Aku
Episode Terbaru 4


__ADS_3

Suasana butik tersebut sangat ramai, siapapun yang datang ke sini memancarkan wajah penuh bahagia bagi muda mudi yang sedang jatuh cinta dan akan melaksanakan ke jenjang lebih serius.


Begitupun dengan Salsa yang sedang bahagia akan melaksanakan ke jenjang lebih serius, namun saat ia sedang tersenyum sendiri menatap gaun pengantin tersebut, Fatah dan Farah pun datang menggodanya.


"Ibu Salsa, pasti cantik pakai baju itu." ucap Farah.


"Iya Fatah setuju, apalagi bersanding dengan ayah yang tampan." ujar Fatah .


"Hemm, kalian bisa aja ya, kecil kecil bisa menggoda. Di ajarin siapa nih?... Ohya emang Ayah sudah datang ya ke sini?" ujar Salsa.


"Hehehe kita bilang jujur kan? emang ibu cantik, apalagi pakai baju ini. Begitupun ayah yang sudah ganteng, akan makin tampan pakai baju texedo kata eyank." ucap Farah.


"Hemm, kata eyank ya..pantes aja pintar menggoda. Di ajarin eyank toh kata katanya.." ujar Salsa senyum senyum sendiri melihat tingkah Farah dan Fatah.


"Ohya ayah belum datang ya?" tanya Salsa.


"Belum kata eyank.." ucap Farah dan Fatah.


"Hemmm..." ucap Salsa..


"Iya nak Aldo belum datang ke sini, mungkin bentar lagi. Ohya nak kamu pasti cantik pakai baju pengantin warna nude itu dan cocok bersanding dengan anak ibu yang juga tak kalah tampannya hehehe." ujar ibunya Aldo.


"Iya Bu, terimakasih.." ucap Salsa yang tersipu.


Salsa pun berharap bila memang Aldo jodohnya semoga pernikahan tersebut di mudahkan dan bermuara kebahagiaan.


Mereka pun berbincang dengan menunggu kedatangan Aldo.


**************


Ainun hanya mampu terdiam menatap Umminya, karena ia benar benar bingung harus menjawab apa dan bagaimana...


Kamu setuju kan dengan perjodohan ini? Ummi dan Abah tak pernah memaksa, tapi kami harap itu yang terbaik untukmu, karena kami lihat nak Ahmad Rafiq anak yang baik untuk menjadi pendampingmu, dan bila kami telah tiada setidaknya kami tenang, kamu sudah bersama orang yang tepat juga baik untuk mendampingimu mengarungi bahtera rumah tangga tersebut." ujar Umminya kembali, karena tak ada jawaban dari Ainun.


Ainun mengambil nafas beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Umminya.


Ainun mencoba memberanikan untuk menjawab pertanyaan Umminya, walau jujur ia sendiri Kelu.


Ainun sendiri berusaha memberikan jawaban yang tidak akan membuat Umminya kecewa.


"Iya Ummi, Ai paham, dan Ai setuju dengan perjodohan ini. Tapi Ai mohon Ummi jangan bilang jika Ummi dan Abah akan ninggalin Ai, karena Ai tetap mau Ummi dan Abah nemenin Ai walau Ai sudah menikah." ujar Ainun berusaha tersenyum dan menutupi kekecewaan juga kesedihannya.


Ai mohon Ummi jangan bilang seperti itu, Ai sedih bila Ummi dan Abah mengatakan hal tersebut." ucap Ainun kembali dengan nada sedih.


"Iya Ummi dan Abah tau, kami bilang seperti itu karena usia kan tidak ada yang tau Ai? tapi Ummi dan Abah janji insya Allah akan selalu menemani dan ada untuk Ai, selagi ummi dan Abah masih ada usia. Dan Alhamdulillah Ummi dan Abah juga bahagia kalau Ai juga setuju perjodohan ini. " ujar Umminya.


"Iya Ummi, terimakasih ya. " ujar Ainun tersenyum pada Umminya dan menunduk kembali untuk menetralkan gejolak hatinya.


"Ai antar minum ini dulu ya Ummi.." ujar Ainun yang tersenyum kembali pada Umminya.


