Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya

Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya
Part 100.


__ADS_3

Tiga hari kemudian Damian sudah diperbolehkan Dokter untuk pulang, dan luka dikepalanya sudah mulai mengering.


Lengannya yang luka walau masih sakit, tapi sudah mulai bisa dipergunakan.


Kondisi fisiknya juga sudah mulai normal, tapi, sementara ingatan Damian belum sepenuhnya pulih.


Damian masih belum mengingat semuanya, hanya masalah dirinya dan Letisia yang masih kuat dalam memori otaknya.


Masalah dia berusaha untuk mengejar cinta istrinya, dan ketidak pedulian Letisia padanya.


Hanya sebatas seputar itu saja yang ada didalam memorinya.


Siang ini, mereka bersiap-siap akan kembali pulang ke Mansion.


Dan Damian terlihat sangat bugar, dan juga terlihat sangat bahagia sekali, senyumannya selalu mengembang dibibirnya.


Itu karena Letisia begitu perhatian padanya selama dirumah sakit, dan pribadi Letisia berubah jadi lebih manja pada Damian.


Damian sangat menyukai sikap baru Letisia itu, dan dia ingin Letisia tetap seperti itu.


"Ayo Tuan, saya sudah selesaikan semuanya!" sahut Jenson seraya membuka pintu kamar pasien lebar-lebar untuk Damian keluar dari kamar.


Damian menggenggam tangan Letisia keluar dari kamar, lalu mereka bertiga masuk kedalam lift.


"Pengendara sepeda motor sudah mengakui siapa yang memerintahkannya untuk menabrak anda Tuan!" lapor Jenson saat mereka sudah berada di dalam lift.


"Siapa dalangnya?!" tanya Letisia.


Sementara Damian diam saja, dia terlihat tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Jenson.


"Suruhan Orang tua angkat anda Nyonya..mereka telah saya tahan di kantor polisi, dan polisi sedang menyelidiki motif mereka menabrak Tuan Damian!" kata Jenson menjelaskan.

__ADS_1


"Pasti masalah hutang yang ditagih kembali oleh Tuan Damian!" ujar Letisia dengan yakin.


"Hutang?" gumam Damian termenung, dia merasa mulai mengingat soal hutang.


"Ya, hutang orang tua angkat Nyonya yang ditagih oleh Tuan kembali!" kata Jenson menjelaskan lagi.


Damian tampak merenung, dia merasa ingat soal hutang, tapi otaknya belum mampu untuk mencernanya.


"Saya telah menyerahkan kasus tabrak lari Tuan Damian dengan pengacara Tuan Damian..dia akan menangani kasus ini dengan tuntas!" kata Jenson menambah kan lagi.


"Terimakasih Jenson, untung anda ada..!" sahut Letisia.


"Sudah tugas saya Nyonya..jangan khawatir, semuanya pasti akan terselesaikan kalau Tuan Damian perintahkan!" kata Jenson menjelaskan lagi.


"Terimakasih!" ucap Letisia.


Ting!


Jenson melangkah terlebih dahulu sebagai penuntun jalan.


Di parkiran pelataran rumah sakit Jenson menghampiri sebuah mobil mewah, lalu membuka pintunya untuk Damian dan Letisia.


Dan Damian membiarkan Letisia untuk masuk terlebih dahulu, baru setelah itu dia pun masuk ke dalam mobil.


Kemudian mobil perlahan meninggalkan area parkir rumah sakit.


Mobil setengah jam kemudian perlahan memasuki halama Mansion yang luas, taman yang indah terlihat terawat dengan rapi.


Jenson menghentikan mobil tepat didepan lobby pintu utama Mansion.


"Ayo Tuan, turun!" Letisia terlebih dahulu turun dari mobil, karena Damian terlihat bengong melihat kearah Mansion.

__ADS_1


Dia merasa asing dengan rumahnya sendiri.


Letisia membuka pintu mobil untuk Damian, dan menunggunya untuk turun.


Letisia meraih tangan Damian yang masih bengong, dan menariknya agar turun dari mobil.


Dengan sedikit enggan Damian perlahan turun dari dalam mobil, dan mengikuti langkah kaki Letisia yang pendek.


Setelah sampai didalam Mansion, Damian merasa memori otaknya mulai mengenali rumahnya.


Matanya memandang kearah lantai atas, dan tangan Letisia menarik tangan Damian untuk menuntunnya naik ke lantai atas.


Perlahan Damian mengikuti tarikan tangan Letisia kearah sebuah kamar.


Letisia membuka pintu kamar tersebut, dan langsung ingatan Damian mulai mengingat sedikit tentang kamar tersebut.


"Kamar kita..baru diperbaiki!" ucapnya spontan.


Mata Letisia terbelalak tidak percaya dengan apa yang didengarnya, Damian mengingat tentang kamar utama yang direnovasi.


"Iya, benar..ini kamar kita Tuan!" ujar Letisia senang, Damian mulai ingat kembali.


Letisia menarik tangan Damian untuk masuk kedalam kamar.


Damian mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar itu, otaknya mulai mengingat sedikit demi sedikit.


Lalu melihat kearah Letisia yang membuka tirai jendela lebar-lebar, dan membuka pintu balkon.


Tapi kemudian Damian merasakan kepalanya agak nyeri, lalu menekannya karena merasa pusing.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2