
Amira dan Rita membeku ditempatnya masing-masing, lutut mereka gemetar ketakutan.
Damian kalau sudah marah, segala sesuatu yang ada disekitarnya akan hancur dibantingnya.
"Siapa yang suruh kau untuk memerintahkan istriku pulang?" tanya Damian tajam pada adiknya dengan tatapan tajam.
"A..aku hanya bermaksud untuk membantu dia untuk menjaga kakak!" kata Amira gugup.
"Siapa yang memerintahkan istriku pulang?!" tanya Damian lagi dengan geram.
"Kak..!" Amira dengan suara memelas memanggil Damian, agar Damian tidak memarahinya.
Damian bangkit dari tempat tidur pasien, sekali sentak dia mencabut infus dari tangannya.
Amira dan Rita tersentak ditempat mereka berdiri melihat Damian mencabut infusnya.
Mereka semakin gemetar ketakutan.
Damian memakai sandal rumah sakit, lalu berjalan mendekati Rita.
"Kau yang memerintahkan adikku untuk mengusir istriku ya?!" kata Damian dengan tatapan dingin pada Rita.
"Kak...bukan Rita, aku yang menyuruh gadis itu pergi!" sahut Amira ketakutan seraya datang mendekat pada Damian.
Plakk!!!
Satu tamparan melayang ke wajah Rita.
"Aaa..!" Rita terkejut bukan main merasakan pipinya sangat panas mendapat tamparan dari Damian.
__ADS_1
"Kak..!" teriak Amira sama terkejutnya melihat Damian menampar wajah Rita.
"Aku kak...aku yang menyuruh gadis itu untuk pergi, aku hanya ingin Rita yang mengurus kakak!" jerit Amira lagi.
Plakkk!!!
Lagi-lagi Rita kena tampar oleh Damian, kali ini pipi yang satu lagi.
Sampai Rita tersungkur ke lantai akibat kuatnya tamparan Damian.
"Kakakk...maafkan aku!" Amira langsung berlutut ke lantai melihat Damian menampar kembali wajah Rita.
Amira menyadari peringatan Damian dengan menampar wajah Rita, dia menyadari kesalahannya tidak menganggap Leticia sebagai kakak iparnya.
Setiap kalimat yang Amira katakan tadi, membuat Damian semakin naik darah.
"A..aku salah telah mengusir kakak ipar, aku minta maaf kak!" sahut Amira ketakutan.
Dengan cepat tangannya meraih keranjang tersebut, dan...
Brukkk!!
Damian melempar keranjang berisi buah tersebut ke lantai.
Semua buah berserakan di lantai.
"Sungguh lancang kau! berani-beraninya kau menyuruh istriku pergi! dia adalah milikku, istriku, hanya aku yang berhak atas dia, kau hanya sebatas adikku saja, kau tidak ada hak atas istriku!" teriak Damian dengan geramnya.
Brakk!!
__ADS_1
Emosi Damian benar-benar sudah diatas maksimal, dia menendang kursi yang ada didekat tempat tidur pasien.
Damian memencet bel di dekat tempat tidur pasien tanpa berhenti.
Alhasil membuat para perawat dan Dokter kalang kabut bergegas ke kamar Damian.
"Iya Tuan..ada apa Tuan, apakah lukanya sakit?" Dokter dengan wajah khawatir masuk kedalam kamar Damian.
"Aku ingin pindah kamar lain, kamar ini tidak nyaman, dan aku tidak ingin ada kunjungan tanpa persetujuan dariku!" sahut Damian marah.
"Ba..baik Tuan!" angguk Dokter dengan patuh.
Mereka melihat kamar berantakan dan ada dua wanita yang ketakutan, Dokter tidak perlu bertanya lagi melihat pemandangan tersebut.
Dia yakin bahwa kedua wanita tersebut telah membuat Damian marah.
"Kami akan menyiapkan kamar lainnya Tuan!" kata Dokter, lalu bergegas keluar dari kamar tersebut bersama para perawat yang datang bersamanya, untuk menyiapkan kamar VVIP lainnya untuk Damian.
Damian kemudian mengambil ponselnya, lalu menekan satu nomor dilayar ponselnya.
"Cari Leticia! apakah dia sudah sampai di rumah!" kata Damian memberi perintah.
Setelah itu menutup ponselnya.
Damian memandang kedua wanita yang sedang ketakutan tidak jauh darinya.
"Kalau istriku mengalami sesuatu yang berbahaya, aku tidak akan sungkan lagi padamu walaupun kau adikku! kau perlu dikasih pelajaran!" kata Damian dengan tatapan tajam yang menakutkan.
Amira semakin ketakutan mendengar perkataan kakaknya tersebut.
__ADS_1
Sementara Rita masih meringis kesakitan menahan perih pipinya yang ditampar oleh Damian.
Bersambung.....