"Iya nak, antar gih kelamaan nanti mereka nunggunya. Ummi juga bentar lagi nyusul, tapi ummi masih mau letakkan belanjaan ini dulu, bereskan, cuci berbesih dan cuci tangan dulu baru ummi nanti nyusul ya ke sana." ujar Umminya.

__ADS_1


"Iya Ummi, Ai duluan ya." ujar Ainun kembali dengan masih tetap berusaha tersenyum pada Umminya dan segera berlalu menuju ruang tamu.


*******


"Humm, nah ini anak Abah sudah datang, yuk ikut gabung sini Ai.


Mulai tadi mereka sudah menunggumu." ujar Abahnya saat melihat kedatangan Ainun di ruang tamu.


Ainun pun segera meletakkan minuman tersebut, dan ikut bergabung duduk bersama Abahnya juga orang tua Ahmad Rafiq.


Ainun memang duduk bersama mereka, namun tidak dengan hatinya yang sedang tak menentu.


Mana mungkin bisa menikah dengan seorang yang tak di cintainya sedangkan orang tersebut pun mencintai perempuan lain, lalu akan di bawa ke mana pernikahan tersebut? dan apa bisa ia menjalani bahtera rumah tangga tersebut?, batinnya.


Ainun yang sedang sibuk dengan lamunannya pun buyar dengan kedatangan Umminya.


"Nah, Istri Abah sudah di sini, yuk duduk Ummi.. kita langsung bahas lamaran dan pernikahan Ainun yuk." ujar Abahnya.


"Iya Abah, lebih cepat lebih baik.." ujar Umminya dengan tersenyum.


"Gimana Ai dan nak Ahmad Rafiq, setuju kan?" tanya Umminya.


Untuk sejenak Ainun dan Ahmad Rafiq saling berpandangan dalam diam, seakan menunjukkan emosi masing masing.


"Hemm, Saya setuju saja, karena saya yakin pilihan Abah saya tidak pernah salah dan saya juga tidak ingin mengecewakan Abah saya tentunya." Ujar Ahmad Rafiq, yang membuat Ainun sedikit terkejut dan terdiam atas jawaban Ahmad Rafiq yang setuju tentang perjodohan ini.


Sedangkan di sisi lain, mereka di sana bahagia atas jawaban Ahmad Rafiq.


Untuk sejenak Ainun terdiam dan benar benar bingung harus menjawab apa.


"Bismillah, Ai setuju dengan perjodohan ini." ucap Ainun pelan.


Ainun harap jawaban yang ia berikan, tidak mengecewakan kedua orangtuanya dan Abahnya Ahmad Rafiq, meski di sisi lain perasaannya harus di korbankan.


"Yasudah yuk, kita mulai acara pertunangan dan lamaran ini." ujar Abahnya Ahmad Rafiq.


Tak lama kemudian, beberapa orang berdatangan untuk menyaksikan acara yang penuh haru dan kebahagiaan tersebut, karena Ainun akan di ikat dengan cincin yang akan di pakekan kepadanya.


Beberapa keluarga besar Ahmad Rafiq juga membawa seserahan ke sana.


"Yasudah yuk kita mulai, pasangkan cincin ke Ainun ya..." ucap Umminya dengan tersenyum bahagia, begitupun mereka yang hadir di sana.


Tapi tidak dengan Ainun, meski bibirnya tersenyum tapi hatinya sendiri kalut dan bingung.


Begitupun dengan Ahmad Rafiq.


Mereka menyetujui acara pernikahan yang akan di laksanakan nantinya, karena tak ingin mengecewakan kedua orangtuanya meski perasaan mereka masing masing harus di korbankan.


Karena bagi mereka, seseorang yang ia cintai pun tak dapat bersanding dengan mereka karena juga akan menikah dengan seorang yang sudah mencintainya.


Keluarganya Ahmad Rafiq pun segera memakaikan cincin tersebut kepada Ainun, Ainun hanya mampu tersenyum tipis.

__ADS_1


Kini cincin tersebut telah melekat di tangannya sebagai penginkatnya dengan Ahmad Rafiq bahwa pernikahan mereka sebentar lagi.


Ummi dari Ahmad Rafiq telah meninggal dunia, sehingga keluarga terdekatnya yang dapat memakaikan cincin tersebut.


