
Damian memberikan kembali ponsel jadul Letisia.
Kemudian Damian memandang Letisia yang kembali menunduk, memandang ponselnya diatas telapak tangannya yang ditaruh Damian.
Perlahan Damian mengangkat dagu Letisia agar Damian bisa menatap mata Letisia.
" Sayang, kau jangan takut pada mereka lagi...kau bukan sesuatu yang harus diperlakukan rendah dan ditindas...kau adalah seseorang yang sama seperti mereka, mempunyai perasaan dan hak atas dirimu serta juga perlu dihormati...siapapun tidak boleh ada lagi yang menindasmu " kata Damian dengan suara yang tenang dan lembut.
Damian mengelus pipi Letisia dengan lembut, memainkan jempolnya mengelus sudut bibir Letisia.
Aroma tubuh Letisia terasa terhirup hidung Damian, menenangkan otak Damian yang tadi ingin meledak karena emosi.
" Sayang...aku sungguh tidak menyangka mendengar semua kata-kata kasar adik angkatmu tersebut " kata Damian masih dengan suara yang lembut.
Damian menarik tengkuk Letisia, lalu membenamkan wajah Letisia ke dadanya yang bidang.
" Seperti itukah perlakuan yang kau terima dari seorang adik angkat, membuat aku ingin menampar mulutnya yang kasar itu " kata Damian pelan didekat telinga Letisia, seraya mengelus lembut punggung Letisia.
Damian kembali merenggang kan pelukannya, menatap wajah Letisia yang masih tidak bersemangat.
" Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan keluar? supaya suasana hatimu tenang?" tanya Damian mengusulkan.
Semenjak Damian mengetahui perasaannya pada Letisia, dia belum pernah mengajak Letisia untuk jalan-jalan keluar pada siang hari.
" Tidak Tuan, kita disini saja...lagi pula tangan Tuan belum sembuh, kalau sudah sembuh baru kita pergi keluar untuk jalan-jalan " kata Letisia, lalu menoleh memandang tangan Damian yang belum sembuh total.
__ADS_1
Sudah beberapa hari Damian tidak pergi kekantor, semua urusan kantor diserahkan pada asistennya Jeson.
" Baiklah kalau begitu...tapi aku tidak tahu bagaimana untuk membuatmu tidak banyak pikiran, apakah aku perlu sekarang memerintahkan Jeson untuk menyuruh seseorang pergi kerumah orang tua angkatmu yang sudah mencampakkan dirimu itu untuk memberikan mereka pelajaran?" tanya Damian dengan nada yang lembut.
Jempolnya mengelus pipi Letisia dan perlahan mengelus sudut bibir Letisia yang membuat dia dari tadi menahan dirinya untuk mengecup bibir Letisia.
" Biarkan saja mereka Tuan, aku sudah bukan anggota keluarga mereka lagi " kata Letisia memandang wajah Damian.
Letisia tidak terlalu memperhatikan wajah Damian tadi, ada sesuatu yang menempel di pipi bagian rahang Damian.
Perlahan jemari Letisia mengelus pipi Damian untuk menyingkirkan benda tersebut.
Tindakan Letisia tersebut malah disalah artikan Damian, sontak membuat tubuh Damian membeku ditempatnya.
Dadanya berdebar-debar tidak percaya, jemari Letisia yang sudah mulai terasa lembut karena obat oles yang diberikannya menghilangkan kapalan dan luka ditangan Letisia, membuat Damian sangat bahagia.
Tindakan Letisia seperti ini yang selalu ditunggu Damian, sentuhan tangan Letisia membelainya.
" Sayang " gumam Damian tercekat, dipandangnya mata Letisia yang indah dengan perasaan yang begitu bahagia.
Damian menatap bibir Letisia tidak berkedip, elusan jemari Letisia di pipinya membuat dia ingin mencium bibir Letisia.
Perasaannya begitu bahagia, hingga ingin meledak rasanya karena tidak tahu mau bagaimana untuk mengungkapkannya.
Perlahan tangan Damian menarik tengkuk Letisia, matanya tidak lepas menatap bibir Letisia yang dirindukan nya.
__ADS_1
Sementara Letisia merasa heran dengan benda yang menempel dipipi Damian tersebut, kenapa tidak bisa lepas dari sana.
Dia semakin mengelus daerah benda tersebut agar jatuh, mata Letisia nanar melihat benda yang dikira Letisia bisa untuk dilepas.
Tanpa sadar Letisia memajukan wajahnya untuk melihat lebih jelas sesuatu yang menempel tersebut.
Dan Damian semakin yakin kalau Letisia juga ingin merasakan ciumannya pada bibir Letisia, membuat Damian semakin bersemangat.
Perlahan Damian memiringkan wajahnya untuk mengecup bibir Letisia.
Setelah dekat Letisia baru tahu ternyata benda tersebut adalah luka kecil yang sudah mengering, dan sedikit bergumpal karena kulitnya yang menutup menimbulkan kerak kulit kering yang mengeras.
Damian akhirnya menempelkan bibirnya pada bibir Letisia, dan memejamkan matanya untuk menikmati kelembutan bibir Letisia.
Sementara Letisia terkejut merasakan bibirnya telah menempel pada bibir Damian.
Apa karena dia terlalu dekat untuk melihat benda yang dia kira sesuatu yang menempel dipipi Damian, sehingga tanpa sadar bibirnya menempel pada bibir Damian.
Itu yang dipikirkan Letisia.
Letisia merasakan bibirnya dikulum Damian, dan membuat Letisia membeku ditempatnya.
Tidak tahu entah kenapa dia tidak ingin mendorong tubuh Damian, jemarinya yang masih menempel di pipi Damian, tanpa sadar bergerak seolah mengelus pipi bagian rahang Damian yang tegas.
Dan itu membuat Damian semakin dalam mengulum bibir Letisia.
__ADS_1
Tengkuk Letisia semakin dia tarik lebih merapat lagi padanya.
Bersambung.....