Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya

Tuan Arogan Takluk Pada Istri Kecilnya
Part 115.


__ADS_3

Cindy diam tidak bergerak melihat Damian mendekat padanya dengan tatapan mata yang tajam.


"Kau sudah lancang berteriak pada istriku..kau punya nyali juga ya memprovokasi istri seorang Damian Jhonson, cepat minta maaf pada istriku!" kata Damian dengan tekanan nada yang tajam.


"A..aku..aku!" Cindy tidak menyangka kalau dia yang akan dipermalukan didepan umum.


"Cepat minta maaf! kau sudah lancang berteriak tidak sopan pada Nyonya Group Jhonson!" teriak Damian marah melihat Cindy tidak mau bergerak.


Wajah Cindy memerah begitu malunya dilihat begitu banyak orang, dan suara bisik-bisik yang mencemooh nya.


"Maaf" gumam Cindy menundukkan sedikit kepalanya meminta maaf pada Letisia.


"Bukan seperti itu! berlutut!" teriak Damian.


Sontak wajah Cindy semakin memerah mendengar apa yang dikatakan Damian, dia harus berlutut meminta maaf pada Letisia.


Sial! makinya dalam hati tidak terima meminta maaf dengan berlutut dihadapan Letisia.


Dia hanya anak pungut, dan tidak layak diperlakukan dengan baik! hati Cindy bergelut semakin membenci Letisia.


"Cepat!" teriak Damian mulai tidak sabaran melihat Cindy yang terlihat enggan untuk berlutut.


Dengan berat hati akhirnya Cindy perlahan berlutut ke lantai, dan menundukkan wajahnya membungkuk menghadap Letisia.


"Maaf..maafkan aku!" ucapnya dengan suara bergetar menahan malu.

__ADS_1


"Bagus! lain kali kedepannya jangan coba-coba memprovokasi Nyonya Jhonson lagi..kalau kau ulangi lagi, aku tidak segan-segan untuk mempermalukan mu didepan umum!" kata Damian dengan tegas dan tajam.


Damian menggenggam tangan Letisia, lalu menariknya pergi dari sana.


"Ayo sayang..kau belum selesai berbelanja!" kata Damian membawa Letisia pergi, dan membiarkan Cindy tetap berlutut dilantai.


Cindy mengepalkan tangannya begitu erat, dia semakin membenci Letisia.


Aku akan balas apa yang telah kau perbuat padaku hari ini, lihat saja..kau pasti akan kusiksa lagi! bisik hati Cindy dengan penuh rasa benci pada Letisia.


Orang-orang yang tadi berkerumun, mulai pergi membubarkan diri sambil berbisik-bisik membicarakan Cindy yang masih berlutut.


Damian membawa Letisia keruang khusus untuk mencoba semua sepatu yang tadi telah dipilih Letisia, untuk diperlihatkan padanya.


Setelah melihat Letisia mencoba semua sepatu yang dipilih Letisia, Damian memerintahkan Pelayan untuk membungkus semua sepatu tersebut.


"Semuanya sangat cocok dikakimu sayang..jangan ditinggalkan lagi, bawa semua pulang!" kata Damian sembari mengelus kepala Letisia.


Letisia terpaksa mengalah, membiarkan saja membeli apa yang telah dipilihnya.


Mereka berbelanja sampai sore hari.


Kaki Letisia terasa sampai pegal karena berjalan beberapa jam untuk berbelanja, sungguh melelahkan.


"Capek!" kata Letisia membuka sepatunya setelah duduk didalam mobil.

__ADS_1


"Mari kupijat kakimu sayang!" sahut Damian, lalu meraih kaki Letisia naik keatas pahanya.


Letisia terpaksa memundurkan duduknya merapat kepintu mobil.


Jemari Damian perlahan memijat kaki Letisia dengan lembut.


Sanking lembutnya membuat Letisia terbuai, dan matanya terasa begitu berat, dan tanpa sadar Letisia pun tertidur.


Damian tersenyum melihat istrinya tertidur karena pijatannya.


Perlahan Damian memutar posisi badan Letisia, menaruh kepala Letisia di pahanya.


Tidak berapa lama mereka sampai di Mansion.


Damian membopong Letisia masuk kedalam rumah, dan memerintahkan Jenson untuk membawa semua belanjaan Letisia ke lantai atas.


Damian dengan lembut meletakkan tubuh istrinya keatas tempat tidur.


Jenson meletakkan semua belanjaan Letisia ke dalam walk in closet dan pergi menutup pintu kamar dengan pelan.


Damian kemudian naik ketempat tidur, bergabung dengan istrinya untuk tidur.


Dia merasa lelah juga menemani istri kecilnya tersebut berbelanja, merapatkan tubuhnya mendekat ketubuh istrinya.


Dan, Damian pun memejamkan mata untuk beristirahat sebentar.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2