
Letisia tidak menyadari kalau Damian mengekor mengikuti dia dibelakangnya, nampan dia letakkan di wastafel pencuci piring.
Bibi Lina yang tengah membersihkan bahan sayuran dan lauk yang akan dimasak untuk makan siang, berhenti mengerjakan apa yang dipegangnya.
Dia terbengong melihat Tuan mereka yang arogan, mengikuti istrinya dari belakang tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok istri kecilnya tersebut.
Setelah nampan diletakkan Letisia kedalam wastafel, dia pun berbalik dan...
Dukk!!
Letisia menabrak tubuh Damian yang begitu dekat dibelakangnya, otomatis wajahnya membentur dada Damian.
Letisia meringis merasakan ujung hidungnya terasa sakit membentur dada Damian yang keras.
" Oh...maaf sayang, aku terlalu dekat berdiri dibelakangmu " kata Damian memegang tangan Letisia.
Apa?! mata Bibi terbelalak tidak percaya, mendengar Tuan mereka yang arogan dengan mesra memanggil istri yang tidak dianggapnya selama ini dengan panggilan 'sayang'.
" Apakah sakit?" tanya Damian dengan suara lembut, tangan kirinya mengelus ujung hidung Letisia dengan lembut.
Mata Bibi Lina semakin tidak percaya melihat betapa mesranya Tuan mereka yang arogan tersebut membelai ujung hidung istri kecilnya.
Aku tidak lihat, aku tidak lihat! bisik hati Bibi Lina menggeleng-gelengkan kepalanya, kembali menunduk melanjutkan apa yang dikerjakannya.
" Tidak terlalu sakit, ayo kita pergi " kata Letisia melangkahkan kakinya ke pintu menuju halaman belakang Mansion.
Damian mengikuti langkah kaki Letisia dengan pelan, agar bisa mengimbangi langkah kaki Letisia yang pendek.
Damian mengajak Letisia untuk duduk didekat kolam renang, ada meja bundar dan sepasang kursi disana.
__ADS_1
Mereka duduk diam tidak berbicara satu sama lain, melihat kearah kolam renang yang telah lama tidak pernah lagi Damian berenang disana.
" Kau pandai berenang?" tanya Damian.
" Tidak " jawab Letisia menggelengkan kepalanya.
" Kalau aku sudah sembuh, aku akan ajari kau berenang...sangat menyenangkan, bagus untuk meregangkan otot-otot sambil berendam didalam air, disebelah sana ada tangga yang bisa untuk duduk bersantai " kata Damian menunjuk disebelah mana ada tangga yang dia maksud.
Letisia melihat kearah yang ditunjuk Damian.
Air kolam yang bening dapat melihat tangga yang dimaksudkan Damian.
Dirumah Ayah angkatnya ada juga kolam renang, tapi dia tidak pernah berani untuk berenang, karena adik angkatnya pasti akan memarahinya.
Jadi dia tidak pernah ada berniat untuk dekat dengan kolam renang saat dirumah orang tua angkatnya.
Damian menoleh memandang wajah Letisia, melihat mata Letisia yang sepertinya melamun.
Letisia menoleh memandang ke arah Damian, memandang mata Damian yang tengah menatapnya.
" Bagaimana, apakah kau setuju kita mengadakan resepsi pernikahan kita? agar semua orang mengetahui bahwa aku telah menikah...aku tidak ingin ada lagi wanita yang mencoba untuk menggangguku "
Mata Letisia menatap Damian tidak berkedip, dia melihat mata Damian kalau suaminya tersebut bersungguh-sungguh.
Letisia tidak punya siapa-siapa didunia ini, dia tidak tahu siapa orang tuanya, dan dia sekarang sudah di buang oleh orang tua angkatnya setelah menikah dengan Damian.
Dia sebatang kara sekarang, dia mau lari juga harus punya tujuan tempat untuk dituju.
Dan dia tidak punya teman satupun, dari kecil sampai SMP dia selalu dipantau terus dengan kedua orang tua angkatnya.
__ADS_1
Ruang geraknya selalu dipantau, pulang sekolah harus langsung pulang kerumah, tidak boleh untuk berteman dengan siapapun.
Dan dia diantar jemput oleh sopir orang tua angkatnya, sehingga dia hanya tahu jalan dari rumah sampai sekolah saja.
Hari-harinya setiap hari hanya dirumah saja, bekerja dan bekerja sebagai pembantu dirumah orang tua angkatnya.
Dia tahu awal menikah dengan Damian kehidupannya sama saja tidak ada perubahan, Damian bersikap kasar padanya dan selalu membentak nya.
Hari-hari itu memang sangat menyakitkan kalau diingatnya, tapi sekarang seraya waktu berjalan Damian jadi berubah.
Damian jatuh cinta padanya, yang sampai sekarang yang tidak diketahui oleh Letisia, kenapa Damian bisa jatuh cinta padanya.
Apakah karena di malam hujan deras, saat Damian masuk ke paviliun melihat dirinya hanya memakai handuk sambil menari dan bernyanyi?
Letisia mengerjapkan matanya, dia mengalihkan pandangan nya kearah kolam renang lagi.
Dia belum mencintai Damian, belum ada perasaan tersentuh sedikitpun pada Damian.
Tapi sekarang hidupnya sudah aman bersama Damian, dan sudah diperlakukan layaknya sebagai seorang istri.
Dan Damian sekarang lebih mementingkan perasaannya, dan menjaganya dengan penuh kelembutan.
Letisia menghela nafas panjang, dia pun mengambil keputusan.
" Baiklah...mari kita adakan resepsi pernikahan kita " kata Letisia akhirnya.
Wajah Damian langsung berubah mendengar perkataan Letisia tersebut, dia tersenyum senang.
Damian terlihat begitu bahagia.
__ADS_1
Bersambung......