
Damian merasa lega, setelah janjinya untuk membuat orang tua angkat Letisia membayar apa yang telah mereka lakukan pada Letisia.
Damian membuka rekening atas nama Letisia, dan memasukkan seluruh hutang orang tua angkat Letisia kedalam rekening Istrinya tersebut.
Sekarang masalah telah teratasi, kehidupan Letisia cukup tenang bersama dengan suaminya.
Dia menjadi istri yang begitu dimanja oleh Damian, hidupnya benar-benar menjadi Nyonya Jhonson yang penuh cinta kasih suaminya.
Mertua yang juga perhatian padanya, selalu mengontrol suplemen kesehatannya, agar dapat segera mengandung keturunan untuk penerus Jhonson berikutnya.
Adik ipar yang masih belum bisa menerima kehadirannya menjadi istri Damian, yang selalu menekuk wajahnya kalau bertemu dengannya.
Tetapi Letisia tidak mempermasalahkan Amira yang begitu jutek padanya, dia hanya peduli dengan suaminya saja, jadi dia tidak perduli dengan siapapun yang cemburu dengan dirinya.
Pagi ini Letisia bersiap-siap akan pergi memenuhi undangan mertuanya, menghadiri perlombaan melukis para Ibu-ibu janda.
Ibu mertua Letisia seorang wanita lanjut usia yang tidak bisa diam dirumah, dia selalu menyibukkan kesendiriannya yang sudah menjanda.
Mengikuti berbagai macam hobi yang ditekuninya setelah kematian suaminya, walau dia sudah lanjut usia, tetapi dia masih terlihat enerjik.
Sikapnya yang lincah dan humble membuat Ibu mertua Letisia terlihat masih cantik walau di usia yang sudah lanjut.
Seperti biasa Letisia pergi di temani Janet.
"Aku akan menjemputmu kalau sudah selesai acaranya, kalau ada apa-apa..kau harus beritahu aku sayang!" kata Damian mengecup bibir Letisia saat akan turun dari mobil.
"Iya sayangku!" Letisia membalas kecupan Damian, lalu mengelus sebentar pipi suaminya itu dengan sayang.
__ADS_1
Baru setelah itu Letisia turun dari mobil, sebelum menutup pintu mobil, Letisia melayangkan senyuman manis pada suaminya.
Dan Damian membalas senyuman istrinya, hatinya begitu membuncah melihat senyuman istrinya yang manis, yang membuat cintanya semakin hari semakin bertambah pada istri kecilnya tersebut.
Letisia dan Janet kemudian sekarang berada di tengah-tengah para undangan, yang tengah menyaksikan beberapa wanita ditengah aula gedung sanggar sedang melukis diatas kanvas.
Letisia tidak menyangka Ibu mertuanya begitu pandai melukis, dari gerakan tangannya yang luwes tampaknya dia begitu menikmati hobinya tersebut.
Wajah Annabelle juga terlihat begitu santai dan tenang mengayunkan kuasnya diatas kanvas.
Tidak berapa lama, jam yang ditentukan juri untuk melukis objek yang ada didepan setiap peserta selesai.
Siap tidak siap, mereka harus menghentikan kuas mereka untuk melukis.
Letisia tidak menyangka Ibu mertuanya ternyata bisa menyelesaikan dengan sempurna lukisannya, dan dia mendapatkan peringkat teristimewa.
Letisia dan Janet spontan berdiri, saat juri mengumumkan siapa yang berhasil dengan sempurna menyelesaikan kompetensi melukis tersebut.
Mereka berdua bertepuk tangan dengan riuhnya, begitu nama Annabelle disebutkan.
Mereka tersenyum begitu senang, sembari terus bertepuk tangan, melihat Annabelle mendapatkan medalinya.
Wajah Annabelle begitu bahagia, matanya memandang ke arah Letisia dan Janet sambil mengangkat medalinya dan tersenyum dengan lebar.
"Ma..aku tidak menyangka anda begitu pandai melukis, itu lukisan yang sangat indah..sungguh bagus sekali!" seru Letisia begitu acara selesai, dan mereka berpelukan begitu senangnya.
"Iya, aku juga tidak menyangka tanganku begitu santai melukis sampai tidak sadar bisa menyesuaikan objek dengan benar!" seru Annabelle, merasa tidak percaya juga dengan apa yang dilakukannya tadi.
__ADS_1
"Kita harus merayakan kemenangan Mama..siang ini kita makan bersama untuk merayakannya!" kata Letisia penuh semangat.
"Baiklah..ayo kita pesan restoran untuk merayakannya!" Annabelle menyetujui usul Letisia.
Annabelle mengambil ponselnya, lalu melakukan reservasi di sebuah restoran terkenal di kota mereka.
Sesuai janji Damian setelah selesai acara kompetisi melukis Ibunya, Damian datang menjemput istrinya.
"Mama juara satu, kita akan merayakannya..siang ini kita makan bersama untuk merayakannya sayangku!" sahut Letisia saat suaminya itu menghampiri mereka.
"Mama luar biasa, selamat Ma..!" ucap Damian memeluk Annabelle, lalu mengecup kedua pipi Ibunya tersebut.
"Terimakasih putraku!" jawab Annabelle membalas pelukan Damian.
"Kalau begitu aku akan memesan meja untuk makan siang kita!" kata Damian mengambil ponselnya dari saku jasnya.
"Aku sudah pesan tadi, kita menunggu Donald sebentar..dia janji akan menjemput Mama!" sahut Annabelle menghentikan Damian untuk memesan meja untuk makan siang mereka.
Damian memasukkan kembali ponselnya kedalam saku jasnya.
Dan, mereka pun menunggu Donald datang, yang tidak berapa lama aktor tampan itu pun muncul.
Melihat Donald datang, Janet langsung mundur beberapa langkah, mengambil jarak dengan ketiga orang yang telah dianggap Janet sebagai majikannya.
Janet tidak ingin membuat Donald merasa tidak nyaman dengan kehadirannya, yang dianggap Donald mencoba untuk menarik perhatian Donald.
Bersambung.....
__ADS_1