Mungkin saat ini memang keluarga Ahmad Rafiq yang memakaikan cincin tersebut ke jari tangannya, tapi jika mereka telah menikah mungkin Ahmad Rafiq yang akan memakaikan cincin kembali ke tangannya.


Ntah dia harus bahagia atau tidak dengan kenyataan tersebut.


Ainun hanya mampu memandang orang di sekitarnya dengan tatapan kosong dan senyum tipisnya hingga acara tersebut selesai.


Setelahnya mereka berpamitan pulang begitupun dengan Ahmad Rafiq dan Abahnya.


Setelah Kepergian mereka semua, Ainun tak beranjak sedikitpun dari tempat tersebut.


Ainun masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi, ia memandang cincin tersebut dengan pandangan kosong dan tanpa sadar Ainun pun tersenyum tipis saat melihatnya dengan bersamaan bulir bulir air matanya yang membasahi pipinya.


Ainun mencoba menenangkan dirinya dengan di temani semilir angin.


"Ai, masuk yuk, istirahat.. mereka juga sudah pulang kan?" tanya Umminya, yang membuyarkan lamunan Ainun, ia pun segera menghapus bulir air matanya agar kedua orangtuanya tidak mengetahui bila ia telah menangis.


"Ai, mungkin masih tak percaya jika ia baru saja di lamar dan saat ini mencoba meyakinkan dirinya dengan memandang penuh cinta cincin tersebut, Ummi. Jadi biarlah Ainun meyakinkan hatinya dan merasakan kebahagiaannya." ucap Abahnya kepada istrinya.


"Baiklah, Abah. Yasudah kalau sudah meyakinkan hatimu , masuk ya ke dalam, istirahat. Bagaimanapun kamu harus perhatikan kesehatanmu." ujar Umminya mencoba mengingatkan Ainun.


"Iya Ummi, terimakasih sudah perhatian pada Ai, bentar lagi Ai masuk kok Ummi. Jadi Abah dan Ummi jangan terlalu cemasin Ai ya." ujar Ainun kepada kedua orangtuanya.


"Iya Ai, ya sudah Ummi dan Abah duluan masuk ya, ingat pesan ummi jangan lupa masuk dan segera istirahat ya." ucap Umminya.


"Ohya ummi tadi juga tadi uda siapin makan, jangan lupa makan dulu ya sebelum istirahat." ucap Umminya kembali.


"Iya Ummi dan Abah masuk dulu ya dan segera makan dan istirahat juga." ucap Ainun dengan tersenyum.


"Iya nanti Ai juga nyusul, terimaksih ya Ummi dan Abah sudah peduli dengan Ai. Ai sayang kalian, Ummi dan Abah Ai.


Tapi Ummi dan Abah juga harus tetap pedulikan dan perhatikan kondisi kesehatan kalian." ucap Ainun.


"Iya Ai, makasih juga sudah perhatian dengan ummi dan Abah. Yuk masuk, Abah." ujar Umminya Ainun.


"Iya yuk Ummi, kita jangan ganggu Ai dulu." ucap Abahnya.


"Iya Abah..." ucap Umminya Ainun dengan senyum senyum sendiri melihat tingkah lakunya Ainun seperti orang yang sedang jatuh cinta, tanpa mereka sadari ada sesuatu di balik senyum tipis Ainun dan tatapan kosongnya.


Mereka pun segera masuk terlebih dahulu ke dalam untuk beristirahat.


Sedangkan Ainun untuk beberapa saat masih tetap di tempat yang sama dengan lamunannya dengan terus masih memegang cincin tersebut hingga tanpa sadar cincin tersebut pun jatuh ke lantai bersamaan dengan bulir bulir air matanya yang mulai membasahi pipinya.


Hingga beberapa menit kemudian, Ainun pun tersadar dari lamunannya dan segera menghapus bulir bulir air matanya kemudian mengambil cincin tersebut untuk memakaikan kembali cincin tersebut di jari tangannya dengan lemah, sekali lagi Ainun tersenyum tipis menatap cincin tersebut.


Setelahnya Ainun pun segera masuk ke dalam untuk makan dan beristirahat, untuk menenangkan hati juga pikirannya sedang kacau.


Mungkin dengan tidur untuk sejenak ia bisa melupakan riuhnya pikirannya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2