
Donald memeluk Ibunya untuk mengucapkan selamat juga, setelah Damian mengatakan Ibu mereka juara satu.
"Selamat Ma!" ucap Donald mengecup pipi Ibunya.
"Terimakasih putraku!" Annabelle membalas pelukan Donald.
"Ayo kita makan bersama...merayakan kemenangan Mama!" sahut Damian.
"Ah..iya benar, ayo..kita harus merayakannya!" kata Donald menyetujui apa yang dikatakan kakaknya tersebut.
Annabelle pergi bersama dengan Donald, sementara Damian membawa Letisia dan Janet.
Donald memarkirkan mobilnya direstoran yang telah Annabelle pilih untuk melakukan reservasi.
Kemudian disusul dengan mobil Damian, dengan perlahan dan pelan berhenti disebelah mobil Donald.
Mereka masuk kedalam restoran, lalu disambut oleh Manajer restoran dan membawa mereka ke ruang VIP yang telah dipesan.
Satu meja bundar dengan kursi delapan.
Damian menarik satu kursi untuk istrinya, dan mempersilahkan istrinya itu untuk duduk. Dan menarik satu kursi disebelah istrinya untuk dirinya sendiri.
Demikian juga dengan Donald, menarik satu kursi untuk Ibunya, baru menarik kursi untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Janet yang sengaja paling belakang menyusul, untuk menjaga agar suasana kecerian keluarga majikannya tidak terganggu dengan kehadirannya.
Setelah semua duduk di kursinya masing-masing, barulah Janet mendekat untuk bergabung dengan keluarga majikannya tersebut.
Letisia menarik satu kursi didekatnya untuk Janet.
"Terimakasih Nona!" ucap Janet sambil membungkukkan sedikit kepalanya dengan sopan pada Letisia.
Saat Janet akan meletakkan bokongnya ke kursi, pintu ruang VIP terbuka, dan masuklah seorang Pelayan wanita dan seorang Pelayan pria membawa makan siang mereka.
Janet membatalkan duduknya, dia ingin membantu Pelayan yang akan meletakkan makanan mereka diatas meja.
Dua troli makanan mendekat ke meja mereka, Pelayan meletakkan menu makanan yang telah dipesan oleh Annabelle sebelumnya.
"Terimakasih kak..!" ucap Janet tersenyum pada Pelayan pria yang meletakkan makanan mereka ke atas meja, dan membungkukkan sedikit tubuhnya dengan sopan.
"Sama-sama!" Pelayan itu tersenyum ramah juga pada Janet.
Brakk!
Tiba-tiba Donald membanting sendok yang ada diatas mejanya.
"Kalau mau membantu, jangan tanggung-tanggung...sekalian saja layani kami makan, bukankah itu tugas pembantu!" sahut Donald dengan suara sinis memandang Janet dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Ada apa denganmu?" teriak Damian terkejut mendengar Donald memukul meja dengan sendok, dan juga perkataan Donald yang membuat semua melongo memandangnya dengan heran.
"Pembantumu sok ramah, tebar pesona!" sahut Donald dengan nada suara yang tidak senang.
"Apa salahnya dia, itu kan insting dari dirinya yang terbiasa melakukannya dirumah kakakmu!" ujar Annabelle melotot memandang Donald.
"Berlebihan!" ketus Donald dengan wajah yang masam.
"Kau benar-benar aneh..Janet tidak melakukan hal yang berlebihan, kau yang berlebihan..kenapa kau yang tidak senang dengan keramahan Janet!" ujar Annabelle memandang Donald dengan tatapan penuh selidik.
Kedua Pelayan VIP yang mengantarkan makanan mereka, jadi terdiam ditempatnya, mereka jadi merasa takut juga.
Sebagai Pelayan VIP, mereka tahu siapa pelanggan yang makan diruang VIP. Tentu saja mereka takut membuat suatu kesalahan, karena pelanggan diruang VIP adalah pelanggan yang paling berpengaruh dan penting.
Janet merasa Donald tidak menginginkan dia untuk makan bersama dengan mereka, dia harus menyingkir agar majikannya bisa makan dengan tenang merayakan kemenangan Nyonya besarnya.
"Maaf Tuan, Nyonya..Nona, aku ke toilet dulu sebentar, silahkan anda semua makan diluan..permisi!" ujar Janet mundur beberapa langkah.
Setelah itu berbalik meninggalkan ruang VIP tersebut.
Janet mencari toilet sesuai apa yang dikatakannya, dia ingin menenangkan perasaannya sebentar ditoilet.
Bersambung.....
__ADS_1