
Damian mengecup jemari Letisia yang menyentuh sudut bibirnya tersebut, sembari menatap mata indah Letisia dengan intens.
Kini gantian, Letisia yang tersentak dengan apa yang dilakukan Damian tersebut.
Jemarinya seperti tersengat aliran listrik, sampai mengalir ke jantungnya.
Wajah Letisia merona menahan malu.
"Tuan, ada Mama mertua..malu!" ujarnya malu.
"Biarkan saja..suruh dia pulang, mengganggu saja dia disini, aku ingin berduaan dengan istriku!" kata Damian tidak perduli dengan Ibunya.
"Dasar putra tidak tahu diri..aku tidak diperdulikan, bagus lah kalau begitu..aku tidak mau datang lagi melihat mu..aku lebih bagus memperdulikan Donald saja!" sahut Annabelle kesal, lalu menyambar tasnya dari atas meja.
Lalu dengan langkah kesal Annabelle meninggalkan ruang kamar rawat Damian, sebelum menutup pintu dia menoleh memandang Letisia.
"Menantuku, aku pergi dulu..kalau dia menyusahkan mu..tinggalkan saja dia!" kata Annabelle, setelah itu menutup pintu dengan sedikit kencang.
Letisia menahan senyum melihat Ibu Mertuanya merajuk karena Damian cuek padanya.
"Dia lancang sekali menyuruh kau untuk meninggalkan aku..dia bukan Mamaku, jahat sekali dia menyuruh menantunya untuk meninggalkan putranya sendiri!" ujar Damian kesal.
Letisia hanya bisa senyum-senyum saja mendengar Ibu dan Putra itu bertengkar.
Damian pun akhirnya selesai makan, dan Letisia membereskan kan wadah bekas makan Damian.
Meletakkan sampah kedalam keranjang, lalu mencuci tangannya.
"Duduk sini sayang!" panggil Damian menepuk tempat di sampingnya.
Letisia tersenyum melihat permintaan Damian tersebut, dia merasa heran dengan sikap Damian yang tampak biasa-biasa saja sepertinya tidak amnesia sedikitpun.
Letisia meletakkan bokongnya disebelah Damian, dan disambut Damian dengan merentangkan tangannya agar bisa memeluk Letisia.
__ADS_1
Damian mengusap kepala Letisia dengan sayang, lalu menarik kepala Letisia ke dadanya.
Tiba-tiba pintu kamar pasien terbuka, dan muncullah wanita cantik yang tadi pagi ada dikantor Damian.
"Siapa kau..dasar gadis penggoda!" dan tiba-tiba wanita itu berteriak kepada Letisia, begitu masuk kedalam mendapati Letisia yang dipeluk Damian dengan mesra.
"Siapa dia sayang?" tanya Damian merasa tidak suka.
"Anda sungguh lancang masuk kedalam kamar pasien tanpa mengetuk pintu..anda pikir anda siapa?!" sahut Letisia juga marah.
Semua wanita yang pernah bersama Damian tidak punya sopan santun, sesuka hatinya bersuara memarahi siapapun yang mereka anggap mencoba merebut Damian dari mereka.
Letisia tidak mau lagi membiarkan mereka berbuat sesuka hatinya, Damian lagi amnesia, belum bisa mengingat siapapun dengan jelas.
Dia harus bisa lebih tegas mulai sekarang, sebagai istri Damian perannya harus dijalankannya mulai sekarang.
"Kau yang lancang..Damian tunanganku, aku yang berhak memarahimu!" sahut wanita tersebut marah.
Tunangan! ternyata dugaannya tadi pagi benar, wanita ini tunangan Damian.
Letisia tersenyum miring penuh dengan perasaan mencibir, bekas tunangan yang berlagak masih mengaku masih tunangan.
Sungguh ironis!
Kau mencoba mau bermain-main lagi dengan status tunangan? kau pikir, kau siapa? pikir Letisia mulai memutar otaknya untuk mengusir wanita yang tidak tahu malu itu.
"Anda yang sungguh lancang..menginginkan milik orang lain, anda tidak punya malu..penampilan anda seperti seorang wanita berkelas, tapi tidak punya sopan santun!" kata Letisia dengan nada yang tajam.
"Kau yang menginginkan milik orang lain..Damian tunanganku!" kata wanita itu dengan suara tinggi.
"Oh, benarkah begitu? kami sudah menikah selama setengah tahun..dimana anda saat kami menikah?!"
"I..itu, aku diluar negeri!" kata wanita itu gelagapan.
__ADS_1
"Anda pergi tanpa perduli dengan perasaan tunangan anda..pasti ada orang ketiga yang anda cintai, karena itulah anda pergi..aku duga pasti anda tidak mencintai Tuan Damian, tapi mencintai hartanya..!" kata Letisia dengan nada yang tegas dan lantang.
"Tidak! aku mencintai Damian dengan tulus, akulah wanita yang dicintainya..tidak ada wanita lain yang bisa menggantikan aku dihatinya!" sahut wanita itu dengan percaya diri, perlahan dia mendekati tempat tidur pasien.
"Berhenti disitu..jangan mendekat kemari, siapa kau berani memarahi istriku!" sahut Damian marah
"Damian sayang..aku begitu ketakutan mendengar kau kecelakaan, aku seperti orang gila mencari rumah sakit tempat kau dirawat..aku tidak menyerah untuk terus meminta maaf padamu!" sahut wanita itu mulai kembali menangis seperti tadi pagi dengan wajah yang memelas.
"Aku tidak kenal denganmu!" sahut Damian datar, dia merasa tidak suka melihat wanita tersebut, "Usir dia sayang!" kata Damian kepada Letisia.
"Anda sudah dengar apa yang dikatakan suamiku..jangan menggangu suamiku lagi, dia sudah menikah!" kata Letisia.
"Tidak! Damian akulah wanita yang kau cintai!!" sahut wanita mulai histeris.
"Aku mencintai istriku, hanya istriku saja..tidak ada wanita lain, aku tidak kenal denganmu, pergi!!" usir Damian dengan suara yang kencang.
Setelah itu Damian memencet bel didekat tempat tidur.
"Kau..dasar gadis ingusan, kau telah mencuci otak Damian..aku akan buat perhitungan padamu!" wanita itu bergegas menuju kearah Letisia, dan melayangkan tangannya untuk menampar wajah Letisia.
Tanpa terduga, Letisia dengan cepat lebih dulu menampar wanita tersebut.
Plakk!
"Aaaa...!!" wanita itu terkejut bukan main pipinya kena tampar Letisia.
Pintu kamar rawat Damian terbuka, dan muncullah Dokter dan dua perawat mengikuti Dokter tersebut dari belakang.
"Dokter tolong usir wanita ini..dia wanita asing tidak kukenal dan mengganggu ketenanganku, aku tidak ingin dia masuk lagi kemari!" sahut Damian marah.
"Nona..silahkan pergi!" Dokter membuka pintu lebar-lebar agar wanita itu pergi dari kamar rawat Damian.
Dengan pipi yang panas akibat ditampar Letisia, wanita itu terpaksa pergi juga keluar dari sana.
__ADS_1
Bersambung.....