
Jenson membawa Damian kerumah sakit terdekat, agar Damian dapat dengan segera mendapat perawatan.
Letisia tidak berhenti menangis melihat keadaan Damian yang mengenaskan, tubuhnya sampai gemetar ketakutan melihat Damian mengeluarkan banyak darah.
Sekarang dia menyadari apa arti Damian dihidupnya, seseorang yang memperdulikan dirinya semenjak Damian minta maaf padanya.
Dan kini Letisia sadari juga, kalau Damian adalah satu-satunya yang sangat perduli dan juga mencintainya.
"Sepertinya pasien mengalami luka yang panjang, harus dijahit!" kata Dokter UGD begitu melihat kondisi Damian yang ditaruh diatas Brankar
Letisia semakin menangis melihat tubuh Damian yang didorong diatas Brankar menuju ruang UGD dengan tidak sadarkan diri.
Dada Letisia rasanya sakit sekali melihat itu semua, perasaannya sangat sedih sekali.
Dia merasa kalau Damian seakan-akan tidak dapat bangun lagi, dan itu membuat air mata Letisia semakin banjir membasahi pipinya.
" Tenang Nyonya, Tuan Damian sudah ditangani, mudah-mudahan Tuan tidak mengalami luka dalam!" ujar Jenson untuk memenangkan Letisia yang terus menangis.
Mereka berdua menunggu diluar ruang UGD, Jenson terlihat berusaha untuk tenang.
Sementara Letisia sudah begitu gelisah, perasaannya tidak tenang menunggu Dokter untuk keluar dari ruang UGD.
Kira-kira sekitar satu jam kemudian pintu ruang UGD terbuka, dan Dokter yang menangani Damian keluar beserta tiga perawat mendorong Brankar.
__ADS_1
Letisia dengan cepat bangkit dari bangku tunggu, dan melihat ke Brankar yang berisi Damian berbaring tidak sadarkan diri.
Dan telah berganti baju pasien.
"Bagaimana dengan keadaan suami saya Dok?" tanya Letisia dengan cemas.
"Tenang Nyonya, keadaannya tidak begitu fatal..lukanya sudah di atasi!" kata Dokter.
Jenson menyerahkan pada Dokter surat rujuk untuk masuk ruang VIP bagi pasien khusus.
Dokter dan perawat kemudian membawa Damian masuk ruang VIP, diikuti oleh Letisia dan Jenson.
Damian kemudian berganti tempat tidur setelah masuk ke ruang VIP, lalu perawat memberikan infus pada Damian.
Setelah Damian ditangani dengan baik dan diberi infus, Dokter dan beberapa perawat pun meninggalkan ruang kamar rawat Damian.
"Iya, pergilah!" ujar Letisia.
"Baik Nyonya!"
Jenson kemudian meninggalkan ruang rawat Damian.
Letisia menarik satu kursi untuk duduk didekat tempat tidur pasien, mata Letisia sudah membengkak karena menangis dari tadi.
__ADS_1
Dia begitu ketakutan melihat kondisi Damian yang mengenaskan, tubuhnya sampai sekarang masih terasa gemetar.
Letisia merasa sebagian hidupnya diambil, sakit sekali rasanya.
Tanpa Letisia sadari, dia merasa tidak rela kehilangan Damian, hati nuraninya mencair melihat tubuh Damian yang terlempar beberapa langkah saat ditabrak sepeda motor tadi.
Seolah jantungnya diambil dari tubuhnya.
Letisia menyentuh tangan Damian dengan lembut.
"Tuan, maafkan aku..seharusnya tadi aku tidak pergi meninggalkan mu" kata Letisia dengan suara bergetar, kembali dia menangis lagi.
Bahunya berguncang menangis diam-diam, lalu mengecup tangan Damian yang dipegangnya dengan lembut.
Lalu mengelus kepala Damian dengan lembut, dan kemudian turun mengelus pipi Damian.
Air mata terus saja mengalir ke pipinya, perlahan Letisia bangkit dari duduknya dan mengecup pipi Damian.
"Semoga anda baik-baik saja Tuan, maafkan aku" gumam Letisia dengan lembut ke telinga Damian.
Letisia kembali duduk, dia merasa sangat capek karena menangis terus.
Dia mengambil tissu dari meja pasien disamping tempat tidur, dan mengelap air matanya yang membasahi pipinya sampai kering.
__ADS_1
Letisia duduk di kursi disamping tempat tidur pasien sambil menggenggam tangan Damian, sampai dia tidak sadar tertidur karena terlalu capek menangis.
Bersambung......