
Letisia tidak bergerak di tempatnya, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukannya.
Dia berubah menjadi wanita yang kuat.
Semenjak Damian terpental ditabrak sepeda motor tadi pagi, membuat kepribadian Letisia menjadi berbeda.
Dia masih ingat, bagaimana jantungnya rasanya seperti diambil dari tubuhnya melihat Damian ditabrak dengan begitu kencangnya.
Seakan seseorang mencoba untuk membuat dia semakin menderita dengan melenyapkan Damian, dan tidak akan ada lagi yang melindungi dirinya.
Dan, itu cukup membuat Letisia terbangun dari rasa tidak percaya dirinya selama ini.
Damian sudah menyatakan cintanya kepada dirinya, dan itu adalah kunci untuk dia meraih kebahagiannya.
Dan, juga menyadarkan dirinya yang selama ini pura-pura tegar menghadapi keadaan yang dialaminya.
Peristiwa tabrak lari itu membuat Letisia menjadi serakah, tidak ingin lemah lagi.
Dia menginginkan Damian hanya untuk dirinya sendiri, karena Damian adalah suaminya.
Dan membuat dia akan mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya, tidak akan membiarkan orang lain mencoba menggertak atau pun menindasnya.
Letisia menghela nafas untuk menormalkan rasa yang mengejutkan dirinya barusan, dia sungguh tidak terduga!
"Apakah tanganmu sakit sayang, pasti wajah wanita itu sangat tebal..dia tidak tahu malu mengatakan suami orang sebagai tunangannya!" sahut Damian menarik tangan Letisia yang baru saja menampar wajah wanita cantik tadi.
"Iya Tuan..sakit sekali!" kata Letisia merengek menunjukkan telapak tangannya yang memerah.
__ADS_1
Letisia meringis dengan manja menunjukkan tangannya, sambil membuat wajahnya terlihat begitu kesakitan.
Letisia tidak tahu kenapa dia semakin berubah seperti ini, tapi, dia menyukai apa yang dilakukannya sekarang.
Mencari perhatian Damian, dan mendapat sambutan yang luar biasa dari Damian.
Damian mengelus tangan Letisia dengan lembut, dan meniupnya dengan lembut.
Letisia tersenyum senang dengan perhatian Damian tersebut, dia menikmati elusan tangan Damian dalam telapak tangan besar Damian.
"Bagaimana sayang, sudah berkurang sakitnya?" tanya Damian masih terus mengelus tangan kecil Letisia.
"Iya, sudah tidak sakit lagi!" ujar Letisia mengangguk.
"Mari istirahat, kau pasti capek..dan besok kita pulang saja, aku mau dirawat dirumah saja!"
"Aku tidak perlu mengingat yang lain, cukup mengingat istriku saja sudah cukup..yang lain aku tidak butuh!" kata Damian menarik Letisia merapat padanya.
"Anda mempunyai perusahaan yang harus anda pantau Tuan, anda harus ingat..puluhan karyawan dalam pengawasan anda..dan banyak pekerjaan yang akan menanti anda!"
Damian memegang kepalanya yang terasa sakit saat memikirkan apa yang dikatakan Letisia tersebut, terasa nyeri dan menggigit.
Letisia langsung panik melihat Damian yang meringis menahan sakit dikepalanya.
Dengan cepat tangannya menekan bel disamping tempat tidur pasien.
Tapi, belum sampai tangannya menekan, Damian menahan tangannya.
__ADS_1
"Jangan!" kata Damian pelan.
"Kita panggil Dokter memeriksa kepala anda Tuan, aku sudah salah terlalu memaksa Anda berpikir mengenai pekerjaan anda!"
"Sakitnya sudah hilang..jangan dipanggil Dokternya, aku masih bisa menahan sakitnya!" kata Damian merasa kalau nyeri dikepalanya sudah mereda.
"Anda yakin Tuan?" tanya Letisia dengan wajah khawatir, dia tidak percaya apa yang dikatakan oleh Damian.
"Iya sayang" ucap Damian tersenyum, dielusnya pipi Letisia lembut.
"Maaf, seharusnya aku tidak menyinggung soal pekerjaan anda..anda baru saja sadar dari pingsan, aku sungguh keterlaluan!" kata Letisia dengan suara menyesal.
"Tidak apa-apa sayang..jangan merasa bersalah, kau hanya mencoba mengingatkan aku saja, sudah jangan dipikirkan lagi..ayo kita istirahat!" kata Damian menarik Letisia untuk berbaring bersamanya.
Letisia membaringkan tubuhnya, dan membiarkan Damian memeluk tubuhnya dengan tangannya yang tidak terluka.
Damian mengecup puncak kepala Letisia dengan lembut, dia tersenyum senang.
Dalam ingatannya, Letisia tidak suka dipeluk olehnya, dan tidak pernah tidur sama dalam satu tempat tidur.
Hari ini dia merasa senang, Letisia sangat menyukai apa yang dilakukannya pada tubuh mungil istri kecilnya itu.
Damian semakin erat memeluk tubuh Letisia, aroma tubuh Letisia masih diingatnya dengan jelas, sangat menenangkan pikirannya.
Dan mereka pun tidak lama kemudian tertidur dengan nyenyak.
Bersambung......
__ADS_1