Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya

Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya
Part 134.


__ADS_3

Letisia merasa kalau Donald mengikuti jejak kakaknya bermain-main dengan wanita, dan sikap arogannya sedikit mirip dengan Damian.


"Sayangku..sikap adikmu itu sepertinya ada mirip dengan kelakuanmu mempermainkan wanita!" bisik Letisia pada suaminya.


"Uhuk..uhuk..!" Damian terbatuk-batuk mendengar perkataan istrinya, wajahnya memerah merasa terkena sindir.


Letisia menepuk-nepuk punggung suaminya dengan lembut, dan memberikan air minum padanya.


"Ya, aku memang brengsek..jangan ingatkan aku lagi tentang sikapku itu sayang, aku tidak ingin membuatmu membenciku!" ucap Damian meraih tangan Letisia, dan membawanya ke dadanya.


Letisia tersenyum melihat wajah Damian yang memelas merasa bersalah, dengan lembut tangan Letisia mengelus dada suaminya yang bertengger didada suaminya itu.


"Baiklah, aku tidak akan pernah membicarakannya lagi, tapi setidaknya kau harus menegur adikmu itu sayangku!" ujar Letisia.


"Biarkan saja dia..supaya dia tahu akibat yang dia perbuat, dia sendiri yang akan berhenti sendiri!" kata Damian, dia ingin melihat sejauh mana brengseknya adiknya tersebut.


Liana jadi merasa malu ikut bergabung makan dengan keluarga Donald, dia merasa percaya diri tadi, karena Donald bersedia membawa dia makan siang bersama keluarga Donald.


Ternyata niat Donald hanya ingin membuat suasana ramai saja, Liana melirik Donald yang sedari tadi tidak melihat kearahnya.


Liana melihat Donald beberapa kali melirik gadis didepan mereka, yang terlihat santai menikmati makannya.


Ada rasa cemburu dihati Liana melihat Donald ternyata memanfaatkan dirinya, matanya memandang tajam kearah Janet.


Akhirnya mereka selesai makan siang merayakan kemenangan Annabelle, tapi suasananya tidak menyenangkan karena ulah Donald.


"Pulanglah..kami masih ada acara lagi!" sahut Donald menyuruh Liana pergi.


"Aku ikut kak..biar ramai!" kata Liana tidak ingin pergi begitu saja.

__ADS_1


"Tidak, kau tidak boleh ikut..ini khusus untuk acara keluarga saja!" kata Donald mencoba mengusir Liana pergi.


"Dia juga kan bukan anggota keluarga kalian!" Liana menunjuk Letisia dan Janet.


Perkataan Liana itu langsung membuat wajah Donald berubah, ternyata dia salah dalam memilih teman.


Begitu juga wajah Damian dan Annabelle, langsung berubah mendengar perkataan Liana itu.


"Siapa dirimu berani kurang ajar bicara tidak sopan begitu..apa kau tidak melihat dari tadi gadis itu terlihat begitu mesra dengan putraku, dia itu istri putraku..dan gadis yang satu lagi adalah asistennya, mereka adalah bagian dari keluarga Jhonson, kau baru saja perkenalan dengan keluarga Jhonson sudah lancang bicara!" sahut Annabelle panjang lebar terbawa emosi, karena perkataan Liana yang asal bicara membuat mereka terkejut.


Liana terdiam mendengar apa yang dikatakan Annabelle, dia jadi malu.


Dengan wajah menunduk, dia permisi pergi dari sana.


Plakkk!


Satu pukulan mendarat di lengan Donald, dan membuat aktor itu terkejut, dan meringis kesakitan memandang Ibunya yang terlihat begitu marah.


"I..itu..!"


Plakk! kembali Donald mendapat pukulan.


"Itu..itu, itu apanya...lain kali kalau kau mengenalkan seorang wanita padaku, aku akan langsung nikahkan kau padanya, ingat itu!!" teriak Annabelle.


Damian hanya bersidekap saja memandang adiknya dimarahi oleh Ibu mereka, senyuman geli tersungging di sudut bibirnya.


Sementara Janet juga tersenyum geli, dia nyaris ingin tertawa melihat wajah Donald yang menyedihkan dimarahi oleh Ibunya.


Rasain! bisik hatinya merasa begitu geli, sikap arogan Donald langsung lenyap kalau sudah kena amukan Ibunya.

__ADS_1


Mereka melanjutkan kebersamaan mereka menikmati makanan penutup, dan sekarang mereka berlima sudah nongkrong di toko roti yang terkenal di kota mereka.


Dessert di toko tersebut terkenal dengan rasanya yang enak, dan tempatnya sangat nyaman.


Toko yang luas dengan dekorasi yang indah dan memiliki ruang VIP dengan suasana yang nyaman.


Dimeja telah terhidang enam macam Dessert, dengan secangkir teh yang wangi terhidang didepan mereka masing-masing.


"Hemm...enaknya!" gumam Annabelle mencicipi dessertnya.


"Tehnya wangi, terasa kental dan rasanya sangat pas!" sahut Letisia setelah menyeruput sedikit tehnya.


"Iya, kau benar sayang..ternyata kau pandai juga menilai kualitas teh!" kata Damian tersenyum memandang istrinya takjub.


Sementara itu, Donald dari tadi selalu melirik Janet yang terlihat menikmati dessertnya, dan tampaknya hanyut dengan dunianya sendiri tanpa memperdulikan sekitarnya.


Tanpa sengaja, mata Janet bertemu dengan mata Donald, yang dari tadi selalu diam-diam melirik kearahnya.


Beberapa detik mereka saling memandang tanpa berkedip, dan kemudian Janet membuang pandangannya kesamping, melihat kearah pintu ruang VIP yang terbuka.


Seorang Pelayan pria masuk membawa satu teko teh untuk mereka, meletakkan teko berisi teh panas di tengah-tengah meja mereka.


"Terimakasih kak..!" ucap Janet pada Pelayan tersebut dengan tersenyum ramah, karena telah membawakan lagi teh untuk mereka.


"Sama-sama..!" balas Pelayan tersebut dengan ramah juga.


Dengan membungkukkan sedikit tubuhnya dengan sopan, pelayan tersebut keluar dari ruang VIP tersebut.


Brakkk!

__ADS_1


Lagi-lagi Donald membuat semua orang yang tengah mencicipi dessert terkejut dengan sendok yang dibantingnya ke meja dengan kencang.


Bersambung.....


__ADS_2