
Janet melepaskan pelukannya setelah merasa Donald sudah tenang, mendongakkan wajahnya menatap Donald.
"Apakah kau sungguh-sungguh tidak masalah kalau para penggemarmu melihat kita jalan didepan umum?" tanya Janet memastikan keputusan Donald tentang hubungan mereka, yang menurut Janet tidak akan bisa berjalan mulus.
"Kenapa kau meragukanku, aku serius dengan hubungan kita, untuk apa aku sembunyikan pasanganku hanya karena aku seorang Aktris?" ujar Donald menatap mata Janet dengan lekat.
"Donald, aku seorang wanita yang tadinya Pembantu dirumah kakakmu..apa itu tidak memalukan bagimu?" tanya Janet untuk memastikan lagi perasaan Donald yang sebenarnya, agar dia mempertimbangkan lagi, karena ini berkaitan dengan nama baiknya sendiri.
"Cukup Janet, jangan kau tanya lagi pertanyaan yang sama itu berkali-kali..aku tidak perduli kau seorang bekas Pembantu kakakku, aku dan keluargaku menerimamu itu sudah cukup...tidak perlu restu dari orang banyak, yang menjalani kehidupan rumah tangga kita, hanya kita berdua, dan yang menafkahi keluargaku nantinya adalah aku...tidak penting pandangan orang lain, ini antara kau dan aku, mengerti?"
Mata Janet berkedip menatap Donald, Janet tidak percaya mendengar perkataan Aktor tampan itu.
Cara bicara Donald sungguh dewasa, itu sangat menggugah hati Janet, hatinya terasa meleleh merasa terharu dengan cara pandang Donald tentang hubungan mereka.
Deg! deg! deg!
Jantung Janet berdebar-debar, wajah Donald terlihat begitu tampan dalam tatapan Janet.
__ADS_1
Selama ini Janet tidak begitu mengamati ketampanan Donald, sebagai Pembantu tentu saja itu tindakan yang sungguh lancang mengamati wajah adik majikannya.
Dengan jarak dekat begini baru Janet dapat melihat dengan jelas wajah Donald, ternyata sungguh sangat tampan, dan memiliki tubuh yang tinggi.
Jantung Janet terasa semakin berdebar, apakah aku mulai jatuh cinta padanya? bisik hati Janet tidak mempercayai apa dirasakannya sekarang.
Perlahan jemari Donald mengelus pipi Janet.
"Kenapa? apakah kau tidak percaya dengan apa yang kukatakan?" tanya Donald menatap mata Janet dengan lekat.
Tapi, kenapa saat ini suara Donald begitu sangat mendebarkan, dan tanpa Janet sadari lututnya tiba-tiba terasa gemetar.
Janet bingung dengan dirinya yang tiba-tiba seperti bukan dirinya sendiri, kembali mata Janet berkedip menatap Donald.
A..apakah aku bermimpi? disukai seorang Aktor tampan dan masih muda lagi, astaga! ada apa dengan diriku, aku perawan tua disukai seorang lelaki muda, hati Janet berbisik dengan berbagai perkataan yang membuat dia merasa bukan dirinya.
Ya, Janet mulai menyukai Donald, dan dia baru menyadari, kalau umur bukan patokan membuat seseorang terlihat dewasa, tapi cara berpikir orang tersebutlah yang membuat seseorang itu terlihat dewasa.
__ADS_1
"Janet!" mata Donald menelusuri manik mata Janet yang sepertinya merasa, kalau Janet tidak menyetujui apa yang dikatakannya barusan.
Perlahan tangan Janet bergerak diluar kesadarannya, mengelus pipi Donald dengan lembut. Dan, perlahan diluar kendalinya Janet berjinjit, menarik tengkuk Donald untuk menunduk.
Janet memejamkan matanya, lalu mengecup bibir Donald dengan lembut.
Donald membeku di tempatnya merasakan bibirnya dikecup Janet, jantungnya berdegup kencang, hatinya begitu bahagia, ternyata Janet menyimak apa yang dikatakannya tadi, dan menerima dirinya apa adanya.
Oh, tidak! itu sebenarnya kata-kata untuk Janet, mencintai Janet apa adanya, tapi Donald merasa kata-kata itu ingin ditujukan padanya.
Donald tersenyum dalam hati memikirkan perkataan yang barusan melintas di otaknya.
Donald melingkarkan tangannya ke pinggang Janet, dan membalas ciuman Janet, menyesap bibir Janet yang terasa manis. Menyusupkan lidahnya mencari lidah Janet, dan memilinnya dengan lembut.
Mereka berciuman didalam kamar ganti tanpa perduli dengan Manajer butik yang sedari tadi menunggu mereka untuk keluar dari kamar ganti tersebut.
Bersambung......
__ADS_1