
Letisia tidak tahu mau bicara apa lagi pada Damian, sepertinya dia memang tidak punya hak lagi atas dirinya sendiri.
Dirinya diadopsi oleh orang tua angkatnya hanya untuk sebuah alat, yang dipergunakan untuk kepentingan orang tua angkatnya.
Letisia menghela nafas dengan berat, beban pikirannya terasa sangat berat.
Dia ingin menangis, tapi air matanya tidak mau keluar.
Damian masih memeluk Letisia dan mencium puncak kepalanya, mengelus punggung Letisia dengan perlahan.
" Surat kontrak yang telah kita tanda tangani akan ku robek...kita jangan lagi membicarakan tentang masalah surat kontrak itu, masalahmu sekarang adalah masalahku juga...kau boleh menanyakan kemana aku pergi, dengan siapa aku pergi, kenapa malam sekali pulang, dan kau bebas melakukan apapun dirumah ini...karena kau adalah Nyonya rumah ini " kata Damian dengan suara yang tenang.
Tok! tok! tok!
Terdengar pintu kamar ada yang mengetuk.
Dan kemudian pintu kamar terbuka, muncullah wajah Jeson dari balik pintu yang terbuka.
" Ada apa?" tanya Damian.
__ADS_1
" Tuan, masalah..." Jeson menghentikan ucapannya saat melihat Letisia ternyata ada juga didalam kamar.
" Katakan saja...istriku mulai sekarang boleh mendengarkan apa yang kita diskusikan...dia bukan orang lain, dia Nyonya rumah ini " kata Damian.
" Tidak Tuan, aku akan keluar...kalian bicaralah " kata Letisia melepaskan diri dari pelukan Damian.
" Tidak, tetap bersamaku sayang " kata Damian menahan Letisia yang akan pergi.
Letisia terpaksa duduk kembali, dan membiarkan Damian menarik dirinya merapat ketubuh Damian.
" Katakan.." sahut Damian pada Jeson.
" Tuan Hendra tidak terima kalau hutangnya ditagih lagi...dia mengatakan telah menyerahkan Nyonya Letisia, dan anda telah setuju bahwa hutang Tuan Hendra lunas dengan menyerahkan Nyonya Letisia " kata Jeson melaporkan apa yang sebenarnya akan dikatakannya pada Damian.
" Dia tidak mau, baiklah...jalankan rencana B, aku mau dia mau bicara apa lagi...kalau dia masih menyinggung Letisia sebagai pelunas hutangnya...jangan salahkan aku kalau tidak akan sungkan lagi membuat dia siap-siap bangkrut!" kata Damian dengan aura yang tajam mendominasi.
" Istriku bukan barang...dia sebagai orang tua menelantarkan putri yang diadopsinya, aku akan membuat dia merasakan bagaimana rasanya menderita!" kata Damian lagi dengan nada penuh kebencian.
" Baik Tuan " angguk Jeson patuh, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit dengan sopan, lalu mundur meninggalkan kamar tersebut.
__ADS_1
Kepala Letisia terasa sakit memikirkan masalah hidupnya yang penuh dilema, sungguh miris.
" Apakah anda akan lanjut sarapan lagi Tuan? sup nya sudah dingin, atau aku akan panaskan lagi?" kata Letisia mencoba untuk mengalihkan beban pikirannya.
Dia tidak ingin lagi membahas mengenai hutang Ayah angkatnya tersebut, perasaannya nanti semakin tidak enak dan membuat dia terus memikirkannya.
" Tidak mau lagi..aku sudah kenyang, aku ingin jalan-jalan dengan mu ditaman belakang Mansion...bolehkah sayang?" tanya Damian, dia perlu udara segar.
Dia ingin marah mendengar laporan Jeson tadi yang membuat dia kesal.
" Baiklah " kata Letisia, lalu menaruh mangkuk dan gelas kosong bekas sarapan Damian ke atas nampan.
Letisia akan membawanya kedapur, baru setelah itu akan menemani Damian ke taman belakang Mansion.
Damian mendorong penyanggah infusnya keluar dari kamar, dan diikuti Letisia mengekor dibelakang Damian.
Perlahan Letisia mengikuti Damian menuruni tangga, dan melangkah dengan hati-hati karena membawa nampan berisi mangkuk dan gelas.
" Aku akan menaruh nampan sebentar kedapur Tuan " kata Letisia, lalu berjalan melewati Damian menuju kearah ruang dapur.
__ADS_1
Damian malah mengikuti langkah Letisia kearah dapur, dia merasa tidak bisa lepas dari Letisia.
Bersambung.....