Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya

Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya
Part 93.


__ADS_3

Damian menyambar jasnya, lalu meraih ponselnya dari atas meja kerjanya.


Dengan langkah panjang dan tergesa-gesa dia menuju pintu kantor, dia tidak perduli lagi dengan wanita yang menangis tersebut.


Sekarang yang diperdulikan nya adalah istrinya, dia tidak perduli dengan wanita yang teronggok dilantai kantornya menangis dengan menyedihkan.


Istrinya pasti telah salah paham padanya karena keterkejutannya tadi melihat wanita itu tiba-tiba muncul didalam kantornya.


Hingga dia tidak menyadari istrinya keluar dari dalam ruang kantornya, dan pasti dengan pikiran yang salah dengan sikapnya tadi.


Sekarang cintanya hanya untuk istrinya seorang, tidak untuk siapapun, hanya untuk istrinya.


Damian meletakkan ponselnya di telinganya dengan menekannya dengan bahunya seraya dia memakaikan jasnya dengan terburu-buru.


"Cari Nyonya..apakah ada yang melihatnya tadi turun kebawah!" sahut Damian dengan suara yang tidak sabaran.


Damian menekan lift juga dengan tidak sabaran, berkali-kali dia tekan agar lift segera terbuka.


Begitu lift terbuka, Damian dengan cepat langsung masuk kedalam lift dan menekan nomor satu.


Tidak berapa lama diapun sampai di lantai bawah, dan disambut oleh Jenson.


"Tuan, tadi sekuriti ada melihat Nyonya pergi dengan menyetop taksi!" sahut Jenson.


"Hubungi kerumah apakah dia pulang kerumah!" sahut Damian dengan nada yang begitu cemas.


"Baik Tuan!"


Damian tiba-tiba teringat kalau dia telah mengambil nomor ponsel Letisia.

__ADS_1


Dengan cepat dia menekan nomor cepat di ponselnya.


Terdengar nada dering masuk, tapi tidak diangkat.


Damian mencoba terus menghubungi ponsel Letisia, tapi tetap tidak diangkat.


Mobilnya telah datang kedepan lobby pintu utama gedung, dengan tergesa-gesa Damian menghampiri mobilnya dan tanpa perlu menunggu Jenson membuka pintu mobil.


Damian langsung membuka pintu mobil dan dengan cepat masuk kedalam mobil.


"Nyonya belum pulang kerumah Tuan!" sahut Jenson dari depan.


"Sial! ponselnya juga tidak diangkat!" sahut Damian semakin khawatir.


Damian mencoba terus menghubungi Letisia tanpa berhenti.


Dan, akhirnya ponsel Damian pun terhubung.


Tanpa mematikan ponselnya, Damian memberi arahan pada Jenson untuk pergi menuju Mall yang dimaksudkan oleh Letisia.


"Jangan kemana-mana sayang, aku dan Jenson sudah mau sampai!" sahut Damian lagi seraya matanya dengan tajam melihat kedepan.


"Kau dimana sayang, kami sudah sampai!" sahut Damian mengedarkan pandangan nya ke sepanjang trotoar didepan Mall.


Damian akhirnya melihat Letisia berjalan tidak jauh dari mobilnya berhenti, dengan cepat Damian menghambur keluar dari dalam mobil.


Tiba-tiba Damian mendengar Letisia berteriak didalam ponsel, dan melihat tangan Letisia melambai ke arahnya untuk segera mundur.


"Apa?!" tanya Damian terkejut, dan...

__ADS_1


Brukkk!!


Sebuah motor dengan kecepatan tinggi menabrak Damian, dan terpental beberapa langkah kebelakang.


"Tuaann!!" jerit Letisia dengan kencang, dan kemudian dengan cepat berlari menghampiri tubuh Damian yang tergeletak diaspal dekat mobil Damian.


"Tuan!!" Jenson juga bukan main terkejut melihat Damian tiba-tiba tertabrak oleh motor yang melaju dengan kencang.


Letisia meraih tubuh Damian yang tergeletak bersimbah darah, dan pecahlah tangisannya dengan kencang.


Banyak orang berkerumun melihat Damian yang terkapar.


Jenson buru-buru menelepon seseorang, setelah itu membawa tubuh Damian masuk kedalam mobil.


Letisia dengan cepat masuk kedalam mobil dan meletakkan kepala Damian ke pangkuannya.


Tangisannya terus terdengar histeris, sembari memanggil nama Damian.


"Tuan Damian..bertahanlah, jangan mati Tuann!" sahut Letisia sembari menangis histeris.


"Tenang Nyonya..jangan panik, kita akan membawanya ke rumah sakit!" sahut Jenson, lalu dengan cepat membawa mobil menuju rumah sakit.


Letisia terus saja menangis, dia tidak percaya melihat dengan mata kepalanya sendiri, motor tadi sepertinya dengan sengaja menabrak Damian.


Dan wajah pengemudi motor tidak terlihat karena memakai helm.


"Aku sudah menelepon seseorang untuk mencari pengendara motor tersebut, jangan khawatir Nyonya!" sahut Jenson menenangkan Letisia.


Letisia mengelus kepala Damian yang bersimbah darah, tangannya juga sudah penuh dengan darah.

__ADS_1


Begitu juga dengan baju Letisia, sudah terkena bercak darah Damian.


Bersambung......


__ADS_2