
Damian memijit pelipisnya merasa sangat kesal sekali dengan kata-kata sindiran Leticia tersebut.
Apakah dia pria murahan? dan tebar pesona?
Damian memikirkan perkataan Leticia barusan, dia merasa bahwa yang suka menempel padanya adalah para wanita tersebut.
Bukan karena dia tebar pesona, para wanita itu yang rela melemparkan diri kepadanya.
Sudahlah, aku memang yang salah! pikir Damian menyadari kesalahannya.
"Bersiaplah, kita makan malam di rumah Mama!" kata Damian dengan nada normal, dia tidak ingin membahas tentang para wanita murahan yang di katakan Leticia.
Damian sudah menyadari betapa bodohnya dirinya, mau saja membiarkan para wanita itu menempel padanya.
Damian memberikan paper bag pada Letisia.
"Pakai ini!"
Leticia menerima paper bag tersebut, gadis itu terlihat tidak bersemangat.
Damian melihat kalau Leticia sepertinya tidak ingin pergi.
"Ayo sana, ganti bajumu, nanti mereka menunggu kita terlalu lama!" sahut Damian dengan nada normal.
Dengan langkah tidak bersemangat, terpaksa Leticia pergi untuk memakai gaun yang diberikan Damian tersebut.
Hampir setengah jam Damian menunggu Leticia berganti baju.
Drrrt!
Ponsel Damian bergetar.
Damian mengambil ponselnya dan menekan tanda hijau.
"Halo?"
Damian mendengarkan suara diseberang sana berbicara.
__ADS_1
"Baik, besok pagi langsung datang saja kemari, aku ingin sesuai apa yang kuinginkan, aku mau istriku menyukai desain dan interiornya!"
Setelah orang yang di sana menjawab Damian, ponsel pun di matikan.
Leticia ternyata sudah selesai berganti gaun, Damian melihat Leticia berdiri tidak jauh darinya.
Gaun yang dibelikannya itu ternyata sangat cocok untuk Leticia.
Leticia terlihat tambah cantik dan imut, Damian beberapa detik diam ditempatnya, terpesona dengan penampilan istri kecilnya itu.
"Ayo!" sahut Damian.
Leticia melangkahkan kakinya mengikuti Damian.
"Sini!" panggil Damian agar mendekat padanya.
Leticia terpaksa mendekat berjalan beriringan dengan Damian.
Damian dengan langkah pelan mengimbangi langkah Leticia yang pendek.
Damian membukakan pintu mobil untuk Leticia, dan gadis itupun dengan diam mengikuti saja apa mau Damian.
"Pasang sabuk mu!" kata Damian melihat Leticia yang belum memakai sabuk pengaman.
Leticia menarik sabuk tersebut, sabuk terasa kesat, tidak bisa ditarik Leticia.
Gadis itu mencoba lagi, tidak bisa juga.
Damian datang mendekat padanya.
"Mau apa?" tanya Leticia terkejut.
"Mau membantumu memakai sabuk!" kata Damian, lalu menarik sabuk tersebut dengan gampang.
Wajah mereka berdekatan saat Damian memasangkan sabuk pengaman Leticia.
Wajah Leticia sontak memerah, mereka begitu rapat sampai Leticia bisa mencium aroma tubuh Damian.
__ADS_1
Astaga! apa aku tertular jadi mesum kayak dia? pikir Leticia mengedipkan matanya tidak percaya dengan apa yang barusan dia lakukan.
Menghirup aroma tubuh Damian.
Leticia merasakan wajahnya semakin merona.
"Sudah!" kata Damian.
Leticia buang muka menghindari tatapan mata Damian.
Damian kemudian menghidupkan mesin mobil, dan perlahan mobil pun meninggalkan halaman Mansion.
Satu jam mereka menempuh perjalanan, akhirnya sampai di rumah Ibu Damian.
Rumah Ibu Damian ternyata besar juga, pintu gerbangnya tinggi hampir sama dengan rumah Damian.
Mobil perlahan memasuki halaman rumah Ibu Damian.
Setelah mobil masuk dan diparkir kan, Damian keluar dari dalam mobil.
Lalu membantu Leticia untuk turun dari dalam mobil.
Leticia kesulitan membuka sabuknya, dengan pelan Damian membantu Leticia membukakan sabuknya.
"Terimakasih!" ucap Leticia malu-malu.
Damian tersenyum mendengar ucapan terimakasih Leticia.
"Ayo!" Damian memberikan lengannya untuk dirangkul Leticia.
Karena ini di rumah Ibunya Damian dan juga ada adiknya Damian, terpaksa Leticia menuruti untuk merangkul tangan Damian.
Damian terlihat begitu senang karena Leticia mau merangkul tangannya.
Pikiran Damian langsung merenung, ia akan sering-sering berkunjung ke rumah Ibunya, agar Leticia mau berdekatan padanya seperti ini.
Damian membawa Leticia masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Leticia terpana melihat dekorasi rumah Ibu Damian sangat indah.
Bersambung....