Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya

Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya
Part 118.


__ADS_3

Mereka menghabiskan makan malam mereka sambil sesekali mengobrol.


"Tuan, Nyonya besar tadi memberikan ini untuk anda berdua..Nyonya Annabelle berpesan ini harus rutin untuk diminum setiap hari!" Bibi Lina masuk kembali ke ruang makan membawa dua gelas minuman.


"Apa ini?" tanya Damian melihat dua gelas yang diberikan Bibi Lina kepada mereka berdua.


"Vitamin untuk vitalitas Tuan!" jawab Bibi Lina tanpa sungkan, suaranya terdengar begitu tenang.


Wajah Letisia langsung memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Bibi Lina tersebut, dia langsung tersedak meminum susu hangatnya.


"Uhuk..uhuk..uhuk!"


Damian langsung berdiri menghampiri Letisia, dengan pelan dia menepuk-nepuk punggung istrinya.


"Pelan-pelan minumnya sayang." Kata Damian lembut.


Bibi Lina meletakkan dua gelas minuman vitamin yang telah diseduhnya tersebut keatas meja.


"Ini harus diminum selagi hangat, agar reaksinya bagus untuk tubuh Tuan..silahkan Nona!" Bibi Lina dengan tenangnya memberikan satu gelas didepan Letisia.


Setelah itu, Bibi Lina beranjak dari ruang makan tersebut.


Damian mengambil ponselnya dari dalam sakunya, lalu menekan satu nomor dilayar ponselnya.


"Mama..ini minuman apa kau berikan kepada kami!" sahut Damian begitu ponselnya diangkat dari seberang sana.


"Diminum ya..itu vitamin untuk vitalitas kalian..kalian harus cepat memberikan aku cucu, diminum setiap hari ya..kalau sudah habis, beritahu sama Mama..biar Mama beli lagi!" seru suara Ibu Damian dari seberang sana dengan suara yang kencang, sampai Damian harus menjauhkan ponselnya dari telinganya.


Wajah Letisia sudah merah, semakin merah saja mendengar apa yang dikatakan Ibu mertuanya tersebut.


Damian langsung mematikan ponselnya begitu Ibunya selesai berbicara.


Damian melihat wajah istrinya yang sudah terlihat memerah mendengar apa yang dikatakan oleh Ibunya tadi.

__ADS_1


Senyuman Damian langsung merekah begitu senang, melihat istrinya tersipu mendengar apa yang dikatakan Nyonya besar Annabelle.


"Sayang..Mama meminta cucu, kita harus meminum ini..Mama kalau tidak dituruti bisa bahaya, dia akan ribut mendesak kita terus untuk memberikannya cucu!" kata Damian meraih gelas yang diberikan Bibi Lina tadi.


Damian meminum vitamin tersebut dengan sekali teguk.


"Minum punya mu sayang.."


"I..iya!" jawab Letisia dengan wajah yang merah, dan dengan malu-malu meraih gelas minuman vitamin tersebut.


Lalu meneguknya dengan pelan-pelan, ada rasa pahit di minuman itu, membuat Letisia berjengit mengerutkan keningnya menahan pahit.


Senyuman Damian semakin merekah melihat wajah istrinya yang tidak tahan dengan minuman tersebut.


"Mau permen sayang?" tanya Damian menawarkan permen untuk mengurangi pahit dilidah istrinya.


"Tidak usah..aku tahan!" kata Letisia meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas meja.


"Bagus sayang..itu bagus untuk tubuhmu agar tidak cepat lesu."


Damian mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya berdiri.


Letisia memberikan tangannya dipegang oleh Damian, dan mengikuti langkah suaminya itu keluar dari ruang makan.


Di ruang tengah Jenson tampak terlihat didekat tangga berdiri menunggu Damian dan Letisia.


"Tuan, saya mau melapor!" sahut Jenson.


"Mari ke ruang kerjaku!" kata Damian, lalu melangkah menuju ruang kerjanya seraya masih menggenggam tangan istrinya, membawanya untuk ikut mendengar laporan Jenson.


Damian membuka pintu ruang kerjanya, mereka kemudian masuk.


Damian kemudian duduk di kursinya, dan menarik Letisia untuk duduk di pangkuannya.

__ADS_1


"Eh..!" Letisia sontak menahan tubuhnya untuk duduk dipangkuan Damian, dia tentu saja malu karena ada Jenson bersama mereka.


"Kemari sayang..!" Damian menarik tangan Letisia lagi.


"Sayangku..malu, ada Jenson!" kata Letisia mengingatkan Damian, bahwa ada orang lain bersama mereka.


"Tidak apa-apa..kemarilah!" Damian semakin menarik lagi tangan Letisia, lalu mengangkatnya ke pangkuannya.


Wajah Letisia begitu merah menahan malu dilihat Jenson.


"Katakan..!" sahut Damian, lalu memeluk pinggang istrinya tersebut.


Letisia terpaksa diam saja tidak ingin berontak lagi, dia membiarkan saja apa yang dilakukan oleh suaminya itu.


"Hendra Augustine tidak terima dituduh menyewa seseorang untuk menabrak anda..saya sudah menahannya dikantor polisi untuk mencari bukti, bahwa dialah dalang dibalik kejadian anda ditabrak sepeda motor tersebut!" kata Jenson menjelaskan laporannya.


"Baiklah, besok kita kekantor polisi..dan siapkan laporan lainnya untuk menuntutnya atas penelantaran anak, kau bicarakanlah malam ini pada pengacaraku, agar berkas-berkasnya diselesaikan malam ini juga!" sahut Damian dengan nada yang tegas.


"Baik Tuan..kalau begitu saya permisi dulu!" kata Jenson, lalu setelah selesai bicara, dia pun keluar dari ruang kerja Damian.


Tinggallah Damian dan Letisia didalam ruang kerja Damian.


Tangan Damian mengelus punggung Letisia dengan lembut, lalu mengecup kening istrinya.


"Sayang..besok aku akan mengurus masalah Papa angkatmu, aku ingin dia mengakui kesalahannya..dan meminta maaf padamu!" Damian memeluk istrinya dengan sayang.


Letisia hanya mengangguk saja, dia tidak tahu mau mengatakan apa pada Damian.


Suaminya itu sudah begitu banyak menolongnya, dia sangat beruntung akhirnya menyadari kalau suaminya adalah penolongnya.


Letisia merebahkan kepalanya ke dada bidang suaminya, dan melingkarkan tangannya memeluk tubuh Damian.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2