Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya

Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya
Part 107.


__ADS_3

Letisia merasa heran melihat wanita yang bernama Elena itu, tiba-tiba memandang kearahnya dengan tatapan tajam.


Dan, dengan berani Letisia membalas tatapan Elena tersebut.


Elena masih memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan Ayahnya, semakin tajam menatap Letisia.


Ada percikan benci dan marah dimata Elena memandang Letisia, sepertinya dia dendam kepada Letisia yang telah berhasil mengubah pribadi seorang Damian.


Letisia dengan berani mengangkat sedikit dagunya, memberi isyarat pada Elena bahwa dia tidak takut pada Elena.


Elena sontak membelalakkan matanya tidak percaya melihat Letisia yang sepertinya mengejek dirinya.


"Kau..!!" tiba-tiba Elena berteriak memandang Letisia dengan tatapan yang penuh amarah.


Letisia terlihat tenang mendengar teriakan Elena itu, dia berdiri disamping Damian begitu anggun dengan gaun putihnya yang mewah.


"Kenapa kau berteriak pada istriku..kau tidak tahu malu membuat keributan di pernikahan orang, dan mau mencoba memprovokasi istriku..kau tidak ada hak berteriak kepada istriku!!" teriak Damian marah.


"Aku benci padamu..kau perusak, kau gadis ingusan yang tidak pantas menjadi Nyonya Group Jhonson..kau sudah mencuci otak Damian, aku ingin membalasmu..aku akan membunuhmu!!" teriak Elena pada Letisia yang terlihat tenang berdiri dengan anggunnya.


"Kau berani memarahi istriku..siapa kau memangnya begitu berani memarahi istriku dan ingin membunuhnya..brengsek!!"


Plakk!!


Dengan cepat Damian melangkah menampar Elena.


"Dasar wanita murahan..kau pikir aku tidak tahu sudah berapa pria yang tidur denganmu..kau tidak layak sedikit pun untuk menghina istriku!" kata Damian dengan tajam.


Semua orang semakin terbelalak kaget, mereka mengetahui rahasia putri Group Morris yang memalukan.


Semua orang tahu, kalau keluarga Morris dikenal sebagai keluarga yang terhormat.


Dan selalu dipandang oleh umum keluarga yang sangat menjaga tingkah laku, dan dikenal sangat sopan.

__ADS_1


Tapi, malam ini semua mata melihat kejadian ini, kalau gelar yang tersemat beberapa tahun belakangan ini menyingkapkan kalau itu ternyata semuanya hanyalah palsu.


"Tidak..Damian, sayang..dengar aku..!"


Plakkk!!


Tiba-tiba Letisia menampar pipi Elena.


Tidak tahu sejak kapan dia bergerak, dan tiba-tiba sudah ada didepan Elena.


"Hanya aku yang berhak memanggil suamiku dengan panggilan 'sayang'..kau seorang yang sudah memiliki suami sungguh menjijikkan memanggil suami orang dengan panggilan 'sayang'!" kata Letisia dengan nada dingin dan datar.


Letisia memandang Elena dengan tatapan tajam, aura yang dikeluarkan tubuhnya terasa sangat kuat.


Letisia terlihat sangat marah.


Dia sangat risih mendengar wanita-wanita yang pernah dekat dengan Damian, masih saja memanggil Damian dengan panggilan yang mesra.


"Bagus sayang!" puji Damian menyukai tindakan Letisia itu, dikecupnya puncak kepala Letisia dengan mesra.


"Kau sungguh memalukan Elena..kau benar-benar telah mempermalukan keluarga kita..kau ingin membuat Group Morris bangkrut, cepat tarik paksa dia!!" teriak Ayah Elena pada anak buahnya.


Wajah Ayah Elena sudah merah padam ditonton oleh banyak orang, dan ada juga yang mengabadikan peristiwa itu dengan ponsel mereka.


Elena berontak tidak memperdulikan martabatnya lagi, yang ada rasa ingin menyingkirkan Letisia.


Amarahnya meledak-ledak, dia meneriakkan nama Letisia dengan histeris.


Plakkk!


Letisia kembali menampar Elena yang sekuat tenaga berlari menuju kearah Letisia, sebelum tangan Elena mengenai pipi Letisia.


Letisia lebih dulu melayangkan tangannya menampar Elena.

__ADS_1


"Aaaa..!!" teriak Elena tidak menyangka Letisia begitu berani kembali menamparnya.


"Sungguh memalukan!!" Ayah Elena menggeram marah.


Di tariknya tangan putrinya tersebut dengan kuat untuk pergi dari sana.


"Tidak! Damiann..!!" teriak Elena berteriak histeris memanggil nama Damian.


Damian tidak perduli dengan teriakan Elena tersebut, dia lebih memperdulikan istrinya.


Memeriksa tangan Letisia yang tadi menampar Elena, dia takut tangan Letisia sakit karena menampar wajah Elena tadi.


"Astaga..wanita itu tidak punya rasa malu sedikitpun!" bisik tamu undangan menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya dia ada kelainan..menginginkan milik orang lain, obsesi yang tidak sewajarnya!" bisik yang lain.


"Sudah terbiasa tidak pernah diabaikan dan keinginannya selalu terkabul..sifat yang angkuh dan egois sudah terbiasa dia rasakan..jadi histeris begitu dirinya diabaikan!" kata yang lain.


"Ya, benar apa yang kau katakan itu!" angguk yang lain menyetujui.


Aula akhirnya kembali normal, acara resepsi kembali berlangsung dengan tenang tanpa gangguan.


Malam semakin larut, acara resepsi pun selesai juga.


Damian sangat puas, akhirnya semu orang mengetahui kalau dia telah menikah.


Letisia banjir pujian dengan pesonanya yang cantik dan elegan.


Dan, Damian bangga mendengar pujian yang diberikan oleh kerabat, undangan dan rekan bisnisnya kepada istrinya Letisia.


Damian semakin posesif merangkul pinggang istri kecilnya itu selama resepsi berlangsung, dia tidak membiarkan seorang tamu pria pun berbicara lama dengan istrinya tersebut.


Dan, sekarang mereka bersiap-siap untuk pulang ke Mansion mereka.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2