
Donald semakin meradang melihat Janet yang dengan cueknya memberikan piring dessert pada seorang bawahan Damian yang ingin mengambil piring dessert dari atas meja.
Wajah Donald semakin gelap melihat senyuman manis Janet, membalas ucapan terimakasih pria itu menerima piring yang diberikan oleh Janet padanya.
Cukup sudah, aku sudah tidak tahan melihat dia mengumbar keramahannya pada setiap lelaki! bisik hati Donald begitu dongkolnya.
Dengan cepat Donald berjalan menuju ke arah Janet, lalu dengan cepat tangan Janet ditarik Donald dan membawanya kehadapan Ibunya.
"Ma..bawa Janet bekerja dirumah kita, aku mau dia bekerja dirumah kita!" sahut Donald dengan nada yang kesal, karena Janet yang terlalu ramah kepada siapa saja.
"Hei..apa maksudmu, kenapa kau mengambil Pembantuku seenaknya!" sahut Damian.
"Kakak brengsek! kau sengaja mengadakan pesta yang tidak berguna ini, iya kan?" teriak Donald mulai emosi.
"Apa maksudmu, aku ingin menyenangkan para bawahanku..apa masalahmu, kenapa kau marah dan menarik tangan Pembantuku, apa kau menyukainya?" sahut Damian tidak mau kalah berteriak juga, dia sengaja membuat Donald semakin panas, Damian ingin mengetahui isi hati adiknya tersebut.
"Iya benar! kau puas? kau memang menjengkelkan kak!" teriak Donald tanpa bisa menahan apa yang ada mengganjal di hatinya, dia pun meledak tanpa bisa mengerem bicaranya yang keluar begitu saja.
__ADS_1
Semua orang yang mendengar teriakan Donald tersebut terbelalak kaget, kecuali Damian, Letisia, Annabelle dan Amira.
Mereka sudah mengetahui isi hati Donald, saat Donald menarik tangan Janet tanpa sungkan didepan semua orang.
"Semenjak kapan kau menyukai Janet?" tanya Annabelle memandang putra bungsunya tersebut.
"I..itu, pokoknya aku menyukainya, sejak kapan tidak penting..Mama harus membawa Janet malam ini ke rumah kita!" sahut Donald tidak ingin memberitahukan sejak kapan dia menyukai Janet.
"Tidak boleh, Janet asisten istriku..dia tidak boleh kau bawa!" sahut Damian semakin membuat adiknya itu mengganas.
"Mama..!!" teriak Donald dengan kencang.
"Jangan tanya pendapatnya Ma..dia pasti menolak, bawa saja tidak perlu ditanya lagi!" sahut Donald semakin menggenggam erat tangan Janet.
"Kau sungguh konyol kak, tentu saja dia harus ditanya, apakah mau ikut dengan kita, jangan seenaknya saja membawa orang tanpa mendengar apa keputusan darinya!" sahut Amira ikut menimpali, kakaknya itu sudah begitu dimabuk cinta, sampai ingin membawa Janet begitu saja.
Donald memandang Janet, meremas tangan Janet menyalurkan perasaannya melalui remasan tangannya, agar Janet mau ikut dengan mereka.
__ADS_1
"Begini saja, bagaimana kalau kalian menikah saja, kalau kau memang sudah menyukai Janet..apa lagi yang harus ditunggu!" sahut Annabelle tiba-tiba.
"Tidak! tunggu!!" teriak Janet, dan sekali sentak Janet menarik tangannya dari genggaman tangan Donald.
Sontak Donald waspada mendengar teriakan Janet tersebut, Janet pasti tidak ingin pergi dengannya.
"Aku tidak mau, aku tidak menyukai Donald, Maaf Nyonya!" kata Janet pada Annabelle dengan jelas.
Benar saja! mendengar jawaban Janet itu, tentu saja Donald kembali meradang, hatinya begitu sakit mendengar Jawaban Janet.
Annabelle melihat perubahan pada wajah putranya itu, begitu kecewa dengan jawaban Janet, ada perasaan sedih dimatanya.
"Rasa suka perlu proses Donald, jangan paksakan perasaan Janet yang tidak menyukaimu!" sahut Annabelle menepuk lengan putra bungsunya tersebut.
"Janet..tinggal saja dirumah Mama mertua untuk sementara, agar kalian bisa saling mengenal satu sama lain!" sahut Letisia menimpali memberi usul.
Janet memandang Letisia dengan lekat, dia merasa curiga juga dengan Nyonya mudanya tersebut.
__ADS_1
Curiga kalau pesta ini sengaja dirancang oleh kedua Majikannya tersebut untuk mendekatkan dirinya dengan Donald.
Bersambung....