
Letisia begitu takjub melihat Aquarium raksasa yang bagaikan terowongan didasar laut, memperlihatkan ikan besar dan kecil berenang dengan indahnya.
Dia tidak menyangka ada Aquarium yang begitu panjang dan sangat besar, seolah-olah mereka berjalan di tengah-tengah laut Merah yang terbelah, dikiri dan kanan mereka terdapat air yang memperlihatkan beragam macam spesies ikan yang indah.
Letisia begitu histeris kesenangan melihat ada ikan hiu juga yang berenang dekat kaca Aquarium, telapak tangannya dia tempelkan dikaca Aquarium tersebut.
Tidak henti-hentinya dia terus mengoceh kesenangan, sembari tersenyum begitu senangnya.
"Sayangku..itu lihat ada ikan Pari besar sekali, wow..besarnyaa!" ujar Letisia begitu takjub matanya tidak berkedip melihat ikan tersebut.
Damian hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang terlihat seperti baru keluar dari sangkarnya, begitu heboh seperti orang kampung yang baru datang ke kota.
Kehidupan yang selama ini dijalaninya memang sangat suram, tidak pernah dibawa orang tua angkatnya untuk berinteraksi dengan lingkungan umum, dan juga sekadar rekreasi saja tidak pernah.
Memikirkan itu perasaan Damian sangat marah pada kedua orang tua angkat Letisia, dia belum mendapat jawaban yang pasti dari orang tua angkat Letisia mengenai hutang yang tidak mau di bayarnya.
Damian akan sering-sering membawa istrinya tersebut keluar rumah, Letisia perlu mengenal lebih banyak dunia luar agar keingin tahuan istrinya terpuaskan.
Damian merangkul pinggang istrinya, mengikuti langkah istrinya yang tengah terpesona dengan keindahan dasar laut dalam Aquarium raksasa tersebut.
"Ayo kita foto sayang, untuk kenang-kenangan!" kata Damian mengeluarkan ponselnya.
"Iya, ayo!" kata Letisia semangat.
Mereka berpelukan mesra didepan Aquarium, dan Damian dengan tangan panjangnya menggunakan ponselnya untuk mengambil foto mereka.
__ADS_1
Mereka mengambil foto dengan berbagai gaya, dan bahkan meminta tolong pada pengunjung Aquarium juga untuk mengambil foto mereka.
Setelah mereka puas melihat ikan, Damian membawa Letisia menikmati makan es krim.
Lalu lanjut membawa Letisia jalan-jalan ke Mall yang cukup terkenal di kota mereka.
Damian akan memuaskan mata istrinya untuk melihat-lihat, dan akan membeli apa yang diinginkan oleh istrinya itu.
Letisia bingung melihat merk sepatu yang ditawarkan Damian untuk dicobanya, desain sepatu Heels terkenal.
Semuanya serba mahal, membuat Letisia bimbang untuk membelinya.
"Tidak apa-apa soal harga, kau pilih saja sayang..aku akan bayar seberapa banyak yang kau pilih!" kata Damian meyakinkan Letisia tidak perlu khawatir soal harga.
"Baiklah!" Letisia terpaksa mengalah, dia harus merubah penampilannya sebagai Nyonya Damian Jhonson.
Letisia memilih dan mencoba beberapa sepatu yang menurutnya sangat cocok untuknya.
"Siapa ini?!" tiba-tiba Letisia mendengar suara kaget seseorang dibelakangnya.
Letisia membalikkan tubuhnya untuk melihat seseorang yang berteriak tersebut.
Mata Letisia terbelalak tidak percaya melihat wanita yang berteriak tadi.
Wanita itu Cindy, adik angkat Letisia.
__ADS_1
Letisia tidak menyangka akan bertemu adik angkatnya ditoko tersebut, dia tidak pernah lagi berkeinginan sekali pun untuk bertemu dengan adik angkatnya tersebut.
Sungguh ironis mereka malah bertemu lagi, sungguh hari yang tidak beruntung.
"Wah, kau sudah bisa keluar rumah seperti Nyonya besar..apa Tuan Damian tahu kau ada disini?" tanyanya dengan sinis.
"Bukan urusan mu!" kata Letisia dingin, dia kembali fokus memilih sepatu yang akan dicobanya.
"Wahh..wahh, sekarang kau sudah berani menjawab ya, apa kau tidak sadar diri..siapa kau sebenarnya?!" sahut adik angkat Letisia dengan nada yang mencibir.
"Memangnya siapa kau..lancang sekali bicara tidak sopan padaku?!" sahut Letisia datar dengan tatapan dingin pada adik angkatnya tersebut.
"A..apa katamu? kau..kau..!" Cindy terbelalak tidak percaya melihat Letisia yang begitu acuh tak acuh padanya.
Dia ingat Letisia sangat takut kepadanya, dan selalu menuruti apa yang diperintahkannya.
Dan selalu tidak melawan kalau dia bersikap kasar pada Letisia, bahkan apapun milik Letisia yang diambilnya tidak pernah Letisia melawannya.
"Kenapa? kau tidak senang!" sahut Letisia masih dengan nada yang datar.
"Kau..hanyalah anak pungut, jangan bertingkah seperti seorang Nyonya..kau hanya seorang pembantu dirumah Tuan Damian!" teriak Cindy mulai emosi melihat Letisia yang tidak takut padanya.
"Kalau kau tidak senang melihatku, pergi saja dari toko ini..aku juga tidak suka melihatmu!" kata Letisia datar.
Letisia sedikitpun tidak takut lagi pada Cindy dia akan membalas apa yang akan Cindy buat untuk menyakitinya.
__ADS_1
Bersambung.....