Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya

Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya
Part 128.


__ADS_3

Di layar terlihat dengan jelas nama Hendra Augustine, membuat wajah Hendra dan istrinya terdiam tidak bisa bicara.


Pintu ruang sidang terbuka, dan masuklah seorang pria dikawal dua orang petugas.


Pria itu dibawa ke kursi saksi, dan itu membuat Hendra semakin pucat.


"Apakah anda kenal dengan Tuan Hendra yang duduk di kursi Tertuduh?" tanya Pengacara penuntut pada pria itu.


"Iya, saya kenal!" pria itu mengangguk.


"Aku tidak kenal dengan dia!" teriak Hendra.


"Dimana anda kenal Tuan Hendra?" tanya Pengacara penuntut, mengabaikan teriakan Hendra.


"Saya sudah kenal lama!"


"Bohong..dia berbohong!" teriak Hendra lagi.


"Yang mulia Hakim ketua..!" Pengacara penuntut memandang ke arah Hakim ketua untuk meminta Tertuduh di amankan.


Tok! tok! tok!


"Mohon Tertuduh untuk menghormati jalannya sidang, anda belum waktunya untuk diperbolehkan berbicara!" sahut Hakim ketua.


Dua orang petugas dibelakang Hendra menekan bahunya, agar dia jangan coba-coba untuk berbicara lagi.


"Anda katakan tadi mengenal Tertuntut..!" Pengacara penuntut melanjutkan lagi pertanyaannya.


"Iya..!" jawab saksi.


"Apakah anda teman Tuan Hendra?"

__ADS_1


"Bukan..saya putra Pelayan dirumahnya!" jawab saksi dengan lancar.


Letisia terkejut mendengar kalau lelaki yang menabrak Damian adalah anak dari Pelayan dari keluarga Ayah angkatnya tersebut.


Letisia berpikir siapa kira-kira orang tua lelaki yang menabrak Damian, seingat dia ada seorang wanita saat Letisia mulai menjadi anggota keluarga Ayah angkatnya.


Mungkinkah putra Bibi itu? pikir Letisia mengingat seorang wanita yang sekarang sudah mulai lanjut usia, tapi masih setia bekerja dengan orang tua angkatnya.


Bibi yang diingat Letisia selalu ikut juga memarahi dan menindasnya. Selalu mendengarkan apa yang dikatakan orang tua angkatnya.


"Ternyata kalian sudah membuat rencana jauh sebelumnya, benarkah begitu?" tanya Pengacara penuntut.


"Saat Tuan Damian mulai menagih kembali hutang Tuan Hendra!" jawab lelaki itu.


"Hutang..jadi karena hutang Tuan Hendra tidak bisa dia bayar, hingga dia berencana ingin melenyapkan Tuan Damian...apakah kau tahu siapa Tuan Damian sebenarnya?" tanya Pengacara penuntut.


"Tadinya saya tidak tahu..tapi setelah saya diinterogasi dikantor polisi, baru saya tahu siapa sebenarnya Tuan Damian!"


"Tidak! saya menyesal..seharusnya saya selidiki dulu siapa yang jadi korban saya, sekarang saya menyesal!"


"Kenapa menyesal, seharusnya anda senanglah...ternyata korban anda orang kaya!"


"Tidak! saya minta maaf..saya salah telah memprovokasi Tuan Damian..maaf!" saksi minta maaf, dan mengakui perbuatannya yang salah.


Saksi tahu Damian orang kaya nomor satu di kota mereka, dia seorang pengusaha yang sukses, dan seorang yang tidak bisa disinggung.


Hidupnya dan keluarganya akan dalam masalah telah memprovokasi seorang Damian.


Dengan mengakui kesalahannya, hukumannya akan ringan dan keluarganya tidak menderita karena kesalahannya.


"Tadi anda katakan, mengenai hutang..kenapa karena hutang Tuan Hendra ingin mencelakai Tuan Damian?" tanya Pengacara penuntut lagi untuk menggali lagi kesaksian dari saksi.

__ADS_1


"Karena Tuan Hendra sudah memberikan putrinya untuk melunasi hutang Tuan Damian..jadi Tuan Hendra ingin memberi pelajaran pada Tuan Damian!"


"Putri? bukankah Tuan Hendra hanya memiliki satu putri saja, dan putrinya itu masih bersama dengan Tuan Hendra..maksudnya putri yang mana ini, apakah putrinya dari wanita lain?" tanya Pengacara penuntut dengan nada yang curiga.


"Tidak! putri angkatnya!" jawab saksi dengan cepat.


Damian tersenyum ditempatnya, saksi sudah masuk kedalam jebakan, tanpa perlu lama akhirnya kasus Letisia mulai terkuak, dan akan mempersulit Hendra.


"Tidak! bukan..sebenarnya...!" tiba-tiba Hendra berteriak, tapi kemudian bungkam kembali tidak bisa melanjutkan perkataannya karena petugas dibelakangnya menekan bahunya untuk tidak boleh bicara.


"Lanjutkan..kenapa anda mengatakan Tuan Hendra memberikan putri angkatnya..apakah memang benar Tuan Hendra memiliki seorang putri angkat?" tanya pengacara penuntut lagi melanjutkan.


"Iya!"


"Berarti Tuan Hendra telah menjual putri yang diadopsi nya untuk melunasi hutang nya!"


"Iya!"


"Yang mulia Hakim ketua..selain rencana ingin melenyapkan korban, ternyata Tertuntut terlibat penjualan putri yang diadopsinya untuk melunasi hutang-hutangnya..saya sebagai Pengacara korban juga, menuntut Tertuduh perdagangan anak!"


"Tidak! tidak! bukan begitu..kami tidak menjual putri kami!" teriak wanita yang tadi melempar Letisia dengan sepatu.


"Harap diam..tolong hargai ruang sidang saya, kalau yang berkepentingan belum diperkenankan untuk bicara, jangan asal bicara..tunggu saat anda duduk di kursi saksi, baru anda boleh bicara!" seru Hakim ketua menegur wanita itu.


Beberapa pengunjung dan pers yang meliput jalannya sidang, mulai terdengar berbisik-bisik membicarakan Hendra dan istrinya tersebut.


Sementara Damian dengan santai menggenggam tangan istrinya, dan sesekali meremasnya dengan lembut.


Akhirnya kasus Letisia akan tersingkap, penindasan yang diterima Letisia selama ini akan terbongkar.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2