Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya

Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya
Part 39.


__ADS_3

Leticia menyiapkan sarapan Damian, dan membawanya keruang makan.


Meletakkan makanan tersebut di atas meja makan.


"Silahkan Tuan" kata Letisia mempersilahkan Damian untuk sarapan.


Damian dengan patuh duduk di kursinya.


Leticia menaruh gelas jus Damian dihadapan pria itu.


"Sarapan lah bersamaku!" sahut Damian.


"Maaf Tuan, aku sudah sarapan dengan Bibi Lina dan dengan yang lainnya" kata Letisia sembari menundukkan kepalanya sedikit dengan sopan.


"Silahkan menikmati sarapan anda Tuan, permisi" sahut Leticia lagi, lalu undur diri dari ruang makan tersebut.


Leticia meninggalkan Damian di ruang makan.


Damian diam ditempat duduknya, memandang sarapannya tidak bernafsu.


Ruang makan terasa sunyi, Damian merasa tidak memiliki semangat.


Dia tidak menyentuh sarapannya, pikirannya berputar bagaimana caranya untuk berbaikan pada Leticia.


Damian harus membuat rencana untuk mengawali hubungannya dengan Leticia.


Merasa mendapat ide, Damian mengambil ponselnya.


Lalu mengetik chat, dan mengirimnya ke satu nama.


Damian yakin rencananya ini pasti akan berhasil.


Damian kemudian mulai mencicipi sarapannya, ia tampak bersemangat tidak seperti tadi.


Sore harinya Leticia dipanggil oleh Janet untuk menerima telepon dari Nyonya besar, yakni Ibunya Damian.

__ADS_1


Ada apa ya? pikir Leticia, gadis itu merasakan seperti ada sesuatu yang tidak beres.


Leticia mengangkat gagang telepon.


"Halo!" ucapnya


Dan terdengar lah suara teriakan dari seberang sana.


"Leticia...ini Mama mertua, nanti malam datanglah ke rumah Mama ya, katakan pada suamimu untuk datang juga ya, si Damian putraku yang tidak tahu diri itu sudah lama tidak datang melihatku!!"


Leticia termangu diam ditempatnya berdiri, dia tidak tahu mau menjawab apa.


"Menantuku, apa kau masih di sana?!" suara itu terdengar lagi dengan kencang.


"Iya Nyonya, aku masih disini!" jawab Leticia.


"Aduh...jangan panggil aku Nyonya, panggil Mama saja seperti Damian memanggil ku!"


Leticia diam saja tidak menjawab perkataan Ibu Damian tersebut.


Leticia tambah pening mendengar perkataan Ibu Damian tersebut, Leticia harus beradaptasi lagi dengan keluarga Damian yang lain.


Leticia memijit pelipisnya, gadis itu merasa semakin sulit untuk membebaskan diri dari Damian.


"Menantuku...!!" teriak suara dari seberang telepon lagi.


"I..iya Nya!" jawab Leticia dengan kencang juga.


"Oke ya...aku tunggu!"


Klik!


Telepon terdengar di tutup.


Leticia berdiri mematung ditempatnya memandang telepon yang sudah ditutup.

__ADS_1


Perlahan Leticia meletakkan gagang telepon ke tempatnya.


Dengan tidak bersemangat Leticia kembali ke paviliun.


Janet, Dona dan Bibi Lina tidak digubrisnya menanyakannya apa yang terjadi.


Leticia duduk melamun di paviliunnya.


Mau cari alasan apa nanti agar tidak ikut ke rumah Ibu Damian.


Tanpa terasa jam berjalan, dan sudah waktunya Damian pulang dari kantor.


Leticia tidak ingin bertemu Damian, dia masuk ke kamarnya dan mengurung diri di sana.


Dia akan pura-pura tuli kalau ada yang memanggilnya nanti.


Leticia bermain game di ponselnya.


Lima belas menit dia bermain game, perasaannya tidak tenang.


Pesan Ibu Damian harus disampaikan, seharusnya dia tadi beritahukan pada Bibi Lina, untuk menyampaikan pesan Ibu Damian kepada Damian.


Leticia masih tetap bermain game, tetapi pikirannya tidak fokus.


Akhirnya dia menyerah, dia merasa bersalah.


Leticia menghentikan bermainnya.


Gadis itu meletakkan ponselnya ditempat tidur, setelah itu ia ragu akan turun dari tempat tidurnya.


Kira-kira ada lima menit Leticia berpikir sambil menggigit ujung kukunya.


Akhirnya dia putuskan untuk memberitahukan pesan tersebut kepada Damian.


Leticia memakai sandalnya, lalu bergegas membuka pintu kamar.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2