
Annabelle masih menggenggam tangan Leticia, dari awal sejak bertemu dengan gadis imut tersebut di hari pernikahannya dengan putranya Damian, dia sudah merasa ada semacam rasa suka pada Leticia.
Ada sesuatu didasar hatinya yang begitu kuat, kalau Leticia lah yang akan mampu memberikan dia seorang cucu yang sehat.
Tapi Annabelle merasa dilema karena sifat putranya yang arogan, jadi dia merasa harapannya sangat tipis untuk memiliki cucu dari Leticia.
"Mama baru saja datang kenapa kau sudah menyuruh Mama pulang, Mama begitu khawatir denganmu, sampai tergesa-gesa datang kemari untuk melihatmu, sudah sampai disini bukannya senang Mama datang mengunjungimu?" sahut Annabelle kesal.
"Mama bukannya mengatakan pada Leticia agar baik-baik bersamaku, ini malah menyuruh aku agar bercerai dengannya, bagaimana aku tidak menyuruh Mama lebih baik pulang saja!" ujar Damian marah, dia tampak lebih kesal lagi dari Ibunya.
"Oke..baiklah, Mama sudah melihatmu tidak begitu parah, lagi pula Mama masih ada urusan, Mama pergi dulu!" sahut Annabelle.
Annabelle meraih tasnya dari atas meja pasien.
"Menantuku, Mama pergi dulu, kalau ada apa-apa beritahu pada Jenson untuk menghubungiku ya!" kata Annabelle pada Leticia sebelum pergi.
"Ba..baik Nya!" sahut Leticia mengangguk.
"Aiss...kenapa masih memanggil Nyonya lagi, panggil Mama saja!" kata Annabelle sedikit kecewa, dia merasa Leticia belum bisa menerima Damian sebagai suaminya.
"Sudahlah!" Annabelle akhirnya mengalah, tidak perduli Leticia memanggil dirinya Nyonya, "Aku pergi dulu!"
Annabelle kemudian keluar dari kamar VVIP tersebut.
Sepeninggal Ibunya Damian, suasana kamar terasa hening.
__ADS_1
Damian dan Leticia saling diam.
"Cobalah untuk belajar memanggil Mama dengan panggilan 'Mama'!" kata Damian beberapa saat kemudian.
Leticia diam saja tidak menjawab perkataan Damian.
Damian tidak mendesak Leticia untuk berusaha belajar untuk memanggil Mamanya.
"Istirahat lah, mungkin dua atau tiga hari kita di rumah sakit, tidurlah disini!" kata Damian menepuk bantal yang ada disampingnya.
Tempat tidur pasien dikamar VVIP cukup besar, bisa menampung dua orang untuk tidur.
"Aku di sofa saja Tuan!" sahut Leticia, lalu perlahan bangkit dari kursi dan berjalan menuju sofa.
"Baiklah" sahut Damian tidak ingin memaksa Leticia untuk tidur disampingnya.
Leticia juga tertidur, tapi kemudian terbangun mendengar pintu kamar pasien terbuka.
Leticia duduk tegak di sofa melihat siapa yang masuk.
Tampak adik perempuan Damian dan teman masa kecil Damian masuk kedalam kamar pasien.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Amira adik Damian tidak senang pada Leticia.
Leticia bengong mendengar perkataan Amira tersebut, dia diam saja tidak ingin menjawab Amira.
__ADS_1
"Ck!" Amira berdecak kesal melihat Leticia ada juga dikamar pasien.
Amira dan Rita mendekati tempat tidur pasien.
"Kakak tidur, letakkan saja buahnya diatas meja!" kata Amira pada Rita yang menenteng keranjang buah.
"Kau..!" sahut Amira mendongakkan dagunya pada Leticia yang masih duduk di sofa, "Pulanglah sana, aku dan Rita yang akan menjaga kak Damian, kau tidak dibutuhkan lagi disini!" sahutnya sinis.
Leticia ingin menolak apa yang dikatakan oleh Amira tersebut, tapi dia berpikir sebentar, tidak ada gunanya berdebat dengan Amira yang tidak menyukainya.
Lebih baik dia menuruti apa yang dikatakan Amira, lagi pula adik Damian datang bersama teman masa kecil Damian.
Pasti akan menganggu istirahat Damian kalau dia berdebat dengan mereka.
"Bawa juga bajumu yang kau bawa dari rumah, sudah ada Rita yang akan merawat kak Damian!" sahut Amira lagi dengan sinis pada Leticia.
Leticia perlahan bangkit dari duduknya, dia paling tidak suka terlalu banyak mendengarkan kata-kata Amira yang tidak menyukainya .
Pulang ya pulang! pikir Leticia tidak ingin menjawab perkataan Amira tersebut.
Leticia mengambil pakaiannya, lalu meninggalkan pakaian Damian saja.
Dia pun perlahan meninggalkan ruang kamar pasien tersebut.
Amira dan Rita tersenyum sinis menatap Leticia yang keluar dari kamar pasien tersebut.
__ADS_1
Bersambung.......